Jogja (In)toleran


Saya bukan kelahiran Jogja. 'Pendatang', orang Jogja menyebut saya. Tapi tidak menjadi masalah bagi saya disebut begitu. Karena memang saya darah Jawa yang lahir di Sumatera (Bandar Lampung tepatnya). Meski pendatang, saya berusaha menjadi warga yang baik dan menghormati tradisi dan kebudayaan Jogja. Kata pepatah, "Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung."

Soal tuduhan intoleransi di Jogja yang sedang ramai di media sosial. Sebagai warga yang ber-KTP Jogja sejak 2004 dan tinggal di Jogja sejak 2001, saya ingin nulis uneg-uneg sedikit. Klo ternyata kebanyakan, ya saya minta maaf.

Banyak dari kita yang sebenarnya tidak tahu duduk perkara lalu berkomentar. Harusnya kita cari dulu sanad yang sahih persoalan ini serta memahami sosiologis masyarakat Jogja. Tapi ya memang begitu, di era sosial media saat ini orang bebas berkomentar semaunya. Maha benar netizen dengan segala komentarnya.

Menurut mas Iqbal Aji Daryono, yang warga asli Kotagede. "Kotagede dari dulu ibukota awal Kasultanan Mataram Islam. Sangat kental tradisi ke-Islamannya, sejak ratusan tahun silam. Makam-makam dari dulu ditulisi 'makam Islam'. Jadi ibaratnya Kotagede itu Vatican kecil-kecilan versi Islam di Jogja. Setara dengan Kauman," katanya.

Sebenarnya ada TPU yang bisa diakses oleh warga Jogja baik muslim ataupun non Muslim. Namun konon, pihak keluarga inginnya dimakamkan di lokasi tersebut (makam Islam). Pihak keluarga tidak mempersoalkan soal pemotongan papan nisan Salib tersebut karena paham akan konsekuensi di pemakaman muslim. Warga dan pihak terkait sebenarnya damai-damai aja. Tapi bising dan berisik di media sosial. Ok clear ya soal itu.

Makam Tanah Wakaf

Sewaktu saya pertama kali tinggal di Dusun Bayen, Kalasan. Ada beberapa persoalan di perumahan yang belum selesai. Konon ini akibat developer yang main bangun rumah 'seenaknya' di Dusun ini. Sewaktu membangun tidak kordinasi dengan pengurus dusun setempat terkait makam, dll. 

Singkat cerita, ada masalah terkait pemakaman warga perumahan. Ada tiga makam di dusun Bayen, dan ternyata ketiga makam tersebut adalah tanah wakaf. Dan wakaf itu amanatnya diperuntukkan warga muslim serta ada ketentuannya.

Masalahnya di mana? Masalahnya warga perumahan di tempat saya tinggal tidak semuanya muslim. Ada 5-6 KK yang non muslim. Tentu warga perumahan yang non muslim kesulitan untuk dimakamkan di makam tersebut.

Terkait masalah makam ini, pernah saya tanyakan ke pengurus Dusun (LPMD). Solusi untuk pemakaman warga non muslim adalah TPU Purwomartani. Sampai pada waktunya, ada warga perumahan non muslim yang wafat dan dimakamkan di TPU tersebut. 

Nah, ada cerita menarik terkait pemakaman warga perumahan yang kebetulan non muslim ini. Warga muslim yang mayoritas ada di perumahan tersebut bahu-membahu membantu prosesi pra pemakaman sampai dikuburnya si mayit.

Ada komentar dari sesepuh di Perumahan yang juga beragama nasrani sampai komentar begini, "Saya salut dengan warga perumahan ini. Meski tidak seagama dengan mayit tapi luar biasa bahu membahu untuk membantu keluarga yang berduka." Seakan tidak percaya jika muslim itu toleran. Saat itu saya jawab, "Pak, memang sudah seharusnya kami begitu."

Saya sendiri bahkan ikut mengantar jenazah ke rumah sakit untuk dikremasi, ikut mendirikan tenda di rumah duka, dan saya juga yang minta tolong ke Kepala Dusun untuk diumumkan di Masjid terkait berita kematiannya. 

Kami biasa hidup seperti ini di Jogja, tanpa pura-pura. Kami hidup guyub berdampingan dengan siapa pun, agama apa pun. Jadi kalau ada yang menuduh Jogja intoleran, bisa dipastikan pasti gak paham dengan karakter asli warga Jogja. Jangan adu domba kami. Ayo jadi perekat, bukan pemecah belah. Tabik![]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyoal Dana Haji Untuk Infrastruktur

Self Publishing, Peluang Bisnis Baru?

Tafsir Ayat-ayat Ekonomi Tentang Zakat