Selasa, 28 Oktober 2014

Agar UKM Bankable

Usaha Kuliner
TULISAN ini barangkali sudah banyak diulas oleh banyak trainer (konsultan) bisnis dan keuangan. Saya tertarik menuliskannya lagi, karena faktanya sampai detik ini masih banyak UKM yang enggan untuk berhubungan dengan perbankan. Atau ada juga UKM yang sudah biasa berhubungan dengan bank namun usahanya tetap stagnan bahkan hampir bangkrut. Padahal modal dari bank harusnya bisa memperbesar volume usaha mereka, namun nyatanya tidak.

Saya sendiri punya pengalaman praktis yang cukup memadai untuk menuliskan materi ini karena hampir tiga tahun saya bekerja di dunia perbankan dan koperasi syariah sebagai analis pembiayaan dan remedial (penagihan). Sehingga hampir sebagian besar, saya mengetahui secara persis seluk-beluk bagaimana seorang nasabah bisa mudah mengakses dana pinjaman di bank.

Sedikit Tentang UKM

Di Amerika Serikat, dari sebanyak 25 juta bisnis yang ada, ternyata sekitar 99 persennya adalah usaha kecil. Usaha kecil yang disebutkan belum ada konsep yang jelas, tetapi umumnya mereka mempunyai pekerja yang sangat sedikit dan biasanya digerakkan dari rumah mereka sendiri. Walaupun sangat kecil bisnisnya, usaha-usaha kecil tersebut ternyata sangat memberikan kontribusi penting pada perekonomian Amerika Serikat.

UKM menjadi pembahasan yang menarik, karena meskipun usaha berskala kecil, UKM tetap eksis meski badai ekonomi menerpa sebuah bangsa. Contohnya, di tahun 1998 sampai dengan 2000, UKM di Indonesia bisa bertahan dan tetap eksis meski diterpa krisis ekonomi. Di Indonesia sendiri, UKM mendapat perhatian yang serius dari Pemerintah dengan membuat portofolio kementrian, yakni Menteri Koperasi dan UKM. Namun sayangnya memang peran Pemerintah belum optimal.

Kemampuan UKM dalam menyerap tenaga kerja juga semakin meningkat dari waktu ke waktu. Begitupun jumlah UKM, hingga saat ini terus bertambah. Meski begitu, kondisi di lapangan menunjukkan keterbatasan UKM, misalnya dari hal sumber modal usaha, pemasaran, manajemen organisasi, dan penguasaan teknologi. Banyaknya persoalan UKM membuat kemampuan UKM untuk berkiprah dalam perekonomian nasional menjadi tidak maksimal.

Menjadi UKM yang Bankable

Agar UKM bisa eksis dan berkembang menjadi perusahaan besar, salah satu caranya adalah UKM harus bankable. Bagaimana UKM agar mudah mengakses bank atau bankable, adalah:

Pertama, memiliki catatan pembukuan keuangan yang baik. Bagi sebagian orang, pembukuan hanyalah pencatatan biasa. Padahal, pembukuan merupakan sebuah aktivitas yang sangat bermanfaat untuk menganalisa kelayakan usaha yang sedang dijalani. Fungsi dari pembukuan adalah untuk mengetahui posisi keuangan sebuah aktivitas usaha serta hasil-hasil yang telah dicapai oleh UKM, sehingga dari pencatatan aliran kas yang terdapat dalam pembukuan tersebut bisa dimanfaatkan untuk memutuskan langkah pengembangan usaha yang akan diambil. Tidak perlu rumit-rumit, pembukuan yang sederhana sudah cukup untuk mengetahui posisi keuangan usaha.

Kedua, agar UKM bankable adalah memiliki manajemen organisasi yang baik. Meski UKM usaha berskala kecil dan tidak memiliki pegawai yang tidak banyak, manajemen organisasi harus diperhatikan oleh pelaku UKM. Struktur organisasi/usaha harus jelas, dari pemilik sampai pegawai di struktur yang paling bawah. Untuk melatih manajemen organisasi, pemilik UKM juga harus sering-sering mengikuti pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh swasta atau Pemerintah. Dari pelatihan tersebut, tentu banyak case (kasus) perusahaan yang bisa dijadikan pelajaran. Sesekali mungkin bisa benchmarking ke usaha-usaha yang dulunya kecil sekarang menjadi besar dan sukses.

Ketiga, agar UKM bankable adalah target pemasaran yang jelas. UKM harus mempunyai target pemasaran yang jelas, sasaran bisnis (usaha) kita siapa saja harus kita buat listnya. Soal pemasaran ini juga terkait dengan jaringan bisnis si pelaku UKM. Pelaku UKM harus banyak-banyak ‘bergaul’ dan bersilaturahim agar jaringan bisnis terbuka. Jangan hanya berdiam diri saja dan puas dengan yang sudah dicapai!

Keempat, agar UKM bankable adalah kejelasan legalitas usaha. Banyak usaha-usaha kecil yang abai soal legalitas usaha. Dari hal yang paling kecil saja, misal untuk memprotect merk (brand) mereka. Banyak yang menganggap angin lalu, namun ketika ada pengusaha lain yang mengklaim brandnya baru pelaku UKM kelabakan. Yang lain, jika usaha perorangan mulai membesar, bisa diurus untuk menjadi CV. atau PT.

Dengan memperhatikan empat poin di atas, bank-bank atau lembaga pembiayaan tentu tidak akan ragu membiayai usaha Anda. Ingat, jika sudah mendapatkan dana dari bank, gunakanlah dana pinjaman tersebut secara bijak. Demikian tulisan singkat ini, semoga UKM Anda segera naik kelas menjadi Usaha Kecil Miliaran! Aamin []

Selasa, 21 Oktober 2014

Membidik Pasar Kelas Menengah Muslim

RESENSI BUKU

Judul Buku : Marketing To The Middle Class Muslim
Penulis : Yuswohady, dkk.
Tebal : XIX + 280 halaman
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Terbit : Juli, 2014

PASAR kelas menengah muslim dewasa ini sangat menggeliat. Ini dipicu oleh semakin besarnya kesadaran beragama di kalangan umat muslim di Indonesia. Potensi pasar konsumen kelas menengah muslim ini sangat luar biasa besar, karena jumlahnya mencapai 87 persen dari seluruh penduduk Indonesia. 5 tahun terakhir pasar middle-class muslim di Indonesia telah mengalami revolusi karena adanya pergeseran perilaku yang sangat mendasar. Tak heran jika kemudian pasarnya menggeliat dan marketer langsung pasang kuda-kuda untuk meraupnya.

Geliat pasar kelas menengah muslim ini bisa diliat dari perkembangan jumlah bank syariah yang tumbuh di Indonesia. Produsen-produsen pakaian muslim yang tersebar dimana-mana. Produk alat-alat kecantikan halal juga mulai banyak dipasarkan. Jasa haji dan umroh yang peminatnya semakin banyak. Serta hotel-hotel syariah yang mulai banyak beroperasi di Indonesia. Belum lagi asuransi, pegadaian syariah, dan kewirausahaan muslim yang menjamur hampir di seluruh daerah Indonesia.

Selain kesadaran beragama yang kuat di kalangan muslim memicu pasar kelas menengah muslim semakin besar, meningkatnya kemakmuran mereka juga menjadi faktor lain. Kata yang pas untuk menggambarkan pasar kelas menengah muslim ini adalah, “Makin makmur, makin pintar, makin religius.”

Buku ini sangat menarik karena menyampaikan data kuantitatif dan kualitatif yang dikerjakan oleh Center for Middle Class Consumer Studies (CMCS), sebuah lembaga think tank yang didirikan oleh Inventure bersama Majalah SWA. Mereka secara intensif mengamati pasar muslim di Indonesia, khususnya kelas menengah. Bahkan mereka telah melakukan survei kuantitatif di lima kota dan kualitatif berupa FGD untuk mengungkap perubahan, nilai-nilai, dan perilaku pasar tersebut.

Dalam buku ini diungkap survei kualitatif yang memetakan profil konsumen kelas menengah muslim di Indonesia. Profil konsumen kelas menengah muslim Indonesia ini sendiri terbagi menjadi empat sosok, yaitu: Apathist (Emang gue pikirin), Rationalist (Gua dapat apa?), Conformist (Pokoknya harus Islam) dan Universalist (Islam itu lebih penting).

Melihat perubahan-perubahan besar yang terjadi pada konsumen kelas menengah muslim, buku ini ini juga memaparkan strategi dan taktik ampuh untuk menjawab tantangan tersebut. Beberapa strateginya di antaranya adalah buku ini mencoba menyusun enam prinsip-prinsip generik yang bisa digunakan sebagai panduan untuk menggarap pasar muslim yang besar ini. Strategi tersebut dinamakan The Six Principles of Marketing to The Middle Class Muslim. (1). The Principle of Costumer. (2). The Principle of Competition. (3). The Principle of Positioning. (4). The Principle of Differentiation. (5). The Principle of Value. (6). The Principle of Engagement.

Lebih lanjut buku ini penting untuk dimiliki dan dibaca, terutama Anda pemasar dan pelaku usaha agar bisa membaca pasar konsumen kelas menengah muslim. Selamat membaca! []