Jumat, 08 Agustus 2014

Sharing Tentang Speech Delayed

Di media sosial twitter tidak sengaja saya menemui kicauan seorang temen yang kebetulan dosen dan psikolog UII, Ibu Ike Agustina membicarakan soal speech delayed (keterlambatan berbicara) pada anak. 

Karena saya memiliki tetangga yang anaknya lebih dari 3 tahun tidak bisa berbicara, saya tertarik menanyakannya kepada Ike. Siapa tau saya dari sharing ini ada solusi buat anak tetangga saya tersebut.

Ternyata problem speech delayed ini banyak ditemukan di anak-anak era modern sekarang. Agar bermanfaat, kultwit teman saya tersebut akan saya tulis ulang di blog saya agar bisa dibaca oleh yang lain. Semoga saja Ibu Ike setuju, saya menulis kultwitnya untuk kepentingan khalayak. Berikut kultwit dari @ikeagustina:

  1. Sebelum saya share tentang speech delayed, perlu diketahui bahwa perkembangan setiap anak boleh jadi sama.
  1. Saya sering dicurhati beberapa ortu yang mengeluh karena ‘iri’ anaknya belum bisa ini-itu, tapi anak tetangga seusianya sudah bisa.
  1. Akibatnya, ortu ini jadi stress sendiri dan bahkan punya kekhawatiran yang berlebihan terhadap anaknya karena hal tersebut.
  1. Membandingkan satu anak dengan anak yang lainnya haruslah dilakukan dengan bijaksana karena setiap anak prinsipnya unik.
  1. Menjadi ortu butuh ilmu. Ada hal-hal yang bersifat umum, tapi ada juga hal-hal terkait perkembangan anak yang bersifat khusus.
  1. Kalau sudah memahami ini, kepada anaknya ortu jadi bisa khawatir secara ‘bijaksana’ dan untuk alasan yang memang tepat.
  1. Speech delayed, sejauh yang saya tahu bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Penanganannya tergantung faktor penyebabnya.
  1. Ada speech delayed yang terjadi karena gangguan fungsi pendengaran pada anak, bakteri/virus tertentu, salah makan, dsb.
  1. Kalau karena faktor-faktor tadi, penangannya memang harus secara medis yang tepat karena gangguannya biasanya cukup berat.
  1. Karena saya buka dokter, sebaiknya untuk penanganan speech delayed secara medis bisa konsultasi ke dokter anak langsung.
  1. Faktor lain yang juga bisa jadi penyebab speech delayed adalah faktor lingkungan, dalam hal ini stimulasi dan gaya pengasuhan.
  1. Speech delayed karena faktor lingkungan ini biasanya lebih mudah diatasi dan memang gangguannya tidak terlalu berat.
  1. Kalau anak jarang diajak berkomunikasi, jangan heran jika ia jadi lambat bisa bicara karena anak belajar bicara dari mendengar.
  1. Jadi lingkungan di sekitarnya harus rajin menstimulasi kemampuan bicara anak dengan rajin mengajaknya bicara.
  1. Ortu yang ‘menitipkan’ anaknya pada pengasuh harus rajin memastikan bahwa pengasuhnya rajin menstimulasi kemampuan belajar anak.
  1. Beberapa pengasuh anak mungkin karena tak paham atau malas, jadi mau praktis. Anak dikasih mainan supaya ‘diam’ dan ‘sibuk’ sendiri.
  1. Akibat dari anak yang ‘sibuk’ sendiri dengan mainan adalah anak jarang diajak bicara sehingga kemampuan komunikasinya kurang berkembang.
  1. Faktor lingkungan yang juga bisa jadi penyebab speech delayed adalah gaya pengasuhan: suka membentak atau mengabaikan anak.
  1. Hati-hati! Anak yang suka dibentak atau diabaikan akan cenderung memilih untuk diam daripada dimarahi atau dicuekin lagi.
  1. Jadi, jika anak alami speech delayed karena faktor lingkungan berarti harus ada yang direvisi dari stimuli/gaya pengasuhan.
  1. Lingkungan di sekitar anak (ortu, pengasuh, keluarga serumah) harus rajin menstimulasi anak dengan banyak ajak anak bicara.
  1. Ortu dan pengasuh harus lebih sabar dalam menghadapi anak. Rajin merespon pertanyaan anak agar ia merasa tak diabaikan.
  1. Hindari membentak, terlalu banyak melarang apalagi menyalahkan perilaku atau pertanyaan anak. Pokoknya sabar.
  1. Memasukkan ke PAUD supaya cepat bicara tak selalu jadi solusi jika speech delayed disebabkan gaya pengasuhan yang salah.
  1. Anak adalah para peniru yang hebat! Kalau ortu/pengasuh tipe irit bicara, maka anak jadi akan minim belajar bicara. Cukup sekian dari saya. Terima kasih. []

1 komentar:

jual mesin las mengatakan...

info yg menarik, keep posting :)