Selasa, 19 Agustus 2014

Me-ramadhan-kan Bulan-bulan Lainnya

"Betapa hina seseorang jika Ramadhan datang, kemudian pergi, sedangkan ia belum di beri ampunan." (HR. At-Tirmidzi)

TAK terasa bulan Ramadhan akan segera meninggalkan kita. Di bulan Ramadhan kita melakukan sholat dan puasa, membaca Al-Qur'an dan menunaikan Qiyamul lail, berdzikir kepada Allah dan berdoa dengan khusyuk, bershadaqoh, berbuat kebajikan dan mempererat tali silaturrahim. Catatan amal sholih kita begitu melejit di bulan Ramadhan. Namun siapa disangka setelah berakhirnya bulan Ramadhan, aktifitas tersebut berubah 180 derajat. Sebagian besar kita, bila Ramadhan usai, usai pula meninggalkan kebaikan-kebaikan yang telah ia lakukan di bulan-bulan lainnya.

Belum lagi sikap kita yang berlebih-lebihan dalam menyambut Idul Fitri yang menyebabkan kita lalai dan tidak istiqomah dalam beribadah, sehingga semangat ibadah yang kita dapatkan di bulan Ramadhan menguap begitu saja tanpa berbekas. Id terkadang dipahami sebagai hari pelepasan dari segala kekangan. Kemaksiatan yang sempat libur, kembali di lakukan oleh kebanyakan kita. Seorang pujangga Arab menggambarkan sosok orang yang memuaskan diri dengan keharaman, usai lepas dari kekangan, seperti air terjun yang turun deras menyerupai kuda-kuda yang lepas dari tali kekangnya.

Seharusnya Ramadhan menjadi barometer agar kita bisa sukses menjalani ketaatan di bulan-bulan berikutnya dengan lebih baik. Islam mengajarkan kepada kita untuk terus beramal dan beribadah pada setiap waktu, baik di bulan Ramadhan atau di bulan-bulan lainnya. Seharusnya begitu kita keluar dari bulan Ramadhan, ada semangat yang begitu besar untuk terus istiqomah dalam beribadah di bulan-bulan berikutnya, laiknya bulan Ramadhan.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah seperti yang dikatakan oleh Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi: "Betapa hina seseorang jika Ramadhan datang, kemudian pergi, sedangkan ia belum diberi ampunan." Belum juga kita di ampuni di bulan Ramadhan, justru di bulan-bulan lainnya kita nodai dengan kemaksiatan yang lain. Naudzubillahi min dzalik.

Memang tidak mudah menjaga semangat untuk tetap istiqomah dalam menjalankan ibadah setelah bulan Ramadhan. Hal ini manusiawi dan pernah dialami oleh semua orang, sebagaimana Rasul pernah bersabda: "Iman itu bertambah dan berkurang." Namun sudah sepatutnya kita berusaha untuk istiqomah dalam kebaikan dan menjaga semangat kebaikan di Ramadhan dibulan-bulan berikutnya.

Istiqomah Beribadah & Beramal Sholih

Setelah Ramadhan, manusia terbagi menjadi dua bagian, yaitu: orang-orang yang menang dan orang-orang yang merugi. Seandainya perasaan kemengan ini ada pada kita, maka kita termasuk orang-orang yang beruntung dan patut mendapat ucapan selamat. Namun jika kita merugi, maka kecelakaanlah bagi kita dan kita patut berduka cita dan bersedih hati.

Rahmat Allah hanya diberikan kepada orang yang mau berbuat kebaikan, yang selalu taat kepada Allah serta selalu merindukan ridha-Nya sebagaimana firman Allah dalam surat Al-A'raf ayat 56: "Rahmat Allah hanya dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan." Dalam sebuah riwayat, Ibnu Abas telah ditanya perihal orang yang menjalankan berpuasa di siang hari dan melakukan sholat malam, namun ia tidak pernah mengikuti shalat jum'at dan berjama'ah. Maka beliau berkata: "Dia akan masuk neraka, Allah juga akan menjauhkannya dari Rahmat-Nya." Naudzubillahi min dzalik.

Maka sudah selayaknya kita terus istiqomah berbuat baik meskipun tidak lagi di bulan Ramadhan. Lebih baik sedikit amalan kita namun istimror (berkelanjutan) seperti yang dikatakan oleh Aisyah istri Rasulullah Saw: "Amalan sholih yang paling di cintai Allah adalah yang terus menerus dikerjakan sekalipun sedikit." (HR. Imam Bukhari dan Muslim)

Bahkan Rasulullah selalu mengganti sholat malamnya yang terlewat dengan sholat dhuha di siang harinya demi sebuah keistiqomahan dalam beribadah. Ini sebuah bukti bahwa Rasulullah semata-mata ingin terus istiqomah beribadah kepada Allah. Namun juga perlu diperhatikan bahwa ibadah kita harus senantiasa di tingkatkan kualitasnya, tidak hanya sekedar rutinitas belaka. Sikap istiqomah insya Allah akan mendatangkan banyak manfaat dan keutamaannya di dunia dan akhirat.

Istiqomah dalam beribadah dan beramal sholih juga akan menjadikan kita tercegah dari hal-hal yang dilarang oleh Allah, karena jiwa kita terlatih untuk memerangi nafsu syahwat yang ada dalam diri kita. Istiqomah pula yang memberi kekuatan atas terkabulnya sebuah doa. Bagaimana tidak? Orang yang terbiasa istiqomah akan selalu mengingat Allah dimana pun ia berada.

Hal lain yang menggembirakan bagi kita yang istiqomah adalah Allah akan tetap menulis pahalanya meski ia berhalangan tak bisa mengerjakan kebiasaannya itu. Sebagaimana dalam hadits Rasulullah yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, bahwa: "Apabila seorang hamba sakit atau sedang bepergian, akan tetap ditulis pahalanya meski ia berhalangan tidak bisa mengerjakan kebiasaannya itu." Maka berbahagialah orang-orang yang senantiasa istiqomah dalam beribadah dan beramal sholih.

Me-Ramadhan-kan Bulan Lainnya

Salah satu bukti suksesnya Ramadhan kita adalah kita bisa mengaplikasikan semangat Ramadhan di bulan-bulan lainnya. Paling tidak apa yang kita lakukan selama bulan Ramadhan juga bisa kita lakukan di bulan berikutnya. Menjaga untuk tetap dalam performa yang sama dalam beribadah seperti di bulan Ramadhan, minimal tidak terjadi penurunan kualitas Ibadah. Syukur ibadah kita bisa lebih baik lagi.

Semisal berpuasa kita bisa terus melakukan puasa dibulan-bulan berikutnya dengan puasa daud atau jika kita tidak mampu kita hanya berpuasa sunnah senin-kamis. Bulan Syawal juga bisa kita jadikan sarana untuk merefleksikan bulan Ramadhan dengan berpuasa syawal 6 hari di bulan syawal. Sebagaimana sabda Rasulullah yang diriwayatkan Imam Muslim: "Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian puasa enam hari di bulan Syawal, seolah-olah ia berpuasa satu tahun penuh."

Orang yang setelah Ramadhan berpuasa bagaikan orang yang cepat-cepat kembali dari pelariannya, yakni orang yang baru lari dari peperangan fi sabilillah lantas kembali lagi. Tidak sedikit manusia yang berbahagia dengan berlalunya Ramadhan, sebab mereka merasa berat dalam menjalankan puasa. Barangsiapa yang merasa demikian maka akan sulit baginya untuk menjalankan puasa. Padahal, orang yang menjalankan puasa setelah Idul Fithri merupakan bukti kecintaannya dengan ibadah puasa.

Membaca Al-Qur'an, dzikir dan Qiyamul lail yang biasa kita lakukan di bulan Ramadhan juga harus senantiasa kita lakukan dibulan-bulan lainnya. Membaca 1 juz dalam Al-Qur'an dalam sehari, melakukan Qiyamul lail (sholat malam) atau minimal sebelum tidur kita melakukan sholat witir, jika khawatir tidak terbangun dimalamnya. Sholat dhuha juga harus senantiasa kita lakukan. Tak lupa silaturrahim dan bershodaqoh juga harus terus kita lakukan di bulan-bulan selain Ramadhan. Dengan begitu insya Allah kita akan mampu meramadhankan bulan-bulan lainnya selain bulan Ramadhan.

Selamat tinggal wahai bulan shaum dan sholat, selamat tinggal hari- hari yang indah yang kami lalui dengan berdzikir dan tilawah Al-Qur'an. Kita tidak tahu, apakah amal kita diterima atau tidak. Betapa gembiranya jika amal kita diterima oleh Allah, sehingga kita bisa keluar pada hari raya dengan rasa gembira, senang, dan bersukaria. Sebaliknya, betapa sedihnya jika amal kita di tolak karena yang menyebabkan kita meninggalkan bulan ini dengan kebinasaan, kekecewaan, keletihan dan penyesalan. Naudzubillahi min dzalik.

Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang Allah bahagiakan dan tuliskan namanya di lembaran-lemabaran catatan kebahagiaan yang abadi. Semoga Allah mempertemukan kita kembali di Bulan Ramadhan selanjutnya. Aamiin, Allahuma amin... []

Tidak ada komentar:

Petuah Pak Cah, Menulis tak Butuh Bakat Melimpah

"Menulis itu tidak memerlukan bakat yang banyak, tinggal mau atau tidak." Itu kalimat-kalimat awal seorang Cahyadi Takari...