Selasa, 22 April 2014

Konsekuensi Bagi Kualitas Pendidikan

KUALITAS pendidikan kini menjadi salah satu alasan menentukan sekolah bagi anak. Edo Segara (30 tahun), salah satu orang tua murid, mengatakan, guru yang bagus dan kurikulum yang bagus menjadi salah satu pertimbangan dalam mencari sekolah yang baik untuk putranya.

Ayah satu anak yang saat ini masih sekolah di play group ini mengaku tidak selalu berpatokan dengan harga mahal dalam memilih sekolah bagi anaknya nanti. Namun, menurut dia sekolah yang bagus memang umumnya cenderung mahal.

Kualitas guru dan kurikulum, kata Edo, menjadi faktor utama. Sementara harga menjadi salah satu konsekuensi lain yang harus ditanggung untuk kualitas pendidikan. Sekolah-sekolah yang memungut biaya relative di atas rata-rata juga menawarkan poin lebih. “Ono rego, ono rupo,” seloroh pria yang tinggal di Yogyakarta ini.

Ketua panitia penerimaan siswa baru Sekolah Alam Indonesia (SAI)Alif R Kurniawan mengatakan, orang tua kini cenderung lebih siap dengan investasi pendidikan agar anak mereka bisa mendapatkan pendidikan yang baik. “Biaya kita relative hampir sama dengan yang lain, SPP kisaran Rp 500 ribu per bulan,” katanya.

Dengan biaya yang menurut Alif relatif cukup terjangkau ini, anak-anak bisa mendapatkan pendidikan dengan system yang tak hanya mengedepankan akademik. SAI, kata Alif, memang lahir dari kegelisahan yang menimpa dunia pendidikan.

Kurikulum SAI menjanjikan modifikasi dalam pendidikan. Sekolah yang menawarkan fasilitas pendidikan berbasis ala mini memodifikasi pengajaran sehingga anak-anak terpacu dengan kreativitas serta mengutamakan akhlak yang baik.

Akademik bukan menjadi hal utama dalam pencapaian belajar anak-anak. Sebaliknya, akhlak dan kepemimpinan menjadi faktor lain yang lebih ingin ditonjolkan. Kemampuan akademik menjadi poin ketiga yang ingin diraih dalam pendidikan di SAI.

Penilaian yang diberikan pun tidak diwujudkan dalam angka-angka, namun melalui narasi sehingga orang tua bisa melihat perkembangan anak dengan detail. “Kita (guru dan orang tua) tidak terlalu banyak membahas anak dapat nilai berapa, tapi bagaimana akhlak di kelas, sikap di lingkungan, kemandiriannya. Itu yang menjadi pembahasan awal saat konsultasi raport,” tuturnya.

Sekolah berkualitas juga diupayakan di Akademi Siswa Bangsa International (ASBI). Sekolah yang didirikan pada 2009 oleh Putra Sampoerna Foundation (PSF) ini memiliki visi mengantarkan siswa-siswi Indonesia berprestasi menjadi pemimpin bangsa. Setiap tahunnya, siswa-siswi ASBI setidaknya membutuhkan biaya Rp 55 juta untuk sekolah, biaya asrama, dan kebutuhan lain.

Managing Director PSF Nenny Soemawinata mengatakan ASBI tidak hanya mengembangkan kemampuan akademik namun juga karakter serta pengembangan jiwa kepemimpinan, kewirausahaan, dan tanggung jawab sosial.

Kurikulum ASBI merupakan perpaduan kurikulum pendidikan nasional digabungkan dengan kurikulum berstandar internasional dari International General Certificate for Secondary Education (IGCSE). Namun, tak hanya anak-anak dari keluarga berada yang sekolah di sini. Setiap tahun, ASBI menyeleksi anak-anak cerdas dari keluarga kurang sejahtera untuk mendapatkan pendidikan di ASBI. “Kita ingin bibit unggul dari keluarga kurang mampu juga bisa mendapatkan pendidikan yang baik,” katanya. [Rep: Dwi Murdaningsih Ed: Hiru Muhammad]

Sumber: Republika, Jumat 11 April 2014

1 komentar:

jual mesin las mengatakan...

info yg menarik, keep posting :)