Rabu, 12 Maret 2014

Terima Duitku, Nanti Ku Rampok Negaraku!

Source: www.tvberita.com
HARI itu kebetulan air di rumah saya mati tanpa sebab yang jelas. Setelah saya coba mengecek dan tidak menemukan sebabnya, saya akhirnya menyerah dan meminta bantuan tukang yang biasa memperbaikinya. Kebetulan memang air di rumah sudah beberapa kali rusak. Entah karena kabel yang putus, arus listrik yang mati, atau karena pompa air harus dipancing. Karena yang biasa memperbaiki sedang bekerja di tempat lain, akhirnya saya meminta bantuan bapak tukang yang kebetulan pernah memperbaiki rumah saya beberapa kesempatan terakhir.

Dalam sebuah kesempatan saya ikut nimbrung saat tukang sedang memperbaiki mesin air yang rusak. Saya biasa memanggilnya Pak Widi. Pak Widi ini kebetulan ikut membawa anaknya untuk membantu pekerjaaannya. Kebetulan sang anak sudah pulang dari sekolah. Anak tersebut menggunakan sebuah kaos partai. Lalu saya tertarik untuk menanyakan ke Pak Widi. “Pak, besok 9 April 2009, milih partai itu dong?”, ungkap saya sambil menunjuk kaos sang anak. Sambil tertawa Pak Widi menjawab: “Hehehe, iya mas. Dari sejak muda saya pilih itu.” Jawaban yang singkat tapi saya tidak mendapat alas an logis mengapa Pak Widi memilih partai tersebut.

Setelah berbasa-basi terakait kaos yang dipakai anaknya, saya menanyakan lagi tentang bendera-bendera partai yang dipasang di dekat rumahnya. Nah, bendera partai ini kebetulan berbeda dengan kaos yang dipakai sang anak. “Lho Pak, itu yang bendera partai itu yang masuk kesana siapa dan menawarkan apa?”, tanya saya. “Itu kemarin ikut membantu acara jatilan/campur sari warga kampung mas”, jawabnya. Nah, dari situ saya bisa menyimpulkan. Sebenarnya masyarakat kita masyarakat yang prgamatis. Masyarakat akan menerima apa saja yang diberikan oleh partai tertentu, akan tetapi belum tentu memilih partainya.

Saya jadi teringat kejadian sewaktu pemilihan kades (kelurahan) di daerah saya. Yang bikin saya terkejut, saya dengar beberapa kandidat calon sudah menghabiskan ratusan juta. Saya terus terang gak habis pikir. Berapa toh gaji Kades/Lurah, sehingga harus mengeluarkan uang ratusan juta. Pertanyaannya, duit itu dari mana? Iya kalau menang, kalau kalah terus gimana? Mungkin kita senang diberi uang 50-100 ribu, tapi apakah kita tidak berfikir dari mana sumbernya uang para kandidat tersebut? Cara mengembalikannya? Jika itu pinjaman (hutang) sudah pasti akan melakukan segala cara untuk mengembalikannya. Seolah-olah, para kandidat yang mencalonkan tersebut ingin bilang seperti ini: “Terima duitku, Nanti Ku Rampok Negaraku!.”

Melalui tulisan ini, saya mengajak para pemilih agar berfikir lebih panjang. Yuk kita bantu agar para wakil rakyat kita tidak korupsi dengan tidak mengambil dana yang diberikan para Caleg. Begitu pun dengan para Caleg. Wahai para Caleg, sadarlah. Jika masyarakat hanya ingin uangmu, mereka belum tentu memilih Anda. Jadi, jangan kau hambur-hamburkan duitmu untuk rakyat dari sumber yang Anda sendiri belum tau cara mengembalikannya. Semoga di Pemilu 2014 ini, dapat terpiilih wakil-wakil rakyat dan pemimpinan yang amanah dan peduli dengan rakyatnya. Indonesia semakin sejahteran, aman, dan bebas korupsi. Aamiin... []

1 komentar:

jual mesin las mengatakan...

info yg menarik, keep posting :)