Rabu, 05 Maret 2014

Jatuh, Tersenyum dan Bangkit Lagi

UNTUK memulai tulisan-tulisan saya yang serius, rasanya butuh tenaga yang ekstra untuk membiasakannya kembali. Maklum, karena kesibukan bisnis kecil yang saya rintis, rutinitas menulis saya sempat vakum lama selama bertahun-tahun. Pernah mencoba menulis kembali di blog, tetap saja ide yang ingin ditulis selalu kalah dengan pesanan-pesanan mitra yang harus diantar. Jadi saya ingin memulai lagi dengan tulisan yang ringan-ringan saja, tapi semoga tulisan-tulisan ini bisa menghadirkan banyak hikmah bagi kita semua. Mengapa saya menyebutnya tulisan-tulisan, karena saya berharap catatan ringan ini bisa berlanjut secara berkala untuk saya posting di blog saya.

Berawal dari sebuah kejadian saat saya di minimarket merk franchise yang cukup populer di Indonesia. Saat ingin membayar di kasir, saya cukup lama menunggu antrian karena di depan saya ada seorang ibu dengan dua anaknya sedang membayar. Anak ibu tersebut, saya taksir sang kakak sekolah di bangku menengah pertama, dan sang adik di bangku sekolah dasar. Anak yang paling kecil tanpa sengaja menjatuhkan makanan yang dia makan. Dengan agak kecewa ia bilang ke sang ibu jika makanannya jatuh. Lalu sang ibu dan kakaknya menyarankan untuk memungut dan membuangnya di tempat sampah.

Lalu, tiba giliran saya membayar. Karena memang niatan saya dari rumah hanya mentransfer uang untuk ibu saya melalui ATM yang ada di gerai tersebut, saya berbelanja tidak terlalu banyak. Setelah sampai di motor, ternyata ibu dan dua anak tadi belum bergegas pulang dan masih sibuk membenarkan air galon yang baru saja dibelinya untuk dibawa menggunakan motor. Entah melamun atau bagaimana sang anak yang tua, galon tersebut jatuh dan pecah. Air pun mengalir dan menciprati celana saya. Beruntung, celana saya yang basah hanya mengenai bagian bawah. Itu pun karena celana mengandung bahan parasut, jadi tidak menjadi soal.

Kembali ke soal air galon yang pecah tadi, karena airnya mengenai celana saya maka sang ibu pun meminta maaf. “Maaf ya pak, airnya kena celana bapak”, begitu permohanan sang ibu dengan suara pelan. Saya menjawab, “Tidak apa-apa bu, bukan masalah yang berarti.” Lalu saya perhatikan sang ibu tidak memarahi anaknya yang tua, justru menyuruh menyingkirkan galon yang pecah tersebut ke tempat sampah.

Apa yang bisa dicatat dari kejadian tersebut? Pertama, dua kejadian jatuhnya makanan dan air galon tersebut memaksa saya untuk menyimpulkan bahwa sang ibu memang seorang yang penyabar dan sangat sayang dengan anak-anaknya. Kedua, tidak ada kekecewaan sedikitpun dari seorang ibu dengan dua kejadian tersebut. Mungkin bagi beberapa orang cerita ini biasa saja, tapi bagi saya sebuah pelajaran yang sangat berarti. Pertama soal kesabaran dan kedua soal, cepat melupakan kejadian yang mengecewakan.

Ya, rasanya memang kita harus mencontoh ibu tersebut. Bisa jadi, jika kita yang mengalaminya akan memarahi sang anak, termasuk saya. Kejadian tersebut, mengajarkan kita bahwa memarahi sang anak bukan hal yang tepat karena toh kejadian tersebut lajur terjadi. Hikmah yang lain adalah, jatuhnya makanan dan air galon tersebut belum seberapa jika dibandingkan dengan jatuhnya anak-anak kita ke rasa bersalah yang terus-terusan dan susah move on (bangkit) dari kejadian yang menimpanya. Sang ibu mengajarkan kita, jika jatuh, tersenyumlah dan bangkit lagi. Wallahua’lam []

1 komentar:

jual mesin las mengatakan...

info yg menarik, keep posting :)

Petuah Pak Cah, Menulis tak Butuh Bakat Melimpah

"Menulis itu tidak memerlukan bakat yang banyak, tinggal mau atau tidak." Itu kalimat-kalimat awal seorang Cahyadi Takari...