Senin, 23 Juli 2012

Belajar Menulis dan Buka Bersama di Panti Asuhan Al-Islam


Mas Yusuf Maulana
YOGYA – Ahad (22/7), Senyum Community dan Sekolah Menulis Gratis (SMG) melakukan lawatan kegiatan pertamanya di Panti Asuhan Al-Islam, Tambak Bayan, Sleman. Kegiatan yang dilakukan ini berupa training menulis dan buka bersama buat anak-anak Panti Asuhan. Tema yang diusung dalam kegiatan ini adalah “Berbagi Semangat Menulis.” Untuk lawatan pertama ini, kegiatan training menulis didampingi oleh Yusuf Maulana, seorang kolumnis dan konsultan buku profesional. Sebelum resign dari tempat kerjanya, Yusuf Maulana merupakan Kepala Editor Penerbit Pro-U Media. Penerbit ini banyak melahirkan penulis-penulis muda yang berbakat dan buku-bukunya pun banyak yang masuk dalam kategori best seller.
Santri Putra PA Al-Islam

Dalam lawatan pertama tersebut, Yusuf Maulana memotivasi anak-anak panti asuhan agar memulai untuk membuat karya, agar anak-anak Panti Asuhan Al-Islam bisa lebih berkembang dan Panti Asuhan Al-Islam bisa dikenal lebih luas di kalangan masyarakat. “Karya tersebut bisa apa saja, bisa dalam bentuk puisi, lukisan, menulis di Koran, menulis buku dan masih banyak lagi”, ungkapnya.

Selain itu, dalam kesempatan tersebut Yusuf Maulana berbagi beberapa modal untuk bisa memulai menulis. Modal pertama untuk bisa memulai menulis adalah menuliskan cerita. Ya, bercerita merupakan modal untuk menulis. Tentunya di sekitar kita banyak cerita pribadi atau orang lain yang bisa kita tulis. “Barangkali, cerita-cerita tersebut bisa bermanfaat dan diambil hikmahnya oleh orang lain”, tambahnya.

Modal kedua untuk memulai menulis adalah suka berimajinasi. Bagi kita yang mempunyai imajinasi yang kuat dan positif bisa menjadi modal untuk menulis. Karya-karya fiksi berangkat dari banyak imajinasi penulis-penulis di Indonesia. Sebut saja Habibburahman El-Shirazy atau yang akrab disapa Kang Abik. Ia bisa melahirkan karya fenomenal berupa cerita fiksi berjudul “Ayat-Ayat Cinta.”

Modal ketiga untuk memulai menulis adalah suka berkenalan dan bersilaturahim dengan orang lain. Suka berkenalan ini bisa diartikan suka bersilaturahim dengan teman-teman media dan orang-orang baru. Tak perlu sungkan-sungkan, kita harus akrab dengan teman-teman media (Koran, radio, televisi) agar tau caranya bisa berkarya di media.

Santri Putri PA Al-Islam
Modal keempat untuk bisa memulai menulis adalah nekat dan berani bermimpi. Ya, nekat dan berani bermimpi. Dengan berani bermimpi, tentu akan memotivasi kita untuk berusaha lebih kuat. Kalau kita bisa bermimpi menjadi penulis yang bisa keliling dunia, insya Allah hal itu akan terwujud. Banyak penulis yang akhirnya bisa berbagi ke banyak ke Negara hanya karena menulis buku. Sebagai contoh kita bisa melihat Pak Fauzil Adhim, Pak Solikhin “Zero To Hero”. Mereka pada akhirnya bisa keliling dunia karena awalnya punya impian dan cita-cita yang besar.

Setelah pemaparan materi selesai, Yusuf Maulana mengajak teman-teman panti asuhan untuk menuliskan cerita di sebuah kertas. Dari cerita-cerita singkat tersebut, oleh Yusuf Maulana dinilai anak-anak Panti Asuhan Al-Islam sebenarnya banyak yang berbakat menjadi penulis. Hanya saja perlu latihan terus-menerus dan kerja keras tanpa kenal menyerah, tambah Yusuf Maulana.

Acara ini dilanjutkan dengan sholat maghrib bersama kemudian diteruskan dengan berbuka puasa bersama. Training menulis ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Senyum Ceria Ramadhan 1433 H. Selain training menulis, Senyum juga mengadakan pelatihan wirausaha, wisata bisnis, dan masih banyak lagi kegiatan yang diadakan untuk anak-anak Panti Asuhan yang ada di DIY dan Jateng. Kegiatan training menulis selanjutnya masih berlanjut keliling panti asuhan yang ada di Yogyakarta. [] 

Tidak ada komentar:

Petuah Pak Cah, Menulis tak Butuh Bakat Melimpah

"Menulis itu tidak memerlukan bakat yang banyak, tinggal mau atau tidak." Itu kalimat-kalimat awal seorang Cahyadi Takari...