Selasa, 12 Juni 2012

Jauhkanlah Masjid dari Anak Kalian !

PADA suatu hari, Saya dan keluarga kecil saya ingin going out ke suatu tempat. Karena kami keluar saat mendekati maghrib, kami menyempatkan diri untuk sholat terlebih dahulu di Masjid. Masjid pilihan kami jatuh di daerah sekitar perempatan menuju ke utara Stadion Maguwo Sleman, karena memang kami belum jalan terlalu jauh dari tempat tinggal kami. Saat masuk masjid untuk sholat, istri Saya @Dita_Khocan membisiki Saya sambil menunjuk tulisan yang tertempel di Masjid. Bunyinya kira-kira begini : “PERHATIAN !!! Anak-anak yang belum khitan/baligh dilarang masuk masjid”. Saya agak cukup terkejut, karena memang saat sholat Saya membawa anak Saya Muhammad Faiq Musyaffa yang umurnya masih 2,7 tahun.

Saya tidak mengkhawatirkan Faiq akan pipis atau pup sembarangan di masjid, karena saat ini Faiq terbiasa bilang jika ingin melakukannya. Hanya saja Saya agak terheran-heran dengan larangan tersebut, apa kira-kira dasar larangan di atas. Saya khusnudzan, mungkin anak-anak akan mengganggu Bapak-bapak atau Ibu-ibu yang sedang menjalankan ibadah sholat. Jadi dengan sangat terpaksa, Faiq harus sholat di luar ruangan utama masjid dengan uminya @Dita_Khocan.

Sekilas, Saya melihat masjid ini dikelola oleh orang-orang Nahdlatul Ulama (NU). Karena banyak kaligrafi menghiasi masjid tersebut dan saat Saya pernah jum'atan disana, adzan yang dikumandangkan juga dua kali. Saya sendiri besar di lingkungan keluarga NU. Tapi di masjid tempat kelahiran Saya di Lampung, tidak pernah ada larangan untuk anak kecil masuk ke masjid meski kadang memang mengganggu. Tapi seiring dengan waktu, ketika saat ini Saya sudah memiliki anak, Saya bisa memaklumi anak-anak tersebut. Karena memang karakter dasar anak-anak seperti itu (red. Suka bercanda, guyon, bermain, dll.)

Tentang larangan anak kecil yang belum baligh masuk masjid ini, Saya jadi teringat dengan hadits yang menunjukkan bolehnya mengajak anak yang belum tamyiz ke masjid. Diantara dalil tersebut adalah : “Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami jamaah, sementara Umamah binti Abil ‘Ash (cucu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) berada di gendongan beliau” (HR. Bukhari & Muslim).

Hadis ini memberikan 2 pelajaran penting. Pertama, bolehnya membawa bayi ke masjid, dan boleh menggendongnya ketika shalat, meskipun itu adalah shalat wajib. Karena ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggendong Umamah, beliau mengimami para sahabat. Kedua, pakaian bayi dan badannya itu suci, selama tidak diketahui adanya najis. Anggapan bahwa orang yang hendak shalat tidak boleh menyentuh atau menggendong bayi, karena dimungkinkan ada najis di pakaiannya adalah anggapan yang tidak berdasar. Prinsip “ada kemungkinan” hanyalah sebatas keraguan yang tidak meyakinkan. Jadi, kiranya jelas tidak ada larangan anak-anak masuk ke masjid.

Jika dalil pengelola masjid adalah hadits ini, “Jauhkanlah masjid kalian dari anak kalian!” Hadis ini diriwayatkan Ibn Majah dan at-Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir dari jalur al-Harits bin Nabhan, dari Utbah bin Abi Said, dari Makhul, dari Watsilah bin al-Asqa’ radliallahu ‘anhu. Perawi yang bernama Harits statusnya sangat lemah.

Berikut keterangan ulama tentang perowi ini: Al-Bukhari mengatakan: “Munkarul hadis.” Nasa’i dan Abu Hatim menilai orang ini dengan: “Matruk (ditinggalkan).” Ibnu Main memberikan komentar untuk orang ini dengan mengatakan: “Laisa bi Syai’in” terkadang, beliau menyatakan: “Hadisnya tidak ditulis.” Demikian beberapa keterangan yang disampaikan ad-Dzahabi dalam kitab al-Mizan (1/444). Hadis ini memiliki beberapa jalur lain, namun tidak ada satupun yang shahih. Keterangan selengkapnya ada di kitab Nashbur Rayah (2/491).

Saya berharap pengelola masjid di atas diberi hidayah dan selanjutnya mengoreksi kebijakan tersebut. Dan jika memang ternyata ada kejadian ini di masjid-masjid lain, semoga mereka bisa berbenah. Menurut hemat Saya, dan ini didukung oleh keterangan-keterangan dalil di atas, mengajak anak ke masjid justru mengajarkan mereka untuk terbiasa ke masjid untuk menunaikan sholat wajib kelak jika mereka sudah tumbuh dewasa. Terutama untuk anak kita yang laki-laki. Semoga tulisan singkat ini bermanfaat buat kita semua, amin. Wallahua'lam []

2 komentar:

Tontowi Jauhari mengatakan...

setuju,,,!! pada salah penafsiran itu.. .
lha kalo gak dikenalin dari kecil gimana bisa generasi muda penerus kita2 yang bentar lagi mau pensiun ini mengenal masjid. pantesan masjid sekarang sepi.... :-(

Anonim mengatakan...

Setuju.
Kenalkan anak ke mesjid. Dan ajarkan adab ketika berada di mesjid, kita bertanggung jawab agar anak kita jangan sampai mengganggu jamaah lain.

Bila anak masih terlalu kecil dan belum bisa melaksanakan adab di mesjid (masih suka main/bersuara keras dll), diajarkan sholat berjamaah bersama bundanya di rumah.

Nanti bila dirasa telah cukup, bisa diuji cobakan diikutkan ke mesjid.