Selasa, 26 Juni 2012

Roadshow Training Menulis di Panti Asuhan Jogja 1433 H

Berikut jadwal roadshow Training Menulis Gratis untuk anak-anak Panti Asuhan hasil kerjasama Sekolah Menulis Gratis (SMG) dan Senyum Community (www.senyumkita.com) selama bulan Ramadhan 1433 H :


No.
Waktu
Pukul
Tempat
Konsep Acara
Pemateri
1
Ahad, 22/07/12
15.30 – 18.00 WIB
Panti Asuhan Al-Islam
Tambak Bayan, Depok, Sleman
Training Menulis & Buka Bersama
Yusuf Maulana
(Kolumnis & Konsultan buku Profesional).

2
Kamis, 26/07/12
15.30 – 18.00 WIB
Panti Asuhan Al Mafaza
Jl Veteran Umbulharjo Yogyakarta
Training Menulis & Buka Bersama
Rachmanto
(Penulis Buku-buku Populer)
3
Selasa, 31/07/12
15.30 – 18.00 WIB
Panti Asuhan Nurul Yasmin
Kroco, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman
Training Menulis & Buka Bersama
Dwi Suwiknyo
(Penulis Produktif dan Pendiri Pesantren Penulis)
4
Selasa, 07/08/12
15.30 – 18.00 WIB
Panti Asuhan Khoirun Nisa
Jl. Wonosari KM10 Desa Kuton Tegalsari 
Training Menulis & Buka Bersama
Edo Segara
(Penulis dan Entrepreuner)


Jika ingin membantu kegiatan Pelatihan Menulis GRATIS dan Buka Bersama anak-anak Pondok Yatim Piatu selama bulan Ramadhan 1433 H, donasi bisa disalurkan melalui rek. Bank Syariah Mandiri 030-00-608-62 a.n Edo Segara Gustanto. Untuk info bisa telp/ SMS : 082138100707. Jazzakumullah khoiron katsir! []

Minggu, 24 Juni 2012

Bank Syariah, Bukan Urusan Gue!

Serahkan aja masalah syariah atau tidak syariahnya bank syariah kepada para akademisi dan ulama, tugas praktisi hanya menjalankan tugas saja!”
(Ucapan salah satu Direksi di sebuah Bank Syariah Yogyakarta)

PADA suatu saat, saya diminta memberi ceramah untuk pegawai-pegawai sebuah bank syariah. Itu pun mendadak, karena sebenarnya niat saya waktu itu hanya ingin menutup pembiayaan saya di bank tersebut. Tetapi, salah satu direksi meminta saya untuk berceramah tentang apa saja, sebelum saya meninggalkan bank. Hari itu adalah hari Jum'at, memang jadwalnya mendengarkan kultum dari Ustadz untuk para pegawainya. Kebetulan, Ustadz yang biasa mengisi bank tersebut berhalangan. Akhirnya saya didapuk menjadi Ustadz dadakan.

Sebagai mantan pegawai bank syariah, saat itu saya mencoba menyampaikan sebuah refleksi agar bank syariah berhati-hati dengan riba terselubung. “Dalam praktiknya, bagi hasil itu hanya berjalan pada bagi untung, tapi tidak dalam bagi rugi. Nah, kalau nasabah rugi, terus kita paksa minta bagi hasilnya, kira-kira uang yang diambil bank tersebut berkah tidak? Sementara nasabah sedang dalam kesusahan. Belum lagi, banyak bank syariah yang serta merta memberi begitu saja uang dalam akad murabahah. Apa bedanya dengan bank konvensional? Selain itu, pembiayaan yang menggunakan margin, admin, dan ketentuan syarat tabungan beku yang sangat tinggi”, kira-kira begitu ucapan yang saya sampaikan dalam forum tersebut.

Meski format penyampaian saya tersebut dalam bentuk ceramah, namun di akhir forum tersebut tak lupa diclosing dan simpulkan oleh Direksi Utama. Beberapa kalimat yang saya ingat, di antaranya adalah, “Terima kasih buat Mas Edo yang sudah mengingatkan kita semua, namun untuk masalah syariah atau tidak syariahnya bank syariah kita serahkan saja kepada para akademisi dan ulama, karena tugas praktisi hanya menjalankan tugas saja.” Jujur saya kaget setengah mati, mendengar kata-kata tersebut. Mengapa? Karena si Direksi ini memiliki salah satu saham di bank syariah yang dinakhodainya, walaupun atas nama istrinya. Jadi, ia punya kendali juga terhadap perjalanan bank syariah yang ia ikut dirikan.

Jika semua jawaban praktisi seperti di atas, saya kira perkembangan bank syariah di Indonesia menjadi memprihatinkan. Karena seolah-olah tugas untuk membangun peradaban ekonomi syariah hanya menjadi tanggung jawab akademisi dan ulama yang mengerti ekonomi syariah! Memang, jumlah aset bank syariah terus bertambah secara nasional. Namun jika kering dari nilai-nilai ekonomi syariah itu sendiri dan hanya mengutamakan pertumbungan aset dan keuntungan, bank syariah yang digagas sudah berpuluh-puluhan tahun menjadi nirmakna.

***

Kemarin (23/6), sehabis futsal juga saya bertemu kawan lama yang saat ini sudah menjabat Kepala Bagian Operasional sebuah bank syariah di Yogyakarta. Saya berbincang cukup lama tentang perkembangan bank syariah tempat ia bekerja dan seputar Bank Indonesia. Dua hal yang bisa saya catat, dalam diskusi kami tersebut adalah: Pertama, ia mengatakan, “Akademisi dan pengkritik bank syariah jangan hanya bisa mengkritik. Ayo buat sebuah contoh, bank syariah yang ideal.” Kedua, ia mengatakan, “Bank Indonesia (BI) juga ikut berperan dalam kebijakan, tidak berjalannya bank syariah sesuai syariat.”

Dua catatan teman saya tersebut, ingin saya tanggapi satu persatu. Yang pertama, saya kurang setuju jika akademisi dibilang hanya bisa bicara teori tapi miskin praktik. Menurut saya, untuk menerima masukan dari akademisi dan pengkritik bank syariah tidak perlu beralasan seperti itu. Cukup terima, dan tanyakan kepada mereka, apa masukan yang bisa dikasih mereka. Karena para akademisi juga bisa bilang, bahwa praktisi bank syariah sering menubruk aturan karena miskin teori. Menurut saya, baik akademisi ataupun praktisi punya peran sama-sama penting. Jika mereka bisa sinergi, insya Allah akan ada solusi dari masalah-masalah bank syariah yang ada sekarang.

Yang kedua, saya setuju jika Bank Indonesia punya peran atas tidak berjalannya dengan baik nilai-nilai dalam bank syariah. Saya bisa mengerti, karena mereka memang bukan kumpulan ulama. Kebijakan BI yang masih sangat merugikan bank syariah adalah ketentuan Non Performing Financing (NPF) di bank syariah yang disamakan dengan kebijakan Non Performing Loan (NPL) bank konvensional. Bagaimana bisa? Ya, karena dalam praktik ekonomi syariah memungkinkan dalam modal diinvestasikan dalam waktu jangka panjang. Sebagai contoh, saya invest modal saya 1-2 tahun. Saya tidak menarik modal saya selama perjanjian, dan saya hanya menerima bagi hasilnya. Nah, dalam kebijakan BI tersebut tidak bisa berjalan. Karena, jika modal Anda tidak diangsur selama setahun. Anda masuk dalam kategori kredit/pembiayaan macet meski membayar bagi hasil!

Sebenarnya masalah yang berhubungan dengan BI di atas sudah saya sampaikan langsung kepada salah satu pengawas bank yang berasal dari BI Yogyakarta. Kebetulan orang ini S2-nya ekonomi Islam di tempat kuliah saya yang sama. Harusnya ia mahfum dengan kritik saya. Namun, apa dikata, justru ia mengatakan begini, “Jika tidak mau taat aturan BI, buat saja Bank Indonesia sendiri!” Kata-kata tersebut bikin saya mengelus dada. Meski Pemerintah sudah mendukung perkembangan ekonomi syariah dengan UU Perbankan Syariah dan Sukuk. Tapi dari pihak Bank Central Indonesia sendiri belum ada solusi.

Saya berharap, ke depan ada perbaikan dari masalah-masalah yang ada di dalam bank syariah. Dari segi pelayanan, konsep, aturan main, serta regulasi dari Bank Indonesia itu sendiri. Pemerintah juga harus berani menempatkan dana-dananya di bank syariah, sebagai bentuk upaya mendukung bank syariah selain regulasi. Jangan sampai ada yang lempar-lemparan masalah ini, dan mengatakan "Bank Syariah, Bukan Urusan Gue!" Baik praktisi, akademisi atau Pemerintah harus bersinergi memecahkan masalah-masalah yang ada di bank syariah. Dan semoga bank syariah tumbuh dengan baik dan yang penting berkah! Wallahua'lam []

Kamis, 21 Juni 2012

Tuduhan Buku Porno Mengada - ada !

1. Setelah diklarifikasi oleh Humas FLP, @senjakarta. Ternyata berita-berita #TuduhanBukuPorno masih beredar di kalangan media massa. 

2. Ini salah satu berita klarifikasi oleh Humas FLP Pusat -> Heboh Buku 'Porno' lewat @kompascom

3. Misalnya link berita ini yang ditulis (20/6) -> @Liputan6dotcom Buku Pelajaran Mengandung Pornografi Beredar di Kudus #TuduhanBukuPorno

4. Saya masih tidak bisa mengerti, mengapa berita ini terus-menerus muncul #TuduhanBukuPorno

5. Jelas ini ada 'upaya' untuk menghabisi salah satu penerbit besar buku-buku Islam di Solo #TuduhanBukuPorno

6. Era Intermedia Solo  itu menerbitkan buku-buku Islam dan dakwah, jadi tidak mungkin bikin buku porno. Tapi memang buku (a). Ada Duka Wibeng (b). Tidak Hilang Sebuah Nama (c). Syahid Samurai adalah buku untuk remaja (for teenager), bukan untuk anak SD! #TuduhanBukuPorno

7. Buku-buku tersebut ditulis oleh anggota FLP, dimana para anggota FLP dikader untuk tidak menulis karya yang membawa pada kemudharatan. Para anggota FLP bahkan ada di garda depan dalam menolak segala bentuk karya yang bermuatan pornografi. #TuduhanBukuPorno

8. Majalah-majalah dan CD porno masih ada bertebaran dimana-mana, mending itu yang kalian invetigasi. Apa jurnalisnya malah yang mengkonsumsi? #TudinganBukuPorno

9. Ada peran distribusi di situ, karena buku-buku itu untuk anak remaja (SMP ke atas). Bukan untuk anak SD. Lah, kok jadi penulis dan penerbitnya yang disalahkan? #TuduhanBukuPorno

10. Penerbit tidak memasok buku-buku itu secara langsung, karena memang melalui distributor. Kecuali memang penerbit itu juga selaku distributor! #TuduhanBukuPorno

 11.Buku-buku yang dituduh porno tersebut telah lolos penilaian dari Pusat Kurikulum & Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kok bisa jadi buku porno? #TuduhanBukuPorno

12. Saya bukan anggota FLP dan bukan salah satu penulis di Era intermedia Solo, tapi saya ikut gerah penulis-penulis buku di atas dituduh membuat buku porno! #TuduhanBukuPorno

13. Apakah jurnalis yang menulis berita tentang #TuduhanBukuPorno ini sudah membaca utuh buku-bukunya? Saya yakin 100%, kalau mereka belum membaca!

14. Ah sudahlah, biarlah Allah yang menilai. Allah sebaik-baiknya penilai. Kenapa saya jadi marah-marah ya di twitter #TuduhanBukuPorno

15. Semoga berita #TuduhanBukuPorno ini segera mereda. Yang menurunkan berita juga segera sadar. Buat penulisnya, semoga semakin semangat untuk terus berdakwah melalui tulisan. Allahu Akbar!!! []

Rabu, 13 Juni 2012

SMG Roadshow ke Pondok Yatim Piatu Jogja

1. Mohon dukungan, Sekolah Menulis Gratis (SMG) akan menggelar Pelatihan Menulis GRATIS bekerjasama dengan @SenyumKita (info bisa dibuka -> www.senyumkita.com) untuk Pondok Yatim Piatu di Jogja selama Ramadhan.

 2. Kami akan keliling-keliling Pondok-pondok Yatim Piatu yang ada di Jogja selama bulan Ramadhan. Bagi penulis-penulis yang ingin bergabung dalam acara ini kami persilahkan.

3.  Program ini merupakan upaya dari kami untuk menumbuhkan bakat-bakat kreatifitas menulis anak-anak Yatim Piatu yang ada di Jogja. Agar mereka lebih berdaya dan menebar kebaikan lebih banyak lagi. 

4. Sekolah Menulis Gratis (SMG), dilaunching pertama kali pada tanggal 12/12/2010. Infonya bisa buka disini --> .

5. Sekolah Menulis Gratis (SMG) adalah organisasi nirlaba yang semata-mata melakukan kegiatan untuk sosial dan kebaikan.

6. Sekolah Menulis Gratis (SMG) pertama kali digagas oleh mas @Dwi_Suwiknyo yang saat ini mengelola @IslamicWriters bersama saya @EdoSegara.

7. Sekolah Menulis Gratis (SMG) selama ini melakukan kegiatan dari satu rumah penulis ke penulis yang lain. Alhamdulillah banyak yang sudah bergabung.

8. Penulis-penulis yang pernah terlibat dalam kegiatan SMG di antaranya : @KangArul, @HudaEsbe, @Dwi_Suwiknyo, @OpiniYM, @Mieny_Angel, dll.

9. Selama ini Sekolah Menulis Gratis didukung oleh @Youth_Publisher dan . Kami tidak menutup diri jika ada lembaga lain yang ingin ikut membantu kami.

10. Jika ingin membantu kegiatan Pelatihan Menulis GRATIS untuk Pondok Yatim Piatu selama bulan Ramadhan 1433 H, donasi bisa disalurkan lewat rek. Bank Syariah Mandiri 030-00-608-62 a.n Edo Segara Gustanto. Info telp/ SMS : 082138100707.

11. Demikian yang bisa saya share tentang program Sekolah Menulis Gratis (SMG). Kami mohon doa agar acara kami berjalan lancar. Terima kasih buat teman-teman yang sudah menyebarkan info ini.

12. Untuk info-info selanjutnya akan kami share melalui blog ini dan website www.senyumkita.com []

Selasa, 12 Juni 2012

Jauhkanlah Masjid dari Anak Kalian !

PADA suatu hari, Saya dan keluarga kecil saya ingin going out ke suatu tempat. Karena kami keluar saat mendekati maghrib, kami menyempatkan diri untuk sholat terlebih dahulu di Masjid. Masjid pilihan kami jatuh di daerah sekitar perempatan menuju ke utara Stadion Maguwo Sleman, karena memang kami belum jalan terlalu jauh dari tempat tinggal kami. Saat masuk masjid untuk sholat, istri Saya @Dita_Khocan membisiki Saya sambil menunjuk tulisan yang tertempel di Masjid. Bunyinya kira-kira begini : “PERHATIAN !!! Anak-anak yang belum khitan/baligh dilarang masuk masjid”. Saya agak cukup terkejut, karena memang saat sholat Saya membawa anak Saya Muhammad Faiq Musyaffa yang umurnya masih 2,7 tahun.

Saya tidak mengkhawatirkan Faiq akan pipis atau pup sembarangan di masjid, karena saat ini Faiq terbiasa bilang jika ingin melakukannya. Hanya saja Saya agak terheran-heran dengan larangan tersebut, apa kira-kira dasar larangan di atas. Saya khusnudzan, mungkin anak-anak akan mengganggu Bapak-bapak atau Ibu-ibu yang sedang menjalankan ibadah sholat. Jadi dengan sangat terpaksa, Faiq harus sholat di luar ruangan utama masjid dengan uminya @Dita_Khocan.

Sekilas, Saya melihat masjid ini dikelola oleh orang-orang Nahdlatul Ulama (NU). Karena banyak kaligrafi menghiasi masjid tersebut dan saat Saya pernah jum'atan disana, adzan yang dikumandangkan juga dua kali. Saya sendiri besar di lingkungan keluarga NU. Tapi di masjid tempat kelahiran Saya di Lampung, tidak pernah ada larangan untuk anak kecil masuk ke masjid meski kadang memang mengganggu. Tapi seiring dengan waktu, ketika saat ini Saya sudah memiliki anak, Saya bisa memaklumi anak-anak tersebut. Karena memang karakter dasar anak-anak seperti itu (red. Suka bercanda, guyon, bermain, dll.)

Tentang larangan anak kecil yang belum baligh masuk masjid ini, Saya jadi teringat dengan hadits yang menunjukkan bolehnya mengajak anak yang belum tamyiz ke masjid. Diantara dalil tersebut adalah : “Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami jamaah, sementara Umamah binti Abil ‘Ash (cucu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) berada di gendongan beliau” (HR. Bukhari & Muslim).

Hadis ini memberikan 2 pelajaran penting. Pertama, bolehnya membawa bayi ke masjid, dan boleh menggendongnya ketika shalat, meskipun itu adalah shalat wajib. Karena ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggendong Umamah, beliau mengimami para sahabat. Kedua, pakaian bayi dan badannya itu suci, selama tidak diketahui adanya najis. Anggapan bahwa orang yang hendak shalat tidak boleh menyentuh atau menggendong bayi, karena dimungkinkan ada najis di pakaiannya adalah anggapan yang tidak berdasar. Prinsip “ada kemungkinan” hanyalah sebatas keraguan yang tidak meyakinkan. Jadi, kiranya jelas tidak ada larangan anak-anak masuk ke masjid.

Jika dalil pengelola masjid adalah hadits ini, “Jauhkanlah masjid kalian dari anak kalian!” Hadis ini diriwayatkan Ibn Majah dan at-Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir dari jalur al-Harits bin Nabhan, dari Utbah bin Abi Said, dari Makhul, dari Watsilah bin al-Asqa’ radliallahu ‘anhu. Perawi yang bernama Harits statusnya sangat lemah.

Berikut keterangan ulama tentang perowi ini: Al-Bukhari mengatakan: “Munkarul hadis.” Nasa’i dan Abu Hatim menilai orang ini dengan: “Matruk (ditinggalkan).” Ibnu Main memberikan komentar untuk orang ini dengan mengatakan: “Laisa bi Syai’in” terkadang, beliau menyatakan: “Hadisnya tidak ditulis.” Demikian beberapa keterangan yang disampaikan ad-Dzahabi dalam kitab al-Mizan (1/444). Hadis ini memiliki beberapa jalur lain, namun tidak ada satupun yang shahih. Keterangan selengkapnya ada di kitab Nashbur Rayah (2/491).

Saya berharap pengelola masjid di atas diberi hidayah dan selanjutnya mengoreksi kebijakan tersebut. Dan jika memang ternyata ada kejadian ini di masjid-masjid lain, semoga mereka bisa berbenah. Menurut hemat Saya, dan ini didukung oleh keterangan-keterangan dalil di atas, mengajak anak ke masjid justru mengajarkan mereka untuk terbiasa ke masjid untuk menunaikan sholat wajib kelak jika mereka sudah tumbuh dewasa. Terutama untuk anak kita yang laki-laki. Semoga tulisan singkat ini bermanfaat buat kita semua, amin. Wallahua'lam []

Sabtu, 09 Juni 2012

Minta Racun Resign ???

Om @EdoSegara mbok sy diracuni utk resign..bosan boooo jd pegawaaaaiii”, begitu salah satu follower saya, Mbak Lucy Pravitasari (@lucyprav) di twitter mention saya. He... menurut saya, bukan hanya Mbak Lucy yang mengalami hal serupa. Banyak di kalangan pegawai merasakan hal yang sama dengan Mbak Lucy, yakni rasa jenuh dan bosan dengan rutinitas pekerjaan sehari-hari. Namun, jika alasan Anda resign karena perasaan jenuh dan bosan menurut saya kurang tepat. Mengapa? Karena kalau hanya bosan, anda bisa meminta ke Perusahaan Anda untuk dirotasi pekerjaannya di bagian lain. Atau Anda juga bisa meminta cuti berlibur atau outbond untuk menghilangkan kejenuhan bekerja.

Lah, terus apa dong alasan yang tepat buat resign? Motivasi dalam resign harus kita tanyakan ulang dalam diri kita, karena motivasi resign sangat menentukan seberapa kuat Anda bertahan untuk terus konsisten meretas jalan yang Anda pilih. Tanyakan dalam diri Anda, apakah niat Anda resign karena bosan jadi karyawan, gaji tidak cukup, ikut-ikutan atau pertentangan batin? Semua motivasi ini menurut Saya salah. 

Motivasi resign yang benar adalah pertama karena kebebasan diri dimana Anda bisa mengatur waktu, mengambil keputusan, aktualisasi diri dll. Yang kedua, motivasi yang benar adalah kontribusi pribadi. Yang dimaksud disini adalah kita resign karena ingin berkontribusi secara maksimal dalam bidang yang kita cintai.

Ketika pekerjaan kita tidak lagi menjadi rekreasi, maka harus kita putuskan segera untuk ambil tindakan. Memilih untuk tetap bertahan menjadi karyawan? Atau menjadi karyawan tetapi juga membuka usaha sampingan, atau secara ekstreem Anda memutuskan resign dari pekerjaan untuk berwirausaha sendiri?

Buku saya @EdoSegara
Jika keputusan Anda adalah ingin resign, kita tidak boleh gegabah. Saat resign dari pekerjaan, kita harus menyiapkan segalanya. Tidak waton keluar, karena pasti Anda memiliki keluarga toh? Jika pun tidak, masak Anda kembali minta uang dengan orangtua Anda? Atau jika istri Anda yang bekerja, Anda tidak malu memakai uangnya?

Menurut hemat penulis, keputusan resign harus dibarengi dengan persiapan yang baik dan mental yang kuat. Karena ada dua kemungkinan ketika Anda resign, yakni Anda bisa sukses atau jobless! Tentu pilihan sukses yang Anda pilih kan?

Maka, sebelum mengambil keputusan saat resign, ada beberapa warning dan persiapan yang perlu Anda lakukan. Ada beberapa buku yang bisa dibaca untuk memotivasi Anda dalam persiapan resign di antaranya adalah. (1). Tentu saja buku saya, ”Resign and Get Rich!” (promosi, he...). (2). Buku ”Quantum Resign” karya Pak Sonny B. Sofjan. (3). Buku "Untuk Indonesia yang Kuat; 100 Langkah Untuk Tidak Miskin" karya Bu Ligwina Hananto. Alla kuli hal, semoga pilihan Anda tidak salah. Sukses buat Anda! []