Senin, 28 Mei 2012

Tribute To Hj. Badriah

Nenek, no. 2 dari kiri
Tak satu makhluk hidup pun mengetahui kapan datang ajalnya. Manusia mengadakan persiapan selama seratus tahun. Tapi tidak tahu bahwa ajalnya menghampiri menit berikutnya.”
(Syair yang dikutip oleh Khawaja Muhammad Islam dalam bukunya “ Mati Itu Spektakuler”)

TEPAT pukul 20.46 saya melihat sebuah panggilan masuk telpon yang berasal dari Ibu saya. Karena saya baru melihat Handphone, lalu saya balik sms Ibu saya: “Ada apa mah?”, begitu kata-kata sms yang saya kirimkan ke Ibu saya. Tak lama kemudian Ibu saya menelpon. Tanpa basa-basi, Ibu saya bilang kalau Nenek saya sudah meninggal. Saya cuma kaget terdiam sembari tak percaya. Padahal baru seminggu yang lalu saya baru pulang menjenguk Nenek saya tersebut.

Memang kondisi terakhir yang saya temui, beliau sangat memprihatinkan. Berbeda dua bulan sebelumnya saat saya juga menemuinya. Seminggu yang lalu saat saya temui, kondisi almarhumah sangat kurus dan beliau bahkan sudah tidak ingat siapa saya dan orang-orang terdekatnya. Jika ia ingat pun, yang ia panggil acak. Dalam catatan Tante saya yang setia menungguinya, Ibu saya yang namanya paling sering dipanggil. Yang juga menarik adalah, Dita istri saya yang tidak bisa menemani saya menjenguk beliau justru dipanggil-panggil, bukan saya.

Saat terakhir saya temui
Di usianya yang ke-70, nenek saya menghembuskan nafasnya yang terakhir. Yang saya kenal dan ketahui, beliau muslimah yang sangat taat. Sehari-harinya sejak ditinggal almarhum Kakek saya Entoel Rachmat, kegiatannya hanya diisi dengan membaca al-Qur'an. “Daripada gosip, mending baca Qur'an...”, kata-kata itu yang terus saya ingat. Semasa kecil saya, saya seringkali ke rumah beliau dan menginap di sana. Kebetulan TK dan SD saya sangat dekat dengan rumah nenek. Nenek juga yang biasanya saya mintai tanda tangan jika nilai studi saya kecil. Saya tidak berani minta tanda tangan orangtua saya, karena sudah pasti akan dimarahi.

Intensitas saya mengunjungi beliau agak berkurang sejak saya kuliah dan tinggal menetap di Jogja. Terakhir, saat beliau masih sehat, beliau pernah mengunjungi rumah kami di Jogja. Saya pernah berharap beliau bisa mampir ke rumah kami kembali, namun sayang itulah kunjungan terakhirnya ke Jogja. Saya ingat betul ketika beliau meminta sprei baru yang menumpuk di gudang, kepada saya. Hal itu yang saya ingat terus dan bikin saya menangis. Saya selalu ingat beliau selalu membela saya jika ada keinginan saya yang tidak dipenuhi oleh orangtua saya.

Selamat jalan Nek... maafkan cucumu ini yang tidak bisa ikut mengantarkan jenazahmu diperistirahatan terakhir. Maafkan Edo, karena saat menjengukmu hanya sebentar-sebentar dan menunggui satu malam selama lima hari di Lampung. Cucumu ini justru sibuk menonton Final Liga Champion sampai pagi ketimbang menungguimu yang sedang berjuang melawan sakit yang ada di dalam tubuhmu.

Semoga kami anak-anaknya, cucu, dan buyutnya bisa semakin baik di dunia baik dunia dan amal untuk akhiratnya. Kelak menemui engkau nanti disana dalam keadaan yang lebih baik. Semoga bacaan Qur'anmu bisa membuat kamu bahagia di liang kubur. Semoga semua amal-amalmu memudahkan ketika engkau dihisab oleh-Nya. Kami semua pasti merindukanmu dan selalu mendoakanmu. []

Cucumu,
Yogyakarta, 28 Mei 2012

Tidak ada komentar:

Petuah Pak Cah, Menulis tak Butuh Bakat Melimpah

"Menulis itu tidak memerlukan bakat yang banyak, tinggal mau atau tidak." Itu kalimat-kalimat awal seorang Cahyadi Takari...