Rabu, 23 Mei 2012

Saling Rela dan Ridho (Antaroddin)


DALAM perjalanan menuju Lampung, bus yang Saya tumpangi cukup lama menunggu di Pelabuhan Merak untuk masuk ke kapal Feri. Tak lama, ada seorang tukang koran yang masuk ke dalam bus menawarkan sebuah koran kepada Saya. Tanpa berfikir panjang, Saya memilih salah satu koran nasional dan menyerahkan uang Rp. 20.000 karena ingin membaca informasi terbaru hari itu. Setelah dikembalikan, Saya hitung uang kembalian hanya Rp. 16.000. Padahal di koran tertera harganya hanya Rp. 3.000. Saya panggil lagi tukang koran tersebut, karena dia kurang memberi kembalian ke Saya sebesar Rp. 1.000. Siapa sangka, ternyata tukang koran tersebut cuek saja setelah Saya panggil, dan ngeloyor pergi begitu saja.

Pada kesempatan lain, kejadian di atas terjadi lagi saat Saya sudah berada di Kota Lampung. Lagi-lagi Saya membeli sebuah koran atau tabloid olahraga yang rutin terbit setiap hari Senin, Kamis, dan Sabtu. Meski tidak berlangganan, Saya cukup rutin membeli tabloid tersebut. Saya semakin semangat membeli tabloid tersebut, karena berita yang diturunkan pada edisi tersebut adalah final Liga Champion yang akan digelar tanggal 19 Mei 2012, antara Bayern Munchen (wakil klub Jerman) Vs Chelsea (wakil klub Inggris). Maklum, Saya adalah pendukung setia klub Inggris, berkostum biru alias Chelsea Fc. Biasanya koran ini untuk edisi Senin dan Kamis dihargai Rp. 6.000 dan hari Sabtu Rp. 2.500. Namun, karena berita yang diturunkan edisi khusus dan berhadiah poster, maka tabloid tersebut dibanderol Rp. 7.500. Hanya saja si tukang koran menawarkan ke Saya dengan harga Rp. 8.000. 
 
Lalu Saya bertanya kepada si tukang koran dengan nada sedikit emosi: “Lho Pak, ini kan harganya Rp. 7.500?”, tegas Saya
 
Si tukang koran tadi menjawab: “Oh ya, Masnya ada Rp. 500 gak? Saya gak ada recehan.” Saya jawab: “Gak ada, ya sudah ambil saja kembalian yang Rp. 500.” 
 
Kali ini saya lebih rela memberikan Rp. 500, ketimbang kejadian sebelumnya. Ini bukan soal nominalnya, tapi kejujuran dan saling rela dan ridho yang harus dikedepankan dalam sebuah transaksi jual-beli.

Contoh yang lain, ada juga sebuah swalayan lokal di Yogyakarta yang menerapkan larangan menukar atau mengembalikan barang yang sudah dibeli jika ternyata barang tersebut rusak setelah dibeli. Aturan tersebut malah diperjelas dalam struk belanja pelanggan. Kira-kira bunyinya adalah, “BARANG YANG SUDAH DIBELI, TIDAK BOLEH DIKEMBALIKAN.” Jelas hal ini merugikan pelanggan. Padahal swalayan ini pemiliknya seorang Tokoh Agama yang cukup terkenal di Yogyakarta. Tentu Saya tidak boleh menyebut nama swalayan ini, karena saya bisa kena pencemaran nama baik meski fakta yang Saya kemukan di atas itu benar adanya. Saya menjadi terheran-heran, apakah si pemilik ini tidak tahu menahu hukum muamalah dalam jual-beli. Saya tidak yakin, Saya sangat yakin seratus persen si pemilik tahu betul. Saya ber-khusnudzon mungkin sang empu swalayan tidak mengurus langsung bisnis ini, karena yang Saya tahu memang pengelolaan swalayan tersebut diserahkan oleh istrinya. 
 
Dalam agama apa pun jelas melarang praktik jual-beli seperti ini, karena dalam jual-beli mestinya ada suka sama suka dan saling rela (antaroddin). Dan jika ternyata ada barang rusak setelah dibeli, mestinya boleh ditukar dan dikembalikan jika bukan dirusak oleh pelanggan. 
 
Dalam al-Qur'an surat An-Nisa' ayat 29 disebutkan: “Hai orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antaramu…”. Tentang saling rela dan suka sama suka juga diperjelas dalam hadits Rasulullah SAW. dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan suka sama suka." (HR. al-Baihaqi dan Ibnu Majah, dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban).

Dari Qur'an dan hadits di atas kiranya jelas sekali bahwa jual-beli harus dilakukan dengan sikap antaroddin (saling rela dan suka sama suka). Tidak boleh merugikan salah satu pihak, apalagi sampai salah satunya tidak ridho karena barang yang dijual rusak atau tidak sesuai dengan harga yang tertera. Semoga tulisan singkat ini bisa menjadikan transaksi bisnis kita lebih baik lagi dan berkah ke depan. Sebagai penutup, maafkan Saya jika ada yang tersinggung atau marah karena tulisan ini. Afwan minkum []

Tidak ada komentar: