Senin, 14 Mei 2012

Makanan Kaki Lima, Harga Restoran

Umi sama Faiq di Simpang Lima Semarang
INI sudah kesekian kalinya Saya ke Semarang. Sejak Bapak dan Ibu Mertua Saya dipindah tugas dari Tarakan, intensitas ke Kota Semarang menjadi bertambah. Jika ada kesempatan, Saya dan Istri selalu menyempatkan saat weekend berkunjung kesana. Atau sebaliknya, Bapak dan Ibu Mertua Saya yang berkunjung ke Jogja. Alasannya tidak lain karena ingin menengok anak, cucu sekaligus liburan. Sebenarnya saat mahasiswa, Saya cukup sering ke kota kota yang terletak di pesisir utara Jawa ini, untuk kepentingan organisasi atau mengisi materi acara organisasi kemahasiswaan.

Dalam soal view pemandangan, Semarang memang surganya. Ya, jika kita menengok ke samping kendaraan kita baik motor ataupun mobil akan terpampang pemandangan yang cukup indah nan mempesona. Maklum, Kota Semarang telah menjadi kota pelabuhan internasional sejak ratusan tahun yang lalu. Kota Semarang terbagi menjadi dua kawasan yang dikenal dengan nama Semarang Atas dan Semarang Bawah. Kawasan Semarang Bawah yang menjadi pusat kota pada mulanya adalah laut yang mengalami sedimentasi aliran sungai yang terdapat di kawasan Semarang bagian atas. Lokasinya yang terletak di dataran rendah dan sering terkena luapan air laut (rob) menjadikan Semarang Bawah kerap mengalami banjir.

Kuliner Simpang Lima
Beberapa makanan khas Semarang di antaranya seperti Lumpia, Tahu Pong dan Soto Bangkong adalah perpaduan kuliner Jawa dan Cina. Overall, kota Semarang sangat oke untuk tempat berlibur, Tapi untuk soal makanan, menurut Saya Jogja tetap unggul dalam banyak hal, baik soal harga ataupun kualitas. Mengapa?

Dalam sebuah kesempatan, Saya makan di daerah Simpang Lima Semarang. Di daerah ini, sepanjang pinggiran jalan dipenuhi dengan kuliner semacam kaki lima namun cukup bersih. Saya duga, pedagang-pedagang makanan ini memang didukung oleh Pemerintah setempat. Ini sudah kedua kalinya Saya makan disana. Untuk kesempatan yang pertama, Saya mencoba steak yang ada disana. Menurut Saya, steak ini cukup enak. Saya lupa nama outletnya. Namun untuk harga, jangan tanya (mahalnya luar biasa).

Nota makan di Simpang Lima
Kesempatan kedua, saya mencoba makanan pecel lele dan tempe. Kalau ditanya tentang rasa, rasanya hambar dan kurang enak. Untuk harganya, hmm... harga es jeruk saja Rp. 4.000, Anda bisa menyimpulkan sendiri harganya. Kesimpulan saya, makanan di Semarang rasa kaki lima tapi harga restoran. He...

Kesan saya terakhir tentang kota ini adalah, lambannya proses penegakan hukum di sana. Seperti kita tahu, sudah hampir 5 tahun kasus dugaan korupsi asuransi fiktif yang menjerat nama mantan Walikota Semarang Sukawi Sutarip yang notabene adalah anggota Partai Demokrat mangkrak di Polda Jawa Tengah. Tim penyidik Polda Jawa Tengah yang menangani kasus ini sendiri terlihat diam saja dan tak melakukan proses hukum terhadap Sukawi.

Hasil audit investigasi BPKP atas pelaksanaan dokumen anggaran DPRD dan Sekretariat DPRD Kota Semarang tahun 2003 telah menyatakan adanya kerugian negara sebesar 4,1 milyar rupiah lebih. Dalam hasil Pemeriksaan tersebut di jelaskan bahwa kerugian terjadi karena Kebijakan Walikota dan pimpinan DPRD Kota Semarang yang tidak ada dasar atau ketentuannya. Lah dari pemandangan,  makanan, kok jadi ngomongin masalah korupsi ya? Udahan dulu ah, he... Kalau kesan Anda apa terhadap Kota Semarang? []

Source: Dari berbagai sumber

Tidak ada komentar: