Selasa, 08 Mei 2012

Koran dan Buku Belum Habis!

Source: http://the-marketeers.com
SEHARI-HARI Anda suka membaca koran? Atau setiap bulan, Anda senang memborong buku bacaan di toko buku? Anda patut khawatir! Mengapa? Karena banyak pengamat media menilai masa depan koran dan buku akan tamat. Ya, buku dan koran dalam bentuk cetak diprediksi akan tidak ada lagi beberapa tahun mendatang. Alasannya sederhana, di antaranya adalah: (1). maraknya teknologi smartphone seperti IPAD, Samsung Galaxy Tab, dan Blackberry akan membuat peralihan buku dalam format cetak konvensional menuju buku dalam format digital (e-book). (2). Buku dan koran dalam format cetak dinilai tidak efesien dan menyebabkan pemanasan global. (3). Mahalnya bahan baku untuk cetak buku.

Prediksi pengamat di atas, dinilai oleh beberapa kalangan penerbit cukup banyak berpengaruh terhadap penurunan omset usaha-usaha penerbitan. Masalah di atas belum termasuk banyak judul buku mereka yang tidak laku diretur oleh toko-toko buku besar semacam Gramedia dan Toga Mas. Ada semacam aturan tak tertulis, jika dalam jangka waktu tiga bulan penjualannya tidak baik, maka buku-buku tersebut akan dikembalikan toko buku kepada penerbit. Jika sudah seperti ini, maka gudang masing-masing penerbit sudah dipastikan akan penuh dengan buku-buku yang diretur oleh toko buku.

Diskursus tentang apakah media cetak seperti koran dan buku bisa bertahan ke depan, terus digulirkan dalam forum-forum resmi ataupun tidak resmi. Salah satunya dalam konvensi tahunan media cetak WAN-IFRA (The World Association of Newspapers and News Publishers) yang diadakan di Bali Nusa Dua Convention Center 10-12 April 2012. Dalam konvensi tersebut, banyak muncul isu strategis mengenai tantangan terhadap media dan juga peluang media digital.

Dalam konvensi pertama yang diadakan di Indonesia dengan mengangkat tema “Publish Asia 2012” dan dihadiri sekitar 600 eksekutif perusahaan media dari Asia Pasifik dan Timur Tengah tersebut, Jack Matthews, CEO Cetro Media, Fairfax Metro, Australia mengungkapkan: “Media cetak memang mendapatkan tekanan dari elektronik dan digital, namun orang masih memerlukan edisi cetak. Jadi, media cetak harus dikombinasikan dengan digital untuk menggarap pasar yang ada.”

Majalah Detik
Rasanya saya sependapat dengan Jack Matthews, meminjam istilah sahabat saya Mas Miftachul Huda, ada pengalaman psikologis yang tidak bisa tergantikan ketika membaca buku atau koran dalam versi digital. Saya punya kebiasaan mendownload majalah Detik yang diterbitkan oleh situs berita Detik.Com dari edisi awal sampai edisi sekarang. Ketika saya membaca majalah ini, saya tidak merasakan kenikmatan yang sama ketika membaca majalah dalam versi cetak. Begitupun ketika membaca buku atau koran dalam versi e-book/e-paper, yang ada justru mata saya tambah 'sepet' melihat monitor notebook.

Seperti diungkap dalam buku Mas Miftachul Huda, “Self Publishing; Kupas Tuntas Rahasia Menerbitkan Buku Sendiri”, Jalaludin Rakhmat, seorang pakar komunikasi mengatakan, “Para penerbit tidak perlu khawatir akan maraknya e-book. E-book tidak akan mampu menggeser buku konvensional. E-book mempunyai banyak kekurangan. E-book memang mudah diakses kapan saja dan di mana saja, asalkan bisa menggunakan koneksi ke internet. Namun, untuk menikmatinya diperlukan perangkat keras lainnya yang tidak semua masyarakat bisa menjangkau. Dengan begitu, e-book/e-paper hanya bisa dinikmati oleh kalangan masyarakat yang sangat terbatas.”

Nah, melihat fakta-fakta di atas, saya meyakini 100%, koran dan buku dalam format cetak belum habis! Memang ada peluang yang cukup bagus untuk menggarap buku atau koran dalam format digital dan elektronik, mengingat pasarnya memang ada. Tapi sekali lagi, keduanya masih punya peluang yang sama ke depan. Jadi, buat penerbit jangan ragu untuk terus mencetak buku. Saya yakin, buku Anda yang diretur bukan karena pengaruh era digital, namun Anda tidak cermat melihat kualitas buku yang Anda seleksi. Sukses buat Anda! []

Tidak ada komentar: