Selasa, 29 Mei 2012

KAMMI UII-KAMMI Sleman Selenggarakan Training Jurnalistik

Bertempat di Auditorium Fakultas Kedokteran jalan Kaliurang km. 14, 5 Sleman, para aktivis yang tergabung dalam wadah bernama Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) menghelat acara bertajuk peningkatan intelektual “Training Jurnalistik”. Terselenggaranya acara ini adalah atas kerjasama sesama departemen Hubungan Masyarakat (Humas), yaitu antara KAMMI komisariat Universitas Islam Indonesia (UII) dan KAMMI daerah Sleman. Acara yang dihelat untuk mahasiswa umum ini dihadiri oleh mahasiswa-mahasiswi dari UII dan UNY. Ini adalah salah satu bentuk kontribusi KAMMI dalam rangka memberikan kebermanfaatan (fasilitator amar makruf) pada sesama mahasiswa. Sekadar informasi, bahwa KAMMI UII sebelumnya juga mencoba menjadi fasilitator amal yaitu dengan mengadakan “Aksi Sosial untuk Sorong yang Terbakar”. Aksi ini berupa penggalangan bantuan untuk korban kebakaran di Rufei, Kota Sorong, Provinsi Papua Barat yang mayoritas muslim. Diadakan selama tiga hari (22-24 Mei) di area boulevard UII, antusias dari para dermawan begitu besar, baik itu sumbangan berupa dana maupun pakaian. Dalam selang satu hari, KAMMI kemudian mengadakan Training Jurnalistik ini yang bertemakan “Membangun Tradisi Ilmiah Mahasiswa”.

Sebanyak 31 orang menghadiri Training Jurnalistik ini, yaitu 23 orang akhwat dan 8 orang ikhwan. Selain daripada itu, diadakannya training ini adalah sebagai bekal bagi kader KAMMI sendiri untuk menjadi aktivis yang multitalenta. Pelaksanaan acara ini dibagi menjadi tiga sesi. Tampil sebagai pembicara sesi pertama adalah Yusuf Maulana. Pria asal Cirebon ini membawakan materi “Manajemen Media Masa, Isu dan Jaringan”. Media sangat penting peranannya sebagai sarana membangun citra organisasi. Menampakkan kebaikan organisasi di media sangatlah besar dampaknya, namun jangan sampai kita membeli berita—walaupun mungkin kita mampu untuk itu—sebab hal ini sungguh tidak mencerdaskan. Media memang mudah sekali membentuk opini. Wajah seseorang bisa terlihat baik karena media, pun tampilan buruknya seseorang dapat menjadi konsumsi publik oleh sebab media.

Kader KAMMI tidak afdhol kalau belajar saja, demo saja, mengejar IPK tinggi saja, ngaji saja, lulus kuliah pun, sebelum punya karya tulis. Maka menulislah, tuangkan gagasan dalam tulisan, karena tulisan adalah bukti peradaban. Terkait pertanyaan peserta mengenai subjektivitas kita terhadap media, bahwasanya kita mungkin—atau seringkali—berpikiran bahwa ketika apa yang disampaikan media tidak sesuai dengan apa yang sedang kita pikirkan maka anggapan yang muncul adalah media itu menyebar kebohongan. Maka pria kelahiran Cirebon ini memberi tips agar tidak melihat satu media saja ketika mengamati suatu isu. Kita perlu melihat satu isu dari berbagai sudut pandang (media), baik televisi, media cetak ataupun internet.

Sesi kedua mengenai “Kehumasan” dibawakan oleh Edo Segara. Alumnus Ekonomi UII ini merekomendasikan agar KAMMI fokus di masyarakat kampus (mahasiswa). Penekanannya ialah pada ‘kontribusi’ dan ‘kampus’. Sebab tanpa kontribusi, kita tak akan dikenal dan dianggap apa-apa. Sedangkan kampus ialah lingkup yang dianggap pas bagi kita sebagai mahasiswa, kita belum perlu menjamah lingkup yang lebih luas (mayarakat umum) karena kita lebih dekat dengan realitas di kampus. Publikasi menurut Edo adalah hal vital. “Jangan remehkan publikasi biasa, semacam blog”, ungkapnya. Ada beberapa hal yang dijelaskan oleh mantan Humas KAMMI Pusat ini terkait kehumasan. Pertama, organisasi kita mau dicitrakan seperti apa. Kedua, kita harus melakukan kerja-kerja di masyarakat (kampus) secara konsisten. Ketiga, optimalkan publikasi. Keempat, ikhlas karena Allah.

Sesi ketiga dibawakan oleh aktivis Humas KAMMDA Sleman Vivit Nur Arista Putra. Vivit memberikan stimulant pada para peserta mengenai “Motivasi Menulis”. Beberapa link media yang menerima tulisan (opini) mahasiswa ia berikan seperti harian Republika, Kedaulatan Rakyat, Tribun Jogja. Mahasiswa FIP UNY ini memotivasi peserta dengan pemaparannya bahwasanya beberapa media masa belakangan ini seringkali kekurangan tulisan sehingga ini adalah kesempatan baik bagi para peserta untuk mengirimkan tulisannya ke media. Selain itu, beberapa media juga lebih mengutamakan penulis pemula untuk diterbitkan tulisannya, sehingga ini adalah peluang besar bagi mahasiswa yang memang ingin menyuarakan opininya di media. Terakhir, training Jurnalistik ini ditutup dengan doa oleh Ketua KAMMI UII, Mahrus. [Ahada]

Senin, 28 Mei 2012

Tribute To Hj. Badriah

Nenek, no. 2 dari kiri
Tak satu makhluk hidup pun mengetahui kapan datang ajalnya. Manusia mengadakan persiapan selama seratus tahun. Tapi tidak tahu bahwa ajalnya menghampiri menit berikutnya.”
(Syair yang dikutip oleh Khawaja Muhammad Islam dalam bukunya “ Mati Itu Spektakuler”)

TEPAT pukul 20.46 saya melihat sebuah panggilan masuk telpon yang berasal dari Ibu saya. Karena saya baru melihat Handphone, lalu saya balik sms Ibu saya: “Ada apa mah?”, begitu kata-kata sms yang saya kirimkan ke Ibu saya. Tak lama kemudian Ibu saya menelpon. Tanpa basa-basi, Ibu saya bilang kalau Nenek saya sudah meninggal. Saya cuma kaget terdiam sembari tak percaya. Padahal baru seminggu yang lalu saya baru pulang menjenguk Nenek saya tersebut.

Memang kondisi terakhir yang saya temui, beliau sangat memprihatinkan. Berbeda dua bulan sebelumnya saat saya juga menemuinya. Seminggu yang lalu saat saya temui, kondisi almarhumah sangat kurus dan beliau bahkan sudah tidak ingat siapa saya dan orang-orang terdekatnya. Jika ia ingat pun, yang ia panggil acak. Dalam catatan Tante saya yang setia menungguinya, Ibu saya yang namanya paling sering dipanggil. Yang juga menarik adalah, Dita istri saya yang tidak bisa menemani saya menjenguk beliau justru dipanggil-panggil, bukan saya.

Saat terakhir saya temui
Di usianya yang ke-70, nenek saya menghembuskan nafasnya yang terakhir. Yang saya kenal dan ketahui, beliau muslimah yang sangat taat. Sehari-harinya sejak ditinggal almarhum Kakek saya Entoel Rachmat, kegiatannya hanya diisi dengan membaca al-Qur'an. “Daripada gosip, mending baca Qur'an...”, kata-kata itu yang terus saya ingat. Semasa kecil saya, saya seringkali ke rumah beliau dan menginap di sana. Kebetulan TK dan SD saya sangat dekat dengan rumah nenek. Nenek juga yang biasanya saya mintai tanda tangan jika nilai studi saya kecil. Saya tidak berani minta tanda tangan orangtua saya, karena sudah pasti akan dimarahi.

Intensitas saya mengunjungi beliau agak berkurang sejak saya kuliah dan tinggal menetap di Jogja. Terakhir, saat beliau masih sehat, beliau pernah mengunjungi rumah kami di Jogja. Saya pernah berharap beliau bisa mampir ke rumah kami kembali, namun sayang itulah kunjungan terakhirnya ke Jogja. Saya ingat betul ketika beliau meminta sprei baru yang menumpuk di gudang, kepada saya. Hal itu yang saya ingat terus dan bikin saya menangis. Saya selalu ingat beliau selalu membela saya jika ada keinginan saya yang tidak dipenuhi oleh orangtua saya.

Selamat jalan Nek... maafkan cucumu ini yang tidak bisa ikut mengantarkan jenazahmu diperistirahatan terakhir. Maafkan Edo, karena saat menjengukmu hanya sebentar-sebentar dan menunggui satu malam selama lima hari di Lampung. Cucumu ini justru sibuk menonton Final Liga Champion sampai pagi ketimbang menungguimu yang sedang berjuang melawan sakit yang ada di dalam tubuhmu.

Semoga kami anak-anaknya, cucu, dan buyutnya bisa semakin baik di dunia baik dunia dan amal untuk akhiratnya. Kelak menemui engkau nanti disana dalam keadaan yang lebih baik. Semoga bacaan Qur'anmu bisa membuat kamu bahagia di liang kubur. Semoga semua amal-amalmu memudahkan ketika engkau dihisab oleh-Nya. Kami semua pasti merindukanmu dan selalu mendoakanmu. []

Cucumu,
Yogyakarta, 28 Mei 2012

Rabu, 23 Mei 2012

Saling Rela dan Ridho (Antaroddin)


DALAM perjalanan menuju Lampung, bus yang Saya tumpangi cukup lama menunggu di Pelabuhan Merak untuk masuk ke kapal Feri. Tak lama, ada seorang tukang koran yang masuk ke dalam bus menawarkan sebuah koran kepada Saya. Tanpa berfikir panjang, Saya memilih salah satu koran nasional dan menyerahkan uang Rp. 20.000 karena ingin membaca informasi terbaru hari itu. Setelah dikembalikan, Saya hitung uang kembalian hanya Rp. 16.000. Padahal di koran tertera harganya hanya Rp. 3.000. Saya panggil lagi tukang koran tersebut, karena dia kurang memberi kembalian ke Saya sebesar Rp. 1.000. Siapa sangka, ternyata tukang koran tersebut cuek saja setelah Saya panggil, dan ngeloyor pergi begitu saja.

Pada kesempatan lain, kejadian di atas terjadi lagi saat Saya sudah berada di Kota Lampung. Lagi-lagi Saya membeli sebuah koran atau tabloid olahraga yang rutin terbit setiap hari Senin, Kamis, dan Sabtu. Meski tidak berlangganan, Saya cukup rutin membeli tabloid tersebut. Saya semakin semangat membeli tabloid tersebut, karena berita yang diturunkan pada edisi tersebut adalah final Liga Champion yang akan digelar tanggal 19 Mei 2012, antara Bayern Munchen (wakil klub Jerman) Vs Chelsea (wakil klub Inggris). Maklum, Saya adalah pendukung setia klub Inggris, berkostum biru alias Chelsea Fc. Biasanya koran ini untuk edisi Senin dan Kamis dihargai Rp. 6.000 dan hari Sabtu Rp. 2.500. Namun, karena berita yang diturunkan edisi khusus dan berhadiah poster, maka tabloid tersebut dibanderol Rp. 7.500. Hanya saja si tukang koran menawarkan ke Saya dengan harga Rp. 8.000. 
 
Lalu Saya bertanya kepada si tukang koran dengan nada sedikit emosi: “Lho Pak, ini kan harganya Rp. 7.500?”, tegas Saya
 
Si tukang koran tadi menjawab: “Oh ya, Masnya ada Rp. 500 gak? Saya gak ada recehan.” Saya jawab: “Gak ada, ya sudah ambil saja kembalian yang Rp. 500.” 
 
Kali ini saya lebih rela memberikan Rp. 500, ketimbang kejadian sebelumnya. Ini bukan soal nominalnya, tapi kejujuran dan saling rela dan ridho yang harus dikedepankan dalam sebuah transaksi jual-beli.

Contoh yang lain, ada juga sebuah swalayan lokal di Yogyakarta yang menerapkan larangan menukar atau mengembalikan barang yang sudah dibeli jika ternyata barang tersebut rusak setelah dibeli. Aturan tersebut malah diperjelas dalam struk belanja pelanggan. Kira-kira bunyinya adalah, “BARANG YANG SUDAH DIBELI, TIDAK BOLEH DIKEMBALIKAN.” Jelas hal ini merugikan pelanggan. Padahal swalayan ini pemiliknya seorang Tokoh Agama yang cukup terkenal di Yogyakarta. Tentu Saya tidak boleh menyebut nama swalayan ini, karena saya bisa kena pencemaran nama baik meski fakta yang Saya kemukan di atas itu benar adanya. Saya menjadi terheran-heran, apakah si pemilik ini tidak tahu menahu hukum muamalah dalam jual-beli. Saya tidak yakin, Saya sangat yakin seratus persen si pemilik tahu betul. Saya ber-khusnudzon mungkin sang empu swalayan tidak mengurus langsung bisnis ini, karena yang Saya tahu memang pengelolaan swalayan tersebut diserahkan oleh istrinya. 
 
Dalam agama apa pun jelas melarang praktik jual-beli seperti ini, karena dalam jual-beli mestinya ada suka sama suka dan saling rela (antaroddin). Dan jika ternyata ada barang rusak setelah dibeli, mestinya boleh ditukar dan dikembalikan jika bukan dirusak oleh pelanggan. 
 
Dalam al-Qur'an surat An-Nisa' ayat 29 disebutkan: “Hai orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antaramu…”. Tentang saling rela dan suka sama suka juga diperjelas dalam hadits Rasulullah SAW. dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan suka sama suka." (HR. al-Baihaqi dan Ibnu Majah, dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban).

Dari Qur'an dan hadits di atas kiranya jelas sekali bahwa jual-beli harus dilakukan dengan sikap antaroddin (saling rela dan suka sama suka). Tidak boleh merugikan salah satu pihak, apalagi sampai salah satunya tidak ridho karena barang yang dijual rusak atau tidak sesuai dengan harga yang tertera. Semoga tulisan singkat ini bisa menjadikan transaksi bisnis kita lebih baik lagi dan berkah ke depan. Sebagai penutup, maafkan Saya jika ada yang tersinggung atau marah karena tulisan ini. Afwan minkum []

Senin, 14 Mei 2012

Makanan Kaki Lima, Harga Restoran

Umi sama Faiq di Simpang Lima Semarang
INI sudah kesekian kalinya Saya ke Semarang. Sejak Bapak dan Ibu Mertua Saya dipindah tugas dari Tarakan, intensitas ke Kota Semarang menjadi bertambah. Jika ada kesempatan, Saya dan Istri selalu menyempatkan saat weekend berkunjung kesana. Atau sebaliknya, Bapak dan Ibu Mertua Saya yang berkunjung ke Jogja. Alasannya tidak lain karena ingin menengok anak, cucu sekaligus liburan. Sebenarnya saat mahasiswa, Saya cukup sering ke kota kota yang terletak di pesisir utara Jawa ini, untuk kepentingan organisasi atau mengisi materi acara organisasi kemahasiswaan.

Dalam soal view pemandangan, Semarang memang surganya. Ya, jika kita menengok ke samping kendaraan kita baik motor ataupun mobil akan terpampang pemandangan yang cukup indah nan mempesona. Maklum, Kota Semarang telah menjadi kota pelabuhan internasional sejak ratusan tahun yang lalu. Kota Semarang terbagi menjadi dua kawasan yang dikenal dengan nama Semarang Atas dan Semarang Bawah. Kawasan Semarang Bawah yang menjadi pusat kota pada mulanya adalah laut yang mengalami sedimentasi aliran sungai yang terdapat di kawasan Semarang bagian atas. Lokasinya yang terletak di dataran rendah dan sering terkena luapan air laut (rob) menjadikan Semarang Bawah kerap mengalami banjir.

Kuliner Simpang Lima
Beberapa makanan khas Semarang di antaranya seperti Lumpia, Tahu Pong dan Soto Bangkong adalah perpaduan kuliner Jawa dan Cina. Overall, kota Semarang sangat oke untuk tempat berlibur, Tapi untuk soal makanan, menurut Saya Jogja tetap unggul dalam banyak hal, baik soal harga ataupun kualitas. Mengapa?

Dalam sebuah kesempatan, Saya makan di daerah Simpang Lima Semarang. Di daerah ini, sepanjang pinggiran jalan dipenuhi dengan kuliner semacam kaki lima namun cukup bersih. Saya duga, pedagang-pedagang makanan ini memang didukung oleh Pemerintah setempat. Ini sudah kedua kalinya Saya makan disana. Untuk kesempatan yang pertama, Saya mencoba steak yang ada disana. Menurut Saya, steak ini cukup enak. Saya lupa nama outletnya. Namun untuk harga, jangan tanya (mahalnya luar biasa).

Nota makan di Simpang Lima
Kesempatan kedua, saya mencoba makanan pecel lele dan tempe. Kalau ditanya tentang rasa, rasanya hambar dan kurang enak. Untuk harganya, hmm... harga es jeruk saja Rp. 4.000, Anda bisa menyimpulkan sendiri harganya. Kesimpulan saya, makanan di Semarang rasa kaki lima tapi harga restoran. He...

Kesan saya terakhir tentang kota ini adalah, lambannya proses penegakan hukum di sana. Seperti kita tahu, sudah hampir 5 tahun kasus dugaan korupsi asuransi fiktif yang menjerat nama mantan Walikota Semarang Sukawi Sutarip yang notabene adalah anggota Partai Demokrat mangkrak di Polda Jawa Tengah. Tim penyidik Polda Jawa Tengah yang menangani kasus ini sendiri terlihat diam saja dan tak melakukan proses hukum terhadap Sukawi.

Hasil audit investigasi BPKP atas pelaksanaan dokumen anggaran DPRD dan Sekretariat DPRD Kota Semarang tahun 2003 telah menyatakan adanya kerugian negara sebesar 4,1 milyar rupiah lebih. Dalam hasil Pemeriksaan tersebut di jelaskan bahwa kerugian terjadi karena Kebijakan Walikota dan pimpinan DPRD Kota Semarang yang tidak ada dasar atau ketentuannya. Lah dari pemandangan,  makanan, kok jadi ngomongin masalah korupsi ya? Udahan dulu ah, he... Kalau kesan Anda apa terhadap Kota Semarang? []

Source: Dari berbagai sumber

Selasa, 08 Mei 2012

Koran dan Buku Belum Habis!

Source: http://the-marketeers.com
SEHARI-HARI Anda suka membaca koran? Atau setiap bulan, Anda senang memborong buku bacaan di toko buku? Anda patut khawatir! Mengapa? Karena banyak pengamat media menilai masa depan koran dan buku akan tamat. Ya, buku dan koran dalam bentuk cetak diprediksi akan tidak ada lagi beberapa tahun mendatang. Alasannya sederhana, di antaranya adalah: (1). maraknya teknologi smartphone seperti IPAD, Samsung Galaxy Tab, dan Blackberry akan membuat peralihan buku dalam format cetak konvensional menuju buku dalam format digital (e-book). (2). Buku dan koran dalam format cetak dinilai tidak efesien dan menyebabkan pemanasan global. (3). Mahalnya bahan baku untuk cetak buku.

Prediksi pengamat di atas, dinilai oleh beberapa kalangan penerbit cukup banyak berpengaruh terhadap penurunan omset usaha-usaha penerbitan. Masalah di atas belum termasuk banyak judul buku mereka yang tidak laku diretur oleh toko-toko buku besar semacam Gramedia dan Toga Mas. Ada semacam aturan tak tertulis, jika dalam jangka waktu tiga bulan penjualannya tidak baik, maka buku-buku tersebut akan dikembalikan toko buku kepada penerbit. Jika sudah seperti ini, maka gudang masing-masing penerbit sudah dipastikan akan penuh dengan buku-buku yang diretur oleh toko buku.

Diskursus tentang apakah media cetak seperti koran dan buku bisa bertahan ke depan, terus digulirkan dalam forum-forum resmi ataupun tidak resmi. Salah satunya dalam konvensi tahunan media cetak WAN-IFRA (The World Association of Newspapers and News Publishers) yang diadakan di Bali Nusa Dua Convention Center 10-12 April 2012. Dalam konvensi tersebut, banyak muncul isu strategis mengenai tantangan terhadap media dan juga peluang media digital.

Dalam konvensi pertama yang diadakan di Indonesia dengan mengangkat tema “Publish Asia 2012” dan dihadiri sekitar 600 eksekutif perusahaan media dari Asia Pasifik dan Timur Tengah tersebut, Jack Matthews, CEO Cetro Media, Fairfax Metro, Australia mengungkapkan: “Media cetak memang mendapatkan tekanan dari elektronik dan digital, namun orang masih memerlukan edisi cetak. Jadi, media cetak harus dikombinasikan dengan digital untuk menggarap pasar yang ada.”

Majalah Detik
Rasanya saya sependapat dengan Jack Matthews, meminjam istilah sahabat saya Mas Miftachul Huda, ada pengalaman psikologis yang tidak bisa tergantikan ketika membaca buku atau koran dalam versi digital. Saya punya kebiasaan mendownload majalah Detik yang diterbitkan oleh situs berita Detik.Com dari edisi awal sampai edisi sekarang. Ketika saya membaca majalah ini, saya tidak merasakan kenikmatan yang sama ketika membaca majalah dalam versi cetak. Begitupun ketika membaca buku atau koran dalam versi e-book/e-paper, yang ada justru mata saya tambah 'sepet' melihat monitor notebook.

Seperti diungkap dalam buku Mas Miftachul Huda, “Self Publishing; Kupas Tuntas Rahasia Menerbitkan Buku Sendiri”, Jalaludin Rakhmat, seorang pakar komunikasi mengatakan, “Para penerbit tidak perlu khawatir akan maraknya e-book. E-book tidak akan mampu menggeser buku konvensional. E-book mempunyai banyak kekurangan. E-book memang mudah diakses kapan saja dan di mana saja, asalkan bisa menggunakan koneksi ke internet. Namun, untuk menikmatinya diperlukan perangkat keras lainnya yang tidak semua masyarakat bisa menjangkau. Dengan begitu, e-book/e-paper hanya bisa dinikmati oleh kalangan masyarakat yang sangat terbatas.”

Nah, melihat fakta-fakta di atas, saya meyakini 100%, koran dan buku dalam format cetak belum habis! Memang ada peluang yang cukup bagus untuk menggarap buku atau koran dalam format digital dan elektronik, mengingat pasarnya memang ada. Tapi sekali lagi, keduanya masih punya peluang yang sama ke depan. Jadi, buat penerbit jangan ragu untuk terus mencetak buku. Saya yakin, buku Anda yang diretur bukan karena pengaruh era digital, namun Anda tidak cermat melihat kualitas buku yang Anda seleksi. Sukses buat Anda! []