Selasa, 03 April 2012

Menulis Buku Itu Mudah, Tapi...

Berbagi Ide Kepenulisan
UNTUK kesekian kalinya saya diminta untuk menyemangati teman-teman yang ingin menjadi penulis (khususnya buku) dalam sebuah forum acara kepenulisan. Secara jujur, saya masih jauh dikatakan sebagai penulis yang hebat bahkan penjualannya jauh dari kata best seller. Buku yang saya tulis baru 5, diantaranya: (1). Humas Gerakan [Laku > 1.000 eksemplar]. (2). Resign and Get Rich! [sekarang judulnya berganti “Karyawan No! Juragan Yes!, laku hampr 1.000 eksemplar]. (3). Menulis, Tradisi Intelektual Muslim [Laku > 300 eksemplar]. (4). Jangan Mau Jadi Mahasiswa Biasa-Biasa Saja! [Laku 100 eksemplar print digital, belum naik cetak]. (5). Awas Riba Terselubung! [belum naik cetak]. Dan buku yang saya sunting jumlahnya ada 3 (The Gokiel Mom, Pengantin-Pengantin Al-Quds, Pelaut dan Pulau Cendrawasih).

Mengapa hal ini perlu saya sampaikan, saya ingin mengatakan bahwa menulis itu memang mudah. Yang sulit adalah 'menjual'-nya. Jika Anda ingin membuat naskah yang 'menjual', ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan: 
 
www.pesantrenpenulis.org
Pertama, pastikan naskah tersebut berumur panjang. Ya, naskah Anda harus berumur panjang. Usia manusia boleh pendek, tapi usia buku Anda harus bisa hidup lebih lama. Anda bisa liat, karya-karya Chairil Anwar. Sampai sekarang, buku-bukunya masih banyak diburu. Buku-buku pelajaran dan mata kuliah juga termasuk buku yang sifatnya umurnya panjang. Karena dipakai terus. Bagaimana mungkin kita bisa menyamai karya-karya seperti Chairil Anwar? Jawabannya adalah sangat mungkin untuk bisa meniru karya-karya seperti Chairil Anwar. Contoh buku-buku yang umurnya pendek adalah buku-buku teknologi, buku yang heboh hanya pada saatnya).

Kedua, pastikan naskah tersebut tidak biasa-biasa saja atau sekedar latah temanya. Ya, kalau Anda cuma menulis buku yang temanya sudah banyak di pasaran, Saya jamin buku Anda penjualannya tidak begitu bagus. Anda harus rajin-rajin mengunjungi toko buku. Buku-buku apa saja yang fenomenal dan best seller. Anda juga harus memperhatikan judul-judul buku yang sudah banyak ditulis orang. Tulislah buku yang orang sama sekali belum pernah tulis.

Peserta Ikhwan
Ketiga, naskah Anda harus kreatif dan original. Naskah kreatif itu yang bagaimana? Naskah kreatif adalah cara Anda menulis tidak melulu seperti pakem yang orang banyak tulis. Anda bisa berkreasi dengan gaya Anda sendiri, namun Anda harus memastikan pasar buku tersebut juga. Selain itu, naskah Anda harus original. Jangan sekali-kali Anda copy paste (plagiat). Cepat atau lambat, jika Anda suka menyadur (copy paste), itu akan ketahuan. Bahkan sekarang ada software yang bisa melacak tulisan yang plagiat.

Keempat, Anda harus punya komunitas (massa). Mengapa komunitas, karena mereka lah target penjualan kita pertama. Anda harus rajin-rajin banyak bersosialisasi dan memiliki teman. Masuki komunitas-komunitas yang bermanfaat buat kita. Tentunya cara ini kita tempuh selain distribusi buku kita juga ke jaringan toko-toko buku seluruh Indonesia. Syukur bisa sampai ke luar negeri.

Peserta Akhwat
Kelima, self branding. Anda harus bisa membranding diri Anda sendiri. Ya, Anda harus punya ciri khas. Misal, Muhammad Fauzil Adhim terkenal dengan Islamic Parenting-nya. Ustadz Yusuf Mansur, terkenal dengan konsep sedekahnya. Aa' Gym, terkenal dengan konsep Manajemen Qolbunya (meski sekarang terkenal karena poligaminya, he... *becanda*). Dan masih banyak lagi contoh penulis buku yang lain. Definisikan diri Anda, ingin dicitrakan (branding) sebagai apa. Lalu sosialisasikan lewat social media (facebook, twitter, koprol dll.), website pribadi/blog, dan masih banyak lagi.

Kelima hal ini insya Allah, jika bisa kita rancang, akan bermanfaat buat buku yang akan kita tulis. Semoga karya-karya kita bisa banyak diapresiasi banyak orang dan bermanfaat. Wallahua'alam []

Tidak ada komentar:

Petuah Pak Cah, Menulis tak Butuh Bakat Melimpah

"Menulis itu tidak memerlukan bakat yang banyak, tinggal mau atau tidak." Itu kalimat-kalimat awal seorang Cahyadi Takari...