Senin, 09 April 2012

Jiwa Enterpreuner dalam Penulis

Buku Kang Arul
WRITERPREUNERSHIP, writerpreuner, interpreunership writing, atau apapun istilahnya adalah sebuah kemampuan enterpreuner yang harus dimiliki oleh seseorang yang ingin menekuni profesi sebagai penulis. Apa kemampuan tersebut? Kemampuan tersebut salah satunya adalah kemampuan untuk membaca pasar di masa depan, sehingga buku yang diterbitkan itu mampu diserap pasar dengan baik. Akan lebih baik, jika buku yang diterbitkan bisa menjadi best seller.

Jadi, jiwa enterpreuner tidak hanya dimiliki oleh seorang pengusaha. Penulis pun perlu memiliki sifat serta kemampuan enterpreuner agar buku-bukunya tetap laku di pasaran. Ibarat berjualan, seorang penulis sama seperti pedagang. Ia mesti tahu dagangan apa yang pada masanya cukup laku di pasaran. Dan pada saat kapan dagangannya sulit dijual. Sebab, bila seorang pedagang jualannya tidak laku dijual, maka sudah pasti sebagai seorang pedagang ia akan merugi atau bangkrut.

Sama dengan penulis, dagangan dalam hal ini berupa karya tulis, juga harus laku di pasaran. Bila tidak, tulisan dalam bentuk buku hanya akan menjadi onggokan karya yang tidak akan disentuh orang. Bukunya menjadi tidak laku. Dan penulis tidak mendapat penghasilan.

Jiwa enterpreuner ini perlu diasah, dilatih, dan dicoba secara terus menerus. Kemampuan ini tidak bisa datang begitu saja. Ia memerlukan latihan yang terkadang harus mengalami jatuh bangun disaat menjalani latihan tersebut, layaknya sebuah bisnis. Tanpa adanya latihan, kemampuan tersebut sulit bisa terbangun di dalam diri seorang penulis.

Kemampuan enterpreuner ini perlu dimiliki seorang penulis, agar penulis mampu membaca keinginan pasar pengetahuan yang dibutuhkan oleh pembacanya. Sebuah kemampuan menganalisa, mengamati, meneliti, kebutuhan pembaca. Kejelian menganalisa kebutuhan pembaca ini akan menjadi bekal penulis untuk memilih karya jenis apa yang harus digarap lebih awal.

Ada beberapa tips, agar penulis memiliki kemampuan membaca pasar. Di antaranya sebagai berikut:

Pertama, berkaitan dengan tema tulisan. Tema tulisan memiliki peranan penting dalam menentukan laku tidaknya sebuah buku. Ada buku-buku tertentu yang memiliki tema sepanjang waktu, seperti jenis buku agama dan buku ajar. Namun ada juga buku-buku dengan tema yang waktunya pendek. Yakni sebuah tema yang waktunya habis dalam jangka waktu tertentu. Seperti soal teknologi, poligami, dan sejenisnya. Buku sejenis ini biasanya akan banyak dibutuhkan pembaca pada saat masalah tersebut sedang ramai dibicarakan di tengah masyarakat. Sebaliknya jika masalah tersebut sudah tidak dibicarakan, maka buku tersebut akan kurang laku di pasaran.

Kedua, siapa segmen yang ingin kita bidik dari buku yang kita tulis. Seorang penulis mesti tahu untuk siapa tulisannya dibuat. Siapa segmen pasar yang ingin dituju. Bila tidak tahu segmen pasar pembaca dari karya yang dibuat, maka seorang penulis akan kesulitan membuat tulisan yang laku di pasaran.

Ketiga, jenis buku yang dicari. Ada beragam jenis buku yang ditulis. Namun perlu diingat bahwa ketika kita menulis buku sebaiknya didasarkan atas kebutuhan pembaca, bukan atas keinginan kita sendiri semata. Apabila kita menulis buku berdasarkan keinginan kita, hal ini belum tentu sesuai dengan keinginan pasar atau kebutuhan masyarakat. Semisal, masyarakat sedang gandrung dan lagi banyak mencari buku-buku berjenis “How To”, sedangkan penulis memunculkan karya-karya filsafat. Maka menjadi tidak nyambung. Yang paling baik adalah tulisan yang idealis namun pembaca juga suka.

Keempat, memahami kebutuhan pembaca. Pembaca ibarat raja. Mereka bisa mempengaruhi karier seorang penulis. Pembacalah penentu terakhir apakah sebuah buku laku atau tidak. Memahami kebutuhan pembaca, berarti seorang penulis harus jeli dan teliti memenuhi kebutuhan pembacanya. Insya Allah jika kita bisa melakukan empat hal ini, buku kita akan diserap pasar secara baik. Wallahua'lam []

Tidak ada komentar: