Jumat, 20 April 2012

Belajar dari Kesalahan AVB

Andre Villas Boas
MUSIM ini, memang musim yang sangat berat buat Chelsea FC. Ya, tertatih-tatih di ajang Piala Champion, Piala FA, bahkan yang lebih parah Chelsea harus terlempar dari Big Four di liga domestik Inggris. Imbasnya, pelatih berbakat Andre Villas Boas (AVB) yang sebelumnya sukses menangani FC. Porto dengan tiga gelar atau Treble Winner (Juara Piala Eropa, Juara Liga Domestik Portugal, dan Piala Liga Portugal) harus dipecat karena dinilai gagal menukangi Chelsea dari perburuan gelar.

Saya pribadi, sempat kecewa karena AVB dipecat oleh Chelsea atau lebih tepat dipecat oleh Roman Arkadyevich Abramovich sang pemilik tunggal klub Chelsea. Yang Saya sesalkan, waktu AVB hanya delapan bulan menukangi klub Chelsea sejak bulan Juni 2011 sampai dengan Maret 2012. Waktu delapan bulan, waktu yang sangat singkat bagi seorang manajer dimana Chelsea dalam masa transisi dan peremajaan skuad. Chelsea memang gemar bergonta-ganti pelatih (Manajer), demi memuaskan ambisi sang pemilik terutama gelar Piala Champion yang belum pernah direngkuh oleh sang kamerad.

Banyak kalangan sebelumnya menyayangkan keputusan Chelsea memecat AVB, karena mereka menganggap jika diberi waktu AVB pasti sukses bersama Chelsea. Namun jika melihat kondisi fakta terkini Chelsea sejak dipegang Roberto Di Matteo sebagai pelatih sementara, grafik kemengan Chelsea semakin baik. Saat ini orang baru bisa melihat jika keputusan Chelsea memecat AVB dirasa tepat. Chelsea hanya satu kali kalah di liga domestik melawan Manchester City dan sisanya menang dan dua laga mengalami hasil seri. Tadi malam, di semifinal Piala Champion bahkan Chelsea sukses mengalahkan tim kuat asal Spanyol sekaligus juara bertahan Piala Champion. Siapa lagi kalau bukan Barcelona.

Kesalahan-kesalahan AVB

Sebagai seorang manajer atau pelatih kepala, AVB dinilai sangat otoriter dan arogan kepada pemain. Terbukti, beberapa pemain senior Chelsea pernah bersitegang dengan AVB. Frank Lampard, Ashley Cole, Jhon Terry, Didier Drogba adalah pemain yang disebut-sebut pernah bersitegang dengan sang pelatih asal Portugal ini. Didier Drogba barangkali kariernya akan habis di Chelsea musim ini, karena kontraknya belum diperpanjang oleh Chelsea. Namun tiga nama sebelumnya, Frank Lampard, Ashley Cole, dan Jhon Terry rasanya masih punya kans yang besar untuk membela Chelsea jika melihat dari umur mereka.

AVB juga dikenal suka memaksakan skema permainan 4-3-3 di Chelsea, yang biasa dia terapkan di Porto dan sukses. Skema ini bagi beberapa pemain Chelsea tidak menjadi masalah, namun bagi pemain sudah cukup senior (tua) dirasa memberatkan pemain. Mengapa? Karena skema ini memaksa pemain harus menguasai bola dan terus berlari merebut bola dari lawan. Kesimpulannya, tidak semua klub bisa sukses menerapkan skema ini. Skema ini sangat tergantung dari kondisi materi pemain. Kita sangat tahu, tim asal Spanyol, Barcelona sangat sukses menerapkan skema ini. Namun, belakangan Pep Guardiola (Pelatih Barcelona) sendiri sering merubah skema ini sesuai kebutuhan tim.

Kembali ke AVB, AVB juga berupaya paksa melakukan regenerasi pemain Chelsea yang sudah dirasa tua dan tidak produktif lagi di Chelsea. Korban diantaranya adalah Nicolas Anelka (sekarang membela klub Cina, Shanghai Senhua), Alex (sekarang membela klub Perancis PSG). Dan beberapa nama yang lain seperti Frank Lampard (gelandang serang), Jhon Terry (bek tengah), Didier Drogba (Striker) sebenarnya dipaksa secara halus untuk mundur dengan AVB merekrut pengganti-pengganti mereka yang lebih muda seperti Juan Mata (gelandang serang), Oriol Romeu (gelandang bertahan), Garry Cahil (bek tengah). Untuk posisi striker memang Chelsea belum mendapatkannya. Namun yang sudah dalam pemantauan Chelsea, ada nama-nama seperti Edinson Cavani (Striker Napoli), Hulk (Striker Porto), Gonzalo Higuain (Striker Real Madrid), Radamel Falcao (Striker Atletico Madrid).

Belajar Kepemimpinan dari Kesalahan AVB

Source: www.guardian.co.uk
Pelajaran pertama yang bisa kita dapat dari kesalahan AVB adalah terkait regenerasi. Regenerasi memang hal yang mutlak untuk dilakukan! Di dalam Perusahaan sekalipun, regenerasi perlu dilakukan. Namun, ini bukan persoalan yang gampang baik di dalam sepak bola ataupun di perusahaan. Baik pemain atau bawahan, perlu diajak bicara dan diberi pemahaman ketika ingin dipensiunkan. Tidak dicampakkan, seperti yang dirasakan oleh Nicolas Anelka dan Alex. Bahkan di perusahaan, perusahaan harus memberikan pelatihan mental dan wirausaha untuk menyiapkan mereka ketika pensiun. Sehingga saat diberi pesangon, mereka bisa gunakan untuk berwirausaha (membuka usaha) untuk menyambung kehidupan mereka.

Pelajaran kedua yang bisa kita dapat dari kesalahan AVB adalah tidak mengakomodir pemain (bawahan). Frank Lampard, Ashley Cole, dan Jhon Terry, di Chelsea bagi para fans dianggap sebagai legenda. Trio Inggris (Lampard-Cole-Terry) ini dikenal sangat kuat dan hebat baik di Chelsea ataupun Timnas Inggris untuk saat ini. Menurut saya, sebagai manajer atau pimpinan kita harus bisa berdialog dan mengajak diskusi bawahan (pemain). Hal ini tidak dilakukan oleh Mr. AVB! Sudah banyak kasus terjadi di perusahaan-perusahaan, pimpinan yang tidak bisa mengakomodir bawahan, mengalami kegagalan total dalam memimpin perusahaan. Manajer otoriter, dijamin tidak membuat nyaman bawahan.

Pelajaran ketiga yang bisa kita dapatkan dari kesalahan AVB adalah memaksakan skema (kebijakan). Skema permainan (kebijakan perusahaan), tidak bisa serta merta kita paksakan ketika pemain (bawahan) tidak siap. Ada baiknya sebelum menerapkan skema (kebijakan), baik pelatih atau pemimpin perusahaan harus mendiskusikannya terlebih dahulu. Mengapa? Karena skema (kebijakan) yang diputuskan bersama, pasti akan dengan senang hati dilakukan bersama-sama oleh pemain atau bawahan. Dalam kasus Chelsea, Roberto Di Matteo atau Robie panggilan akrab para pemain Chelsea kepada sang caretaker, sukses belajar dari kesalahan AVB. Semoga banyak pemimpin (manajer) juga banyak belajar dari kesalahan AVB. Akhirnya, sukses buat Chelsea dan perusahaan Anda! []

2 komentar:

MF-A mengatakan...

Mantabs pak ulasannya, sangat menarik...

Biep458 mengatakan...

Salam kenal pak.. ane follower ke 77, saya sangt berterikasih kalo bapak berkenan followback blog saya... trims..

Petuah Pak Cah, Menulis tak Butuh Bakat Melimpah

"Menulis itu tidak memerlukan bakat yang banyak, tinggal mau atau tidak." Itu kalimat-kalimat awal seorang Cahyadi Takari...