Jumat, 20 April 2012

Belajar dari Kesalahan AVB

Andre Villas Boas
MUSIM ini, memang musim yang sangat berat buat Chelsea FC. Ya, tertatih-tatih di ajang Piala Champion, Piala FA, bahkan yang lebih parah Chelsea harus terlempar dari Big Four di liga domestik Inggris. Imbasnya, pelatih berbakat Andre Villas Boas (AVB) yang sebelumnya sukses menangani FC. Porto dengan tiga gelar atau Treble Winner (Juara Piala Eropa, Juara Liga Domestik Portugal, dan Piala Liga Portugal) harus dipecat karena dinilai gagal menukangi Chelsea dari perburuan gelar.

Saya pribadi, sempat kecewa karena AVB dipecat oleh Chelsea atau lebih tepat dipecat oleh Roman Arkadyevich Abramovich sang pemilik tunggal klub Chelsea. Yang Saya sesalkan, waktu AVB hanya delapan bulan menukangi klub Chelsea sejak bulan Juni 2011 sampai dengan Maret 2012. Waktu delapan bulan, waktu yang sangat singkat bagi seorang manajer dimana Chelsea dalam masa transisi dan peremajaan skuad. Chelsea memang gemar bergonta-ganti pelatih (Manajer), demi memuaskan ambisi sang pemilik terutama gelar Piala Champion yang belum pernah direngkuh oleh sang kamerad.

Banyak kalangan sebelumnya menyayangkan keputusan Chelsea memecat AVB, karena mereka menganggap jika diberi waktu AVB pasti sukses bersama Chelsea. Namun jika melihat kondisi fakta terkini Chelsea sejak dipegang Roberto Di Matteo sebagai pelatih sementara, grafik kemengan Chelsea semakin baik. Saat ini orang baru bisa melihat jika keputusan Chelsea memecat AVB dirasa tepat. Chelsea hanya satu kali kalah di liga domestik melawan Manchester City dan sisanya menang dan dua laga mengalami hasil seri. Tadi malam, di semifinal Piala Champion bahkan Chelsea sukses mengalahkan tim kuat asal Spanyol sekaligus juara bertahan Piala Champion. Siapa lagi kalau bukan Barcelona.

Kesalahan-kesalahan AVB

Sebagai seorang manajer atau pelatih kepala, AVB dinilai sangat otoriter dan arogan kepada pemain. Terbukti, beberapa pemain senior Chelsea pernah bersitegang dengan AVB. Frank Lampard, Ashley Cole, Jhon Terry, Didier Drogba adalah pemain yang disebut-sebut pernah bersitegang dengan sang pelatih asal Portugal ini. Didier Drogba barangkali kariernya akan habis di Chelsea musim ini, karena kontraknya belum diperpanjang oleh Chelsea. Namun tiga nama sebelumnya, Frank Lampard, Ashley Cole, dan Jhon Terry rasanya masih punya kans yang besar untuk membela Chelsea jika melihat dari umur mereka.

AVB juga dikenal suka memaksakan skema permainan 4-3-3 di Chelsea, yang biasa dia terapkan di Porto dan sukses. Skema ini bagi beberapa pemain Chelsea tidak menjadi masalah, namun bagi pemain sudah cukup senior (tua) dirasa memberatkan pemain. Mengapa? Karena skema ini memaksa pemain harus menguasai bola dan terus berlari merebut bola dari lawan. Kesimpulannya, tidak semua klub bisa sukses menerapkan skema ini. Skema ini sangat tergantung dari kondisi materi pemain. Kita sangat tahu, tim asal Spanyol, Barcelona sangat sukses menerapkan skema ini. Namun, belakangan Pep Guardiola (Pelatih Barcelona) sendiri sering merubah skema ini sesuai kebutuhan tim.

Kembali ke AVB, AVB juga berupaya paksa melakukan regenerasi pemain Chelsea yang sudah dirasa tua dan tidak produktif lagi di Chelsea. Korban diantaranya adalah Nicolas Anelka (sekarang membela klub Cina, Shanghai Senhua), Alex (sekarang membela klub Perancis PSG). Dan beberapa nama yang lain seperti Frank Lampard (gelandang serang), Jhon Terry (bek tengah), Didier Drogba (Striker) sebenarnya dipaksa secara halus untuk mundur dengan AVB merekrut pengganti-pengganti mereka yang lebih muda seperti Juan Mata (gelandang serang), Oriol Romeu (gelandang bertahan), Garry Cahil (bek tengah). Untuk posisi striker memang Chelsea belum mendapatkannya. Namun yang sudah dalam pemantauan Chelsea, ada nama-nama seperti Edinson Cavani (Striker Napoli), Hulk (Striker Porto), Gonzalo Higuain (Striker Real Madrid), Radamel Falcao (Striker Atletico Madrid).

Belajar Kepemimpinan dari Kesalahan AVB

Source: www.guardian.co.uk
Pelajaran pertama yang bisa kita dapat dari kesalahan AVB adalah terkait regenerasi. Regenerasi memang hal yang mutlak untuk dilakukan! Di dalam Perusahaan sekalipun, regenerasi perlu dilakukan. Namun, ini bukan persoalan yang gampang baik di dalam sepak bola ataupun di perusahaan. Baik pemain atau bawahan, perlu diajak bicara dan diberi pemahaman ketika ingin dipensiunkan. Tidak dicampakkan, seperti yang dirasakan oleh Nicolas Anelka dan Alex. Bahkan di perusahaan, perusahaan harus memberikan pelatihan mental dan wirausaha untuk menyiapkan mereka ketika pensiun. Sehingga saat diberi pesangon, mereka bisa gunakan untuk berwirausaha (membuka usaha) untuk menyambung kehidupan mereka.

Pelajaran kedua yang bisa kita dapat dari kesalahan AVB adalah tidak mengakomodir pemain (bawahan). Frank Lampard, Ashley Cole, dan Jhon Terry, di Chelsea bagi para fans dianggap sebagai legenda. Trio Inggris (Lampard-Cole-Terry) ini dikenal sangat kuat dan hebat baik di Chelsea ataupun Timnas Inggris untuk saat ini. Menurut saya, sebagai manajer atau pimpinan kita harus bisa berdialog dan mengajak diskusi bawahan (pemain). Hal ini tidak dilakukan oleh Mr. AVB! Sudah banyak kasus terjadi di perusahaan-perusahaan, pimpinan yang tidak bisa mengakomodir bawahan, mengalami kegagalan total dalam memimpin perusahaan. Manajer otoriter, dijamin tidak membuat nyaman bawahan.

Pelajaran ketiga yang bisa kita dapatkan dari kesalahan AVB adalah memaksakan skema (kebijakan). Skema permainan (kebijakan perusahaan), tidak bisa serta merta kita paksakan ketika pemain (bawahan) tidak siap. Ada baiknya sebelum menerapkan skema (kebijakan), baik pelatih atau pemimpin perusahaan harus mendiskusikannya terlebih dahulu. Mengapa? Karena skema (kebijakan) yang diputuskan bersama, pasti akan dengan senang hati dilakukan bersama-sama oleh pemain atau bawahan. Dalam kasus Chelsea, Roberto Di Matteo atau Robie panggilan akrab para pemain Chelsea kepada sang caretaker, sukses belajar dari kesalahan AVB. Semoga banyak pemimpin (manajer) juga banyak belajar dari kesalahan AVB. Akhirnya, sukses buat Chelsea dan perusahaan Anda! []

Selasa, 17 April 2012

Sudah Optimalkah Pemberdayaan ZIS dan CSR di Indonesia?

Zakat itu harus disegerakan sampai ke yang berhak menerimanya. Tidak boleh menunda penyaluran zakat dengan alasan diinvestasikan atau dikembangkan. Pendapat ini sesuai dengan maksud disyariatkan ibadah zakat. Yaitu mensucikan harta dengan cara menyalurkannya kepada yang berhak.”

JUDUL di atas menyeruak dibenak kepala saya ketika ada seorang warga miskin di sekitar daerah saya datang ke rumah. Kedatangan mereka untuk meminta bantuan saya untuk mencarikan dana, karena salah satu keluarga mereka ada yang sakit 'tidak umum' dan harus dioperasi hampir puluhan juta. Saya sendiri kurang begitu paham secara detail terkait penyakit yang diderita. Bagi golongan mampu, uang puluhan juta tentu tidak akan mengalami kesulitan. Tapi kesulitan mereka, sangat bisa saya rasakan. Mungkin untuk makan dan kebutuhan sehari-hari saja, mereka masih kesulitan.

Tanpa berpikir panjang, Saya merekomendasikan mereka untuk datang ke salah satu lembaga sosial pengumpulan Zakat Infak dan Sedekah (ZIS) tertentu di Yogyakarta yang saya anggap punya kemampuan untuk membantu mereka. Dengan sangat pede, saya meyakini lembaga ini akan memberi solusi kesulitan mereka. Mereka juga sudah berusaha untuk datang ke KR, berharap publikasi tentang sakit yang derita keluarga mereka meraih simpati dari masyarakat. Dari pihak rumah sakit sendiri sebenarnya sudah memberi keringanan dan mereka juga dapat membayar dengan mencicil atau menutup dikala sudah memiliki kemampuan untuk membayar.

Setelah kesana kemari mencari dana untuk operasi penyakit salah satu keluarganya, mereka kembali menemui saya. Mereka menuturkan jika mereka hanya dibantu sebesar 1 juta rupiah saja oleh lembaga ZIS yang saya rekomendasikan. Saya agak kaget mendegarnya, karena yang saya tahu lembaga ZIS ini bisa mengumpulkan dananya mencapai triliunan rupiah. Sontak saya kaget dan sedih mendengarnya. Mengapa? Karena orang yang jelas-jelas membutuhkan bantuan di depan mata saja, mereka tidak bisa membantu secara maksimal. Muncul pertanyaan di kepala saya, apa saja yang mereka lakukan selama ini? Tentu tidak etis jika saya harus menyebutkan nama lembaga salah satu ZIS yang cukup ternama ini.

Beasiswa Sekolah

Sewaktu masih bekerja di Bank Syariah, saya juga memiliki pengalaman yang hampir serupa. Saya kedatangan salah seorang warga dari kalangan masyarakat miskin untuk menemui saya di kantor. Seorang Ibu tersebut bertutur jika ia kesulitan membayarkan anaknya sekolah. Karena waktu itu dana ZIS belum begitu banyak, karena kantor baru saja buka. Saya merekomendasikan ibu tersebut ke salah satu lembaga ZIS di Kota Yogyakarta. Lembaga ini tidak sama dengan yang saya rekomendasikan di atas. Kenapa saya merekomendasikan ke lembaga ini, karena saya tahu jika lembaga ini memiliki program beasiswa sekolah bagi warga tidak mampu.

Berbeda dengan cerita sebelumnya, ibu ini saya antar langsung ke kantor lembaga ZIS tersebut. Saya sendiri yang berbicara langsung dengan salah satu pegawai lembaga tersebut. Saya sangat yakin mereka bisa membantu ibu yang kesulitan ini, karena lembaga saya sendiri saat itu sudah sering bekerjasama dalam hal pembiayaan bagi karyawan-karyawannya. Kebetulan saya juga punya beberapa teman yang cukup akrab disana. Apa yang saya dapatkan? Ternyata lembaga ini juga berbelit-belit dengan memberi persyaratann yang cukup banyak agar ibu yang membutuhkan tersebut bisa dibantu.

Ternyata, pengalaman ini kembali saya dapatkan. Mungkin benar buku yang ditulis oleh salah satu pemerhati sosial sekaligus aktivis Pusat Studi Hukum UII di Yogyakarta, Eko Prasetyo, SH. Bahwa 'orang miskin dilarang sakit dan sekolah'. Sungguh fakta yang sangat menyedihakan sekaligus memprihatinkan. Pertanyaannya, lembaga ZIS kah yang bertanggung jawab terhadap biaya rumah sakit dan sekolah warga-warga miskin. Jawabannya adalah BUKAN! Akan tetapi mereka bisa bersinergi dengan Pemerintah untuk bahu-membahu ikut mengentaskan kemiskinan yang ada di Indonesia.

Sumber foto: www.gemabaiturrahman.com
Bukankah semangat awal lembaga-lembaga ZIS yang ada di Indonesia untuk membantu kaum-kaum dhuafa? Mereka bertugas mengumpulkan harta-harta orang yang memiliki kelebihan untuk disalurkan kepada kaum yang membutuhkan? Konon jumlah masyarakat miskin di Negara kita mencapai 38.000.000 orang jumlahnya versi Dompet Dhuafa dan 17.000.000 orang versi Pemerintah. Entah mana yang benar, namun jumlah ini sebenarnya sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah golongan yang mampu yang ada di Indonesia. Artinya apa? Artinya, potensi-potensi ZIS ini seharusnya bisa dimaksimalkan untuk memberi sedikit solusi dari persoalan kemiskinan yang ada di Indonesia. Jika Pemerintah, Baznas, dan Lembaga-lembaga ZIS ini bisa bersinergi dengan baik, saya yakin persoalan kemiskinan bisa diselesaikan. Belum lagi potensi Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia.

CSR Jangan Gunakan ZIS

Dengan diwajibkannya dalam Undang-Undang Republik Indonesia, bahwa perusahaan-perusahaan wajib menyalurkan CSR, mestinya potensi CSR ini bisa kita optimalkan dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Dana CSR perusahaan-perusahaan umumnya disalurkan melalui lembaga-lembaga sosial dan ZIS. Ada juga yang berinisiatif menyalurkannya sendiri. Bank-bank syariah bahkan melakukannya sendiri. Di dalam bank syariah, dana-dana ZIS di antaranya disalurkan melalui skim qordhul hasan (dana kebajikan). Jadi, bank-bank syariah menyalurkan melalui skema pinjaman namun tidak dipungut bagi hasil, alias hanya mengembalikan pokoknya saja.

Dalam perkembangannya, beberapa institusi bank syariah melakukan program CSR menggunakan dana ZIS. Jelas ini merupakan kesalahan besar. Karena dana CSR harusnya menggunakan keuntungan perusahaan. Sedangkan dana ZIS itu harus disalurkan kepada yang berhak. Zakat sendiri harus disegerakan sampai ke yang berhak menerimanya. Tidak boleh menunda penyaluran zakat dengan alasan diinvestasikan atau dikembangkan. Pendapat ini sesuai dengan maksud disyariatkan ibadah zakat. Yaitu mensucikan harta dengan cara menyalurkannya kepada yang berhak.

Kita juga sangat prihatin, karena kita masih banyak melihat dana-dana bantuan pemirsa stasiun-stasiun televisi (TV) diklaim sebagai CSR dari perusahaan stasiun TV tersebut. Padahal dana-dana bantuan tersebut berasal dari penonton TV stasiun tersebut. Begitupun juga dana-dana kepedulian pembaca di surat kabar. Seharusnya, baik pihak televisi atau surat kabar menjelaskan bahwa dana bantuan tersebut berasal dari pembaca dan penonton media tersebut. Semoga kekeliruan-kekeliruan di atas bisa diperbaiki, dan masyarakat Indonesia yang tergolong miskin bisa menikmatinya dengan baik. Wallahua'lam []

Senin, 09 April 2012

Jiwa Enterpreuner dalam Penulis

Buku Kang Arul
WRITERPREUNERSHIP, writerpreuner, interpreunership writing, atau apapun istilahnya adalah sebuah kemampuan enterpreuner yang harus dimiliki oleh seseorang yang ingin menekuni profesi sebagai penulis. Apa kemampuan tersebut? Kemampuan tersebut salah satunya adalah kemampuan untuk membaca pasar di masa depan, sehingga buku yang diterbitkan itu mampu diserap pasar dengan baik. Akan lebih baik, jika buku yang diterbitkan bisa menjadi best seller.

Jadi, jiwa enterpreuner tidak hanya dimiliki oleh seorang pengusaha. Penulis pun perlu memiliki sifat serta kemampuan enterpreuner agar buku-bukunya tetap laku di pasaran. Ibarat berjualan, seorang penulis sama seperti pedagang. Ia mesti tahu dagangan apa yang pada masanya cukup laku di pasaran. Dan pada saat kapan dagangannya sulit dijual. Sebab, bila seorang pedagang jualannya tidak laku dijual, maka sudah pasti sebagai seorang pedagang ia akan merugi atau bangkrut.

Sama dengan penulis, dagangan dalam hal ini berupa karya tulis, juga harus laku di pasaran. Bila tidak, tulisan dalam bentuk buku hanya akan menjadi onggokan karya yang tidak akan disentuh orang. Bukunya menjadi tidak laku. Dan penulis tidak mendapat penghasilan.

Jiwa enterpreuner ini perlu diasah, dilatih, dan dicoba secara terus menerus. Kemampuan ini tidak bisa datang begitu saja. Ia memerlukan latihan yang terkadang harus mengalami jatuh bangun disaat menjalani latihan tersebut, layaknya sebuah bisnis. Tanpa adanya latihan, kemampuan tersebut sulit bisa terbangun di dalam diri seorang penulis.

Kemampuan enterpreuner ini perlu dimiliki seorang penulis, agar penulis mampu membaca keinginan pasar pengetahuan yang dibutuhkan oleh pembacanya. Sebuah kemampuan menganalisa, mengamati, meneliti, kebutuhan pembaca. Kejelian menganalisa kebutuhan pembaca ini akan menjadi bekal penulis untuk memilih karya jenis apa yang harus digarap lebih awal.

Ada beberapa tips, agar penulis memiliki kemampuan membaca pasar. Di antaranya sebagai berikut:

Pertama, berkaitan dengan tema tulisan. Tema tulisan memiliki peranan penting dalam menentukan laku tidaknya sebuah buku. Ada buku-buku tertentu yang memiliki tema sepanjang waktu, seperti jenis buku agama dan buku ajar. Namun ada juga buku-buku dengan tema yang waktunya pendek. Yakni sebuah tema yang waktunya habis dalam jangka waktu tertentu. Seperti soal teknologi, poligami, dan sejenisnya. Buku sejenis ini biasanya akan banyak dibutuhkan pembaca pada saat masalah tersebut sedang ramai dibicarakan di tengah masyarakat. Sebaliknya jika masalah tersebut sudah tidak dibicarakan, maka buku tersebut akan kurang laku di pasaran.

Kedua, siapa segmen yang ingin kita bidik dari buku yang kita tulis. Seorang penulis mesti tahu untuk siapa tulisannya dibuat. Siapa segmen pasar yang ingin dituju. Bila tidak tahu segmen pasar pembaca dari karya yang dibuat, maka seorang penulis akan kesulitan membuat tulisan yang laku di pasaran.

Ketiga, jenis buku yang dicari. Ada beragam jenis buku yang ditulis. Namun perlu diingat bahwa ketika kita menulis buku sebaiknya didasarkan atas kebutuhan pembaca, bukan atas keinginan kita sendiri semata. Apabila kita menulis buku berdasarkan keinginan kita, hal ini belum tentu sesuai dengan keinginan pasar atau kebutuhan masyarakat. Semisal, masyarakat sedang gandrung dan lagi banyak mencari buku-buku berjenis “How To”, sedangkan penulis memunculkan karya-karya filsafat. Maka menjadi tidak nyambung. Yang paling baik adalah tulisan yang idealis namun pembaca juga suka.

Keempat, memahami kebutuhan pembaca. Pembaca ibarat raja. Mereka bisa mempengaruhi karier seorang penulis. Pembacalah penentu terakhir apakah sebuah buku laku atau tidak. Memahami kebutuhan pembaca, berarti seorang penulis harus jeli dan teliti memenuhi kebutuhan pembacanya. Insya Allah jika kita bisa melakukan empat hal ini, buku kita akan diserap pasar secara baik. Wallahua'lam []

Rabu, 04 April 2012

Maksiat Adalah Sumber Segala Penyakit


Dan musibah apapun yang meimpamu, maka itu adalah akibat dari ulah tanganmu sendiri.”
(QS. As-Syuura : 30)

SAAT ini banyak sekali macam-macam penyakit yang ada di masyarakat dan di antaranya bahkan sangat sulit disembuhkan. Nama-nama penyakitnya pun aneh dan beragam. Ada penyakit flu babi, flu burung, dll. Ada biang penyakit dan wabah yang telah dilalaikan oleh manusia secara umum, dan kebanyakan kaum muslimin secara khusus. Biang penyakit tersebut adalah maksiat.

Telah banyak dalil, baik dari al-Qur'an dan As-Sunnah, serta dari berbagai fakta di alam semesta, yang menunjukkan bahwa kemaksiatan adalah salah satu penyebab terjadinya berbagai petaka dan penyakit. Allah SWT. berfirman: “Dan sungguh-sungguh Kami akan menimpakan adzab kecil (di dunia) sebelum adzab yang lebih besar (di akhirat) agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. As-Sajdah: 21)

Ibnu Abbas berkata, “Yang dimaksud dengan adzab dekat (kecil) ialah berbagai musibah yang terjadi di dunia, penyakit dan petaka yang Allah timpakan kepada hamba-hamba-Nya, agar mereka bertaubat.” Dalam ayat lain, Allah ta'ala berfirman: “Barangsiapa yang mengerjakan kejelekan, niscaya ia akan diberi balasan dengannya.” (QS. An-Nisa' : 123)

Qatadah berkata, “Telah sampai kepada kami bahwa tidaklah ada seorang yang tergores oleh ranting, atau terkilir kakinya atau terpelintir uratnya, melainkan akibat dari dosa yang ia perbuat.”

Pada suatu hari ada seorang yang bertanya kepada sahabat Sa'ad bin Abi Waqqas di hadapan sahabat Usamah bin Zaid tentang penyakit (wabah) tha'un, maka sahabat Usamah bin Zaid mengabarkan bahwa Rasulullah SAW. pernah menjelaskan tentang hal itu dengan sabdanya: “Sesungguhnya penyakit ini adalah kotoran yang dengannya Allah mengadzab sebagian umat sebelum kalian, kemudian tersisa di bumi, kadangkala ia hilang dan kadangkala ia datang kembali.” (HR. Muttafaqun 'alaih)

Tidak mengherankan bila Nabi SAW. menjelaskan bahwa salah satu hikmah dari setiap musibah yang menimpa seorang muslim ialah untuk menghapuskan kesalahan dan dosanya. “Tidaklah seorang muslim ditimpa rasa letih, rasa sakit, gundah pikiran, rasa duka, gangguan dan kebingungan sampai-sampai duri yang menusuknya, melainkan akan Allah hapuskan sebagian dari kesalahannya.” (HR. Muttafaqun 'alaih)

Ibnu Qayim al-Jauziyah mengatakan, “Perbuatan maksiat adalah faktor terbesar yang menghapus barakah usia, rezeki, ilmu, dan amal. Setiap waktu, harta, fisik, kedudukan, ilmu, dan amal yang Anda gunakan untuk maksiat kepada-Nya, maka sebenarnya semua bukan milik Anda. Usia, harta, kekuatan, kedudukan, ilmu, dan amal yang merupakan milik Anda sebenarnya adalah yang digunakan untuk ketaatan kepada Allah.”

Zina Biang Penyakit Baru

Sumber: www.tempo.co
Di antara kemaksiatan yang sering menjadi biang munculnya berbagai penyakit baru ialah perbuatan zina, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW: “Tidaklah perbuatan zina merajalela di suatu kaum, hingga mereka berterang-terangan ketika melakukannya, melainkan akan ada pada mereka berbagai wabah (tha'un) dan penyakit yang belum pernah ada pada generasi sebelum mereka.” Dan pada sebagian jalur hadits ini dinyatakan: “Tidaklah perbuatan zina merajalela di suatu kaum, melainkan akan banyak kematian di tengah-tengah mereka.” (HR. Al-Hakim, At-Thabrani dan Al-Baihaqi).

Ummul mukminin Maimunah RA. mengisahkan bahwa ia pernah mendengar Nabi Muhammad SAW. bersabda: “Umatku senantiasa dalam keadaan baik, selama anak hasil perzinaan belum merajalela di tengah-tengah mereka. Bila anak hasil zina telah merajalela di tengah-tengah mereka, maka tidak lama lagi Allah akan menimpakan siksa-Nya kepada mereka semua.” (HR. Imam Ahmad)

Saudaraku, mungkin Anda bertanya, bagaimana halnya dengan negeri kita yang semua orang telah mengetahui bahwa prostitusi telah merajalela. Ketahuilah saudaraku! Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) memperkirakan jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia sampai Maret 2008 mencapai 200 ribu. Hingga saat ini, jumlah penderita HIV/AIDS pada usia produktif di Indonesia berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2011 adalah 11,6 persen dari jumlah seluruh penduduk di Indonesia.

Fenomena penderita HIV/AIDS ini kondisinya bagaikan “gunung es”, yang terlihat di permukaan atau yang telah ditemukan jauh lebih kecil dibandingkan kondisi sebenarnya. Karena sebenarnya, penderita yang telah ditemukan atau melaporkan dirinya mengidap penyakit itu hanya lima persen dari jumlah sebenarnya. Jumlah pengidap penyakit ini yang belum teridentifikasi atau sengaja menutup diri, jumlahnya lebih banyak dari yang telah melapor atau berhasil didata oleh pihak terkait.

Tidak ada yang seorangpun yang meragukan bahwa beberapa faktor penyebaran penyakit ini, sebagian besar disebabkan karena penggunaan jarum suntik narkoba, hubungan seksual haram, terinfeksi orangtua yang mengidap HIV. Meski ada juga yang terinfeksi HIV bukan karena hal tersebut, namun mayoritas karena faktor di atas.

Semua Halal, Kecuali Mengancam Keselamatan 
 
Semua yang ada di bumi ini halal untuk Anda makan dan gunakan, kecuali yang mengancam keselamatan hidup Anda, baik di dunia ataupun di akhirat. Karenanya, di antara amal kemaksiatan yang banyak mendatangkan penyakit ialah dikarenakan mengkonsumsi makanan atau minuman haram.

Ibnu Qoyim al-Jauziyah berkata, “Sesungguhnya Allah Ta'ala mengharamkan atas umat ini berbagai hal-hal yang diharamkan, dikarenakan hal-hal itu buruk (berbahaya). Dan tujuan pengharaman itu guna melindungi dan mencegah mereka agar tidak mengkonsumsi hal yang berbahaya tersebut.”

Ibnu Taimiyah menjelaskan salah satu efek buruk dari memakan babi, dengan berkata: “Daging babi biang dari segala perangai buruk, karena babi adalah hewan paling rakus dan tidak pernah berpantangan terhadap makanan apapun.”

Ibnu Sirin lebih terperinci menjelaskan tentang salah satu perangai babi dengan berkata, “Tidaklah ada binatang yang melakukan perilaku kaum Nabi Luth selain babi dan keledai.”

Bila demikian adanya, maka tidak perlu heran bila orang yang biasa memakan daging babi atau keledai, lambat laun dijangkiti oleh perangai babi yang suka sesama jenis. Na'uzubillah min dzalik.

Seakan tidak mau ketinggalan dari gurunya, Ibnul Qoyim al-Jauziyah juga menjelaskan salah satu efek samping dari mengkonsumsi makanan haram, di antaranya daging binatang buas yang bertaring dan burung yang bercakar kuat. Beliau berkata, “Oleh karena itu Nabi Muhammad SAW. mengharamkan setiap binatang buas yang bertaring tajam dan burung yang berkuku kuat. Larangan beliau ini disebabkan karena karakter hewan jenis ini yang senantiasa mengganggu, menyerang dan bengis. Padahal setiap orang akan terpengaruh oleh jenis makanan yang ia konsumsi. Dengan demikian, bila Anda mengkonsumsi daging hewan jenis ini, niscaya karakter Anda lambat laun akan terpengaruh sehingga Anda akan terbiasa berperilaku bak hewan buas, hobi mengganggu dan tidak heran bila Rasulullah mengharamkan atas umatnya memakan daging hewan jenis ini.” 
 
Dengan penjelasan singkat di atas, kiranya kita dapat menyimpulkan bahwa perbuatan maksiat adalah salah satu penyebab datangnya berbagai penyakit, baik sebagai balasan atau sebagai teguran kepada pelakunya agar ia kembali kepada jalan yang benar. Sebaik-baiknya manusia, pasti tidak pernah luput dari kesalahan, oleh karena itu kita harus senantiasa istighfar dan bertaubat dari kemaksiatan yang kita lakukan. Semoga tulisan ini bisa menyadarkan dan memberi hidayah kepada kita semua. Amin ya rabbal alamin. []

Selasa, 03 April 2012

Menulis Buku Itu Mudah, Tapi...

Berbagi Ide Kepenulisan
UNTUK kesekian kalinya saya diminta untuk menyemangati teman-teman yang ingin menjadi penulis (khususnya buku) dalam sebuah forum acara kepenulisan. Secara jujur, saya masih jauh dikatakan sebagai penulis yang hebat bahkan penjualannya jauh dari kata best seller. Buku yang saya tulis baru 5, diantaranya: (1). Humas Gerakan [Laku > 1.000 eksemplar]. (2). Resign and Get Rich! [sekarang judulnya berganti “Karyawan No! Juragan Yes!, laku hampr 1.000 eksemplar]. (3). Menulis, Tradisi Intelektual Muslim [Laku > 300 eksemplar]. (4). Jangan Mau Jadi Mahasiswa Biasa-Biasa Saja! [Laku 100 eksemplar print digital, belum naik cetak]. (5). Awas Riba Terselubung! [belum naik cetak]. Dan buku yang saya sunting jumlahnya ada 3 (The Gokiel Mom, Pengantin-Pengantin Al-Quds, Pelaut dan Pulau Cendrawasih).

Mengapa hal ini perlu saya sampaikan, saya ingin mengatakan bahwa menulis itu memang mudah. Yang sulit adalah 'menjual'-nya. Jika Anda ingin membuat naskah yang 'menjual', ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan: 
 
www.pesantrenpenulis.org
Pertama, pastikan naskah tersebut berumur panjang. Ya, naskah Anda harus berumur panjang. Usia manusia boleh pendek, tapi usia buku Anda harus bisa hidup lebih lama. Anda bisa liat, karya-karya Chairil Anwar. Sampai sekarang, buku-bukunya masih banyak diburu. Buku-buku pelajaran dan mata kuliah juga termasuk buku yang sifatnya umurnya panjang. Karena dipakai terus. Bagaimana mungkin kita bisa menyamai karya-karya seperti Chairil Anwar? Jawabannya adalah sangat mungkin untuk bisa meniru karya-karya seperti Chairil Anwar. Contoh buku-buku yang umurnya pendek adalah buku-buku teknologi, buku yang heboh hanya pada saatnya).

Kedua, pastikan naskah tersebut tidak biasa-biasa saja atau sekedar latah temanya. Ya, kalau Anda cuma menulis buku yang temanya sudah banyak di pasaran, Saya jamin buku Anda penjualannya tidak begitu bagus. Anda harus rajin-rajin mengunjungi toko buku. Buku-buku apa saja yang fenomenal dan best seller. Anda juga harus memperhatikan judul-judul buku yang sudah banyak ditulis orang. Tulislah buku yang orang sama sekali belum pernah tulis.

Peserta Ikhwan
Ketiga, naskah Anda harus kreatif dan original. Naskah kreatif itu yang bagaimana? Naskah kreatif adalah cara Anda menulis tidak melulu seperti pakem yang orang banyak tulis. Anda bisa berkreasi dengan gaya Anda sendiri, namun Anda harus memastikan pasar buku tersebut juga. Selain itu, naskah Anda harus original. Jangan sekali-kali Anda copy paste (plagiat). Cepat atau lambat, jika Anda suka menyadur (copy paste), itu akan ketahuan. Bahkan sekarang ada software yang bisa melacak tulisan yang plagiat.

Keempat, Anda harus punya komunitas (massa). Mengapa komunitas, karena mereka lah target penjualan kita pertama. Anda harus rajin-rajin banyak bersosialisasi dan memiliki teman. Masuki komunitas-komunitas yang bermanfaat buat kita. Tentunya cara ini kita tempuh selain distribusi buku kita juga ke jaringan toko-toko buku seluruh Indonesia. Syukur bisa sampai ke luar negeri.

Peserta Akhwat
Kelima, self branding. Anda harus bisa membranding diri Anda sendiri. Ya, Anda harus punya ciri khas. Misal, Muhammad Fauzil Adhim terkenal dengan Islamic Parenting-nya. Ustadz Yusuf Mansur, terkenal dengan konsep sedekahnya. Aa' Gym, terkenal dengan konsep Manajemen Qolbunya (meski sekarang terkenal karena poligaminya, he... *becanda*). Dan masih banyak lagi contoh penulis buku yang lain. Definisikan diri Anda, ingin dicitrakan (branding) sebagai apa. Lalu sosialisasikan lewat social media (facebook, twitter, koprol dll.), website pribadi/blog, dan masih banyak lagi.

Kelima hal ini insya Allah, jika bisa kita rancang, akan bermanfaat buat buku yang akan kita tulis. Semoga karya-karya kita bisa banyak diapresiasi banyak orang dan bermanfaat. Wallahua'alam []