Selasa, 06 Maret 2012

Pertumbuhan Ekonomi Naik, Hutang Naik, BBM Naik

Menteri Keuangan, Agus Martowardojo
MENTERI Keuangan Indonesia, Agus Martowardojo meraih penghargaan sebagai Best Finance Minister of The Year, Asia Pasifik dan Best Finance Minister of The Year 2012 versi majalah “The Banker” edisi Januari 2012. Ini merupakan penghargaan yang ke-11 yang diselenggarakan oleh majalah keuangan Internasional grup harian Financial Times yang berpusat di London, Inggris. The Banker menilai Agus Martowardojo berhasil menyokong pertumbuhan ekonomi mencapai 6,46 persen dan membawa perubahan pada pelaksanaan anggaran dan perencanaan keuangan, meningkatkan iklim investasi di Indonesia, serta mengatur anggaran 2011 secara hati-hati.

Naiknya pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6,46 persen ini, menurut saya bukan prestasi. Ini hal yang biasa saja, mengapa? Karena rasio hutang negara Indonesia juga naik. Berdasarkan sumber data yang saya dapatkan dari website Dirjen Pengelolaan Utang, kenaikan utang Indonesia mencapai Rp 134 triliun dari yang tahun 2011 Rp 1.803 triliun menjadi sekitar Rp1.937 triliun pada tahun 2012. Jadi sangat masuk akal, kenaikan pertumbuhan ekonomi ini tidak lain karena hutang yang bertambah. Yang menjadi tanda tanya adalah, ketika hutang naik pertumbuhan ekonomi tidak naik.

Kebijakan lain Agus Martowardojo yang membuat kita bingung adalah rencana menaikkan gaji PNS. Padahal seperti kita ketahui, Menteri Keuangan belum lama melakukan moratorium (penundaan) perekrutan PNS dengan alasan penghematan anggaran. Jika ingin menghemat anggaran, lalu kenapa Pemerintah ingin menaikkan gaji PNS? Jawabannya tidak lain hanya untuk pencitraan dan kepentingan Pemilu di 2014. Tapi bagi Anda PNS, jangan senang dulu karena Pemerintah akan menaikkan harga BBM yang jelas akan memicu inflasi dan kenaikan harga.

BBM Naik (Lagi)

Sumber : www.tribunnews.com
Isyarat kuat untuk kenaikan harga BBM sepertinya sudah tidak bisa ditahan lagi. Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Kantor Presiden (22/2), SBY sendiri sudah mengutarakan rencana kenaikan tersebut. Setelah kebijakan awal yakni pembatasan BBM bersubsidi dan kebijakan konversi BBM ke gas menemui jalan buntu dan mendapat banyak kritikan karena ketidaksiapan infrastruktur yang disiapkan oleh Pemerintah, opsi menaikkan harga BBM adalah opsi yang paling realistis. Pemerintah beralasan harga harga minyak mentah yang diimpor oleh Indonesia terus mengalami kenaikan dan hal ini membebani APBN.

Jika tak ada halangan, maka kenaikan harga BBM ini akan efektif per 1 April 2012. Yang perlu diantisipasi oleh Pemerintah adalah efek tular dari kenaikan BBM ini, karena berujung pada inflasi dan kenaikan harga-harga kebutuhan pokok. Pengalaman menaikkan harga BBM di tahun 2005, Pemerintah sulit mengendalikan kenaikan harga bahan-bahan pokok dan lainnya. Belum lagi problem mafia komoditas, problem infrastruktur, oligopoli terhadap distribusi barang yang kenyataannya sulit dikendalikan. Kelompok masyarakat yang paling sengsara tentu saja warga miskin, yang sekarang saja daya tahan ekonominya sudah sangat memprihatinkan.

Kenaikan harga BBM ini tentu akan berimbas pada pertumbuhan ekonomi yang sudah pasti akan melambat, karena jika inflasi tembus angka 10 persen, suku bunga bank akan naik, tingkat pengangguran meningkat, pertumbuhan ekonomi bisa turun menjadi 5 – 5,3 persen dan warga miskin juga tentu akan bertambah.

Solusi Lain Selain BBM Naik

Kita sebagai orang awam mungkin bertanya-tanya, mengapa negara Indonesia yang memiliki SDA yang melimpah tetapi mengimpor minyak dari luar negeri? Jawaban Pemerintah adalah Sumber Daya Alam (SDA) yang semakin berkurang. Masuk akal kah alasan Pemerintah? Tentu tidak masuk akal, karena Indonesia memiliki potensi tambang minyak yang besar. Bahkan di suatu daerah, ada tambang minyak yang tidak dioptimalkan oleh Pemerintah sehingga diambil dan diolah sendiri oleh warga daerah tersebut. Pengelolaan energi primer dan konversi energi sangat membutuhkan keberanian untuk mengoreksi yang tidak tepat, guna menggerakkan sektor perekonomian.

Adakah solusi lain selain menaikkan harga BBM? Jawabannya adalah jelas ada. Pemerintah sendiri melalui Wakil Menteri ESDM mengungkapkan ada energi-energi alternatif selain BBM. Jawaban ini semoga tidak retoris, segera saja diwujudkan jika bisa menjadi solusi untuk mengatasi alasan-alasan kelangkaan SDA.

Selain itu cara yang bisa dilakukan adalah menggiatkan penambangan minyak di Negeri sendiri. Ini bukan pekerjaan yang ringan. Namun kalau sudah ada kebijakan energi yang dilaksanakan secara konsisten, maka sebenarnya soal keterbatasan BBM tidak terlalu merisaukan. Sederhananya, kalau jumlah minyak yang ditambang meningkat, ketergantungan terhadap minyak impor semakin berkurang. Wallahua'lam []

3 komentar:

Andinna mengatakan...

setuju banget mas Edo...
tapi, menurut saya yang perlu kita lakukan untuk merespon kebijakan pemerintah sebaiknya seperti apa? tidak ada yang salah dalam beropini sebenarnya, tetapi yang benar2 kita butuhkan saat ini adalah respon positif, sekaligus mendorong teman2 lain untuk berfikir solutif

Edo Segara mengatakan...

Sayang saya bukan Menteri ya mbak, kalo saya Menteri akan saya kasih solusi :D

inmarsat mengatakan...

yaaa.. yang disayangkan keputusan demi keputusan pemerintah kebanyakan terlihat seperti membela kepentingan pihak2 tertentu, buka membela kepentingan rakyat.. karena saya rakyat dan saya tidak merasa dibela