Rabu, 01 Februari 2012

Moral dan Etika dalam Berbisnis

Warnet Mesum
ADA semacam anekdot yang berkembang di kalangan masyarakat kita berbunyi: “Mencari yang halal saja susah, apalagi yang halal!”. Anekdot ini seakan-akan menjadi pembenaran bagi sebagian orang mencari uang dengan cara menghalalkan segala cara. Sebagai contoh, masih banyak usaha warung internet (warnet) di Yogya yang tidak memblokir situs-situs porno, padahal sudah ada aturan dari Pemerintah daerah yang menganjurkan pihak warnet untuk memfilter situs-situs porno. Parahnya, ada juga sebagain warnet yang justru menyediakan folder khusus film-film porno dan menjadi tempat mesum pasangan-pasangan yang tidak bertanggung jawab.

Contoh yang lain ada juga sebuah swalayan lokal di Yogyakarta yang menerapkan melarang barang yang sudah dibeli untuk ditukar atau dikembalikan jika ternyata rusak setelah membeli. Aturan ini malah diperjelas dalam struk belanja pelanggan. Jelas hal ini merugikan pelanggan. Dalam agama apa pun jelas melarang praktik jual-beli seperti ini, karena dalam jual-beli mestinya ada suka sama suka dan saling rela. Dan jika ternyata ada barang rusak setelah dibeli, mestinya boleh ditukar dan dikembalikan jika bukan dirusak oleh pelanggan.

Persaingan usaha yang terjadi saat ini juga sudah sangat tidak sehat, banyak minimarket-minimarket yang jaraknya berdekatan dan berdampingan dengan warung-warung kecil. Jelas ini merugikan pemilik warung-warung kecil yang terus mengeluh karena omset mereka semakin menurun. Harusnya Pemerintah daerah ikut campur dalam masalah ini. Jika tidak ada intervensi dari Pemerintah daerah, maka praktik kanibalisme ekonomi akan terus menjadi-jadi.

Minimarket tidak berijin
Belum lagi masalah investasi tipu-tipu atau yang kita kenal dengan invetasi 'bodong' yang banyak terjadi di kalangan masyarakat Yogya. Invetasi ini menjanjikan keuntungan yang berlipat-lipat namun diujungnya uang Anda tidak akan pernah kembali karena dibawa kabur.  Sudah banyak korban yang tertipu dengan modus-modus seperti ini. Jika melihat beberapa kasus di atas, nampaknya banyak pengusaha yang mengabaikan moral dan etika dalam berbisnis.

Sebenarnya kita harus bersyukur dengan terus tumbuhnya usaha-usaha baru di Yogyakarta. Namun, kegiatan bisnis yang terus merebak saat ini juga telah menimbulkan tantangan baru, yaitu adanya tuntutan praktek bisnis yang lebih baik, yang memperhatika etika dan moral, yang mestinya menjadi tuntutan dalam kehidupan berbisnis.

Berbicara tentang moral sangat erat kaitannya dengan pembicaraan agama dan budaya, artinya kaidah-kaidah dari moral pelaku bisnis sangat dipengaruhi oleh ajaran serta budaya yang dimiliki oleh pelaku-pelaku bisnis sendiri. Setiap agama mengajarkan pada umatnya untuk memiliki moral yang terpuji, apakah itu dalam kegiatan mendapatkan keuntungan dalam ber-"bisnis". Jadi, moral sudah jelas merupakan suatu yang terpuji dan pasti memberikan dampak positif bagi kedua belah pihak. Umpamanya, dalam melakukan transaksi, jika dilakukan dengan jujur dan konsekuen, jelas kedua belah pihak akan merasa puas dan memperoleh kepercayaan satu sama lain, yang pada akhirnya akan terjalin kerja sama yang erat saling menguntungkan.

Dalam dunia bisnis, tidak hanya menyangkut hubungan antara pengusaha dengan pengusaha, tetapi mempunyai kaitan secara nasional bahkan internasional. Tentu dalam hal ini, untuk mewujudkan etika dalam berbisnis perlu pembicaraan yang transparan antara semua pihak, baik pengusaha, pemerintah, masyarakat maupun bangsa lain agar jangan hanya satu pihak saja yang menjalankan etika sementara pihak lain berpijak kepada apa yang mereka inginkan. Artinya kalau ada pihak terkait yang tidak mengetahui dan menyetujui adanya etika moral dan etika, jelas apa yang disepakati oleh kalangan bisnis tadi tidak akan pernah bisa diwujudkan. Jadi, jelas untuk menghasilkan suatu etika di dalam berbisnis yang menjamin adanya kepedulian antara satu pihak dan pihak lain, perlu pembicaraan yang bersifat global yang mengarah kepada suatu aturan yang tidak merugikan siapapun dalam perekonomian. []

Tidak ada komentar:

Petuah Pak Cah, Menulis tak Butuh Bakat Melimpah

"Menulis itu tidak memerlukan bakat yang banyak, tinggal mau atau tidak." Itu kalimat-kalimat awal seorang Cahyadi Takari...