Senin, 27 Februari 2012

Konflik, Ideologi dan Bisnis Media


KONFLIK adalah bisnis, ini adalah ungkapan klasik yang ditulis Philip Knightley dalam bukunya yang berjudul “The First Casuality: A History of War, Correspondents and Proganda.” Kebenarannya terbukti. Saat perang berkecamuk, keinginan orang untuk membaca dan menonton meningkat. Orang ingin tahu apa yang terjadi di luar. Ketika media menayangkan berita perang, terorisme, dan kekerasan, oplah sebuah surat kabar dan rating sebuah media televisi menjadi naik. Dan sebaliknya, media yang menayangkan berita biasa-biasa saja tidak mendapat perhatian serius dari masyarakat. “Bad news is good news,” seakan-akan menjadi menu 'wajib' bagi para jurnalis di Indonesia.

Kita semua bisa melihat dengan mata kepala kita sendiri, media kita hampir setiap hari menyuguhkan kekerasan. Berita tawuran pelajar, perkelahian antar ormas, pembunuhan, sampai-sampai, film kartun anak-anak saja berbau kekerasan (ex. Tom and Jerry, The Owl, dll.). Film-film yang ditayangkan juga berbau kekerasan (film action). Pola seperti ini juga yang banyak dianut oleh media infotaiment, yang lebih suka mendasarkan kerjanya pada konflik rumah tangga selebritis. Jangan heran kalau praktik kekerasan di manapun marajalela. Yang lebih parah, penembakan terhadap teroris disiarkan secara live. Sebenarnya, media ini sedang sakit atau apa?
Bos MNC Group

Konflik dan kekerasan telah menjadi komoditas media massa yang diekspos sedemikian rupa dalam porsi tayangan kekerasan dan konflik yang dominan daripada mengutamakan perspektif perdamaian yang berimbang dalam pemberitaannya. Media massa di Indonesia harus menyadari tidak hanya mencari, mendapatkan, dan menyuguhkan informasi kepada publik, namun juga tugas dan tanggung jawabnya untuk memberikan informasi sekaligus pendidikan publik kepada masyarakat, selain sebagai pilar keempat demokrasi.

'Monopoli Kebenaran'

Dalam sebuah diskusi “Jurnalisme Damai, Pijakan Pers Indonesia” yang diselenggarakan secara live oleh TVRI Jogja (23/2), seorang mahasiswa menyatakan keprihatinannya karena media saat ini dikuasai oleh orang-orang politik. Parahnya lagi, mereka bisa memiliki dua sampai tiga media. Berita buruk yang berkaitan dengan partainya, sudah pasti disembunyikan. Sedangkan berita buruk partai lain dimunculkan. Dan ini terjadi di semua media yang dikuasai orang politik. Apa namanya kalau bukan monopoli kebenaran? Media-media seperti ini sangat berbahaya ketika rakyat bukan lagi menjadi tujuan keberpihakannya.

Tabel Pemilik Media Nasional

Media
Pemilik
Afiliasi Parpol
TV One, ANTV
Aburizal Bakrie
Partai Golkar
RCTI, MNC, Global
Harry Tanoesoedibyo
Partai Nasdem
Metro TV
Suryo Paloh
Partai Nasdem
Trans TV, Trans 7
Chairul Tanjung
Dekat dengan SBY
SCTV, Indosiar
Fofo Sariaatmadja
Non afiliasi

Sudah saatnya kita harus mengembangkan budaya jurnalistik, di mana suatu kebenaran adalah milik bersama, tidak bisa diklaim oleh hanya satu pihak saja, tetapi harus dikonfirmasi menurut kebenaran pihak lain. Asas imparsialitas seperti inilah yang harusnya dipergunakan jurnalis untuk melihat satu persoalan dari beberapa perspektif berbeda. Perspektif itu melihat kemungkinan adanya pengungkapan akar masalah yang terkait dengan sejarah, psikologi, sosial, budaya dan lainnya. Dengan demikian media akan mampu mengungkap fakta lebih komperehensif dan holistik agar dapat menganalisis dan memetakan masalah untuk memunculkan berbagai alternatif solusi.

Dalam hal ini saya mengusulkan beberapa solusi agar jurnalisme yang ditampilkan oleh media tidak melulu terkait kekerasan:

Pertama, perlunya edukasi jurnalisme damai bagi para insan pers di seluruh Indonesia. Mengapa ini diperlukan? Karena muara informasi semua berasal dari wartawan. Jika wartawan cerdas, maka informasi yang disuguhkan juga akan mencerdaskan pembaca. Kedua, perlunya edukasi bagi masyarakat agar bisa memilah-milah berita dan menganalisis media sehingga bisa menyaring informasi yang ditampilkan oleh media. Ketiga, Pemerintah (Menkominfo, KPI, dll.) perlu tegas terhadap media-media nakal yang selalu menyuguhkan kekerasan dan melanggar aturan. Wallahua'lam []

Tidak ada komentar: