Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2012

Konflik, Ideologi dan Bisnis Media

Gambar
KONFLIK adalah bisnis , ini adalah ungkapan klasik yang ditulis Philip Knightley dalam bukunya yang berjudul “The First Casuality: A History of War, Correspondents and Proganda.” Kebenarannya terbukti. Saat perang berkecamuk, keinginan orang untuk membaca dan menonton meningkat. Orang ingin tahu apa yang terjadi di luar. Ketika media menayangkan berita perang, terorisme, dan kekerasan, oplah sebuah surat kabar dan rating sebuah media televisi menjadi naik. Dan sebaliknya, media yang menayangkan berita biasa-biasa saja tidak mendapat perhatian serius dari masyarakat. “Bad news is good news,” seakan-akan menjadi menu 'wajib' bagi para jurnalis di Indonesia. Kita semua bisa melihat dengan mata kepala kita sendiri, media kita hampir setiap hari menyuguhkan kekerasan. Berita tawuran pelajar, perkelahian antar ormas, pembunuhan, sampai-sampai, film kartun anak-anak saja berbau kekerasan (ex. Tom and Jerry, The Owl, dll.). Film-film yang ditayangkan

Refleksi 9 Tahun Majalah Sintaksis

Gambar
Sang Master 5 hari setelah Hari Pers Nasional, kau lahir. 7 tahun usiamu kini, menggores pena menabuh simpati # Sintaksis Media LDK yg lewati 1 dekade (10 tahun) itu bagus. Melewati 2 dekade itu istimewa. # Sintaksis Menatap eksis di tengah fakir intelektual tapi sang pengampu amanat berbangga sebut diri kampus swasta No 1 di DIY # Sintaksis Memburu berita, mengasa analisa, di tengah ultimatum ortu utk wisuda, kru # Sintaksis buktikan ada yg masih tajam pd pena mereka. Selamat! Kamera itu penting, tablet juga berfaedah buat mobilitas kru # Sintaksis . Tapi, lebih mendesak lagi mimpi usai capai 9 tahun mau apa! Keterkaitan senior dg kru aktif # Sintaksis harus dijaga. Banyak media LDK kolaps lantaran tak ada pewarisan&pemutusan silaturahmi. Namamu ingatkan pd produk komputer awal di Amrik. besar-melegenda tapi mati. Semoga # Sintaksis tidak demikian. Sy suka ada penyegaran nama! Harus bersiap songsong masifnya web 2.0. Tak cukup elok di ed

Awas Riba Terselubung di Bank Syariah!

Gambar
140 + X halaman “Bank syariah kok tidak syariah?”   “Apa memang seperti itu yang dinamakan syariah?” “Banyak orang ragu dengan bank dan lembaga keuangan syariah?”   Begitulah orang berkata. Terasa menyakitkan bagi kita yang sedang berjuang untuk menegakkan ekonomi Islam di Indonesia. Rasanya seperti menyerang, dan apatis. Padahal, sejatinya mereka yang berkata ‘miring’ itu justru mencintai ekonomi Islam—bank dan lembaga keuangan syariah khususnya. Mereka menghendaki sesuatu yang lebih baik, seperti yang sering kita katakan, “Ekonomi Islam adalah konsep keadilan dan kesejahteraan dalam berekonomi.” Untuk itulah, kami mencoba menelusuri dan menemukan beberapa ‘titik rawan’ yang bisa saja menjadi celah untuk pelanggaran ketentuan dalam praktik ekonomi Islam. Lalu lahirlah buku ini—yang lagi-lagi meramaikan persoalan riba—untuk mendetailkan ‘titik rawan’ tersebut; kemudian dibahas dan diupayakan solusinya. Sebagaimana adanya risiko dalam sebuah bisnis, bank dan lembaga keuangan syar

Moral dan Etika dalam Berbisnis

Gambar
Warnet Mesum ADA semacam anekdot yang berkembang di kalangan masyarakat kita berbunyi: “Mencari yang halal saja susah, apalagi yang halal!” . Anekdot ini seakan-akan menjadi pembenaran bagi sebagian orang mencari uang dengan cara menghalalkan segala cara. Sebagai contoh, masih banyak usaha warung internet (warnet) di Yogya yang tidak memblokir situs-situs porno, padahal sudah ada aturan dari Pemerintah daerah yang menganjurkan pihak warnet untuk memfilter situs-situs porno. Parahnya, ada juga sebagain warnet yang justru menyediakan folder khusus film-film porno dan menjadi tempat mesum pasangan-pasangan yang tidak bertanggung jawab. Contoh yang lain ada juga sebuah swalayan lokal di Yogyakarta yang menerapkan melarang barang yang sudah dibeli untuk ditukar atau dikembalikan jika ternyata rusak setelah membeli. Aturan ini malah diperjelas dalam struk belanja pelanggan. Jelas hal ini merugikan pelanggan. Dalam agama apa pun jelas melarang pra