Rabu, 11 Januari 2012

Bank Syariah Jangan Hanya Andalkan Murabahah*

Source: Blog BPRS Mitra Harmoni

ADALAH sebuah kenyataan bahwa perbankan syariah semakin unjuk gigi dan meneguhkan eksistensinya dalam percaturan ekonomi dewasa ini. Bahkan perbankan syariah semakin menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Berdasarkan data sepanjang 2011, Bank Indonesia melaporkan aset perbankan syariah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) meningkat dari 6,06 persen tahun 2010 menjadi 6,78 persen di tahun 2011.

Perkembangan ini juga bisa dilihat dari beberapa indikator. Dari sisi kinerja, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) dilaporkan tumbuh 25,08 persen. Sementara penyaluran pembiayaan syariah juga meningkat menjadi 53,95 persen. Hingga sekarang tercatat jumlah rekening nasabah sudah mencapai 213 ribu orang dengan nilai mencapai Rp 1,6 triliun. Kinerja Non Performing Financing (NPF) juga cukup baik, terjadi penurunan di tahun 2011 menjadi 3,96 persen yang sebelumnya sebesar 3,98 persen di tahun 2010. Serta bertambahnya jumlah kantor cabang bank syariah yang berdampak pada peningkatan daya serap tenaga kerja yang dibutuhkan.

Di samping berbagai kemajuan yang telah diperoleh, kalangan perbankan syariah juga perlu memperhatikan berbagai kelemahan yang timbul. Kelemahan yang pertama adalah pembiayaan bank syariah cenderung menggunakan skema pembiayaan murabahah sebagai unggulan produknya. Kemudian kelemahan selanjutnya adalah masih minimnya pola pembiayaan yang mengarah kepada investasi di sektor riil, padahal pengembangan sektor riil akan memberikan dampak yang luar biasa terhadap kondisi perekonomian secara keseluruhan, khususnya DIY.

Sebagaimana kita ketahui bahwa murabahah adalah kontrak jual-beli terhadap barang tertentu, dimana nasabah meminta kepada pihak bank untuk membeli barang tertentu. Kemudian bank menjual kembali barang tersebut dengan harga baru, yang telah ditambah dengan marjin yang disepakati kedua belah pihak. Tidak dapat dipungkiri bahwa pada kenyataannya, pembiayaan bank syariah banyak didominasi skim murabahah

Skim murabahah, cenderung tidak beresiko. Di mana kalau kita mau jujur bahwa yang membedakan secara prinsipil antara bank Islam dan bank konvensional diantaranya adalah terletak pada prinsip untung dan rugi ditanggung bersama. Selain itu, skim murabahah cenderung menstimulus kemungkinan terjadinya inflasi, dimana harga komoditas barang cenderung meningkat. Skim murabahah juga tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan produktivitas barang dan jasa. 

Kelemahan lain bank syariah terkait dengan investasi di sektor riil adalah dimana kalangan perbankan syariah belum memberikan perhatian yang lebih serius terhadap masalah ini. Padahal kita mengenal skema pembiayaan yang lain, yaitu mudharabah dan musyarakah.

Jika kita cermati, masyarakat Indonesia membutuhkan investasi pada output-producing sector, dimana hal tersebut akan memberikan efek yang luar terbukanya lapangan pekerjaan baru, berdirinya industri dan pabrik baru yang memungkinkan adanya peningkatan produktivitas barang dan jasa yang dihasilkan.

Perbankan syariah membutuhkan suatu investment modes yang berdasarkan pada risk return modes. Untuk menghindari kerugian, maka bank syariah perlu melakukan beberapa langkah, yaitu : (1) Diversifikasi portofolio. (2) Evaluasi mendalam dan hati-hati terhadap proyek yang akan dibiayai. (3) Menelusuri dan menganalisis latar belakang klien yang akan mendapatkan pembiayaan.

Ada beberapa dampak yang timbul dari pembiayaan skim mudharabah dan musyarakah, yakni:

Pertama, skim mudharabah dan musyarakah akan menggairahkan sektor riil. Investasi akan meningkat, yang disertai dengan pembukaan lapangan kerja baru. Akibatnya tingkat pengangguran akan dapat dikurangi dan pendapatan masyarakat akan bertambah.

Kedua, skim mudharabah dan musyarakah ditinjau dari sisi nasabah. Nasabah akan memiliki dua pilihan, apakah akan mendepositokan dananya pada bank syariah atau bank konvensional. Nasabah akan membandingkan secara cermat antara expected rate of return yang ditawarkan bank syariah dengan tingkat suku bunga yang ditawarkan oleh bank konvensional, dimana selama ini fakta telah membuktikan, bahwa ternyata rate of return bank syariah lebih tinggi bila dibandingkan dengan interest rate yang berlaku pada bank konvensional. Sehingga ini akan menjadi faktor pendorong meningkatnya jumlah nasabah.

Ketiga, skim mudharabah dan musyarakah akan mendorong tumbuhnya pengusaha yang berani mengambil keputusan bisnis yang beresiko. Hal ini akan menyebabkan berkembangnya berbagai inovasi baru, yang pada akhirnya dapat meningkatkan daya saing bangsa ini. Inovasi adalah kata kunci di dalam memenangkan persaingan global.

Keempat, skim mudharabah dan musyarakah dapat mengurangi peluang terjadinya resesi ekonomi dan krisis keuangan. Hal ini dikarenakan bank syariah adalah institusi keuangan yang berbasis aset (asset-based). Artinya, bank syariah adalah institusi yang berbasis produksi (production-based).

Kelima, skim mudharabah dan musyarakah dapat menjadi solusi alternatif atas problem over liquid yang saat ini terjadi. Kondisi kelebihan likuiditas dana ini harus disiasati dengan menyalurkannya pada sektor usaha riil. Dengan demikian, insya Allah, perbankan syariah dapat berperan lebih signifikan di dalam upaya pengembangan perekonomian nasional, khususnya DIY. []

*) Dari berbagai Sumber

Tidak ada komentar: