Selasa, 24 Januari 2012

Menumbuhkembangkan Perbankan Syariah

Oleh: Prof. Dr. Hadri Kusuma, MBA (Dekan Fakultas Ekonomi UII, Yogyakarta)
 
PERBANKAN syariah atau perbankan Islam adalah suatu sistem perbankan yang implementasinya menggunakan hukum Islam (syariah). Dua faktor yang mendorong lahirnya sistem tersebut. Agama Islam melarang untuk meminjamkan atau memungut pinjaman dengan mengenakan bunga pinjaman (riba). Islam juga tidak menghendaki adanya investasi pada usaha-usaha berkategori terlarang (haram). Sistem perbankan konvensional memang memungkinkan terjadinya kedua hal tersebut di atas. Sebuah bank konvensional dapat saja mendanai suatu proyek yang berhubungan produksi makanan dan minuman haram dengan skema pinjaman bersuku bunga tinggi.

Di Indonesia, lahirnya perbankan syariah tidak lepas dari peran Majelis Ulama Indonesia (MUI). MUI mencoba untuk mengakomodir aspirasi dan pendapat umat Islam yang berpandangan bahwa bunga bank itu haram karena termasuk riba, dan dalam pinjam meminjam perlunya mengambil prinsip kehati-hatian. Dengan mayoritas penduduk Indonesia beragama islam, secara ekonomis lahirnya perbankan Islam tentulah merupakan potensi pasar domestik yang sangat besar dan perlu dieksplorasi. Hingga saat ini, perbankan syariah mengalami perkembangan yang sangat dahsyat dari tahun ke tahun. Sebagai misal, sepanjang tahun 2010 perbankan syariah tumbuh dengan volume usaha yang tinggi yaitu sebesar 43,99% meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 26,55% dengan pertumbuhan dana yang dihimpun maupun pembiayaan yang juga relatif tinggi dibandingkan periode yang sama  tahun  2009). Kondusifnya situasi perekonomian nasional mendorong perbankan syariah untuk melakukan ekspansi usahanya baik dalam bentuk penghimpunan dana masyarakat maupun penyaluran pembiayaan (Outlook Perbankan Syariah Indonesia 2011).  

Permata Bank Syariah
Data pertumbuhan di atas mengindikasikan semakin banyaknya masyarakat yang sudah memanfaatkan produk-produk atau layanan perbankan syariah. Akan tetapi, masih banyak juga masyarakat yang masih memandang sebelah mata sistem perbankan syariah. 

Pertama, kelompok masyarakat ini menganggap bahwa bunga bukan riba tetapi manfaat dan merasa tidak terzalimi dengan tambahan tersebut. Bunga yang dibayarkan merupakan kompensasi atas pendanaan yang diberikan oleh pihak bank. Besarnya bunga pun atas dasar kesepakatan antara konsumen dan bank karenanya bukan kelaziman. 

Kedua, praktek perbankan syariah dianggap sebagai imitasi atau reinkarnasi perbankan konvensional. Produk-produk yang ditawarkan adalah hampir sama, terkadang hanya berbeda label saja. 

Ketiga, adanya persepsi bahwa manfaat yang diperoleh berhubungan dengan perbankan syariah tidak lebih baik dari perbankan konvensional. Sebagai contoh, jumlah kompensasi kalau menabung di bank-bank syariah cenderung lebih kecil dari bank-bank konvensional. Begitu juga dengan biaya pendanaan bila menggunakan bank syariah terkadang lebih besar dari bank konvensional.

Oleh karena itu di masa datang masih diperlukan beberapa terobosan untuk tetap mempertahankan tingkat pertumbuhan perbankan syariah. 

Pertama, sumber daya manusia atau human capital menjadi elemen terpenting dan penentu dalam mencapai dan keunggulan bersaing suatu bank. Human capital berkaitan dengan ilmu, pengetahuan dan skill yang dimiliki sumberdaya insani. Hadirnya suatu sistem pendidikan berbasis syariah di perguruan tinggi merupakan langkah yang tepat untuk menyiapkan sumberdaya yang punya kompetensi dan kapabalitas dalam memenuhi kebutuhan perbankan syariah. Penyiapan sumberdaya insani perbankan syariah nasional juga menjadi lebih penting bila dikaitkan dengan terlaksananya kesepakatan ASEAN Economic Community (AEC) pada tahun 2015, dan akan berpengaruh pada eksistensi dan berbagai aspek daya saing industri perbankan syariah nasional (Outlook Perbankan Syariah Indonesia 2011). 

Kedua, program edukasi  masyarakat yang terus menerus oleh Bank Indonesia dan bank-bank syariah akan mendorong masyarakat menjadi lebih familiar dengan produk-produk yang ditawarkan perbankan syariah. Dalam perspektif manajemen modern, masyarakat akan bersedia membeli suatu produk atau jasa kalau mereka telah mengenalnya (awareness) terlebih dahulu. 

Ketiga, Majelis Ulama Indonesia perlu juga secara terus menerus mengawasi jalannya perbankan syariah. Sertifikasi kehalalan produk-produk perbankan syariah harus tetap digalakkan dan disosialilasikan ke masyarakat. Keraguan masyarakat akan berkurang atau hilang bila MUI berani secara tegas memberikan rekomendasi kepada BI untuk menindak bank-bank syariah yang nakal. 

Terakhir, open minded masyarakat akan membantu diterimanya produk-produk dan layanan perbankan syariah. Kepercayaan yang meragukan keberadaan perbankan baru bisa dihilangkan bila masyarakat mau dan bersedia mempelajari semua aspek perbankan syariah. Integritas dan sinergisitas program yang dilakukan oleh Bank Indonesia, MUI, perguruan tinggi, perbankan syariah dan masyarakat di atas akan mendorong berkembangnya sistem perbankan syariah, dan akhirnya bisa membantu terciptanya kemakmuran masyarakat yang adil dan makmur yang ridhoi Allah SWT [] 

Sumber: Koran UII News

Rabu, 11 Januari 2012

Bank Syariah Jangan Hanya Andalkan Murabahah*

Source: Blog BPRS Mitra Harmoni

ADALAH sebuah kenyataan bahwa perbankan syariah semakin unjuk gigi dan meneguhkan eksistensinya dalam percaturan ekonomi dewasa ini. Bahkan perbankan syariah semakin menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Berdasarkan data sepanjang 2011, Bank Indonesia melaporkan aset perbankan syariah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) meningkat dari 6,06 persen tahun 2010 menjadi 6,78 persen di tahun 2011.

Perkembangan ini juga bisa dilihat dari beberapa indikator. Dari sisi kinerja, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) dilaporkan tumbuh 25,08 persen. Sementara penyaluran pembiayaan syariah juga meningkat menjadi 53,95 persen. Hingga sekarang tercatat jumlah rekening nasabah sudah mencapai 213 ribu orang dengan nilai mencapai Rp 1,6 triliun. Kinerja Non Performing Financing (NPF) juga cukup baik, terjadi penurunan di tahun 2011 menjadi 3,96 persen yang sebelumnya sebesar 3,98 persen di tahun 2010. Serta bertambahnya jumlah kantor cabang bank syariah yang berdampak pada peningkatan daya serap tenaga kerja yang dibutuhkan.

Di samping berbagai kemajuan yang telah diperoleh, kalangan perbankan syariah juga perlu memperhatikan berbagai kelemahan yang timbul. Kelemahan yang pertama adalah pembiayaan bank syariah cenderung menggunakan skema pembiayaan murabahah sebagai unggulan produknya. Kemudian kelemahan selanjutnya adalah masih minimnya pola pembiayaan yang mengarah kepada investasi di sektor riil, padahal pengembangan sektor riil akan memberikan dampak yang luar biasa terhadap kondisi perekonomian secara keseluruhan, khususnya DIY.

Sebagaimana kita ketahui bahwa murabahah adalah kontrak jual-beli terhadap barang tertentu, dimana nasabah meminta kepada pihak bank untuk membeli barang tertentu. Kemudian bank menjual kembali barang tersebut dengan harga baru, yang telah ditambah dengan marjin yang disepakati kedua belah pihak. Tidak dapat dipungkiri bahwa pada kenyataannya, pembiayaan bank syariah banyak didominasi skim murabahah

Skim murabahah, cenderung tidak beresiko. Di mana kalau kita mau jujur bahwa yang membedakan secara prinsipil antara bank Islam dan bank konvensional diantaranya adalah terletak pada prinsip untung dan rugi ditanggung bersama. Selain itu, skim murabahah cenderung menstimulus kemungkinan terjadinya inflasi, dimana harga komoditas barang cenderung meningkat. Skim murabahah juga tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan produktivitas barang dan jasa. 

Kelemahan lain bank syariah terkait dengan investasi di sektor riil adalah dimana kalangan perbankan syariah belum memberikan perhatian yang lebih serius terhadap masalah ini. Padahal kita mengenal skema pembiayaan yang lain, yaitu mudharabah dan musyarakah.

Jika kita cermati, masyarakat Indonesia membutuhkan investasi pada output-producing sector, dimana hal tersebut akan memberikan efek yang luar terbukanya lapangan pekerjaan baru, berdirinya industri dan pabrik baru yang memungkinkan adanya peningkatan produktivitas barang dan jasa yang dihasilkan.

Perbankan syariah membutuhkan suatu investment modes yang berdasarkan pada risk return modes. Untuk menghindari kerugian, maka bank syariah perlu melakukan beberapa langkah, yaitu : (1) Diversifikasi portofolio. (2) Evaluasi mendalam dan hati-hati terhadap proyek yang akan dibiayai. (3) Menelusuri dan menganalisis latar belakang klien yang akan mendapatkan pembiayaan.

Ada beberapa dampak yang timbul dari pembiayaan skim mudharabah dan musyarakah, yakni:

Pertama, skim mudharabah dan musyarakah akan menggairahkan sektor riil. Investasi akan meningkat, yang disertai dengan pembukaan lapangan kerja baru. Akibatnya tingkat pengangguran akan dapat dikurangi dan pendapatan masyarakat akan bertambah.

Kedua, skim mudharabah dan musyarakah ditinjau dari sisi nasabah. Nasabah akan memiliki dua pilihan, apakah akan mendepositokan dananya pada bank syariah atau bank konvensional. Nasabah akan membandingkan secara cermat antara expected rate of return yang ditawarkan bank syariah dengan tingkat suku bunga yang ditawarkan oleh bank konvensional, dimana selama ini fakta telah membuktikan, bahwa ternyata rate of return bank syariah lebih tinggi bila dibandingkan dengan interest rate yang berlaku pada bank konvensional. Sehingga ini akan menjadi faktor pendorong meningkatnya jumlah nasabah.

Ketiga, skim mudharabah dan musyarakah akan mendorong tumbuhnya pengusaha yang berani mengambil keputusan bisnis yang beresiko. Hal ini akan menyebabkan berkembangnya berbagai inovasi baru, yang pada akhirnya dapat meningkatkan daya saing bangsa ini. Inovasi adalah kata kunci di dalam memenangkan persaingan global.

Keempat, skim mudharabah dan musyarakah dapat mengurangi peluang terjadinya resesi ekonomi dan krisis keuangan. Hal ini dikarenakan bank syariah adalah institusi keuangan yang berbasis aset (asset-based). Artinya, bank syariah adalah institusi yang berbasis produksi (production-based).

Kelima, skim mudharabah dan musyarakah dapat menjadi solusi alternatif atas problem over liquid yang saat ini terjadi. Kondisi kelebihan likuiditas dana ini harus disiasati dengan menyalurkannya pada sektor usaha riil. Dengan demikian, insya Allah, perbankan syariah dapat berperan lebih signifikan di dalam upaya pengembangan perekonomian nasional, khususnya DIY. []

*) Dari berbagai Sumber