Senin, 28 November 2011

Kecelakaan Muslimah KAMMI, Butuh Donasi

Jum'at, 25 November 2011 tepat pukul 16.00 WIB, teman kita Siti Aisyah Hamri (Mahasiswi IT Telkom Bandung), mengalami kecelakaan di daerah perumahan Ciganitri. Kecelakaan itu mengenai kepala bagian belakang karena terpental kebelakang dan tidak memakai helm.

Oleh warga sekitar langsung di bawa ke RS di daerah terdekat, beliau mendapatkan 2 jahitan di kepalanya untuk menutupi aliran darah yang terus keluar. Tetapi beberapa saat kemudian kondisi/bentuk kepala beliau mulai berubah, bagian kepala jadi membesar seperti berbentuk kotak, bengkak, mata tertutup dan membiru, sehingga sejajar dengan hidung, tangan sebelah kiri patah, status berada di bawah sadar, tangan kanan dan kaki kanan masih bisa bergerak, masih merespon, beliau membuka sendri oksigen yang menempel di hidungnya, di pasangkan beliau buka, di pasangkan beliau buka terus saja seperti itu.

Biaya yang dibutuhkan oleh beliau untuk perawatan per-harinya sekitar 7,5 – 8 juta. Biaya operasi pertama 50juta. Ditambah operasi ke-2, ke-3, dan seterusnya yang belum bisa diperkirakan biayanya. Ini belum termasuk biaya terapi, dan sebagainya. 

Siti Aisyah Hamri sudah dioperasi hari sabtu (26 November 2011) sekitar pukul 8.00-13.30 WIB. Kondisinya berat. Ibunya (single parent) di Makasar. Ternyata pengeluaran untuk operasi beserta alat-alatnya bisa mencapai 50 juta. Kemungkinan perawatan sampai 1 bulan di RS. Masa Kritis diperkirakan 5 hari sesudah operasi. Dan kemungkinan akan ada operasi lanjutannya (yang biayanya hampir sama), belum lagi perawatan selama masa pemulihan. Beliau dimasukkan ke kamar VIP karena kamar yang biasa penuh dan waiting list RSHS panjang. Mohon dengan sangat, bantuan sangat dibutuhkan.

Donasi berupa dana ke nomer rekening transfer ke :
REKENING MANDIRI 1310006999082 a.n Marliani Harahap
Konfirmasi nominal transfernya ke nomor Marliani Harahap 085262015440.

Jumat, 25 November 2011

Bedah Buku dan Training Motivasi "Jangan Mau Jadi Mahasiswa Biasa-biasa Saja!"


YOGYA - Kondisi mahasiswa dewasa ini pada umumnya banyak yang mengandalkan orang tua dalam mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Memang ada semacam ‘konvensi’ secara umum, ketika kita belum menikah, maka ada kewajiban orang tua untuk tetap membiayai kita. Tidak salah memang, ketika kita masih meminta uang kepada orang tua. Namun kalau kita bisa belajar mandiri lebih dini tentunya akan lebih baik.

Lihat saja di Amerika Serikat, yang kehidupannya bebas. Umur 17 tahun, para remaja sudah dibebaskan dan dibiarkan secara mandiri untuk mencari uang. Tentu kita sebagai bangsa yang lebih bermartabat dan berbudaya, lebih mampu melakukan hal tersebut meski faktanya masih banyak yang belum bisa melakukan hal tersebut.

Harapannya dari acara Training Motivasi dan Bedah Buku “Jangan Mau Jadi Mahasiswa Biasa-biasa Saja!”, bisa memotivasi dan menggerakkan teman-teman mahasiswa untuk mandiri dan kreatif. Kreatif memanfaatkan potensi-potensi kebaikan yang ada untuk memaksimalkan mencari pendapatan untuk penghidupan mereka. Alangkah bahagianya orang tua kita, jika kita bisa mandiri dan lepas dari ‘subsidi’ orang tua.

Training Motivasi dan Bedah Buku ini akan digelar pada hari Sabtu, tanggal 3 Desember 2011. Pemateri-pemateri berpengalaman yang akan mengisi acara ini diantaranya adalah : Edo Segara (Penulis Buku “Jangan Mau Jadi Mahasiswa Biasa-biasa Saja!” dan Entrepreuner), Dwi Suwiknyo (Dosen dan Penulis Buku “3 Kunci Lepas Subsidi Orangtua”), Fatan Fantastik (Motivator dan Penulis buku-buku Best Seller). Event ini akan diselenggarakan di Kampus D3 Ekonomi Lt. 2 UII Jakal Km. 14 (Kampus Besi).

Acara ini akan membongkar rahasia : Bagaimana meraih IPK di atas 3, bagaimana bisa segera lepas subsidi dari orangtua, bagaimana menjadi mahasiswa yang kreatif dan pandai memanfaatkan peluang, cara cepat punya usaha sendiri saat jadi mahasiswa, bagaimana mudah mendapatkan modal usaha.

Untuk pendaftaran acara ini, teman-teman bisa mendaftar melalui telpon 0274-6844177 atau sms dengan format : nama_universitas_fakultas ke Aan (08217572226), Faisal (085747946886), dan Hera (08195528510). Harga Tiket Masuk (HTM) acara ini Rp. 50.000,- (dapat buku dan kartu perdana syariah), dan Rp. 20.000,- (tanpa buku). Via transfer melalui rekening Bank Mandiri 137-00-0459124-0 atau Bank Syariah Mandiri (BSM) 0300060862 a.n Edo Segara Gustanto. Fasilitas yang akan didapat dari acara ini diantaranya adalah buku, materi, snack, makan siang dan doorprize. []

Selasa, 22 November 2011

Ekonomi Islam, Doktrin atau Ilmu? (Perspektif Muhammad Baqir Ash-Shadr)

M. Baqir Ash-Shadr
SAAT ini industri perekonomian syariah berkembang sangat pesat. Lihat saja Bank Syariah, Asuransi Syariah, Pegadaian Syariah, Koperasi Syariah, Hotel Syariah, Swalayan Syariah dan lain-lain begitu menjamur di Indonesia. Pertanyaannya adalah, adakah dasar atau teori yang mendorong perkembangan industri tersebut? Para akademisi masih bersilang pendapat tentang adanya teori dalam ekonomi Islam. Apakah ekonomi Islam itu sebuah teori atau doktrin?

Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin ilmu. Ada yang menilai teori ekonomi Islam tidak ada, mereka yang mempunyai pandangan seperti ini menganggap ekonomi Islam hanya ekonomi moral. Sedangkan sebagaian pengamat menilai teori ekonomi Islam itu ada. Teori ekonomi Islam bersumber dari al-Qur’an dan hadits sebagai pijakannya.

Mengenai perdebatan adakah teori atau ilmu dalam ekonomi Islam, rasanya menarik untuk kita simak pemikiran Muhammad Baqir Ash-Shadr dalam bukunya “Iqtishaduna”. Muhammad Baqir Ash-Shadr adalah seorang cendekiawan Muslim terkemuka berasal dari Irak. Beliau adalah seorang fakih (yuris) pembaru dan pemikir yang genius. Karya tulisnya yang fenomenal selain “Iqtishaduna” adalah “Falsafatuna” dan “Bank Al-la Ribawi.”

Siapa Baqir Ash-Shadr

Muhammad Baqir Ash-Shadr adalah sedikit dari tokoh-tokoh Islam yang mampu berbicara dengan fasihnya pemikiran-pemikiran Barat. Kesan apalogi yang selama ini melekat pada pemikir Islam, ia tepis dengan kejernihan dan kecerdasan pemikirannya. Ia begitu akrab dengan karya-karya pemikir Islam klasik maupun modern, tapi ia juga paham pemikiran-pemikiran Barat yang berkembang. Dalam karyanya yang terkenal yaitu Falsatuna dan Iqtishaduna ia dengan fasihnya mengutarakan kritik-kritik terhadap pemikiran Barat seperti Karl Marx, Descartes, John Locke dan lain-lain.

Falsafatuna dan Iqtishaduna telah mencuatkan Mehammad Baqir Shadr sebagai teoritisi kebangkitan Islam terkemuka. Sistem filsafat dan ekonomi alternatif ini disempurnakan melalui masyarakat dan lembaga. Dalam Falsafatuna dan Iqtishaduna, Baqir Shadr ingin menyajikan kritik yang serius terhadap aliran marxisme dan kapitalisme. Buku ini baik dari segi sturuktur maupun metodologi, tak diragukan lagi inilah sumbangsih paling serius dan paling banyak disaluti di bidang ini.

Muhammad Baqir As-Sayyid Haidar Ibn Ismail Ash-Shadr, seorang sarjana, ulama, guru dan tokoh politik, lahir di Kazimain, Baghdad, Irak pada 25 DzulQaâdah 1353H/1 Maret 1935 M dari keluarga religius. Pada usia empat tahun, Muhammad Baqir Ash-Shadr kehilangan ayahnya, dan kemudian diasuh oleh ibunya yang religius dan kakak laki-lakinya, Ismaâil, yang juga seorang mujtahid kenamaan di Irak. Muhammad Baqir Ash-Shadr menunjukkan tanda-tanda kejeniusan sejak usia kanak-kanak. Pada usia sepuluh tahun, dia berceramah tentang sejarah Islam, dan juga tentang beberapa aspek lain tentang kultur Islam. Dia mampu menangkap isu-isu teologis yang sulit dan bahkan tanpa bantuan seorang guru pun. Ketika usia sebelas tahun, dia mengambil studi logika, dan menulis sebuah buku yang mengkritik para filosof.

Pada usia tiga belas tahun, kakaknya mengajarkan kepadanya Ushul ilm al-fiqh ( asas-asas ilmu tentang prinsip-prinsip hukum Islam yang terdiri atas Al-Qurâan, Hadis, Ijmaâ dan Qiyas ). Pada usia sekitar enam belas tahun, dia pergi ke Najaf untuk menuntut pendidikan yang lebih baik dalam berbagai cabang ilmu-ilmu Islami. Sekitar empat tahun kemudian, dia menulis sebuah ensiklopedi tentang Ushul, Ghayat Al-Fikr fi Al-Ushul ( pemikiran puncak dalam Ushul ). Muhammad Baqir Ash-Shadr menjadi seorang mujtahid pada usia tiga puluh tahun.

Sebagai salah seorang pemikir yang paling terkemuka, Muhammad Baqir Ash-Shadr melambangkan kebangkitan intelektual yang berlangsung di Najaf antara 1950-1980. Ciri lain yang mencolok dari kebangkitan itu adalah dimensi politiknya, dan saling pengaruh antara apa yang terjadi di lorong gelap dan sekolah tinggi berdebu Najaf, dan Timur-Tengah pada umumnya. Peristiwa pengeksekusian Shadr bersama saudara perempuannya yang bernama Bint Al-Huda pada 8 April 1980, barangkali ini merupakan titik puncak tantangan terhadap Islam di Irak. Dengan meninggalnya Shadr, Irak kehilangan aktivis Islamnya yang paling penting.

Tapi ketenaran Shadr justru setelah ia dihukum gantung oleh pemerintahan Irak. Reputasi Shadr semenjak itu diakui di berbagai kalangan masyarakat. Namanya telah melintasi Mediterania, ke Eropa dan Amerika Serikat. Pada 1981, Hanna Batatu, dalam sebuah artikel di Middle East Journal di Washington, menunjukkan pada orang-orang pentingnya Shadr bagi gerakan bawah tanah Syiâah di Irak. Pada 1984, Istishaduna diterjemahkan sebagian ke dalam bahasa Jerman, disertai mukadimah panjang mengenal alim Syiâah ini oleh seorang orientalis muda Jerman. Jadi tidak mungkin lagi mengabaikan nilai penting Muhammad Baqir Ash-Shadr dalam kebangkitan berbagai gerakan politk Islam, di Irak, di dunia Syiâah dan di dunia Muslim pada umumnya.

Ekonomi Islam adalah Doktrin?

Muhammad Baqir Ash-Shadr menyebutkan bahwa doktrin ekonomi dalam sebuah masyarakat pada dasarnya menunjukkan cara atau metode yang dipilih dan diikuti masyarakat tersebut dalam kehidupan ekonominya serta dalam memecahkan setiap problem praktis yang dihadapinya.

Sementara ilmu ekonomi adalah ilmu yang berhubungan dengan penjelasan terperinci perihal kehidupan ekonomi, peristiwa-peristiwanya, gejala-gejala (fenomena-fenomena) lahiriahnya, serta hubungan antara peristiwa-peristiwa dan fenomena-fenomena tersebut dengan sebab-sebab dan faktor-faktor umum yang mempengaruhinya.

Dari dua keterangan di atas, Muhammad Baqir Ash-Shadr menyimpulkan bahwa: ekonomi Islam adalah sebuah doktrin dan bukan merupakan suatu ilmu pengetahuan, karena ia adalah cara yang direkomendasikan Islam dalam mengejar kehidupan ekonomi, bukan merupakan suatu penafsiran yang dengannya Islam menjelaskan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan ekonomi dan hukum-hukum yang berlaku di dalamnya.

Untuk mempermudah pemahaman dan menekankan label doktrin dari ekonomi Islam, Baqir Ash-Shadr mengatakan bahwa doktrin adalah suatu ‘sistem’, sementara ilmu adalah suatu ‘penafsiran’ (interpretasi). Ini sekadar untuk memperjelas bahwa ekonomi Islam adalah suatu doktrin, bukan ilmu pengetahuan. Agar dapat memahami istilah-istilah tersebut, kita harus mengenal lebih jauh doktrin ekonomi Islam, dalam bidang mana-mana saja ia beroperasi atau berlaku, lalu kita berusaha untuk mencari setiap keterkaitan Islam dengannya.

Dalam bidang apa saja sebenarnya doktrin ekonomi berlaku? Sejauh apakah cakupan jangkauannya? Apa ciri-ciri umum yang dapat kita temukan dalam setiap doktrin ekonomi? Apakah ciri-ciri itu dapat kita garis bawahi sehingga kita bisa memakainya untuk menarik pemikiran-pemikiran doktrinal dalam Islam, guna menentukan apa itu yang dimaksud dengan doktrin ekonomi Islam.

Semua pertanyaan di atas mengharuskan kita membuat suatu batasan yang jelas tentang doktrin guna membedakannya dari ilmu pengetahuan. Setelah itu barulah kita bisa memberikan jawaban bagi setiap pertanyaan itu. Dan dalam kaitannya dengan ini, tidaklah cukup dikatakan bahwa doktrin itu semata suatu cara atau metode.

Ada banyak orang yang meyakini bahwa lingkup doktrin ekonomi hanya sekitar distribusi kekayaan dan tidak ada hubungannya dengan produksi, karena hukum-hukum ilmiahlah yang berlaku dalam proses produksi. Hukum-hukum ilmiah pula yang terkait dengan pemahaman manusia tentang elemen-elemen produksi serta karakteristik-karakteristik dan kemampuannya. Misalnya, proses produksi gandum atau tekstil toh tidak akan berubah seiring dengan perubahan doktrin ekonomi.

Oleh karena itu, mereka menyimpulkan bahwa ilmu ekonomi adalah ilmu hukum-hukum produksi, sementara doktrin ekonomi ialah seni distribusi kekayaan. Karena setiap penelitian yang menyangkut produksi, perkembangan produksi, penemuan sarana-sarana produksi serta perbaikannya, semua itu merupakan perkara yang diperbincangkan dalam ilmu ekonomi. Sudah lumrah kalau negara mana pun tidak berbeda dalam hal ini, walaupun mereka memiliki perbedaan prinsip-prinsip dan konsep-konsep sosial. Hal ini berlaku dalam semua prinsip. Sementara setiap penelitian yang menjelaskan kekayaan, baik kepemilikan maupun pengaturan penggunaannya, adalah perkara yang terkait dengan investigasi doktrinal. Ia merupakan bagian dari sistem ekonomi dan bukan bagian dari ilmu ekonomi, bahkan tidak pula terkait dengan ilmu ekonomi. Namun, ia terkait dengan pandangan hidup yang diadopsi masing-masing doktrin, seperti kapitalis, komunis, ataupun Islam. []

Jumat, 04 November 2011

Self Publishing (Lagi)


Acara "Kupas Tuntas Self Publishing", Jogja Muslim Fair (2/11)
MENGAPA harus self publishing? Begitulah kira-kira lebih jauh tentang tulisan ini. Ya, aktivitas self publishing memang akhir-akhir ini sedang menjadi trend dan primadona berbarengan dengan penerbitan buku dengan cara digital (e-book). Tidak perlu bermodal besar untuk bisa menerbitkan buku sendiri. Karena dengan modal yang terbatas, kita bisa mewujudkan buku-buku karya kita secara mandiri.

Secara sederhana arti self publishing adalah menerbitkan buku secara mandiri. Kalau ditanya apa alasan sebagian orang memilih self publishing? Banyak faktor yang menyebabkan orang memilih menerbitkan bukunya secara mandiri. Setidaknya menurut pengamatan saya, ada lima alasan orang memilih untuk self publishing diantaranya adalah: (1). Kapasitas kuota penerbit yang terbatas dalam menerbitkan buku. (2). Menjaga idealisme ide naskah kita. (3). Banyak penerbit yang tidak jujur. (4). Self publishing menjadi peluang bisnis baru. (untuk yang keempat) akan saya jelaskan dalam sub bab tersendiri). Baik, alasan di atas satu persatu akan saya jelaskan sebagai berikut.

Pertama, kapasitas kuota yang terbatas oleh penerbit dalam menerbitkan buku. Sebagai contoh, dibeberapa penerbit hanya memiliki kapasitas menerbitkan 3-5 buku dalam sebulan. Ada juga memang yang bisa menerbitkan 10 naskah dalam sebulan, namun umumnya ini dilakukan oleh penerbit-penerbit besar. Sementara biasanya, naskah yang masuk cukup banyak ke penerbit. Bisa dalam sebulan ratusan naskah. Nah, self publishing bisa menjadi salah satu solusi tersebut.

Kedua, menjaga idealisme ide-ide naskah kita. Terkait poin kedua ini, saya punya pengalaman menarik. Ya, karena naskah saya pernah dipangkas atau dipotong cukup banyak. Padahal, ide dalam naskah tersebut tentu akan terpotong jika ada naskah yang harus dihapus. Karena atas kepentingan pasar pula, biasanya penulis disodorkan dengan ide dari penerbit itu sendiri agar naskah kita bisa diterima pasar. Tentu juga hal ini tidak sepenuhnya salah. Akan tetapi jika kita ngotot agar ide-ide kita tetap muncul dalam buku yang akan diterbitkan, sebaiknya Anda melirik untuk menerbitkan buku sendiri (self publishing).

Ketiga, banyak penerbit tidak jujur. Untuk penerbit jangan tersinggung, karena tidak semua penerbit tidak jujur. Masih banyak juga penerbit yang fair dan jujur dalam memberi laporan royalty yang diperoleh oleh penulis. Sebagai contoh, tanpa perlu disebut apa nama penerbitnya. Ada sebuah penerbit melakukan tindakan yang tidak terpuji dengan mencetak lebih banyak buku-buku best seller namun yang dilaporkan ke penulis tidak sesuai. Misalnya, sebuah penerbit A mencetak 10.000 eksemplar buku, namun yang dilaporkan ke penulis hanya 5.000 eksemplar. Ada juga yang melaporkan data dalam penjualan tidak sebenarnya. Jika dalam keadaan begini, nampaknya pilihan self publishing menjadi tepat. 

Keempat, Self publishing menjadi peluang bisnis baru. Nah untuk penjelasan yang satu ini, Insya Allah saya akan membuat sub bab tersendiri di akhir tulisan.

Buku yang saya terbitkan sendiri
Bisakah Sukses dari Self Publishing?

Bisakah self publishing menuai sukses? Jawabannya tentu bisa. Berikut saya akan menceritakan ulang contoh seorang penulis yang sukses melakukan self publishing yang saya kutip dalam buku “Self Publishing (Kupas Tuntas Rahasia Menerbitkan Buku Sendiri)” karya Mas Miftachul Huda.

Anda pernah mendengar nama Dan Poynter? Pria berkebangsaan Amerika ini adalah Bapak Self Publishing. Awalnya, Dan ingin menerbitkan buku tentang panduan olah raga di bidang penerbangan. Sayangnya tak satupun bersedia menerbitkannya. Setelah dipertimbangkan, Dan akhirnya menerbitkan bukunya sendiri. Hasilnya luar biasa. Buku berjudul “Hang Gliding” terjual kurang lebih 130.000 eksemplar. Capaian yang sangat hebat untuk ukuran tahun 1970-an.

Sejak capaian yang dahsyat itu, Dan pun terus menulis. Sekitar 76 judul buku telah ditulisnya. Bahkan buku-bukunya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Spanyol, Jepang, Rusia, Inggris dan Jerman. Semua karyanya tersebut diterbitkan oleh penerbit yang didirikannya sendiri yakni Para Publishing. Selama bertahun-tahun Para Publishing ditanganinya sendiri, mulai dari tulisan, penerbitan dan promosi, kantor manajemen dan pemasaran. Tak heran bila ia sering disebut-sebut sebagai the world’s largest person publishing company. Bukunya yang berjudul "The Self Publishing" Manual menjadi kiblat bagi orang-orang yang ingin mengetahui lebih jauh tentang Self Publishing.

Self Publishing, Bisnis Menjanjikan

Belakangan ini, profesi menulis mulai mendapat perhatian yang cukup serius dari banyak kalangan. Sebut saja Habiburrahman El-Shirazy, Andrea Hirata, Asma Nadia menjadi fenomena tersendiri dalam dunia kepenulisan. Menulis tidak hanya sekadar menghasilkan naskah buku yang diterbitkan atau artikel yang dipublikasikan media yang keduanya bisa dilakukan dirumah. Pekerjaan menulis sekarang sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari institusi, baik swasta maupun Pemerintah, industri maupun yayasan, dan lembaga sosial maupun profit. Profesi penulis selalu dibutuhkan, baik yang dijalani secara permanen maupun sebagai tenaga lepas.

Self publishing bisa menjadi bisnis yang sangat menjajikan jika kita tahu rahasianya. Ya, karena banyak orang yang memiliki pendapat bahwa menulis buku itu sulit, mengurus ISBN sulit dan sebagainya. Padahal faktanya tidak seperti itu. Semua sangat mudah, apalagi ada lembaga-lembaga publishing services seperti www.leutikaprio.com, www.nulisbuku.com dll. Cukup mengeluarkan dana Rp. 500.000,- kita sudah bisa menikmati karya kita sendiri.

Dalam sebuh diskusi tentang “Kupas Tuntas Self Publishing” yang menghadirkan teman-teman saya sendiri (Miftachul Huda, Dwi Suwiknyo dan Saya sendiri), sempat disinggung terkait pertimbangan sebelum memilih self publishing. Ada 3 hal menurut saya yang penting dipertimbangkan, sebelum seorang penulis memilih self publishing. Pertama, materi yang bagus (content). Ini penting, karena jangan sampai kita rugi karena buku yang kita diterbitkan tidak bermutu. Kedua, massa (distribusi). Massa (komunitas) dan distribusi manjadi penting untuk memasarkan buku kita. Misal, dosen massa-nya adalah mahasiswa, guru massa-nya adalah murid, trainer massa-nya adalah peserta training, dll. Ketiga, modal. Ya, modal menjadi bagian penting karena kita memproduksi buku kita sendiri. Dan ada 2 poin lagi, ditambahkan oleh teman saya Dwi Suwiknyo yakni, context dan creativity. Context adalah tema yang dibahas buku harus disesuaikan dengan kondisi pasar/pembaca alias harus update. Kaver dan lay out juga harus menarik dan disesuaikan dengan target pembaca. Creativity sendiri adalah kreatifitas penulis dalam menggarap bukunya sehingga unik dan khas.

Ada contoh seorang pelaku self publishing. Kebetulan dia adalah seorang dosen dikampus swasta di Yogyakarta. Tak perlu disebut siapa namanya, ia cukup sukses menerbitkan bukunya sendiri. Dalam waktu enam bulan, bukunya bisa terjual 1.000 eksemplar. Mengapa? Karena dosen memiliki mahasiswa sebagai market yang akan dipasarkan. Ketika buku kita terbitkan oleh penerbit, paling besar kita mendapatkan royalty sebesar 15% atau umumnya hanya 10%. Bayangkan jika 1.000 buku terjual dengan royalty 4.000 dari harga buku Rp. 40.000,- maka kita hanya akan mendapatkan sebesar Rp. 4.000.000,-. Jika menerbitkan sendiri, misal ongkos produksi untuk 1.000 buku sebesar Rp. 10.000,- lalu kita jual Rp. 40.000,- maka selisih yang kita dapatkan Rp. 30.000.000,-. Katakanlah kita hanya menerima Rp. 20.000.000,- karena terpotong dengan ongkos distribusi, namun masih berapa kali lipat lebih baik dari royalty yang hanya 10%. Lumayan bukan? Mau mencoba? []