Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2011

Kecelakaan Muslimah KAMMI, Butuh Donasi

Gambar
Jum'at, 25 November 2011 tepat pukul 16.00 WIB, teman kita Siti Aisyah Hamri (Mahasiswi IT Telkom Bandung), mengalami kecelakaan di daerah perumahan Ciganitri. Kecelakaan itu mengenai kepala bagian belakang karena terpental kebelakang dan tidak memakai helm. Oleh warga sekitar langsung di bawa ke RS di daerah terdekat, beliau mendapatkan 2 jahitan di kepalanya untuk menutupi aliran darah yang terus keluar. Tetapi beberapa saat kemudian kondisi/bentuk kepala beliau mulai berubah, bagian kepala jadi membesar seperti berbentuk kotak, bengkak, mata tertutup dan membiru, sehingga sejajar dengan hidung, tangan sebelah kiri patah, status berada di bawah sadar, tangan kanan dan kaki kanan masih bisa bergerak, masih merespon, beliau membuka sendri oksigen yang menempel di hidungnya, di pasangkan beliau buka, di pasangkan beliau buka terus saja seperti itu. Biaya yang dibutuhkan oleh beliau untuk p erawatan per-harinya sekitar 7,5 – 8 juta. Biaya operasi pertama 50juta. Ditam

Bedah Buku dan Training Motivasi "Jangan Mau Jadi Mahasiswa Biasa-biasa Saja!"

Gambar
YOGYA - Kondisi mahasiswa dewasa ini pada umumnya banyak yang mengandalkan orang tua dalam mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Memang ada semacam ‘konvensi’ secara umum, ketika kita belum menikah, maka ada kewajiban orang tua untuk tetap membiayai kita. Tidak salah memang, ketika kita masih meminta uang kepada orang tua. Namun kalau kita bisa belajar mandiri lebih dini tentunya akan lebih baik. Lihat saja di Amerika Serikat, yang kehidupannya bebas. Umur 17 tahun, para remaja sudah dibebaskan dan dibiarkan secara mandiri untuk mencari uang. Tentu kita sebagai bangsa yang lebih bermartabat dan berbudaya, lebih mampu melakukan hal tersebut meski faktanya masih banyak yang belum bisa melakukan hal tersebut. Harapannya dari acara Training Motivasi dan Bedah Buku “Jangan Mau Jadi Mahasiswa Biasa-biasa Saja!”, bisa memotivasi dan menggerakkan teman-teman mahasiswa untuk mandiri dan kreatif. Kreatif memanfaatkan potensi-potensi kebaikan yang ada untuk mem

Ekonomi Islam, Doktrin atau Ilmu? (Perspektif Muhammad Baqir Ash-Shadr)

Gambar
M. Baqir Ash-Shadr SAAT ini industri perekonomian syariah berkembang sangat pesat. Lihat saja Bank Syariah, Asuransi Syariah, Pegadaian Syariah, Koperasi Syariah, Hotel Syariah, Swalayan Syariah dan lain-lain begitu menjamur di Indonesia. Pertanyaannya adalah, adakah dasar atau teori yang mendorong perkembangan industri tersebut? Para akademisi masih bersilang pendapat tentang adanya teori dalam ekonomi Islam. Apakah ekonomi Islam itu sebuah teori atau doktrin? Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin ilmu. Ada yang menilai teori ekonomi Islam tidak ada, mereka yang mempunyai pandangan seperti ini menganggap ekonomi Islam hanya ekonomi moral. Sedangkan sebagaian pengamat menilai teori ekonomi Islam itu ada. Teori ekonomi Islam bersumber dari al-Qur’an dan hadits sebagai pijakannya. Mengenai perdebatan adakah teori atau ilmu dalam ekonomi Islam, rasanya menarik untuk kita s

Self Publishing (Lagi)

Gambar
Acara "Kupas Tuntas Self Publishing", Jogja Muslim Fair (2/11) MENGAPA harus self publishing? Begitulah kira-kira lebih jauh tentang tulisan ini. Ya, aktivitas self publishing memang akhir-akhir ini sedang menjadi trend dan primadona berbarengan dengan penerbitan buku dengan cara digital ( e-book ). Tidak perlu bermodal besar untuk bisa menerbitkan buku sendiri. Karena dengan modal yang terbatas, kita bisa mewujudkan buku-buku karya kita secara mandiri. Secara sederhana arti self publishing adalah menerbitkan buku secara mandiri. Kalau ditanya apa alasan sebagian orang memilih self publishing ? Banyak faktor yang menyebabkan orang memilih menerbitkan bukunya secara mandiri. Setidaknya menurut pengamatan saya, ada lima alasan orang memilih untuk self publishing diantaranya adalah: (1). Kapasitas kuota penerbit yang terbatas dalam menerbitkan buku. (2). Menjaga idealisme ide naskah kita. (3). Banyak penerbit yang tidak jujur. (4).