Kamis, 13 Oktober 2011

Belajar dari Nabi Ibrahim (Sebuah refleksi Hari Raya Kurban/Haji)


HARI raya Idul Adha, atau hari Raya Haji mengingatkan kita pada kisah manusia besar, yakni Nabi Ibrahim AS, sang teladan, pemimpin manusia dan kemanusiaan. Prosesi Haji sebagian besar merupakan “Napak Tilas” sekaligus mengungkap keteladanan Nabi Ibrahim. Ka’bah, thawwaf, Sa’i, sumur zam-zam, dan Qurban, semuanya menjadi saksi sepanjang sejarah tentang perjuangan Nabi Ibrahim beserta keluarganya dalam menempuh kehidupan, menggapai kemuliaan dan menegakkan prinsip-prinsip Tauhid.

Betapa mulia dan tinggi kebesaran dan prestasi Nabi Ibrahim dalam mengarungi kehidupan, tercermin pada gelar-gelar yang diberikan Allah kepadanya. Beliau adalah seorang Ulul Azmi (Qs. Al-Ahqaf : 35), Nabi yang sangat jujur (Qs. Maryam : 41), Hanif (Qs. An-Nahl: 120), Kekasih Allah (Qs. An-Nisa’: 125), Pemulia Tamu (Qs. Adz-Dzariyat: 24-28), Uswah Hasanah (Qs. Al-Mumtahan: 4), Cerdas (Qs. Al-Anbiya: 63), Pembina Rumah Ibadah Pertama (Qs. Ali- Imran: 96), Manusia yang disebut Ummah (Qs. An-Nahl: 120), Teladan dalam Berkurban (Qs. Ash-Shoffat: 104-107), serta pengangkatan brahim sebagai Pemimpin Ummat Manusia (Qs. Al-Baqarah: 124).

Apa sebenarnya yang menjadi rahasia keagungan Nabi Ibrahim, sehingga beliau diangkat Allah menjadi pemimpin umat manusia?

Pertama, lurus dalam bertauhid. Nabi Ibrahim memahami hakikat Tuhan melalui pencarian intelektual dan spiritual yang meletihkan. Akhirnya, ia mendapatkan jawaban dengan meyakinkan. Beliau mendapat hidayah. ”Bukan bintang, bukan bulan dan bukan pula matahari yang berhak dan pantas disembah, tetapi Allah SWT. Dzat yang menciptakan langit dan bumu.” (Qs. Al-An’am : 74-78)

Nabi Ibrahim menyampaikan risalah Tauhid dengan tegas dan bijak. Ia hancurkan patung-patung yang menjadi sesembahan kaumnya. Ia siap menghadapi hukuman dari Raja Namrud. Ia tidak mau berkompromi sedikitpun agar mendapatkan misi tertentu, atau agar ia menjadi Wakil Raja.

Ia tidak mau mengganti, menambah atau mengurangi ajaran wahyu sekecil apapun dengan pikiran-pikiran, ide-ide atau khayalan dan imajinasi, atau ia membikin Ideologi Nasional sendiri, demi persatuan nasional, yang mengaburkan nilai-nilai ajaran Tauhid. Beliau tidak minta tolong kepada pasukan jin atau setan dalam rangka memenangkan dakwahnya atau menghadapi musuh-musuhnya. Bahkan sekalipun dengan ayahnya sendiri, beliau lepaskan tanggung jawab ukhrawinya, karena Ayahnya seorang penyembah berhala. Sikap tegas inilah yang harus diteladani oleh kaum Muslimin. (Qs. Al- Mumtahanah : 4)

Kedua, membangun keluarga da’wah. Kebanyakan manusia, ketika mendapatkan kelebihan, ia mengumpulkan dan membangun segala hal yang menghantarkan pada kemuliaan duniawi. Ketika kekuasaan politik sudah berada ditangannya, maka segera menyusun segala potensi, agar kekuasaan tetap berada ditangannya. Ia bangun istana, ia susun tentara yang kuat, ia kumpulkan harta sebanyak-banyaknya, agar lawan politiknya bisa ditundukkan dengan hartanya, atau paling tidak untuk anak cucunya sampai tujuh turunan.

Hal demikian tidak berlaku sama sekali bagi Nabi Ibrahim. Ia sebarkan seluas-luasnya kalimat Tauhid. Ia ajak manusia agar menyembah Allah saja. Ia jadikan keluarganya sebagai basis da’wah yang menjadi pendukung dan penerus risalahnya. Karena itu Ibrahim bukan saja dikenal dengan bapak Tauhid, tetapi juga Bapak para Nabi. Ibrahim berdoa, memohon kepada Allah dengan sungguh-sungguh, agar keturunannya dijadikan orang-orang yang menegakkan sholat. ”Ya Tuhan kami, Jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang mendirikan sholat. ” (Qs. Ibrahim : 40).

Ketiga, mendahulukan iman dan ibadah daripada ekonomi. Umumnya manusia, memilih menetap di daerah subur. Karena di situlah akan didapatkan sumber ekonomi yang mudah. Dengan segera, manusia memperebutkan kekayaan material, seperti kapling, perkebunan, Kepala Daerah, Departemen Pajak dan seterusnya.

Namun Nabi Ibrahim meninggalkan daerah-daerah subur, menuju daerah tandus. Dari Syam ke Mesir, terus ke Palestina, terkahir menetap dikawasan tandus, tiada sebatang pohon atau tanaman pun. Di sinilah Ibrahim diperintahkan merenovasi rumah ibadah pertama kali yang dibangun untuk manusia, yaitu Baitullah. Tujuan utamanya adalah agar ia mampu beribadah dengan baik. ”Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian) itu agar mereka mendirikan sholat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Qs. Ibrahim: 37)

Sungguh, nabi Ibrahim membangun peradaban dengan landasan keyakinan atau ideologi yang kuat, iman, dan ibadah yang kokoh. Ia tidak memulai dengan pertumbuhan ekonomi. Beliau membangun peradaban dengan ibadah, merenovasi Ka’bah bekerjasama dengan keluarganya, dengan keikhlasan yang luar biasa, tanpa meminta bantuan orang atau bangsa lain. Karena itu, nabi Ibrahim tidak pernah didikte orang atau bangsa lain.

Keempat, Tauladan dalam Berkurban. Inilah puncak ujian Allah SWT terhadap ibrahim AS. Perhatikanlah! Ibrahim mendapatkan rentetan ujian bertubi-tubi. Semuanya lulus dan lolos dengan sempurna. Kemudian datang ujian terakhir, ia diperintahkan untuk menyembelih putra kesayangannya, Ismail.

Perintah ini dilaksanakan oleh Ibrahim dan Ismail dengan tulus semata-mata karena beribadah karena Allah. Dengan Rahmah-Nya, Allah mengganti Ismail dengan kambing besar sebagai kurban. Allah berfirman: ”Sesunggunya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (Qs. Ash-Shoffat: 106)

Berkurban adalah tradisi universal, yang dikenal oleh semua manusia. Telah menjadi kaidah kehidupan, semakin besar pengorbanan seseorang atau suatu kaum, semakin besar peluang untuk meraih keberhasilan atau keuntungan. Wujud pengorbanan beragam sekali. Korban harta, akal, jiwa, energi, status, perasaan, waktu bahkan prestise.

Apakah yang kita saksikan di tengah-tengah mayoritas Muslim saat ini. Egoisme dan kebakhilan telah melanda hampir sebagian besar orang. Munculah berbagai fenomena kerakusan, dalam materi maupun kekuasaan. Tersebarnya riba dan spekulasi mata uang, akumulasi kekuasaan dan uang sekaligus. Inilah penyebab utama muncul krisis ekonomi atau disebut dengan krisis moneter.

Banyak orang berkorban, tetapi sekedar membangun image, agar tampak sebagai dermawan atau sosiawan. Berkorban untuk menutup-nutupi kekayaan yang diperoleh secara tidak wajar. Ada orang memerintahkan kurban, hidup prihatin, tetapi hanya untuk orang lain, bukan untuk dirinya sendiri. Apakah artinya seekor atau dua ekor sapi jika dibandingkan dengan kekayaan jutaan dolar Amerika, yang tersimpan dalam berbagai aset perusahaan maupun deposito bank dalam dan luar negeri.

Kelima, Memohon ampun kepada Allah. Beliau, Nenek para Nabi dan Rasul memohon ampun kepada Allah. Entah ada kelalaian, ataupun ada kekurangan dalam memikul kewajiban selama ini, sebab beliau juga manusia. Mohon ampun kepada Bapak-Ibunya serta orang-orang yang telah menegakkan kalimat Allah. Bertambah tinggi martabat manusia dan bertambah rendah hati di hadapan Allah.

Sementara itu kita saksikan di depan mata kita, manusia yang kesalahannya sebesar dan setinggi gunung himalaya, tetap saja tidak mau mengakui kesalahan, dan selalu melimpahkan kesalahan kepada orang lain. Enggan beristighfar, enggan memohon taubat kepada Allah, apalagi mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada bawahan/rakyat selaku pemimpin. Masyarakat kita hanya bisa menghargai orang yang berada diatasnya. Orang yang berada dibawahnya hanya sebagai alat untuk menapak ke atas.

Tauhid yang lurus, basis keluarga yang beriman dan berda’wah, meletakkan iman dan Ibadah sebagai dasar kehidupan, memberi teladan dalam berkurban serta banyak memohon ampun kepada Allah dan senantiasa mengakui kesalahan dalah resep mujarab dalam mengarungi kehidupan, mengapai tujuan mencapai kemuliaan di dunia dan akhirat. Semoga kita semua bisa mengambil pelajaran sebanyak-banyaknya dari kehidupan Ibrahim AS dan keluarganya diatas. Wallahua’lam []

Tidak ada komentar:

Petuah Pak Cah, Menulis tak Butuh Bakat Melimpah

"Menulis itu tidak memerlukan bakat yang banyak, tinggal mau atau tidak." Itu kalimat-kalimat awal seorang Cahyadi Takari...