Rabu, 24 Agustus 2011

Kolom Zona Religi (7) : Memaknai Idul Fitri


“Idul Fitri berarti kembali pada naluri kemanusiaan yang murni, kembali pada keberagamaan yang lurus, dan kembali dari seluruh praktik busuk yang bertentangan dengan jiwa manusia yang masih suci.”

MENYEDIAKAN makanan dan minuman, mengenakan pakaian baru di Hari Raya Idul Fitri tidak ada salahnya. Namun akan menjadi persoalan adalah ketika kita berlebih-lebihan dalam semua hal tersebut.

“Apabila telah masuk sepuluh yang akhir pada bulan Ramadhan, Nabi SAW lebih giat beribadah pada malam-malamnya. Beliau membangunkan keluarganya dan beliau lebih tekun. Beliau kencangkan ikat sarungnya (menjauhi istrinya untuk lebih mendekati Allah).” (HR Muslim). Itulah yang dicontohkan Rasulullah di akhir bulan ramadan.

“Sesungguhnya Nabi saw i’tikaf pada tiap-tiap sepuluh yang akhir bulan Ramadhan hingga beliau wafat. Kemudian istri-istri beliau meneruskan i’tikaf seperti itu sesudah beliau wafat.” (HR Muslim)

Sayang, kebanyakan Muslim di Indonesia justru sebaliknya. Mereka banyak memenuhi pasar menjelang 10 malam terakhir bukan mendatangi masjid untuk i’tikaf seperti anjuran Rasulullah. Pasar penuh sesak dengan kerumunan masyarakat Muslim di Indonesia.

Idul Fitri secara sederhana dimaknai sebagai hari raya yang datang berulang kali setiap tanggal 1 Syawal yang menandai puasa telah selesai dan kembali diperbolehkan makan minum di siang hari. Acapkali kata fitri disini diartikan berbuka atau berhenti puasa yang identik dengan makan-makan dan minum-minum. Maka Idul Fitri pun disambut dengan pesta makan-makan dan minum-minum mewah yang tak jarang terkesan diada-adakan oleh sebagian keluarga.

Terminologi Idul Fitri seperti ini harus dibenahi, sebab selain kurang mengekspresikan makna Idul Fitri sendiri, juga terdapat makna yang lebih mendalam lagi. Idul Fitri seharusnya dimaknai sebagai `kepulangan seseorang kepada fitrah asalnya yang suci sebagaimana ia baru saja dilahirkan dari rahim ibu. Secara metafor, kelahiran kembali ini berarti seorang Muslim yang selama sebulan melewati Ramadhan dengan puasa, qiyam, dan segala ragam ibadahnya harus mampu kembali berislam, tanpa benci, iri, dengki, serta bersih dari segala dosa dan kemaksiatan.

Idul Fitri berarti kembali pada naluri kemanusian yang murni, kembali pada keberagamaan yang lurus, dan kembali dari seluruh praktik busuk yang bertentangan dengan jiwa manusia yang masih suci. Kembali dari segala kepentingan duniawi yang tidak islami. Inilah makna Idul Fitri yang asli.

Adalah kesalahan besar apabila Idul Fitri dimaknai dengan perayaan kembalinya kebebasan makan dan minum sehingga yang tadinya dilarang makan siang, setelah hadirnya Idul Fitri akan balas dendam. Atau dimaknai sebagai kembalinya kebebasan berbuat maksiat yang tadinya dilarang dan ditinggalkan.

Kemudian, karena Ramadan sudah usai maka kemaksiatan kembali ramai-ramai digalakkan. Ringkasnya, kesalahan itu pada akhirnya menimbulkan sebuah fenomena umat yang saleh musiman, bukan umat yang berupaya mempertahankan kefitrian dan nilai ketakwaan. Wallahua’lam []

Sumber: Koran Tribun Jogja, 23 Agustus 2011

Tidak ada komentar:

Petuah Pak Cah, Menulis tak Butuh Bakat Melimpah

"Menulis itu tidak memerlukan bakat yang banyak, tinggal mau atau tidak." Itu kalimat-kalimat awal seorang Cahyadi Takari...