Selasa, 16 Agustus 2011

Kolom Zona Religi (4) : Berbisnis dengan Allah

“Wahai orang-orang yang beriman maukah Aku menunjukkan kepada kamu suatu perniagaan yang menyelamatkan kamu dari siksa yang pedih?  (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.” 
(QS. Ash-Shaff :10-11)

RAMADAN menjadi bulan yang penuh berkah karena menjadi momentum diturunkannya kitab suci al-Qur’an. Selain itu, dibulan ini terdapat juga malam yang lebih dari seribu bulan atau kita kenal dengan malam ”Laylatul Qodar”.

Dibulan ini Allah juga mewajibkan kaum Muslim untuk berpuasa, menganjurkan sholat malam, dan memperbanyak membaca al-Qur’an. Bahkan tidur saja dinilai ibadah dibulan ini. Keberkahan ramadan bukan hanya dari segi ibadah, tetapi juga menjadi berkah ekonomi. Ramadan tidak hanya jadi momentum perang melawan hawa nafsu, tapi juga menjadi ajang pemasaran. Momen ini tidak hanya dinanti oleh kebanyakan umat Muslim, tetapi juga ditunggu-tunggu penggerak bisnis dalam menarik konsumen. Dalam istilah ilmu marketing ini disebut dengan ”Seasonal Marketing.”

Kita menyaksikan maraknya pedagang musiman yang bermunculan disamping pedagang yang sudah ada terlebih dahulu sebelum ramadhan. Mereka menjual aneka macam dagangan pakaian Muslim, berjualan paket buka puasa-sahur, buah kurma, parcel, dll. Kita bisa menyaksikan semaraknya suasana tersebut dijalan-jalan atau ditoko-toko swalayan hampir semua swalayan menampilkan suasana Islami sehari-harinya sebagai penghargaan terhadap bulan suci ramadan.

Kegiatan ekonomi merupakan salah satu aspek hubungan antar manusia. Karena itu, aspek moral tidak boleh ditinggalkan dalam setiap kegiatannya. Hubungan timbal balik yang harmonis, peraturan dan syarat yang mengikat, serta sanksi, merupakan tiga hal yang selalu berkaitan dengan bisnis, dan di atas ketiga hal tersebut ada etika.

Begitu pentingnya mengedepankan etika dalam berbisnis, sehingga Allah menganjurkan untuk memberi tangguh waktu bagi seseorang yang berutang dan dalam kesukaran, bahkan menyedekahkan sebagian dari utang itu dinilai sebagai perbuatan yang lebih baik. Demikian dalam firman-Nya: "Dan jika (orang berutang) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang itu) lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 280)

Islam memberikan persyaratan agar berbisnis itu tidak keluar dari format ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Paling tidak ada lima syarat yang harus dipenuhi jika kita ingin menjadikan bisnis sebagai profesi untuk meraih harta dan kekayaan dunia :

Pertama, berbisnis itu harus dengan niat mencari ridha Allah. Karena harta yang diperoleh adalah amanah dari Allah. Sebab itu, pada hakikatnya, harta itu adalah milik Allah.

Kedua, berbisnis harus sesuai dengan sistem Allah dan Rasul-Nya. Tidak boleh menggunakan sistem riba, tidak melakukan risywah (suap), kolusi, nepotisme, monopoli, spekulasi dan sebagainya.

Ketiga, barang dan jasa yang dibisniskan tidak boleh yang diharamkan Allah seperti babi, darah, minuman keras, judi dan sebagainya.

Keempat, semua aktivitas yang terkait dengan ibadah dan pengabdian kepada Allah, baik yang terkait dengan ibadah individu, sosial kemasyarakatan, atau apa saja yang terkait dengan kategori dakwah dan jihad, tidak boleh atau haram hukumnya dibisniskan.

Kelima, di dalam harta yang diamanahkan Allah itu terdapat jatah kaum fakir, miskin dan kebutuhan lain di jalan Allah, baik melalui zakat (wajib), maupun sedekah (infak). Oleh sebab itu, harta bukan untuk ditumpuk di dunia, akan tetapi untuk dibelanjakan di jalan Allah. Atau dengan kata lain, harta adalah jalan terbaik untuk berjihad di jalan Allah.

Penekanan pada landasan moral ini sama sekali tidak berarti menolak perolehan keuntungan materi atau tidak memperhitungkan manfaat ekonomis. Keberhasilan ekonomi dalam pandangan Islam terletak pada kesesuaian antara kebutuhan moral dan material.

Namun yang perlu diingat, sebaik-baiknya berbisnis adalah berbisnis dengan Allah dibulan ramadan ini. Berikut petikan surat At-Taubah ayat 111-112: ”Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah. Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji Allah, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum Allah.”

So, meskipun kita sibuk berbisnis dengan manusia, kita juga harus menyibukkan berbisnis dengan Allah. Wallahua’lam []

Sumber : Koran Tribun Jogja, 13 Agustus 2011

Tidak ada komentar: