Selasa, 16 Agustus 2011

Kolom Zona Religi (3) : Indahnya Taubat di Bulan Ramadhan

”Wahai Manusia, bertobatlah kepada Allah dan mintalah ampun kepada-Nya! Sungguh aku (Rasulullah) bertaubat setiap hari seratus kali.”  
(HR. Muslim)

SETIAP manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Berbuat  tidak jujur, korupsi, mencuri, memakan riba, bahkan mungkin melakukan dosa besar dll.

Kalaupun ia tidak bermaksiat dengan anggota lahiriah badan, paling tidak ia pernah bermaksiat dengan hati: dengan keinginan untuk berbuat dosa. Kalaupun itu tak dialaminya juga, pastilah ia pernah mendapat bisikan setan yang membuatnya lupa dari mengingat Allah Swt.

Semua itu merupakan kekurangan, dan tidak ada seorang pun yang bisa selamat dari kekurangan tersebut. Hanya kadar dan ukurannya saja yang berbeda-beda.

Di bulan Ramadhan ini, sudah selayaknya menjadi momentum untuk kita bertaubat kepada Allah dan berkomitmen untuk tidak mengulanginya. Manakala ia bertaubat dan mengubah diri, hatinya Insya Allah akan terang kembali. Namun, untuk bertaubat juga kita harus tau betul apa itu taubat serta tuntunannya agar bisa meraih ampunan Ilahi dan naik tingkat menjadi orang-orang yang saleh.

Taubat adalah kembalinya seorang hamba kepada Allah seraya berpaling dari jalan orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat. Orang yang bertaubat, dengan demikian, melakukan apa yang disenangi Allah dan meninggalkan apa yang dibenci-Nya. Jadi, ia beralih dari yang dibenci kepada yang dicintai-Nya.

Allah Swt. berfirman, “Bertaubatlah kalian semua, wahai orang-orang yang beriman, semoga kalian beruntung” (QS. an-Nur : 31). Ayat ini adalah ayat madaniyah (turun di kota Madinah). Dalam ayat ini, Allah menyeru kepada orang-orang yang telah beriman dan berperangai mulia untuk bertaubat kepada-Nya. setelah mereka beriman, bersabar, berhijrah dan bersungguh-sungguh (jihad).

Dengan karunia-Nya yang luas, Allah menerima taubat seorang hamba selama ia tidak dalam keadaan sekarat. Yakni, sebelum rohnya mencapai tenggorokan. Dari ‘Abd Allah bin ‘Umar bin Khatab diceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Allah Azza wa Jalla menerima taubat seorang hamba selama ia tidak dalam keadaan sekarat.” (HR. Turmudziy)

Apabila dosa itu merupakan pelanggaran terhadap hak Allah semata, maka syarat-syarat taubat ada tiga: menyesal, menjauhi, dosa yang telah dikerjakan, dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi. Selanjutnya, jika dosa itu berupa pelanggaran terhadap hak orang lain, maka orang yang bertaubat harus memperbaiki hak-hak yang telah dilanggarnya itu atau meminta ridha dari orang yang telah disakiti.

Dalam bertaubat, manusia terbagi ke dalam empat tingkatan: Pertama, orang yang bertaubat secara istiqomah (konsisten) sampai akhir hayatnya. Ia menghindarkan diri dari dosa dan tidak melakukan lagi kesalahan-kesalahannya. Taubat ini dinamakan taubat nasuha.

Kedua, orang yang bertaubat dengan istiqomah dalam melakukan amal-amal utama dan dalam menghindari dosa-dosa besar. Hanya saja ia tak bisa melepaskan diri dari kesalahan yang secara kebetulan. Sewaktu-waktu ia masih melakukan perbuatan dosa, padahal tak ada keinginan kuat di hatinya untuk melakukan perbuatan tersebut.

Ketiga, orang yang bertaubat dengan istiqomah selama beberapa waktu, dan setelah itu takluk lagi kepada nafsu syahwatnya untuk melakukan beberapa dosa.

Keempat, orang yang bertaubat dan sempat istiqomah, tetapi kemudian kembali melakukan berbagai dosa tanpa memperbaharui dirinya dengan taubat lagi serta tanpa merasa bersalah dengan perbuatannya. Ia termasuk orang yang lekat dengan dosa.

Sebagai penutup. Tanda-tanda taubat yang benar adalah: Pertama, setelah melakukan taubat, ia lebih baik dari sebelumnya. Kedua, ia masih tetap merasa resah dan takut. Ia sama sekali tak pernah merasa aman dari makar Allah. Ketiga, jiwanya sedih dan gelisah karena menyesali perbuatannya yang salah dan takut kalau-kalau ia menerima akibat yang buruk.

Semoga kita termasuk orang yang selalu bertaubat, memperbaiki diri seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Wallahua’lam. []

Sumber: Koran Tribun Jogja, 3 Agustus 2011

Tidak ada komentar:

Petuah Pak Cah, Menulis tak Butuh Bakat Melimpah

"Menulis itu tidak memerlukan bakat yang banyak, tinggal mau atau tidak." Itu kalimat-kalimat awal seorang Cahyadi Takari...