Selasa, 16 Agustus 2011

Kolom Zona Religi (2) : Kemuliaan Sedekah Ramadhan

“Untuk mengawali sedekah tidak perlu ikhlas atau tidak. Nanti tidak jadi sedekah. Jika sudah terbiasa, akan ikhlas dengan sendirinya.” 
(Ustadz Yusuf Mansur)

ALHAMDULILLAH, kita ucapkan syukur kita kepada Allah Swt, karena sampai hari ini kita masih diberi kekuatan untuk melakukan ibadah di bulan puasa dan tetap bisa bekerja seperti biasa. Sholawat serta salam tak lupa kita sampaikan kepada qudwah (tauladan) kita, Rasulullah SAW beserta para sahabat dan pengikut setia dakwahnya.

Ada tujuh kebiasaan yang Rasulullah lakukan saat bulan ramadhan. Di antaranya adalah qiyamul lail (sholat tarawih), memberi buka puasa kepada orang lain, memperbanyak tilawah qur’an, memperbanyak amaliah, memburu malam lailatul qodar, bersedekah dan zakat fitrah.

Pada kesempatan kali ini, perkenankan saya menyinggung salah satu kebiasaan Rasulullah dalam hal bersedekah. Mengapa sedekah? Ada 5 poin kebaikan di dalam sedekah. (1). Kebaikan sedekah dilipatgandakan di bulan ramadhan. (2). Sedekah bisa melipatgandakan rezeki kita. (3). Sedekah merupakan bukti kepedulian kita terhadap sesama.  (4). Sedekah bisa mengahpuskan dosa-dosa. (5). Sedekah membersihkan harta kita agar lebih berkah.

Banyak di antara kita yang beranggapan bahwa sedekah akan mengurangi uang kita. Menurut Islam itu adalah kesalahan besar, karena Allah sudah menjanjikan balasan yang berlipat-lipat ketika kita bersedekah. “Barangsiapa berbuat kebaikan, mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya” (QS. Al-An’am : 160).

Bahkan non-muslim seperti Bill Gates, Bunda Theresa adalah orang-orang yang sangat dermawan atau suka bersedekah. Sedekah tidak melihat agama, karena sedekah adalah Hukum Kausalitas (law of causality) dari-Nya yang universal. Siapa pun yang bersedekah, Yang Maha Membalas pasti akan membalas. Berlaku bagi siapa pun!
             
Balasan ini merupakan Hukum Kausalitas dan janji tertulis dari-Nya. Yang dimaksudkan dengan balasan disini adalah balasan jangka pendek (dunia). Tentu saja, dengan ikhlas dan iman, kita akan beroleh nilai tambah, berupa balasan jangka panjang (akhirat) yaitu pahala dan surga dari-Nya.

Lalu, balasan jangka pendek itu berbentuk apa? Yah, jika bukan berbentuk materi akan dibalas dengan Allah SWT yang setara dengan itu. Misalnya: keuangan, kesehatan, keselamatan, kemudahan urusan.

Seringkali kita lupa tentang kekuatan besar sedekah, padahal sejarah tabi’in telah menjelaskan berulang-ulang dan terbukti bahwa memperbanyak sedekah akan membuat bisnis (pekerjaan) kita lebih maju pesat. Tidak hanya kesuksesan bisnis atau pekerjaan, tapi sedekah juga mendapatkan berkah.

“Kalau kita sedekah tidak ikhlas, bagaimana?”. Sebenarnya, berapapun yang kita sedekahkan, pasti dibalas dan dilipatgandakan oleh-Nya. Tidak jadi soal Anda beriman atau tidak. Buktinya banyak hartawan yang dermawan menjadi semakin kaya, padahal mereka bukan muslim. Bagi mereka hampir tidak ada istilah ikhlas! Wong, tujuan mereka bersedekah biasanya cuma untuk mengangkat merek dan mengurangi pajak!

Bolehkah sedekah pamrih? Yusuf Mansur, ustadz yang identik dengan materi-materi tentang sedekah sendiri mengatakan: “Untuk mengawali sedekah tidak perlu ikhlas, karena jika menimbang ikhlas atau tidak. Nanti tidak jadi sedekah. Jika sudah terbiasa, nanti akan ikhlas dengan sendirinya!”.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa manusia adalah makhluk yang pamrih. Fitrah manusia adalah mencari kenikmatan dan menghindar dari kesengsaraan. Allah Azza wa Jalla tahu persis soal ini, dengan adanya pahala dan surga, dosa dan neraka. Jadi bolehkah pamrih? Ya, boleh! Asalkan pamrihnya kepada Dia, bukan kepada sesama. Dan memang kita disuruh untuk pamrih, berharap, dan meminta kepada-Nya. Bahkan meminta kepada-Nya itu dicatat sebagai ibadah.

Bulan Ramadhan ini, mari kita barengi puasa dan ibadah-ibadah kita lainnya dengan bersedekah. Kita bisa bersedekah ke Masjid, Panti Asuhan, atau lembaga-lembaga ZIS terpercaya. Semoga Allah memberi kemudahan kepada kita semua dalam bersedekah di bulan Ramadhan ini. Wallahua’lam []

Sumber: Koran Tribun Jogja, 6 Agustus 2011

Tidak ada komentar:

Petuah Pak Cah, Menulis tak Butuh Bakat Melimpah

"Menulis itu tidak memerlukan bakat yang banyak, tinggal mau atau tidak." Itu kalimat-kalimat awal seorang Cahyadi Takari...