Selasa, 16 Agustus 2011

Kolom Zona Religi (1) : Nilai-Nilai Spiritual Puasa


”Barang siapa berpuasa satu hari di jalan Allah (fi sabilillah), niscaya Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh tujuh puluh tahun.”  
(Rasulullah SAW)

BULAN Ramadan adalah bulan sebaik-baik bulan yang penuh kelimpahan dan keutamaan. Bulan Ramadan merupakan bulan saat Al-Qur’an diturunkan, bulan melawan hawa nafsu, bulan kemuliaan, bulan penuh taubat dan limpahan ampunan serta bulan dimana terjadi kemenangan Rasulullah di Perang Badar pada bulan Syawal 2 Hijriyah.

Dalam sebuah hadits terpercaya yang diriwayatkan Imam At-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath, Rasulullah Saw bersabda: ”Ya Allah berikanlah berkah kepada kami dalam bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadan. Ya Allah, sampaikan kami agar dapat merasakan Ramadan. Ya Allah sampaikan kami agar dapat merasakan Ramadhan”. Doa ini yang selalu diucapkan Rasulullah menjelang bulan Ramadan.

Para salafush shalih menyakini bahwa puasa adalah madrasah bagi ruh (jiwa) mereka. Bahwa ada kehidupan abadi di sisi Allah meskipun dalam keadaan perang sekalipun. Nabi Muhammad Saw. bersabda: ”Barang siapa berpuasa satu hari di jalan Allah (fi sabilillah), niscaya Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh tujuh puluh tahun.”

Meskipun pahala puasa begitu besar, namun ada beberapa sebagian kaum Muslim yang menganggap Ramadan seperti bulan biasa, dimana ia tidak memanfaatkan sebaik-baiknya bulan tersebut. Ia hanya menahan lapar disiang hari, dan kenyang dimalam hari. Siang hari hanya tidur diatas ranjang hingga tiba waktu Ashar, malam harinya yang ada hanya obrolan dan begadang hingga waktu fajar tiba dan begitu seterusnya.

Mereka menyia-nyiakan waktunya, merusak keindahan dan kenikmatan didalam bulan Ramadhan. Mereka telah mengotori Ramadhan dan mengharamkan orang lain untuk berbuat baik, beribadah serta mengikat ruh dan akal.

Ruh dan jasad tidak dapat berdiri sendiri, kecuali jika jasad sudah tidak menghiraukan ruh lagi dan hanya menuruti dan mengikuti hawa nafsunya saja. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda: ”Celakalah yang menjadi budak dinar, celakalah yang menjadi budak dirham.” (HR. Bukhari dan Ibnu Majah).

Ada yang melupakan jiwa dan melalaikannya dari pemenuhan hak-haknya. Jika seseorang hanya menyembah jasad dan syahwatnya, maka hidupnya akan menjadi kacau, penuh duka, keruh, selalu diselimuti kesedihan, tidak ada sesuatu hal yang dipikirkan selain mengikuti hawa nafsunya saja.

Sangatlah hina penduduk bumi yang telah keluar dari jiwa dan tidak mau merasakan kenikmatan jiwa, kenikmatan iman dan taat kepada Allah. Manusia mempunyai jasad dan ruh, nafsu dan akal, dimana jasad selalu mengikuti nafsu sedangkan ruh selalu mengikuti akal pikiran.

Dua hal ini akan selalu bertikai dan akan selalu saling mengalahkan. Kapan perut kenyang, maka nafsu akan mulai bergejolak. Namun jika perut dalam keadaan kosong, maka jiwa akan terasa tenang, dan semangat. Ketenangan itu hanya ada di dalam puasa, dimana puasa terdapat kenikmatan tiada tara, tidak seorang pun dapat merasakan kecuali orang yang berpuasa dengan sungguh-sungguh karena Allah.

Dr. Ibrahim Ad-Duwaisy, seorang da’i terkemuka dari Arab Saudi, menyampaikan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui kenikmatan berpuasa kecuali di hati mereka telah bercampur dengan Iman. Nilai spiritual yang tinggi akan mendampingi kita pada bulan Ramadan.

Nilai-nilai spiritual puasa tidak akan diketahui oleh siapapun kecuali orang-orang yang rindu kepada Allah dan orang yang bersungguh-sungguh serta ikhlas karena-Nya. Dalam spiritual puasa, belenggu hawa nafsu dan syahwat serta gangguan setan akan lenyap dan hilang. Dengan spiritual puasa pula kita akan dapat merasakan kenikmatan surga di dunia yang barangsiapa belum masuk dalam surganya dunia, maka dia tidak akan masuk dalam surga di akhirat. Wallahua’lam []

Sumber : Koran Tribun Jogja, 2 Agustus 2011

Tidak ada komentar: