Jumat, 26 Agustus 2011

Kolom Zona Religi (8) : Sempurnakan Ibadah Puasa dengan Zakat


 Ambillah zakat dari sebagian harta mereka dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu menjadi ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”

(QS. At-taubah :103)
  
ZAKAT termasuk salah satu kewajiban dalam Islam yang tidak bisa dipisahkan dengan shalat, sampai Rasulullah SAW bersabda: “Tidak sempurna shalat bagi seseorang yang tidak membayar zakat”. Di samping itu Allah SWT Menyuruh umat Islam untuk bisa menafkahkan sebagian harta yang dicintainya. Zakat sebagai rukun Islam merupakan kewajiban setiap muslim yang mampu membayarnya dan diperuntukkan bagi mereka yang berhak menerimanya. Dengan pengelolaan yang baik, zakat merupakan sumber dana potensial yang dapat dimanfaatkan untuk memajukan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.

Memberikan sebagian harta kekayaan kepada yang berhak menerimanya dengan ketentuan dan syarat-syarat yang ditetapkan oleh syariat Islam dinamai Zakat. Secara etimologis zakat (zakah) berarti nama’ (tumbuh), thaharah (suci), dan barakah (berkah). Dinamai demikian karena pertama, diharapkan dalam hartanya itu menjadi bersih dan suci dari kekotoran sifat kikir, tamak, dan tidak punya belas kasih kepada orang-orang yang miskin. Sebagaimana dalam firmannya dalam surat At-taubah ayat 103: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu menjadi ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”

Kedua, diharapkan juga harta yang sudah dizakatkan akan mendatangkan berkah dan ketenangan hidup bagi pemiliknya. Dalam Al-Qur’an Allah menjanjikan bahwa orang-orang yang membayarkan zakat disamping mendapatkan pahala dari Allah, mereka juga tidak akan memiliki rasa khawatir menghadapi masa depan dan tidak pula berduka secara mendalam seraya menyesali masa lalunya. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hanti. “ (QS. Al-Baqarah : 277)

Ketiga, dengan membayar zakat diharapkan Allah akan melapangkan rezeki para muzzaki (pembayar zakat) sehingga harta kekayaannya tidak akan berkurang tetapi malah akan bertambah. Dalam surat Ar-Rum ayat 39 Allah menyatakan dengan riba, harta tidak akan bertambah. Dengan zakatlah harta akan bertambah. “Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak akan menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).” (QS. Ar-Rum: 39)

Bagi yang berfikir kikir dan dangkal mungkin sulit dipahami, bagaimana mungkin dengan mengeluarkan zakat harta kekayaan akan bertambah, karena ada pengeluaran disana. Tetapi bagi orang yang beriman, yang meyakini bahwa rezeki Allah yang mengatur dan manusia diperintahkan untuk berusaha dan berdoa, akan Allah janjikan harta kekayaannya semakin bertambah. Salah satunya karena Allah mendengarkan doa-doa orang yang lemah yang telah mendapatkan haknya. Sebaliknya harta kekayaan orang-orang yang kikir, yang hanya mementingkan diri dan keluarga mereka semata, menutup mata terhadap penderitaan orang-orang fakir dan miskin justru hartanya semakin berkurang, bahkan mengalami kebangkrutan.

Zakat adalah rukun Islam ketiga setelah shalat. Baik zakat ataupun shalat sangat penting sebagai tiang peyangga bangunan keislaman seseorang. Di dalam Al-Qur’an ada 82 ayat yang menggandengkan perintah membayar zakat dengan perintah mendirikan shalat, baik ayat-ayat Makkiyah maupun Madaniyah. Perintah zakat pada masa awal-awal Islam di Makkah masih bersifat mutlak, belum ditentukan nisab dan jumlah zakatnya. Pengaturannya diserahkan saja kepada perasaan dan kemuliaan hati masing-masing kaum Muslimin. Barulah pada tahun kedua Hijrah dijelaskan secara terperinci ketentuan-ketentuan tentang zakat tersebut sebagian ketentuannya ditetapkan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang lagi dirinci oleh Rasulullah SAW. Tidak ada sedikitpun perbedaan pendapat di antara para ulama, bahkan umat Islam tentang kewajiban membayar zakat bagi yang telah memenuhi syarat-syaratnya.

Abu Bakar, menilai orang-orang yang menolak kewajiban membayar zakat setelah Rasulullah SAW meninggal adalah orang-orang yang telah keluar dari Islam dan melakukan pemberontakan, sehingga Abu Bakar memutuskan untuk memeranginya. Dalam sejarah Islam perang tersebut dicatat sebagai ‘Harbu Mani’I az-Zakah.’

Waktu Umar bertanya kepada Abu Bakar dengan nada protes, “Kenapa anda memerangi mereka ?”, padahal Rasulullah SAW telah bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi umat manusia sampai mereka mengucapkan La ilaha Ilallah. Barangsiapa yang telah mengucapkannya berarti ia telah memelihara harta dan dirinya, kecuali menurut jalannya, sedang perhitungannya terserah kepada Allah SWT?” Abu Bakar menjawab: “Demi Allah, saya akan perangi orang yang membeda-bedakan antara sholat dan zakat. Sesungguhnya zakat itu adalah kewajiban mengenai harta, dan demi Allah seandainya mereka tidak mau menyerahkan seekor anak kambing pun yang pernah mereka berikan pada Rasulullah SAW, saya tetap akan perangi mereka karena penolakan tersebut.” Mendengar keteguhan sikap Abu Bakar, Umar berkomentar: “Demi Allah, rupanya Allah telah membukakan hati Abu Bakar untuk melakukan peperangan, hingga saya pun yakin bahwa tindakannya benar.” (HR. Jama’ah dari Abu Hurairah)

Dalam pandangan khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, kewajiban zakat sama pentingnya dengan kewajiban mendirikan shalat. Sama dengan sholat, jika seorang muslim menolak membayar zakat tapi masih meyakini bahwa zakat itu wajib, dia berdosa tapi masih tetap sebagai Muslim. Dalam kasus ini pemerintah boleh mengambilnya secara paksa. Tetapi jika dia menolak status hukum wajibnya, padahal kewajiban membayar zakat telah keluar dari agama Islam.

Dalam firman yang lain dalam Al-Qur’an, Allah SWT mengancam orang-orang yang menumpuk harta kekayaannya tanpa mau mengeluarkan zakatnya : “...Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, bahwa mereka akan mendapat siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS. At-Taubah : 34-35)

Menurut pandangan Abu Dzar Al-Ghifari, berdasarkan surat At-Taubah ayat 34-35, semua kekayaan yang berlebih dari keperluan untuk nafkah diri dan keluarganya wajib diinfakkan pada jalan Allah. Kalau tidak ia akan diazab oleh Allah dengan azab yang pedih. Dalam pandangan para sahabat dan mayoritas para muffasir (ahli tafsir), yang dimaksud dengan ayat ini adalah orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah tergolong orang-orang yang menumpuk kekayaan dan tidak mengeluarkan zakat dan kewajiban lainnya. Sebelum bulan Ramadhan berakhir, mari kita sempurnakan ibadah kita dengan zakat. Baik zakat fitrah, profesi, atau maal (emas, perak, dll.) melalui lembaga-lembaga ZIS yang terpercaya. Wallahu’alam. []

Sumber: Koran Tribun Jogja, 26 Agustus 2011

Rabu, 24 Agustus 2011

Kolom Zona Religi (7) : Memaknai Idul Fitri


“Idul Fitri berarti kembali pada naluri kemanusiaan yang murni, kembali pada keberagamaan yang lurus, dan kembali dari seluruh praktik busuk yang bertentangan dengan jiwa manusia yang masih suci.”

MENYEDIAKAN makanan dan minuman, mengenakan pakaian baru di Hari Raya Idul Fitri tidak ada salahnya. Namun akan menjadi persoalan adalah ketika kita berlebih-lebihan dalam semua hal tersebut.

“Apabila telah masuk sepuluh yang akhir pada bulan Ramadhan, Nabi SAW lebih giat beribadah pada malam-malamnya. Beliau membangunkan keluarganya dan beliau lebih tekun. Beliau kencangkan ikat sarungnya (menjauhi istrinya untuk lebih mendekati Allah).” (HR Muslim). Itulah yang dicontohkan Rasulullah di akhir bulan ramadan.

“Sesungguhnya Nabi saw i’tikaf pada tiap-tiap sepuluh yang akhir bulan Ramadhan hingga beliau wafat. Kemudian istri-istri beliau meneruskan i’tikaf seperti itu sesudah beliau wafat.” (HR Muslim)

Sayang, kebanyakan Muslim di Indonesia justru sebaliknya. Mereka banyak memenuhi pasar menjelang 10 malam terakhir bukan mendatangi masjid untuk i’tikaf seperti anjuran Rasulullah. Pasar penuh sesak dengan kerumunan masyarakat Muslim di Indonesia.

Idul Fitri secara sederhana dimaknai sebagai hari raya yang datang berulang kali setiap tanggal 1 Syawal yang menandai puasa telah selesai dan kembali diperbolehkan makan minum di siang hari. Acapkali kata fitri disini diartikan berbuka atau berhenti puasa yang identik dengan makan-makan dan minum-minum. Maka Idul Fitri pun disambut dengan pesta makan-makan dan minum-minum mewah yang tak jarang terkesan diada-adakan oleh sebagian keluarga.

Terminologi Idul Fitri seperti ini harus dibenahi, sebab selain kurang mengekspresikan makna Idul Fitri sendiri, juga terdapat makna yang lebih mendalam lagi. Idul Fitri seharusnya dimaknai sebagai `kepulangan seseorang kepada fitrah asalnya yang suci sebagaimana ia baru saja dilahirkan dari rahim ibu. Secara metafor, kelahiran kembali ini berarti seorang Muslim yang selama sebulan melewati Ramadhan dengan puasa, qiyam, dan segala ragam ibadahnya harus mampu kembali berislam, tanpa benci, iri, dengki, serta bersih dari segala dosa dan kemaksiatan.

Idul Fitri berarti kembali pada naluri kemanusian yang murni, kembali pada keberagamaan yang lurus, dan kembali dari seluruh praktik busuk yang bertentangan dengan jiwa manusia yang masih suci. Kembali dari segala kepentingan duniawi yang tidak islami. Inilah makna Idul Fitri yang asli.

Adalah kesalahan besar apabila Idul Fitri dimaknai dengan perayaan kembalinya kebebasan makan dan minum sehingga yang tadinya dilarang makan siang, setelah hadirnya Idul Fitri akan balas dendam. Atau dimaknai sebagai kembalinya kebebasan berbuat maksiat yang tadinya dilarang dan ditinggalkan.

Kemudian, karena Ramadan sudah usai maka kemaksiatan kembali ramai-ramai digalakkan. Ringkasnya, kesalahan itu pada akhirnya menimbulkan sebuah fenomena umat yang saleh musiman, bukan umat yang berupaya mempertahankan kefitrian dan nilai ketakwaan. Wallahua’lam []

Sumber: Koran Tribun Jogja, 23 Agustus 2011

Sabtu, 20 Agustus 2011

Kolom Zona Religi (6) : Ramadhan adalah Bulan Al-Qur’an

“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alqur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil).”
(QS. Al-Baqarah :185)

DALAM sejarah peradaban manusia, tidak ada perubahan yang demikian radikal sebagaimana perubahan yang terjadi setelah turunnya al-Qur’an. Turunnya al-Qur’an bisa mengubah kondisi manusia menjadi lebih baik dan beradab. Hal ini dikarenakan kitab yang mulia ini memiliki keunggulan-keunggulan yang membuatnya istimewa dibandingkan kitab-kitab suci sebelumnya.

Al-Qur’an adalah sebaik-baik kitab suci, yang diturunkan kepada Rasul termulia, untuk umat terbaik yang pernah dilahirkan bagi umat manusia dengan syari’at yang paling utama, paling mudah, paling luhur dan paling sempurna.

Alqur’an adalah kitab suci yang dijamin pemeliharaannya serta keotentikannya. Al-Qur’an kitab yang digambarkan oleh Allah sebagai kitab yang sangat dahsyat. Dalam surat Al-Hasyr ayat 21: “Kalau sekiranya kami menurunkan Alqur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.”

Sesungguhnya Alqur’an diturunkan tidak lain untuk satu tujuan yang agung, yakni: agar diperhatikan, sebagai pelajaran, sebagai landasan perilaku dan sebagai landasan hukum.

Al-Qur’an diturunkan untuk dibaca, direnungkan, dipahami makna, perintah dan larangannya, kemudian diamalkan. Sehingga ia akan menjadi pemberi syafa’at baginya pada hari Kiamat. Allah SWT menjamin bagi siapa yang membaca Alqur’an dan mengamalkan isi kandungannya tidak akan tersesat di dunia dan tidak celaka di akhirat, sebagaimana firman Allah dalam QS. Thaaha ayat 123: ”Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.”

Ramadan adalah bulan diturunkannya al-Qur’an. Bulan Ramadan memiliki kekhususan dengan al-Qur’an, sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 185: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alqur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil).”

Ramadan adalah bulan dilipatgandakan pahala amal kebajikan. Sebagai seorang muslim yang mengharap rahmat Allah SWT dan takut akan siksa-Nya, tentu kita akan berupaya untuk memperbanyak membaca al-Qur’an di bulan Ramadan dan bulan-bulan lainnya untuk mendekatkan diri kepada Allah, mengharap ridha-Nya, memperoleh keutamaan dan pahala-Nya.

Dalam upaya mewarnai hari-hari kita dengan membaca al-Qur’an baik itu di bulan Ramadan maupun di bulan lainnya, hendaknya membaca disertai merenungkan dan memahami maknanya, kemudian melaksanakan perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya. Jika kita menjumpai ayat yang memerintahkan sesuatu maka semoga kita pun mematuhi dan menjalankannya, atau menjumpai ayat yang melarang sesuatu maka kitapun meninggalkan dan menjauhinya. Jika kita menjumpai ayat rahmat, kita memohon dan mengharap kepada Allah rahmat-Nya atau menjumpai ayat adzab, kita berlindung kepada Allah dan takut akan siksa-Nya. 

Di samping itu, di dalam al-Qur’an juga terdapat banyak inspirasi-inspirasi dan petunjuk-petunjuk bagi kita untuk menggunakan potensi akal kita, untuk mengkaji dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Allah berfirman dalam surat Shaad ayat 29: ”lni adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya orang-orang yang mempunyai akal mendapatkan pelajaran.”

Dalam hadits shahih dari Ibnu Abbas, digambarkan Rasulullah bertemu dengan Jibril pada bulan Ramadan setiap malam untuk membacakan kepadanya al-Qur’an. Dalam hadits Ibnu Abbas menunjukkan mudarasah (kajian) antara Nabi dan Jibril terjadi pada malam hari. Ini menunjukkan dianjurkannya banyak-banyak membaca al-Qur’an di bulan Ramadan pada malam hari, karena malam merupakan waktu berhentinya segala kesibukan, kembali terkumpulnya semangat dan bertemunya hati dan lisan untuk merenungkan. Wallahu’alam. []

Sumber: Koran Tribun Jogja, 20 Agustus 2011

Selasa, 16 Agustus 2011

Kolom Zona Religi (5) : Memelihara Nilai Puasa

“Sekiranya ada orang yang sudah berumur sehingga tidak mampu membaca (buta huruf) al-Qur’an dan ia tidak memiliki kemampuan untuk bersedekah, maka orang seperti ini dapat memperbesar amalan ramadan dengan membaca Laa Ilaha Illallah dan Astaghfirullah sampai jumlah yang tidak terbatas”

DEMIKIAN besarnya nilai ibadah puasa ramadan, sehingga bagi orang-orang yang melakukannya, kelak mereka di hari kiamat memperoleh kelas tersendiri di dalam syurga. Pintu masuknya pun tersendiri pula, yakni Ar-Rayyan.

Agar puasa memiliki nilai lebih, kita sebagai umat muslim yang menjalankannya harus memperhatikan hal-hal yang dapat mengurangi nilai puasa kita. Dengan berkurangnya nilai puasa kita, tentu janji istimewa syurga melalui pintu Ar-Rayyan tadi akan gagal kita peroleh.

Oleh karena itu, setiap muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa di bulan ramadan harus mengetahui apa-apa saja yang dapat mengurangi nilai ibadah puasa. Perbuatan dan ucapan yang dapat mengurangi nilai ibadah puasa disebutkan oleh Rasulullah sebagai berikut : Berkata dan berbuat dusta ; berbicara kotor (porno), bertengkar, dan berbantahan ;  berbuat sia-sia seperti bergurau, berkelakar, basa-basi, melawak, bersandiwara dan sejenisnya serta yang terakhir adalah menggunjing (gosip), yaitu membicarakan keadaan orang lain di luar pengetahuannya dan sekiranya orang mengetahui maka ia merasa tersinggung dan terhina.

Perbuatan tercela tersebut di atas walaupun pada dhahir-nya tidak membatalkan puasa seseorang, tetapi perbuatan-perbuatan tersebut menghilangkan nilai pahala puasa orang yang bersangkutan. Dengan kata lain, walaupun seseorang itu berpuasa, tetapi bila selama ia dalam berpuasa melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela di atas, maka sia-sialah puasanya. Kelak di akhirat dia tidak mendapatkan pahala dari Allah, justru ia mendapatkan siksa.           

Sebaliknya, ada beberapa anjuran yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW selama bulan ramadan agar ibadah kita lebih sempurna. Anjuran-anjuran tersebut di antaranya adalah : sholat tarawih (qiyamul lail), membaca al-Qur’an, dan memberi sedekah. Orang yang mau bersedekah dengan memberi makan berbuka kepada orang-orang yang berpuasa, maka ia akan memperoleh pahala sebesar pahala orang yang berpuasa.

Sangatlah utama jika seseorang yang mampu memberi makan untuk berbuka kepada orang-orang fakir dan miskin serta menyediakan makan sahur bagi mereka. Dengan bantuan makan berbuka dan sahur ini akan tambah banyak orang yang dapat mengerjakan kewajiban puasa ramadan dan bertambah ramailah syiar Islam.

Bulan ramadan merupakan kesempatan terbesar bagi setiap umat Islam untuk meningkatkan amal-amalnya. Sekiranya ada orang yang sudah berumur sehingga tidak mampu membaca (buta huruf) al-Qur’an dan ia tidak memiliki kemampuan untuk bersedekah, maka orang seperti ini dapat memperbesar amalan ramadan dengan membaca Laa Ilaha Illallah dan Astaghfirullah sampai jumlah yang tidak terbatas. Kedua kalimat ini dapat dibaca sewaktu-waktu baik di waktu siang maupun malam.

Semoga dengan mengetahui apa-apa yang bisa mengurangi nilai puasa dan anjuran-anjuran yang sebaiknya dilakukan di bulan ramadan, kita bisa lebih maksimal lagi dalam menjalankan puasa. Dan tentunya kita akan mendapat syurga melalui pintu Ar-Rayyan seperti yang dijanjikan Allah. Amin Allahuma Amin. []

Sumber : Koran Tribun Jogja, 16 Agutus 2011

Kolom Zona Religi (4) : Berbisnis dengan Allah

“Wahai orang-orang yang beriman maukah Aku menunjukkan kepada kamu suatu perniagaan yang menyelamatkan kamu dari siksa yang pedih?  (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.” 
(QS. Ash-Shaff :10-11)

RAMADAN menjadi bulan yang penuh berkah karena menjadi momentum diturunkannya kitab suci al-Qur’an. Selain itu, dibulan ini terdapat juga malam yang lebih dari seribu bulan atau kita kenal dengan malam ”Laylatul Qodar”.

Dibulan ini Allah juga mewajibkan kaum Muslim untuk berpuasa, menganjurkan sholat malam, dan memperbanyak membaca al-Qur’an. Bahkan tidur saja dinilai ibadah dibulan ini. Keberkahan ramadan bukan hanya dari segi ibadah, tetapi juga menjadi berkah ekonomi. Ramadan tidak hanya jadi momentum perang melawan hawa nafsu, tapi juga menjadi ajang pemasaran. Momen ini tidak hanya dinanti oleh kebanyakan umat Muslim, tetapi juga ditunggu-tunggu penggerak bisnis dalam menarik konsumen. Dalam istilah ilmu marketing ini disebut dengan ”Seasonal Marketing.”

Kita menyaksikan maraknya pedagang musiman yang bermunculan disamping pedagang yang sudah ada terlebih dahulu sebelum ramadhan. Mereka menjual aneka macam dagangan pakaian Muslim, berjualan paket buka puasa-sahur, buah kurma, parcel, dll. Kita bisa menyaksikan semaraknya suasana tersebut dijalan-jalan atau ditoko-toko swalayan hampir semua swalayan menampilkan suasana Islami sehari-harinya sebagai penghargaan terhadap bulan suci ramadan.

Kegiatan ekonomi merupakan salah satu aspek hubungan antar manusia. Karena itu, aspek moral tidak boleh ditinggalkan dalam setiap kegiatannya. Hubungan timbal balik yang harmonis, peraturan dan syarat yang mengikat, serta sanksi, merupakan tiga hal yang selalu berkaitan dengan bisnis, dan di atas ketiga hal tersebut ada etika.

Begitu pentingnya mengedepankan etika dalam berbisnis, sehingga Allah menganjurkan untuk memberi tangguh waktu bagi seseorang yang berutang dan dalam kesukaran, bahkan menyedekahkan sebagian dari utang itu dinilai sebagai perbuatan yang lebih baik. Demikian dalam firman-Nya: "Dan jika (orang berutang) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang itu) lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 280)

Islam memberikan persyaratan agar berbisnis itu tidak keluar dari format ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Paling tidak ada lima syarat yang harus dipenuhi jika kita ingin menjadikan bisnis sebagai profesi untuk meraih harta dan kekayaan dunia :

Pertama, berbisnis itu harus dengan niat mencari ridha Allah. Karena harta yang diperoleh adalah amanah dari Allah. Sebab itu, pada hakikatnya, harta itu adalah milik Allah.

Kedua, berbisnis harus sesuai dengan sistem Allah dan Rasul-Nya. Tidak boleh menggunakan sistem riba, tidak melakukan risywah (suap), kolusi, nepotisme, monopoli, spekulasi dan sebagainya.

Ketiga, barang dan jasa yang dibisniskan tidak boleh yang diharamkan Allah seperti babi, darah, minuman keras, judi dan sebagainya.

Keempat, semua aktivitas yang terkait dengan ibadah dan pengabdian kepada Allah, baik yang terkait dengan ibadah individu, sosial kemasyarakatan, atau apa saja yang terkait dengan kategori dakwah dan jihad, tidak boleh atau haram hukumnya dibisniskan.

Kelima, di dalam harta yang diamanahkan Allah itu terdapat jatah kaum fakir, miskin dan kebutuhan lain di jalan Allah, baik melalui zakat (wajib), maupun sedekah (infak). Oleh sebab itu, harta bukan untuk ditumpuk di dunia, akan tetapi untuk dibelanjakan di jalan Allah. Atau dengan kata lain, harta adalah jalan terbaik untuk berjihad di jalan Allah.

Penekanan pada landasan moral ini sama sekali tidak berarti menolak perolehan keuntungan materi atau tidak memperhitungkan manfaat ekonomis. Keberhasilan ekonomi dalam pandangan Islam terletak pada kesesuaian antara kebutuhan moral dan material.

Namun yang perlu diingat, sebaik-baiknya berbisnis adalah berbisnis dengan Allah dibulan ramadan ini. Berikut petikan surat At-Taubah ayat 111-112: ”Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah. Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji Allah, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum Allah.”

So, meskipun kita sibuk berbisnis dengan manusia, kita juga harus menyibukkan berbisnis dengan Allah. Wallahua’lam []

Sumber : Koran Tribun Jogja, 13 Agustus 2011

Kolom Zona Religi (3) : Indahnya Taubat di Bulan Ramadhan

”Wahai Manusia, bertobatlah kepada Allah dan mintalah ampun kepada-Nya! Sungguh aku (Rasulullah) bertaubat setiap hari seratus kali.”  
(HR. Muslim)

SETIAP manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Berbuat  tidak jujur, korupsi, mencuri, memakan riba, bahkan mungkin melakukan dosa besar dll.

Kalaupun ia tidak bermaksiat dengan anggota lahiriah badan, paling tidak ia pernah bermaksiat dengan hati: dengan keinginan untuk berbuat dosa. Kalaupun itu tak dialaminya juga, pastilah ia pernah mendapat bisikan setan yang membuatnya lupa dari mengingat Allah Swt.

Semua itu merupakan kekurangan, dan tidak ada seorang pun yang bisa selamat dari kekurangan tersebut. Hanya kadar dan ukurannya saja yang berbeda-beda.

Di bulan Ramadhan ini, sudah selayaknya menjadi momentum untuk kita bertaubat kepada Allah dan berkomitmen untuk tidak mengulanginya. Manakala ia bertaubat dan mengubah diri, hatinya Insya Allah akan terang kembali. Namun, untuk bertaubat juga kita harus tau betul apa itu taubat serta tuntunannya agar bisa meraih ampunan Ilahi dan naik tingkat menjadi orang-orang yang saleh.

Taubat adalah kembalinya seorang hamba kepada Allah seraya berpaling dari jalan orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat. Orang yang bertaubat, dengan demikian, melakukan apa yang disenangi Allah dan meninggalkan apa yang dibenci-Nya. Jadi, ia beralih dari yang dibenci kepada yang dicintai-Nya.

Allah Swt. berfirman, “Bertaubatlah kalian semua, wahai orang-orang yang beriman, semoga kalian beruntung” (QS. an-Nur : 31). Ayat ini adalah ayat madaniyah (turun di kota Madinah). Dalam ayat ini, Allah menyeru kepada orang-orang yang telah beriman dan berperangai mulia untuk bertaubat kepada-Nya. setelah mereka beriman, bersabar, berhijrah dan bersungguh-sungguh (jihad).

Dengan karunia-Nya yang luas, Allah menerima taubat seorang hamba selama ia tidak dalam keadaan sekarat. Yakni, sebelum rohnya mencapai tenggorokan. Dari ‘Abd Allah bin ‘Umar bin Khatab diceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Allah Azza wa Jalla menerima taubat seorang hamba selama ia tidak dalam keadaan sekarat.” (HR. Turmudziy)

Apabila dosa itu merupakan pelanggaran terhadap hak Allah semata, maka syarat-syarat taubat ada tiga: menyesal, menjauhi, dosa yang telah dikerjakan, dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi. Selanjutnya, jika dosa itu berupa pelanggaran terhadap hak orang lain, maka orang yang bertaubat harus memperbaiki hak-hak yang telah dilanggarnya itu atau meminta ridha dari orang yang telah disakiti.

Dalam bertaubat, manusia terbagi ke dalam empat tingkatan: Pertama, orang yang bertaubat secara istiqomah (konsisten) sampai akhir hayatnya. Ia menghindarkan diri dari dosa dan tidak melakukan lagi kesalahan-kesalahannya. Taubat ini dinamakan taubat nasuha.

Kedua, orang yang bertaubat dengan istiqomah dalam melakukan amal-amal utama dan dalam menghindari dosa-dosa besar. Hanya saja ia tak bisa melepaskan diri dari kesalahan yang secara kebetulan. Sewaktu-waktu ia masih melakukan perbuatan dosa, padahal tak ada keinginan kuat di hatinya untuk melakukan perbuatan tersebut.

Ketiga, orang yang bertaubat dengan istiqomah selama beberapa waktu, dan setelah itu takluk lagi kepada nafsu syahwatnya untuk melakukan beberapa dosa.

Keempat, orang yang bertaubat dan sempat istiqomah, tetapi kemudian kembali melakukan berbagai dosa tanpa memperbaharui dirinya dengan taubat lagi serta tanpa merasa bersalah dengan perbuatannya. Ia termasuk orang yang lekat dengan dosa.

Sebagai penutup. Tanda-tanda taubat yang benar adalah: Pertama, setelah melakukan taubat, ia lebih baik dari sebelumnya. Kedua, ia masih tetap merasa resah dan takut. Ia sama sekali tak pernah merasa aman dari makar Allah. Ketiga, jiwanya sedih dan gelisah karena menyesali perbuatannya yang salah dan takut kalau-kalau ia menerima akibat yang buruk.

Semoga kita termasuk orang yang selalu bertaubat, memperbaiki diri seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Wallahua’lam. []

Sumber: Koran Tribun Jogja, 3 Agustus 2011