Senin, 06 Juni 2011

Resensi Buku : "Pengantin-Pengantin Al-Quds"

Koran Solo Pos, 3 Juni 2011

Husam duduk bersimpuh di depan pusara Riqqah. Sudut matanya perih. Ternyata takdir hanya mempertemukan mereka sekali saja.

Senyum cantik dalam wajah yang tertunduk, terekam kembali dengan manis dalam blitz memori pemuda itu. Tak dapat dibendung, tangisnya pun mengalir.

“Aku pasti akan menyusulmu, Riqqah” rintih Husam. 

“Dan ini surat terakhir Riqqah untuk Akhi. Kemarin Ummu Riqqah tak sempat menyampaikan padamu karena kau terburu pergi..” Shiba menyerahkan sepucuk surat. 

Husam membuka lembaran itu perlahan…

Untuk kekasihku Husa
m, Maafkan harus melewatkan hari bahagia kita. Syaikh Yahya Afaneh adalah minyak bagi obor semangat salah satu brigade pejuang negeri kita. Beliau dalam keadaan gawat. Dan satu-satunya orang yang diharapkan dapat menolong adalah aku. Dengan surat ini kumohon izin dan ridamu, suamiku. Dan bila nanti aku tidak bisa pulang, semoga Allah mempertemukan kita di surga-Nya. Semoga Allah merahmati.. Riqqah

“Blummmmmm….”

Bersamaan Husam melipat surat dari Riqqah terdengar dentuman keras yang memecah kesunyian. Husam dan Shiba serentak berlari ke arah asal suara.

Cuplikan Cerpen Binta El-Mamba berjudul Mahar dari Al-Quds tersebut merupakan salah satu Cerpen yang ada dalam buku kumpulan Cerpen (Kumcer) Pengantin-pengantin Al-Quds. 

Mahar dari Al-Quds memotret perjuangan dokter muda wanita, Riqqah yang berusaha menyelamatkan tokoh pejuang Palestina meskipun untuk itu dia harus rela meninggalkan suaminya di hari pernikahannya. Takdir berkata lain, sebelum sempat bertemu suaminya, Riqqah tewas diracun. 

Dengan latar Palestina, beberapa penulis lain dalam buku Kumcer Pengantin-pengantin Al-Quds juga berusaha menyajikan kisah dan sisi lain Palestina seperti Cerpen Sakti Wibowo Menunggu 
Azan dan Harum Kesturi di Tepian Gaza karya Farhan Yusuf Rizza. 

Meski mengusung ide cerita tentang Palestina namun tidak semua Cerpen dalam buku ini menyuguhkan latar Palestina. Kang Arul, salah satu penulis dalam buku Kumcer ini menerjemahkan idenya tentang Palestina lewat perjuangan aktivis kampus yang berusaha menggalang dana untuk membantu Palestina. 

Buku Kumcer ini ditutup dengan puisi Cicik Novita berjudul Cemburu Pada Palestina yang menggambarkan sebuah ironi kehidupan di Palestina dan Indonesia. Penggalan puisinya tertulis dalam cover buku. Bisa jadi hal itu digunakan sebagai pengantar bagi pembaca. Apalagi, Kumcer ini minim informasi sehingga bagi pembaca yang masih awam tentang isu Palestina harus menerka-nerka maksud Kumcer ini. 

Meski begitu, Kumcer ini setidaknya bisa mewarnai khazanah sastra Indonesia yang sampai saat ini masih banyak didominasi teman-tema percintaan. -ufi-


Nb. untuk pemesanan buku bisa melalui situs www.proumedia.co.id

Tidak ada komentar:

Petuah Pak Cah, Menulis tak Butuh Bakat Melimpah

"Menulis itu tidak memerlukan bakat yang banyak, tinggal mau atau tidak." Itu kalimat-kalimat awal seorang Cahyadi Takari...