Minggu, 26 Juni 2011

Kebijakan Hard Cluster, Menggencet Pengusaha Server Pulsa

DENGAN berat hati, seorang teman yang memiliki usaha server pulsa harus gulung tikar. Hutangnya yang cukup besar pun terpaksa menunggak dan tinggal menghitung hari untuk menjual aset-asetnya. Padahal teman saya ini sempat berjaya selama 5 tahun terakhir. Namun apa mau dikata, dia merugi dan usaha-usaha lain yang ia dirikan ikut kena imbasnya. Apa sebab? Tidak lain karena kebijakan hard cluster yang diterapkan oleh pihak Telkomsel dan XL.

Apa itu kebijakan hard cluster? Dengan sistim cluster, area penjualan baik XL atau Telkomsel akan sangat ketat, kartu yang diisi harus berada satu area dengan kartu dompet pulsa. Satu cluster terdiri dari 2-4 kecamatan. Jika pada awalnya pedagang pulsa bebas menjual dan mengisi pulsa ke mana saja, maka dengan adanya sistem hard cluster, wilayah cakupan penjualan jadi semakin sempit, stok semakin dibatasi.

Apa sebenarnya tujuan dari kebijakan ini? Tujuannya adalah agar operator bisa mendistribusikan stoknya secara lebih presisi sesuai dengan kebutuhan cluster masing-masing. Kebutuhan stok di tiap cluster dapat dihitung. Selama ini operator mengalami kesulitan untuk mendapatkan data berapa sebenarnya kebutuhkan real di tiap cluster karena barang yang ada di cluster tersebut sering dijual melalui server ke cluster lain lewat H2H (home to home) dan sebagainya.

Penerapan kebijakan hard cluster XL dan Telkomsel dalam pendistribusian pulsa mengakibatkan pedagang multichip atau server pulsa mengalami kesulitan mendapatkan stok. Hard cluster XL berlaku sejak April 2011, sedangkan Telkomsel sudah lebih dulu menerapkan kebijakan hard cluster sejak Januari 2011. Untungnya ini tidak diikuti oleh Indosat dan pendatang-pendatang baru seperti Axis, 3, dll.

Omset Menurun

Sebagaimana diketahui 60 - 70 persen peredaran pulsa di Indonesia dikuasai oleh pulsa elektronik, sisanya pulsa dalam bentuk voucher atau fisik. Besarnya potensi usaha pulsa elektronik ini ternyata belum ada tata niaga dan payung hukum yang mengaturnya. Hal ini yang memicu multipersepsi dari pihak industri.

Alhasil, kebijakan hard cluster berdampak pada pengusaha server. Dimana omset mereka jauh menurun karena tidak bisa lagi menjangkau pengisian di luar daerah. Jumlah pengangguran juga akan bertambah di seluruh Indonesia. Pedagang pulsa kecil-kecilan akan punah, harga pulsa akan naik, karena dimonopoli oleh pengusaha dealer pulsa yang memiliki modal banyak.

Jalan satu-satunya jika ingin tetap eksis, para pengusaha server pulsa ini harus menambah modalnya untuk mendirikan server dimasing-masing daerah (area). Namun ini bukan persoalan mudah, karena untuk menambah suntikan modal, para pengusaha server pulsa harus meminjam dana yang cukup banyak kemana?  

Pemerintah Harus Turun Tangan

Dengan kondisi seperti ini, mau tidak mau Pemerintah (Menkominfo dan Kementrian terkait) harus turun tangan jika tidak ingin mematikan UKM dan menambah jumlah pengangguran. Pemerintah harus menghimbau pihak perusahaan XL dan Telkomsel untuk menunda pelaksanaan kebijakan hard cluster sampai semua pihak siap.

Selain itu Pemerintah harus mendesak pihak XL dan Telkomsel untuk memperluas area penilaian recharge inner cluster menjadi provinsi, memperbesar toleransi inner cluster menjadi 50%. Pemerintah juga harus membantu pelaku server pulsa dalam penghapusan pembatasan alokasi server, dan meminta kepada pihak XL dan Telkomsel untuk menjamin pemberian stok non H2H (home to home) kepada server non dealer.

Pihak DPR sendiri sebagai wakil rakyat, harus membuat payung hukum yang jelas bagi pelaku industri provider seperti XL, Telkomsel dll. Sehingga tidak menimbulkan multipersepsi dari pihak industri dalam menerapkan kebijakan yang merugikan pelaku usaha kecil seperti pengusaha server pulsa. Semoga tulisan ini bisa didengar oleh semua pihak, agar tercipta solusi kebaikan dari semua masalah ini. Wallahua’lam []
  

Tidak ada komentar:

Petuah Pak Cah, Menulis tak Butuh Bakat Melimpah

"Menulis itu tidak memerlukan bakat yang banyak, tinggal mau atau tidak." Itu kalimat-kalimat awal seorang Cahyadi Takari...