Rabu, 29 Juni 2011

Indonesia, Penghutang Enam Besar Dunia


SBY Membuka Festival Ekonomi Syariah
OH YA, mungkin pada masih ingat ya iklan kampanye Partai Demokrat kalau Pemerintah sudah melunasi hutangnya dengan IMF (International Monetary Fund). Dalam bukunya Anggito Abimanyu “Refleksi dan Gagasan Kebijakan Fiskal”, ditegaskan lagi oleh mantan Kepala Badan Kebijakan Fiskal ini, bahwa pinjaman pihak IMF telah dilunasi dan CGI (Consultative Group on Indonesia) telah dibubarkan. Hal ini menggambarkan bahwa tidak ada lagi campur tangan IMF ataupun lembaga multilateral dan bilateral dalam mengurusi sektor ekonomi. Anggito juga mengatakan dalam bukunya, bahwa kemandirian ini merupakan sebuah ilustrasi bahwa Indoenesia saat ini telah meredeka secara ekonomi.

Ya, memang Indonesia lepas dari IMF. Akan tetapi menambah hutang dari Negara lain. Menurut data Direktorat Jendral Pengelolaan Utang Kementrian Keuangan (Kemenkeu) menyebutkan, total hutang Pemerintah Indonesia per 31 Mei 2011 mencapai 201, 07 miliar dollar AS atau setara Rp. 1.716, 56 triliun. Utang tersebut terbagi atas dua sumber, yaitu pinjaman sebesar 69,03 miliar dollar AS (pinjaman luar negeri 68, 97 miliar dollar AS) dan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar 132, 05 miliar dollar AS.

Posisi hutang Indonesia terbesar keenam di dunia di bawah India, Meksiko, Afrika Selatan, Brazil dan Turki. Pemerintah Indonesia selama ini hanya menerima begitu saja setiap tawaran pinjaman yang diajukan kreditor asing tanpa berfikir terlebih dahulu untung-ruginya, serta kebutuhan terhadap pinjaman tersebut. Kondisi ini kemungkinan terjadi karena kecendrungan para pejabat Indonesia yang tidak mau ambil pusing dalam menghadapi tawaran pinjaman yang diajukan donatur ataupun lembaga kreditor asing.

Dalam setiap kerja sama, pihak debitur seharusnya mempunyai pertimbangan apakah hutang tersebut benar-benar dibutuhkan. Bukan kali ini saja Indonesia gegabah dalam melakukan pinjaman asing. Seringkali Indonesia meminjam dana ke Bank Dunia dan utang tersebut habis sia-sia tanpa hasil. Sebagai contoh, pinjaman Bank Dunia di tahun 1990-an. Dana 20 juta dollar AS dipakai untuk perbaikan akuntansi Pemerintah. Dan hasilnya nol!

Jika Anggito Abimanyu percaya bahwa ekonomi Indonesia sudah merdeka, dengan tiga indikator: (1).Perencanaan ekonomi kita saat ini telah dibuat oleh Bangsa Indonesia yang diinisiasi oleh Pemerintah Pusat dan Daerah. (2). Sejak dilunasinya semua pinjaman kepada pihak IMF dan pembubaran CGI, maka tidak ada lagi campur tangan IMF atau lembaga multilateral dan bilateral dalam urusan ekonomi kita. (3). Kerjasama ekonomi antar Negara secara bilateral, regional dan global yang dilakukan untuk mengatasi masalah bersama, maka sebagian pengelolaan ekonomi memang harus dirancang bersama. Tujuannya adalah agar kerja sama tersebut menguntungkan kedua belah pihak, baik secara regional maupun global.

Barangkali sah-sah saja Anggito Abimanyu berpendapat seperti itu, namun faktanya saat ini Indonesia berada pada enam besar penghutang terbesar di dunia. Kita juga tidak pernah tahu penggunaan utang-utang tersebut buat apa. Skim konvensional pada hutang-hutang Indonesia juga mengakibatkan beban bunga yang besar atas pinjaman tersebut. Dan kita semua mahfum, jika Indonesia kekurangan dana untuk membayar hutang, maka yang dikorbankan adalah rakyatnya. Seperti kenaikan harga BBM, tarif dasar listrik, pajak dinaikkan, dan semua instrumen yang bisa dilakukan Pemerintah untuk mencapai tujuannya dalam membayar HUTANG. Wallahua’lam

Tidak ada komentar: