Sabtu, 11 Juni 2011

"Ibuku adalah…"


Buku "Ibuku Adalah..."
DI HADAPAN peserta bedah buku (Guru, PNS, Pengusaha, Mahasiswa, dll.), Kamis (9/6) Saya diminta untuk membedah buku karya Jazim Naira Chand dkk. Grogi yang Saya rasakan pun tak kuasa muncul. Ya, bagaimana tidak? Saya tidak menyangka, jika ternyata peserta yang hadir mencapai ratusan. Saya sendiri tidak tau apa motif kehadiran masing-masing peserta. Karena saat pendaftaran memang disediakan makalah, snack, uang kehadiran, dan makan siang untuk setiap peserta yang hadir dalam bedah buku tersebut. Semoga bukan karena alasan tersebut.

Acara bedah buku ini diadakan oleh Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) DIY bekerjasama dengan penerbit-penerbit yang ada di Yogyakarta. Konon acara ini adalah event tahunan dan yang diberi kesempatan tahun 2011 untuk membedah buku-bukunya adalah penerbit seperti Diva Press, Pustaka Pelajar,  Citra Media dan Leutika. Saya sendiri diminta untuk membedah dari penerbit Leutika. Leutika adalah penerbit yang menerbitkan salah satu karya Saya yang berjudul “Resign and Get Rich!” pada tahun 2010.

Tiga hari sebelumnya acara bedah buku ini sudah berlangsung. Buku “Super Brain Memory” oleh penerbit Citra Media.  Buku “Catatan Perjalanan Keistimewaan Yogya” oleh penerbit Pustaka Pelajar. Buku “Sang Nyai: Wajah Cantik Sarat Misteri dan Kharisma Roro Kidul” oleh Penerbit Diva Press dan hari terakhir buku “Ibuku Adalah ...” oleh Penerbit Leutika. Dalam acara bedah buku “Ibuku Adalah…”, selain saya, ada Mieny Angel (salah satu penulis dalam buku tersebut) dan Miftachul Huda (penulis dan pegiat Self Publishing). Hadir juga Jazim Naira Chand yang jauh-jauh datang dari Surabaya.

Mas Huda sedang giliran membedah
Selaku pembedah, ada beberapa hal yang Saya soroti dalam buku “Ibuku Adalah…”. Menurut bacaan saya, buku ini berisi tentang cerita masing-masing pengalaman penulis terkait Ibunya. Mereka mencoba mendefinisikan masing-masing Ibu mereka dengan versinya masing-masing. Buku ini sendiri dibuat dalam rangka menyambut hari Ibu, 22 Desember. Dalam kata pengantarnya, konon tulisan-tulisan  dalam buku ini dibuat hanya kurang dari 24 jam. Luar biasa memang. Namun, singkatnya waktu tersebut memaksa saya membuat catatan tersendiri tentang isi buku ini. Di antaranya adalah terkait editing, pemilihan cerita, dan meramu buku ini agar umurnya panjang.

Dibalik kekurangan tersebut, ternyata buku ini cukup laris manis. Bagaimana tidak? Hanya dalam waktu tidak sampai tiga bulan, buku ini tembus angka 300 eksemplar. Angka yang lumayan untuk sebuah buku yang diterbitkan dengan sistem Print By Order (POD). Angka 300 eksemplar tentunya membawa konsekuensi naskah mereka akan didistribusikan secara nasional melalui penerbit Leutika. Ya, karena sebelumnya buku ini memang diterbitkan melalui lini leutika yakni Leutika Prio. Nah, karena akan diterbitkan secara nasional dan akan dipajang di toko-toko buku. Maka catatan saya di atas perlu menjadi perhatian serius oleh editor dalam meramu buku ini agar sukses di pasaran.

Peserta Membludak
Terakhir, Saya sendiri setelah membaca buku ini cukup terharu. Bagaimana tidak terharu? Saya jadi terbayang Ibu Saya di rumah. Ibu yang melahirkan dan mendidik Saya sampai seperti sekarang. Bahkan salah satu peserta sempat menanyakan apa yang paling berkesan terkait Ibu kami. Saya akhirnya harus bercerita bahwa Saya sendiri adalah orang yang sangat dekat dengan Mama saya. Ya, Saya memanggil Ibu saya dengan sebutan Mama. Lucunya, saya memanggil Bapak Saya dengan sebutan Ayah. Ayah dan Mama, jadi aneh bukan? He... yang pasti buku ini memang memaksa Saya untuk merenungkan kembali tentang peran Mama yang besar dalam mendidik Saya. Jika Saya boleh mendefinisikannya, “Ibuku Adalah Segalanya”.

Sebagai penutup tulisan ini, Saya ingin meminta maaf kepada kedua orangtua Saya yang sampai saat ini belum sepenuhnya bisa Saya bahagiakan. Saya hanya bisa berdoa dari kejauhan, agar mereka baik-baik saja di rumah dan Allah selalu menuntun orangtua Saya di jalan-Mu. Semoga Saya bisa menemani kalian di masa-masa tuanya. I love u Mom, i love u Dad... []

Nb. Foto-foto Saya ambil dari album FB Leutika Prio

Tidak ada komentar:

Petuah Pak Cah, Menulis tak Butuh Bakat Melimpah

"Menulis itu tidak memerlukan bakat yang banyak, tinggal mau atau tidak." Itu kalimat-kalimat awal seorang Cahyadi Takari...