Kamis, 21 April 2011

Sistem Ekonomi Islam Versi Ikhwanul Muslimin

Logo Ikhwanul Muslimin
BICARA sistem ekonomi, rasanya setiap waktu punya masa kejayaannya. Mengapa demikian? Karena sudah banyak sistem yang gagal menjadi solusi berekonomi sebuah Negara. Teori demi teori juga diciptakan untuk mencari solusi sebuah ekonomi yang sempurna. Nyatanya, baik teori-teori ekonomi kapitalis dan sosialis sendiri sudah gagal.

Direktur World Bank, Robert Zoellick menyatakan sendiri bahwa krisis ekonomi di dunia saat ini menunjukkan kegagalan sistem ekonomi kapitalis. Krisis ekonomi global yang melanda AS dan Barat mengidentifikasikan kegagalan sistem ekonomi Kelompok G-7. Zoellick menambahkan, “Diperlukan sistem ekonomi baru yang mampu menghadapi krisis ekonomi saat ini.”

Banyak Negara-negara Barat saat ini mulai melirik sistem ekonomi Islam meski masih secara parsial. Terutama dalam mendirikan sebuah perbankan. Mereka tertarik mendirikan perbankan Islam karena sudah terbukti secara empiris bisa menjawab gempuran-gempuran krisis ekonomi dan utamanya lebih adil.

Pertanyannya, bisakah sistem ekonomi Islam menjadi sebuah solusi dalam kebuntuan sistem ekonomi Islam saat ini? Dengan bukti-bukti empiris dan perkembangan yang ada, rasanya sistem ekonomi Islam bisa menjawabnya.  

Apa sebenarnya ekonomi Islam itu sendiri? Ekonomi Islam adalah ilmu yang mempelajari segala prilaku manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan tujuan memperoleh falah (kedamaian & kesejahteraan dunia-akhirat) yang bersumber dari nilai-nilai Islam.

Berikut beberapa garis besar sistem ekonomi Islam versi Ikhwanul Muslimin yang saya ringkas dari Kitab “Majmu’ah Rasail” karya Hasan Al-Banna :

1. Islam memegang harta yang baik sebagai pilar kehidupan yang harus dipelihara, diatur dan dimanfaatkan.

2. Kewajiban bekerja dan berprofesi bagi setiap yang mampu.

3. Islam mewajibkan menguak semua sumber daya alam dan memanfaatkan semua potensi yang tersedia di alam semesta.

4. Islam mengharamkan semua profesi yang  tidak terpuji.

5. Mendekatkan jarak antar tingkatan social yang pada akhirnya menutup jurang antara si Kaya dan si Miskin.

6. Jaminan sosial bagi setiap warga Negara, asuransi bagi kehidupan, dan upaya untuk mensejahterakan mereka.

7. Islam menganjurkan infaq pada semua lahan kebaikan, terciptanya kepedulian sesama warga Negara, serta saling menolong dalam kebaikan dan taqwa.

8. Menjunjung nilai harta dan menghormati hak milik pribadi selama tidak bertentangan dengan kepentingan umum.

9. Mengatur transaksi permodalan dengan undang-undang yang adil dan santun, serta melakukan pengawasan yang ketat terhadap modal.

10. Penegasan terhadap tanggung jawab Negara untuk melindungi sistem ini.

Orang yang mau memperhatikan ajaran-ajaran Islam, tentu menemukan bahwa prinsip-prinsip ini telah dijelaskan oleh al-Qur’an, Sunah Rasul, dan kitab-kitab fiqih secara panjang lebar. Wallahua’lam

Tidak ada komentar:

Petuah Pak Cah, Menulis tak Butuh Bakat Melimpah

"Menulis itu tidak memerlukan bakat yang banyak, tinggal mau atau tidak." Itu kalimat-kalimat awal seorang Cahyadi Takari...