Senin, 28 Maret 2011

Syariah Memudahkan ???


PADA sebuah kesempatan, penulis pernah iseng-iseng ingin tahu bagaimana caranya bertransaksi di pegadaian syariah. Wajar, saat itu perkembangan ekonomi syariah berkembang kemana-mana termasuk di pegadaian. Sebenarnya pas butuh uang tambahan juga untuk mudik waktu itu. (He…). Nah, sejurus kemudian saya coba bertanya-tanya apakah laptop saya yang bermerek HP bisa digadaikan di pegadaian syariah? Lalu seorang pegawainya menjawab: “Wah, mohon maaf mas. Kami hanya menerima laptop yang bermerek Thosi**. Lalu saya bertanya kembali: “Memangnya kenapa mbak kalau merek yang lain??? Apa tidak sesuai syariah???” Si pegawai menjelaskan kalau hal tersebut terkait dengan peraturan. 

Kontan saya kecewa berat dengan pelayanan dari pegadaian syariah yang mempersoalkan merek dalam menggadaikan barang. Lalu saya coba menggadaikan laptop di pegadaian konvensional dan tebak apa yang terjadi? Alhamdulillah disana diterima dan dilayani dengan baik. Ya, wajar saja karena laptop yang saya punya termasuk baru serta memiliki fitur yang cukup lengkap. Seingat saya waktu itu saya membelinya dengan harga Rp. 8.000.000,-. Namun oleh pegadaian konvensional hanya dihargai Rp. 3.000.000,-. Karena kebutuhan saya hanya Rp. 2.000.000,- Maka saya hanya ambil secukupnya. Khawatir nanti malah digunakan secara tidak proporsional. 

Beda halnya dengan teman saya, seorang pengusaha server pulsa. Dia menceritakan kalau ia mengajukan pembiayaan di sebuah bank syariah namun menghadapi kendala diproses yang cukup lama. Bahkan saya dengar disebuah bank syariah yang cukup terkenal dengan jargon syariahnya, justru paling lama dalam memproses sebuah pembiayaan yang masuk. Nah, karena proses yang lama pula akhirnya ia justru memasukkan pembiayaannya ke bank konvensional. Hanya dalam waktu seminggu pembiayaan tersebut dicairkan oleh bank tersebut. 

Dari cerita-cerita di atas, apa yang bisa kita simpulkan? Tentunya kita bisa menyimpulkan jika kita masih dipersulit untuk menggunakan jasa-jasa di lembaga-lembaga syariah, Padahal niat kita jelas ingin bertransaksi di syariah awalnya. Namun, karena kebutuhan yang mendesak dan urgen akhirnya kita memilih lembaga konvensional. Ibarat cerita tentang seorang yang terpaksa memakan daging babi di hutan belantara untuk mempertahankan hidupnya. Maka di dalam Islam hal ini ditoleransi atau semacam rukhsoh (keringanan).

Tulisan ini lagi-lagi bukan untuk menghakimi lembaga-lembaga syariah, namun sekedar teguran agar syariah lebih memudahkan namun juga tidak memudah-mudahkan. Agar syariah bisa diterima disemua kalangan, alangkah tepatnya jika lembaga-lembaga syariah saat ini bisa mengevaluasi diri agar lebih baik lagi. Sehingga dakwah ekonomi yang dicita-citakan oleh stake holder pegiat ekonomi syariah bisa terwujud. Wallahua’lam

Tidak ada komentar: