Kamis, 10 Maret 2011

Self Publishing, Peluang Bisnis Baru?

Self Publishing, Peluang Bisnis Baru
MENGAPA harus self publishing? Begitulah kira-kira lebih jauh tentang tulisan ini. Ya, aktivitas self publishing memang akhir-akhir ini sedang menjadi trend dan primadona berbarengan dengan penerbitan buku dengan cara digital (e-book). Tidak perlu bermodal besar untuk bisa menerbitkan buku sendiri. Karena dengan modal yang terbatas, kita bisa mewujudkan buku-buku karya kita secara mandiri.

Secara sederhana arti self publishing adalah menerbitkan buku secara mandiri. Kalau ditanya apa alasan sebagian orang memilih self publishing? Banyak faktor yang menyebabkan orang memilih menerbitkan bukunya secara mandiri. Setidaknya menurut pengamatan saya, ada lima alasan orang memilih untuk self publishing diantaranya adalah: (1). Kapasitas kuota penerbit yang terbatas dalam menerbitkan buku. (2). Menjaga idealisme ide naskah kita. (3). Banyak penerbit yang tidak jujur. (4). Self publishing menjadi peluang bisnis baru. (untuk yang keempat) akan saya jelaskan dalam sub bab tersendiri). Baik, alasan di atas satu persatu akan saya jelaskan sebagai berikut.

Pertama, kapasitas kuota yang terbatas oleh penerbit dalam menerbitkan buku. Sebagai contoh, dibeberapa penerbit hanya memiliki kapasitas menerbitkan 3-5 buku dalam sebulan. Ada juga memang yang bisa menerbitkan 10 naskah dalam sebulan, namun umumnya ini dilakukan oleh penerbit-penerbit besar. Sementara biasanya, naskah yang masuk cukup banyak ke penerbit. Bisa dalam sebulan ratusan naskah. Nah, self publishing bisa menjadi salah satu solusi tersebut.

Kedua, menjaga idealisme ide-ide naskah kita. Terkait poin kedua ini, saya punya pengalaman menarik. Ya, karena naskah saya pernah dipangkas atau dipotong cukup banyak. Padahal, ide dalam naskah tersebut tentu akan terpotong jika ada naskah yang harus dihapus. Karena atas kepentingan pasar pula, biasanya penulis disodorkan dengan ide dari penerbit itu sendiri agar naskah kita bisa diterima pasar. Tentu juga hal ini tidak sepenuhnya salah. Akan tetapi jika kita ngotot agar ide-ide kita tetap muncul dalam buku yang akan diterbitkan, sebaiknya Anda melirik untuk menerbitkan buku sendiri (self publishing).

Ketiga, banyak penerbit tidak jujur. Untuk penerbit jangan tersinggung, karena tidak semua penerbit tidak jujur. Masih banyak juga penerbit yang fair dan jujur dalam memberi laporan royalty yang diperoleh oleh penulis. Sebagai contoh, tanpa perlu disebut apa nama penerbitnya. Ada sebuah penerbit melakukan tindakan yang tidak terpuji dengan mencetak lebih banyak buku-buku best seller namun yang dilaporkan ke penulis tidak sesuai. Misalnya, sebuah penerbit A mencetak 10.000 eksemplar buku, namun yang dilaporkan ke penulis hanya 5.000 eksemplar. Ada juga yang melaporkan data dalam penjualan tidak sebenarnya. Jika dalam keadaan begini, nampaknya pilihan self publishing menjadi tepat. 


Keempat, Self publishing menjadi peluang bisnis baru. Nah untuk penjelasan yang satu ini, Insya Allah saya akan membuat sub bab tersendiri di akhir tulisan.

Bisakah Sukses dari Self Publishing?

Bisakah self publishing menuai sukses? Jawabannya tentu bisa. Berikut saya akan menceritakan ulang contoh seorang penulis yang sukses melakukan self publishing yang saya kutip dalam buku “Self Publishing (Kupas Tuntas Rahasia Menerbitkan Buku Sendiri)” karya Mas Miftachul Huda.

Anda pernah mendengar nama Dan Poynter? Pria berkebangsaan Amerika ini adalah Bapak Self Publishing. Awalnya, Dan ingin menerbitkan buku tentang panduan olah raga di bidang penerbangan. Sayangnya tak satupun bersedia menerbitkannya. Setelah dipertimbangkan, Dan akhirnya menerbitkan bukunya sendiri. Hasilnya luar biasa. Buku berjudul “Hang Gliding” terjual kurang lebih 130.000 eksemplar. Capaian yang sangat hebat untuk ukuran tahun 1970-an.

Sejak capaian yang dahsyat itu, Dan pun terus menulis. Sekitar 76 judul buku telah ditulisnya. Bahkan buku-bukunya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Spanyol, Jepang, Rusia, Inggris dan Jerman. Semua karyanya tersebut diterbitkan oleh penerbit yang didirikannya sendiri yakni Para Publishing. Selama bertahun-tahun Para Publishing ditanganinya sendiri, mulai dari tulisan, penerbitan dan promosi, kantor manajemen dan pemasaran. Tak heran bila ia sering disebut-sebut sebagai the world’s largest person publishing company. Bukunya yang berjudul "The Self Publishing" Manual menjadi kiblat bagi orang-orang yang ingin mengetahui lebih jauh tentang Self Publishing.

Self Publishing, Bisnis Menjanjikan

Belakangan ini, profesi menulis mulai mendapat perhatian yang cukup serius dari banyak kalangan. Sebut saja Habiburrahman El-Shirazy, Andrea Hirata, Asma Nadia menjadi fenomena tersendiri dalam dunia kepenulisan. Menulis tidak hanya sekadar menghasilkan naskah buku yang diterbitkan atau artikel yang dipublikasikan media yang keduanya bisa dilakukan dirumah. Pekerjaan menulis sekarang sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari institusi, baik swasta maupun Pemerintah, industri maupun yayasan, dan lembaga sosial maupun profit. Profesi penulis selalu dibutuhkan, baik yang dijalani secara permanen maupun sebagai tenaga lepas.

Self publishing bisa menjadi bisnis yang sangat menjajikan jika kita tahu rahasianya. Ya, karena banyak orang yang memiliki pendapat bahwa menulis buku itu sulit, mengurus ISBN sulit dan sebagainya. Padahal faktanya tidak seperti itu. Semua sangat mudah, apalagi ada lembaga-lembaga publishing services seperti www.leutikaprio.com, www.nulisbuku.com dll. Cukup mengeluarkan dana Rp. 500.000,- kita sudah bisa menikmati karya kita sendiri.

Ada contoh seorang pelaku self publishing. Kebetulan dia adalah seorang dosen dikampus swasta di Yogyakarta. Tak perlu disebut siapa namanya, ia cukup sukses menerbitkan bukunya sendiri. Dalam waktu enam bulan, bukunya bisa terjual 1.000 eksemplar. Mengapa? Karena dosen memiliki mahasiswa sebagai market yang akan dipasarkan. Ketika buku kita terbitkan oleh penerbit, paling besar kita mendapatkan royalty sebesar 15% atau umumnya hanya 10%. Bayangkan jika 1.000 buku terjual dengan royalty 4.000 dari harga buku Rp. 40.000,- maka kita hanya akan mendapatkan sebesar Rp. 4.000.000,-. Jika menerbitkan sendiri, misal ongkos produksi untuk 1.000 buku sebesar Rp. 10.000,- lalu kita jual Rp. 40.000,- maka selisih yang kita dapatkan Rp. 30.000.000,-. Katakanlah kita hanya menerima Rp. 20.000.000,- karena terpotong dengan ongkos distribusi, namun masih berapa kali lipat lebih baik dari royalty yang hanya 10%. Lumayan bukan? Masih ragu untuk melakukan self publishing? Semoga tidak!

8 komentar:

yons achmad mengatakan...

Inspiring :-)

Edo Segara mengatakan...

Piye bukumu yg di nulisbuku?

blogdangkal™ mengatakan...

Selamat siang, minta ijin salin gambar, ya?

Saya perlu ilustrasi untuk artikel self publishing di blog saya, trim's.

BlessingDay mengatakan...

Trims atas infonya yang begitu berharga.Selamat berkarya bagi bangsa dan sesama.Salam kenal..!

annisa aruna mengatakan...

very inspiring :-) ... Salam Kenal ..

Edo Segara mengatakan...

@BlessingDay dan Annisa: Salam kenal juga ya...

tiket pesawat murah mengatakan...

mantab artikelnya, terima kasih atas infonya

odehief mengatakan...

Ada info gak, gimana cara memasarkan buku milik self-publisher secara efektif? terutama jika sang penulis tidak mempunyai pasar riil (bukan dosen misalnya). Apakah via online bisa laku hingga 1rb buku?

Petuah Pak Cah, Menulis tak Butuh Bakat Melimpah

"Menulis itu tidak memerlukan bakat yang banyak, tinggal mau atau tidak." Itu kalimat-kalimat awal seorang Cahyadi Takari...