Kamis, 31 Maret 2011

Margin Kecil Menjadi Ukuran Syariah?


BMT Isra' Bermasalah
KEBERADAAN Lembaga Keuangan Mikro Syari’ah (BMT) saat ini menjadi salah satu infrastruktur penting yang turut membantu dalam meningkatkan perekonomian masyarakat. Utamanya ikut menstimulus para Usaha Kecil Mikro (UKM) untuk mengembangkan usahanya melalui pembiayaan.

Dari sejak awal perkembangan Baitul Maal wat-Tamwil (BMT) di Indonesia, bank syariah sangat aktif mendorong berkembangnya BMT. Banyak BMT yang didirikan dengan inisiatif dari bank syariah, Bahkan saat itu ada sebutan bahwa BMT adalah unit bank syariah terkecil, merujuk model BRI unit. Jumlah BMT sendiri di Indonesia saat ini mencapai ribuan.

Meski berbadan hukum koperasi, BMT bisa membuktikkan jika mereka bisa mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Contoh saja BMT Beringharjo di Yogyakarta, konon saat ini assetnya mencapai 55 Milyar rupiah (menurut penuturan Wakil Direktur BMT Beringharjo, Rury Febrianto, SE., MM.).

Sebelum tumbuh menjadi sebuah lembaga yang besar seperti sekarang, BMT Beringharjo harus menempuh jalan panjang dan berliku. Berbagai hambatan internal dan eksternal dihadapinya. Namun dengan mentalitas baja dan memperteguh komitmen serta konsisten terhadap program yang sudah dirancang. Akhirnya semua rintangan bisa mereka lalui dan bisa tumbuh besar seperti sekarang.

Persoalan-persoalan BMT

Pertumbuhan BMT memang menggembirakan, namun bukan berarti tidak banyak mengalami persoalan. Di Yogyakarta sendiri sudah banyak BMT-BMT besar tumbang, karena tidak amanah. Sebut saja nama-nama BMT tersebut adalah BMT Al-Falah (Sleman), BMT Isra’ (Bantul), BMT Amratani (Sleman), BMT Natura (Kota), dan masih banyak lagi.

Sebelum lebih jauh mengulas mengapa BMT-BMT tersebut tumbang (collapse), ada beberapa kendala di BMT yang saat ini masih menjadi pertanyaan di masyarakat. Setidaknya secara umum, ada 3 persoalan utama yang menjadi ganjalan di masyarakat tentang BMT. Diantaranya adalah (1). Keberadaan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), (2). Margin pembiayaan yang cukup tinggi, (3). Pola transaksi yang kadang masih tidak sesuai dengan syariah. Mari coba kita jawab satu-persatu persoalan tersebut.

Pertama, tentang LPS. Sebenarnya masalah ini sudah terjawab dengan ABSINDO membuat sebuah lembaga penjamin buat BMT. Hanya saja memang sosialisasinya belum massif sehingga belum banyak BMT yang bergabung dalam lembaga tersebut.

Kedua, tentang margin pembiayaan yang cukup tinggi. Nasabah-nasabah rasional lebih memilih bank konvensional dengan bunga yang rendah 0,6-1%. Masalah ini juga diperparah dengan anggapan bahwa kalau margin (bunga) BMT tinggi tidak syariah. Tentu angggapan ini tidak sepenuhnya benar, juga tidak sepenuhnya salah. Margin yang tinggi di BMT disebabkan pasokan modal yang terbatas dan tidak adanya fee based income (biaya provisi, admin tabungan, dll.). Sementara jika dibandingkan dengan bank umum, tentu mereka memiliki dana yang besar sehingga bisa melempar dana murah dan memiliki pendapatan dari fee based income. Untuk persoalan ini saya cuma bisa kasih opsi, mau memilih syariah tapi mahal atau memilih konvensional tapi murah. (mau pilih berkahnya atau murahnya???)

Ketiga, tentang pola transaksi yang masih tidak sesuai syariah. Masalah ini memang harus diakui masih banyak dilakukan oleh BMT. Seperti akad murabahah/ijarah yang memberi uang, denda harian untuk akad bulanan, akad musyarakah tanpa campur tangan pemodal, penalti pengambilan deposito, masih adanya pengambilan biaya provisi. Untuk masalah ini solusinya adalah Dewan Pengawas Syariah (DPS) dan Dewan Pengawas Manajemen (DPM) harus menegur dan membenahi secara tegas pengelolaan di BMT. Sayangnya, DPS dibeberapa BMT hanya nama dan kinerja tidak ada.

Ciri-ciri BMT Sehat

Jika dipertengahan tulisan saya membahas masalah banyaknya BMT yang bermasalah dan tumbang. Sebenarnya jika BMT bekerja dengan mengedepankan profesionalisme, menjaga amanah dan kejujuran, serta menjaga hubungan baik nasabah atau pun karyawan layaknya sebuah keluarga, dengan 1000% saya yakin dan optimis BMT bisa menjadi solusi perekonomian di masyarakat serta memperoleh keberkahan Allah SWT.

Selain hal tersebut, strategi pemasaran dan sistem internal harus diperkuat agar BMT bisa berjalan dengan baik selain semangat syariah. Indikator lain yang harus dijaga di dalam BMT adalah Likuiditas Modal (20-30%), Rasio pembiayaan terhadap dana pihak ketiga (FDR) diperbesar, Non Perfoming Financing (NPF) di bawah 4%, indikator terhadap kemampuan bank untuk menutupi penurunan aktivanya sebagai akibat dari kerugian - kerugian bank yang di sebabkan oleh aktiva yang berisiko (CAR) dan Return On Asset (ROA) agar tetap dalam posisi sehat.

Dengan menjaga indikator-indikator di atas, insya Allah BMT akan berjalan baik serta bisa menumbuhkan kepercayaan dikalangan masyarakat. Tentunya hal ini harus diikuti oleh pengelolaan yang amah dan transparan. Semoga tulisan singkat ini bisa memotivasi para aktifis-aktifis pengelola BMT di seluruh Indonesia. Wallahua’lam 

Tidak ada komentar: