Minggu, 14 November 2010

Tersadarkan “Saat Berharga Untuk Anak Kita”

TEPAT sehari sebelum tanggal 18 Desember 2009, terus terang saya kebingungan mencari sebuah kado yang tepat untuk kado ulang tahun istri saya. Mengapa saya bingung, karena saya memang tidak suka memberi hadiah kepada orang yang merayakan lahir, plus saya termasuk orang yang tidak suka dengan ceremonial. Konon banyak teman-teman saya bilang, saya tipikal orang yang tidak romantis. Istri saya pun mengamini hal tersebut.  Tak apalah, memang saya akui meski sedih juga mendengarnya. Bukankah romantis tidak selalu identik dengan pemberian? Pembelaan ya ini kawan, he... 

Oh ya, tanggal 18 Desember 2009 tuh merupakan hari lahir Istri saya yang ke-22. Masih muda ya? Memang saya terpaut 4 tahun dari umur saya. Dalam Islam memang tidak dianjurkan merayakan hari lahir, tapi niat saya semata-mata hanya ingin membahagiakan istri saya yang selama ini setia menemani hidup saya. Atas dasar cinta pula saya bersusah-susah payah mencari kado yang tepat buatnya. Jika tahun 2008 saya memberikan sebuah jaket, tahun 2009 saya bingung ingin memberi kado apa. Ditambah karena kebiasaan istri saya yang tidak pernah mengeluh meminta sesuatu ke saya. Saya memang patut bersyukur memiliki istri yang tidak suka menuntut.

Dalam sebuah kesempatan saya melihat sebuah postingan buku baru disebuah situs jejaring sosial Facebook yang dimiliki oleh sebuah penerbit Islam bernama Penerbit Pro-U Media. Dalam iklannya ada buku baru yang akan diterbitkan oleh mereka berjudul ”Saat Berharga Untuk Anak Kita” yang ditulis oleh penulis best seller, Ustadz Muhammad Fauzil Adhim.  Wow, dalam hati saya bergumam: ”Pasti bagus ini buku”, karena saya termasuk yang mengikuti buku-buku yang ditulis oleh Ustadz Fauzil Adhim, ditambah saya juga sedang ingin banyak tau tentang cara mendidik anak yang baik. Maklum, saya termasuk keluarga muda yang baru dua tahun menikah saat itu.

Dalam hati, saya sempat bertanya-tanya: ”Apa iya saya akan memberi kado buku?”. Padahal istri saya termasuk orang yang tidak suka membaca. Ia termasuk orang yang suka mendengarkan ketimbang membaca.  Ada sich yang dia suka baca, seperti buku-buku humor: ”Anak Kost Dodol”, ”Catatan Istri Dodol” dll. Intinya istri saya tidak suka membaca buku-buku yang dalam kategori berat. Nah, saya tambah bingung saat itu. Sementara buku ”Saat Berharga Untuk Anak Kita” penting untuk dibaca oleh istri saya.

Setelah lama berfikir, Akhirnya saya memutuskan hunting ke toko buku mencari buku tersebut. Seingat saya waktu itu mencari di Toko Buku Toga Mas. Setelah saya sebelumnya tanya kepada admin FB Penerbit Pro-U Media tentang isi buku tersebut dan harganya. Sebenarnya saya ingin membeli langsung ke penerbit Pro-U Media. Karena selain saya bisa silaturahim dengan teman-teman disana, membeli buku dikantornya langsung mendapatkan discount 25%. Discount yang cukup lumayan besar dalam pembelian sebuah buku. Namun, karena waktu yang mendesak malamnya saya harus sampaikan kado tersebut. Pulang kerja, saya putuskan untuk membeli buku di toko buku Toga Mas sekalian saya pulang. Tanpa dibungkus, sesampainya di rumah saya langsung menyerahkan kado tersebut kepada istri saya. Hi..lagi-lagi saya orang yang tidak romantis. Tapi tak apalah, yang penting kan niatnya. Lagi-lagi pembelaan.com 

Tebak apa reaksi istri saya? Dia senangnya bukan main, lagi-lagi istri saya orang yang tidak suka melihat apa barang yang dikasih, tapi bagaimana suaminya tetap perhatian terhadap dia. Seketika itu dia minta dituliskan kalimat doa dibuku tersebut yang kira-kira begini bunyinya: ”Semoga dengan buku ini, Du bisa menjadi Umi yang baik buat Faiq. I Love u...”. Ih, co cweet. He... Nah, itu bisa romantis? Wkwkwk *ketahuan dech. Oh ya, lupa mengenalkan. Nama istri saya lengkapnya, Duhita Aninditayasha. Saya sering memanggilnya dengan Du, atau nduk. Beti (beda tipis) c, he….

Hari berganti hari, nampaknya istri saya belum menyelesaikan juga membaca buku ini. Akhirnya, saya mencoba membaca buku tersebut karena tergeletak di meja computer. Astaghfirullah…, saya salah besar. Ternyata buku ini jauh lebih manfaat buat saya sebagai seorang Bapak. Bagaimana tidak, dalam sebuah sub judul saya diingatkan bagaimana harusnya saya menghadapi seorang anak. Saya teringat, saya pernah marah-marah tidak jelas dengan anak saya M. Faiq Musyaffa karena menangis. Saait itu seingat saya, Faiq sedang ditinggal Uminya bekerja. Astagfirullahal adzim...betapa saya salah telah membentak anak yang tidak mengerti apa-apa dan dikhawatirkan dia akan mendendam dengan saya kelak.   

Karena isi buku “Saat Berharga Untuk Anak Kita” sangat bagus, saya pun tak segan-segan membuat sebuah resensi buku ini dalam sebuah catatan difacebook yang saya sebarkan ke 25 teman-teman dekat saya yang sudah berkeluarga. Alhasil, banyak dari mereka yang tertarik untuk membeli buku ini. Kabar terakhir, saya dengar buku ini Best Seller. Dahsyat! Nah, ijinkan saya mengutip catatan resensi saya tentang buku ini:

“Sungguh tepat jika Ustadz Arifin Ilham, Pimpinan Majelis Az-Zikra memberi penilaian buku “Saat Berharga untuk Anak Kita” yang ditulis oleh Fauzil Adhim ini sebagai buku yang syarat pesan qur’ani. Yakni, bagaimana membuat dunia rumah tangga kita “surga” sebelum surga sebenarnya. Bagaimana tidak, begitu banyak pesan moral yang disampaikan oleh penulis yang sudah lama bergelut dalam bidang parenting, memberi konsultasi kepada para orangtua membuat kita menemukan banyak sekali contoh aktual yang nyata terjadi dan bahkan boleh jadi sering kita lakukan.”

Bagian pertama, kita diajak untuk menata niat kita dalam mendidik anak. Karena betapa sia-sianya kita mendidik anak jika hanya untuk memperoleh dunia, papar penulis dalam bukunya. Kemudian bagian ini dibagi menjadi dua sub bab lagi, yakni mengenai pertanggungjawaban kita sebagai orangtua. Dimana seorang bapak akan dimintai pertanggungjawaban ketika kiamat dalam hal mengurus istri dan anak. Sebagaimana Rasulullah pernah berpesan, “Takutlah kepada Allah dalam mengurus istri kalian. Aku wasiatkan kalian untuk selalu berbuat baik kepada mereka.”

Bagian kedua, penulis menuntun kita bagaimana membangun jiwa anak. Dalam bagian ini, Fauzil membaginya menjadi delapan sub bab. Diantara judul sub bab tersebut, adalah: Tersenyumlah Anakku Sayang, Maafkanlah Sayang, Qaulan Sadidan, Lupa pada jiwa, Anak-anak yang Gersang Jiwanya, Empeng, Bekerja untuk Berbagi, dan Gembira Menyambut Ramadhan. Intinya pada bagian kedua ini penulis memberi banyak contoh bagaimana membangun jiwa anak. Mengapa jiwa anak penting? Karena masa kecil merupakan saat paling berharga untuk membangun kedekatan emosi, menciptakan pola komunikasi antara orangtua dan anak sebagai saluran untuk mengisi ruang jiwa mereka.

Bagian ketiga, penulis mengajak kita untuk berada pada titik jernih. Karena menurut penulis, pada saat tersebut rasanya lebih mudah kita menemukan apa yang harus kita lakukan. Sama-sama memperbaiki kesalahan, dalam keadaan kondisi jernih kita bisa melakukan dengan suara yang lebih lunak dan tindakan yang lembut. Bagian penting dalam buku ini ketika Fauzil mengajari kita untuk berpesan kepada anak agar jangan pernah melupakan Allah Ta’ala dari hatinya. Anak kita dianjurkan belajar mencintai Allah menurut cara yang dikehendaki-Nya. Karena betapa banyak orang yang melakukan perjalanan menuju Allah, tetapi mereka melalui jalan yang tidak disukai-Nya. Gunakan pula rezeki yang dikaruniakan Allah kepadamu untuk meraih akhirat dan menjaga iman, begitu pesan penulis.

Bagian keempat, penulis mengajari kita jika terpaksa menghukum anak harus dilakukan dengn kasih sayang dan cara yang bijak. Kejernihan emosi diperlukan karena akan sangat membantu kita untuk mampu bersikap tepat terhadap anak dan menjadikan masa kecil mereka bahagia dan bermakna. Jika kita menghukum dengan cara yang tidak bijak, maka ini akan mempengaruhi mental dan kejiwaan anak kita.

Pada bagian akhir, penulis mengajak kita untuk mempersiapkan masa depan anak. Sesungguhnya, anak-anak kita dilahirkan untuk zaman yang akan datang. Karenanya, mereka harus kita beri bekal yang tepat. Mereka juga harus memiliki jiwa yang kuat, begitu pesan Fauzil Adhim dalam buku yang ia tulis. Sebelum terlambat, tak ada salahnya jika para orangtua membaca buku ini wa bil khusus seorang Bapak.

Ya Allah, betapa saya tersadarkan oleh buku ini tentang bagaimana cara mendidik anak yang baik. Sejak saat itu saya berazzam akan sebaik-baiknya menjadi Bapak yang baik buat anak saya. Terima kasih ya Allah, melalui buku Pro-U media sudah mengingatkan saya. Setelah sebelumnya saya pikir buku tersebut lebih bermanfaat buat istri saya, ternyata saya salah. Karena buku tersebut sangat baik untuk dibaca oleh Suami-istri agar tidak menyia-nyiakan waktu berharga buat anak-anak kita. Semoga kita termasuk orang-orang yang dilindungi oleh Allah SWT. Amin...

*) Tulisan ini diikutkan dalam Lomba Kisah Pendek Menggugah Pro-U Media 2010

1 komentar:

* dimasady * mengatakan...

syukron akh, perlu hunting juga nih, tulisannya inspiratif.
*semoga SAMARA pernikahannya

~ dy ~