Minggu, 10 Oktober 2010

Saat Berharga untuk Anak Kita

Penulis : M. Fauzil Adhim.
Peresensi : Edo Segara.
Halaman : 224 Halaman.
Cetakan : Pertama, Desember 2009.
Penerbit : Pro-U Media, Yogyakarta.

Sungguh tepat jika Ustadz Arifin Ilham, Pimpinan Majelis Az-Zikra memberi penilaian buku “Saat Berharga untuk Anak Kita” yang ditulis oleh Fauzil Adhim ini sebagai buku yang syarat pesan qur’ani. Yakni, bagaimana membuat dunia rumah tangga kita “surga” sebelum surga sebenarnya. Bagaimana tidak, begitu banyak pesan moral yang disampaikan oleh penulis yang sudah lama bergelut dalam bidang parenting, memberi konsultasi kepada para orangtua membuat kita menemukan banyak sekali contoh aktual yang nyata terjadi dan bahkan boleh jadi sering kita lakukan.

Buku ini ditulis menjadi 5 bagian (bab), hampir semua bagian buku ini penting untuk dibaca karena merupakan satu kesatuan. Ditulis dengan gaya khas Fauzil Adhim yang renyah dan lincah, buku ini bukan hanya sekedar menyajikan cara praktis mengasuh anak, lebih dari itu kaya dengan sentuhan hikmah. Ada renungan yang mencerahkan, ada saran yang mudah dicerna, dan ada pemaparan yang menggugah.

Bagian pertama, kita diajak untuk menata niat kita dalam mendidik anak. Karena betapa sia-sianya kita mendidik anak jika hanya untuk memperoleh dunia, papar penulis dalam bukunya. Kemudian bagian ini dibagi menjadi dua sub bab lagi, yakni mengenai pertanggungjawaban kita sebagai orangtua. Dimana seorang bapak akan dimintai pertanggungjawaban ketika kiamat dalam hal mengurus istri dan anak. Sebagaimana Rasulullah pernah berpesan, “Takutlah kepada Allah dalam mengurus istri kalian. Aku wasiatkan kalian untuk selalu berbuat baik kepada mereka.”

Bagian kedua, penulis menuntun kita bagaimana membangun jiwa anak. Dalam bagian ini, Fauzil membaginya menjadi delapan sub bab. Diantara judul sub bab tersebut, adalah: Tersenyumlah Anakku Sayang, Maafkanlah Sayang, Qaulan Sadidan, Lupa pada jiwa, Anak-anak yang Gersang Jiwanya, Empeng, Bekerja untuk Berbagi, dan Gembira Menyambut Ramadhan. Intinya pada bagian kedua ini penulis memberi banyak contoh bagaimana membangun jiwa anak. Mengapa jiwa anak penting? Karena masa kecil merupakan saat paling berharga untuk membangun kedekatan emosi, menciptakan pola komunikasi antara orangtua dan anak sebagai saluran untuk mengisi ruang jiwa mereka.

Bagian ketiga, penulis mengajak kita untuk berada pada titik jernih. Karena menurut penulis, pada saat tersebut rasanya lebih mudah kita menemukan apa yang harus kita lakukan. Sama-sama memperbaiki kesalahan, dalam keadaan kondisi jernih kita bisa melakukan dengan suara yang lebih lunak dan tindakan yang lembut. Bagian penting dalam buku ini ketika Fauzil mengajari kita untuk berpesan kepada anak agar jangan pernah melupakan Allah Ta’ala dari hatinya. Anak kita dianjurkan belajar mencintai Allah menurut cara yang dikehendaki-Nya. Karena betapa banyak orang yang melakukan perjalanan menuju Allah, tetapi mereka melalui jalan yang tidak disukai-Nya. Gunakan pula rezeki yang dikaruniakan Allah kepadamu untuk meraih akhirat dan menjaga iman, begitu pesan penulis.

Bagian keempat, penulis mengajari kita jika terpaksa menghukum anak harus dilakukan dengn kasih sayang dan cara yang bijak. Kejernihan emosi diperlukan karena akan sangat membantu kita untuk mampu bersikap tepat terhadap anak dan menjadikan masa kecil mereka bahagia dan bermakna. Jika kita menghukum dengan cara yang tidak bijak, maka ini akan mempengaruhi mental dan kejiwaan anak kita.

Pada bagian akhir, penulis mengajak kita untuk mempersiapkan masa depan anak. Sesungguhnya, anak-anak kita dilahirkan untuk zaman yang akan datang. Karenanya, mereka harus kita beri bekal yang tepat. Mereka juga harus memiliki jiwa yang kuat, begitu pesan Fauzil Adhim dalam buku yang ia tulis. Sebelum terlambat, tak ada salahnya jika para orangtua membaca buku ini wa bil khusus seorang Bapak. Wallahua’lam

Tidak ada komentar: