Minggu, 24 Oktober 2010

Ketika (Di)keluar(kan) dari Kantor

Judul : Resign And Get Rich: Berhenti Kerja, Jadi Pengusaha
Penulis : Edo Segara
Penerbit : Leutika, Yogyakarta
Tahun : I, Juni 2010
Tebal : x+212 halaman
Harga : Rp39.000

Pekerjaan formal seolah-olah menjadi keniscayaan di tengah kepentingan dan kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. Bekerja di kantor/perusahaan mungkin diimpikan banyak orang karena setidaknya bisa menjamin pendapatan finansial. Berbeda dengan yang bekerja serabutan, penghasilan setiap bulan relatif tidak bisa dipastikan.

Maka, banyak orang yang ingin menjadi pekerja di kantor/perusahaan. Buku yang ditulis Edo Segara ini bisa dipandang dari pelbagai perspektif. Buku ini sepertinya memprovokasi para pegawai/karyawan untuk keluar dari kantor/perusahaan.

Tidak menjadi pegawai/karyawan pun bisa memperoleh kecukupan finansial, bahkan dimungkinkan berpenghasilan lebih besar dibandingkan ketika menjadi pegawai/karyawan. Namun, pemaknaan terhadap isi buku ini tidak semata-mata seperti itu. Bagaimanapun, pegawai/karyawan tetap dibutuhkan dalam menjalankan roda perekonomian.

Mencermati persoalan manusia dan dunia pekerjaan, kerap kali terjadi beberapa masalah. Tidak dimungkiri jika ada pegawai/karyawan yang bosan dengan pekerjaannya atau mungkin stres akibat tekanan dari atasannya. Bisa pula ada pegawai/karyawan yang memang ingin berusaha mandiri sehingga tak ingin lagi bekerja di kantor/perusahaan.

Di sisi lain, ada pegawai/karyawan yang menerima pemutusan hubungan kerja (PHK). Terkait beberapa persoalan itu, jika memang solusi yang diambil keluar dari kantor, harapannya tidak memunculkan masalah lebih lanjut. Begitu pula bagi pegawai/karyawan yang terkena PHK tidak harus berlarut-larut meratapi kondisi pengangguran.

Pada dasarnya, banyak bisnis yang bisa dijalankan ketika tidak menjadi karyawan/pegawai, seperti bisnis ritel, bisnis waralaba, bisnis rumahan, bisnis online, bisnis event organizer, bisnis properti, dan bisnis bidang jasa. Penulis buku menjelaskan siasat memulai dan menjalankan bisnis tersebut.

Agar tidak berujung mengkhawatirkan, kondisi tidak menjadi “orang kantoran” perlu disikapi secara baik dan bijak. Perencanaan dan persiapan penting lainnya adalah dalam memilih usaha bisnis. Kecintaan pada bisnis yang dijalankan menjadi penting agar dapat menikmati usaha. Jika tak menikmati, kesuksesan menjadi sulit diraih.

Beban mental yang didapatkan dengan mengerjakan bisnis yang tidak dinikmati harus dibayar mahal. Dalam memilih bidang usaha tak harus dengan ide usaha baru. Memperhatikan peluang kebutuhan juga diperlukan dalam menentukan pilihan usaha. Untuk menjalankan bisnis mandiri, fokus pada pasar (market) penting dilakukan.

Yang juga ditekankan, manajemen bisnis yang dijalankan hendaknya tidak menyalahi kaidah moral dan ketentuan agama. Kepedulian sosial perlu dimiliki setiap pebisnis. Usaha mandiri yang dikembangkan perlu kiranya menerapkan corporate social responsibility, termasuk tak lupa dengan zakat perusahaan.

Bagaimanapun, setiap usaha yang kita jalankan tak hanya untuk urusan dunia semata, tapi juga investasi akhirat. Tentunya, berbagai hal dalam buku ini penting dicermati oleh setiap pegawai/ karyawan.

Bukan tidak mungkin pegawai/karyawan harus berhenti bekerja akibat PHK. Agar tidak kelabakan, persiapan dan antisipasi semestinya dilakukan semenjak bekerja di kantor/perusahaan. Bukankah begitu?

Peresensi adalah Hendra Sugiantoro, penulis lepas, tinggal di Yogyakarta

Sumber: Koran Jakarta, Kamis 21 Oktober 2010 

1 komentar:

Rooney mengatakan...

Mantaps.. makasih review bukunya mas :-D

Petuah Pak Cah, Menulis tak Butuh Bakat Melimpah

"Menulis itu tidak memerlukan bakat yang banyak, tinggal mau atau tidak." Itu kalimat-kalimat awal seorang Cahyadi Takari...