Minggu, 24 Oktober 2010

Ketika (Di)keluar(kan) dari Kantor

Judul : Resign And Get Rich: Berhenti Kerja, Jadi Pengusaha
Penulis : Edo Segara
Penerbit : Leutika, Yogyakarta
Tahun : I, Juni 2010
Tebal : x+212 halaman
Harga : Rp39.000

Pekerjaan formal seolah-olah menjadi keniscayaan di tengah kepentingan dan kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. Bekerja di kantor/perusahaan mungkin diimpikan banyak orang karena setidaknya bisa menjamin pendapatan finansial. Berbeda dengan yang bekerja serabutan, penghasilan setiap bulan relatif tidak bisa dipastikan.

Maka, banyak orang yang ingin menjadi pekerja di kantor/perusahaan. Buku yang ditulis Edo Segara ini bisa dipandang dari pelbagai perspektif. Buku ini sepertinya memprovokasi para pegawai/karyawan untuk keluar dari kantor/perusahaan.

Tidak menjadi pegawai/karyawan pun bisa memperoleh kecukupan finansial, bahkan dimungkinkan berpenghasilan lebih besar dibandingkan ketika menjadi pegawai/karyawan. Namun, pemaknaan terhadap isi buku ini tidak semata-mata seperti itu. Bagaimanapun, pegawai/karyawan tetap dibutuhkan dalam menjalankan roda perekonomian.

Mencermati persoalan manusia dan dunia pekerjaan, kerap kali terjadi beberapa masalah. Tidak dimungkiri jika ada pegawai/karyawan yang bosan dengan pekerjaannya atau mungkin stres akibat tekanan dari atasannya. Bisa pula ada pegawai/karyawan yang memang ingin berusaha mandiri sehingga tak ingin lagi bekerja di kantor/perusahaan.

Di sisi lain, ada pegawai/karyawan yang menerima pemutusan hubungan kerja (PHK). Terkait beberapa persoalan itu, jika memang solusi yang diambil keluar dari kantor, harapannya tidak memunculkan masalah lebih lanjut. Begitu pula bagi pegawai/karyawan yang terkena PHK tidak harus berlarut-larut meratapi kondisi pengangguran.

Pada dasarnya, banyak bisnis yang bisa dijalankan ketika tidak menjadi karyawan/pegawai, seperti bisnis ritel, bisnis waralaba, bisnis rumahan, bisnis online, bisnis event organizer, bisnis properti, dan bisnis bidang jasa. Penulis buku menjelaskan siasat memulai dan menjalankan bisnis tersebut.

Agar tidak berujung mengkhawatirkan, kondisi tidak menjadi “orang kantoran” perlu disikapi secara baik dan bijak. Perencanaan dan persiapan penting lainnya adalah dalam memilih usaha bisnis. Kecintaan pada bisnis yang dijalankan menjadi penting agar dapat menikmati usaha. Jika tak menikmati, kesuksesan menjadi sulit diraih.

Beban mental yang didapatkan dengan mengerjakan bisnis yang tidak dinikmati harus dibayar mahal. Dalam memilih bidang usaha tak harus dengan ide usaha baru. Memperhatikan peluang kebutuhan juga diperlukan dalam menentukan pilihan usaha. Untuk menjalankan bisnis mandiri, fokus pada pasar (market) penting dilakukan.

Yang juga ditekankan, manajemen bisnis yang dijalankan hendaknya tidak menyalahi kaidah moral dan ketentuan agama. Kepedulian sosial perlu dimiliki setiap pebisnis. Usaha mandiri yang dikembangkan perlu kiranya menerapkan corporate social responsibility, termasuk tak lupa dengan zakat perusahaan.

Bagaimanapun, setiap usaha yang kita jalankan tak hanya untuk urusan dunia semata, tapi juga investasi akhirat. Tentunya, berbagai hal dalam buku ini penting dicermati oleh setiap pegawai/ karyawan.

Bukan tidak mungkin pegawai/karyawan harus berhenti bekerja akibat PHK. Agar tidak kelabakan, persiapan dan antisipasi semestinya dilakukan semenjak bekerja di kantor/perusahaan. Bukankah begitu?

Peresensi adalah Hendra Sugiantoro, penulis lepas, tinggal di Yogyakarta

Sumber: Koran Jakarta, Kamis 21 Oktober 2010 

Selasa, 19 Oktober 2010

Salim A. Fillah: Kisah dan Hikmah


Bapak dan Ibu. Saya harus menyebut beliau berdua jika kita berbincang tentang menulis. Saya yakin, jika Allah berkenan menjadikan tiap huruf yang mengalir dari jemari saya ini sebagai kebaikan, maka kebaikan itu pertama-tama akan menjadi hak mereka.

Bapak dan Ibu, dalam keterbatasan mereka, yang menyediakan untuk saya berbagai-bagai bacaan semenjak saya kecil. Saya terkenang saat saya kelas 5 SD. Ketika itu, Ibu membawa saya ke sebuah toko buku di awal tahun ajaran. Maksudnya tentu untuk berbelanja buku pelajaran dan alat tulis sebagaimana lazimnya anak lain. Karena Ibu ada kepentingan lain, beliau tinggalkan saya di toko buku dengan uang yang pas untuk membeli semua keperluan tahun ajaran baru.

Saat beliau kembali, beliau hanya bisa geleng-geleng kepala. Yang saya beli adalah buku-buku yang sama sekali tidak nyambung dengan anak kelas 5. Yang ada di keranjang belanja justru buku sejarah, biografi tokoh, filsafat, dan psikologi! Seingat saya, dari lisan Ibu hanya keluar pekik, “Masyaallah!” Dan saat sampai di rumah, Bapak saya juga hanya tertawa-tawa.

Selepas SMP, yang juga berarti selepas dari pesantren, saya baru mulai berani menyusun kata-kata.
Selalu saja ada yang menyatakan kalimat-kalimat saya unik, tapi itu artinya tak baku. Tak bisa diterima. Di saat seperti itu, Bapak yang adalah guru Bahasa Indonesia di sebuah SMA selalu membesarkan hati saya. “Bahasa itu kesepakatan”, saya ingat selalu nasihat ini, “Artinya jika penyampai dan penerima telah memahaminya, maka bahasa itu baik dan benar.”

Sebenarnya cita-cita saya ketika kecil klise dan muluk. “Menjadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama.”
Di SMA saya sadar, ada peran yang harus saya ambil secara spesifik kalau ingin betul-betul berguna. Dan saya lihat—selain kesibukan berorganisasi yang membuat saya jarang menatap mentari dari rumah—salah satu yang luas jangkauan manfaatnya adalah menulis.

Selama SMA itu, saya ingat, cukup banyak tulisan yang saya hasilkan, alhamdulillah. Saya ikuti aneka lomba kepenulisan. Ada lomba karya tulis ilmiah, penulisan artikel lepas, lomba esai, lomba cerpen—termasuk LMCPI-nya Annida—sayembara novel, dan lainnya. Hampir setiap informasi lomba yang datang ke sekolah, saya coba untuk mengikutinya. Dan alhamdulillah, sampai sekarang belum pernah ada yang menang sama sekali!

Saya juga mencoba mengirimkan berbagai tulisan saya ke media. Ada artikel-artikel lepas, ada opini, ada puisi, ada cerpen.
Dan alhamdulilah, hingga sekarang tak satu pun pernah dimuat sama sekali. Maka hingga saat itu, tulisan saya hanya menjangkau teman-teman sendiri; lewat buletin yang ditulis sendiri, diset dan di-layout sendiri, diperbanyak sendiri, dan diedarkan sendiri.

Mungkin semangat yang ada di sanalah, wallaahu a’lam, yang akhirnya mengantarkan tulisan-tulisan itu pada sosok Muhammad Fanni Rahman. Beliau adalah sebenar-benar kakak yang Allah pertemukan dengan saya di aktivitas dakwah remaja masjid se-Kota Yogyakarta. Saya bersyukur jika tulisan-tulisan itu menjadi salah satu pemantik kecil yang membawa beliau pada sebuah keputusan penting: mendirikan Penerbit Pro-U Media.

Buku pertama saya adalah juga buku pertama Pro-U Media. Menuliskan ”Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan” adalah kenikmatan berbagi rasa; menerbitkannya di Pro-U adalah ujian untuk percaya bahwa dari sekecil apa pun, Allah akan memberkahi tiap ikhtiar dakwah. Dan alhamdulillah, saya menangis ketika launching buku ini di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta dihadiri lebih dari 2000 orang. Alhamdulillah, membersamai Pro-U membuat saya merasa menjadi bagian dari sebuah cita-cita besar: tidak hanya menerbitkan buku; melainkan juga menerbitkan harapan akan kebangkitan Islam.

Kaya keberkahan

Dari perjalanan menulis selama ini, saya makin tahu, tak ada kendala berarti kecuali apa yang ada di dalam jiwa kita. Dulu saat masih meminjam komputer paman dan mengetikkan tulisan di rental, saya merasa sepertinya akan lebih produktif jika memiliki komputer sendiri. Begitu memiliki komputer sendiri, ternyata sama juga. Saat itu lalu berpikir, jika punya laptop dan lebih mobile, insyaallah lebih produktif. Begitu notebook dimiliki, rasanya sama juga.

Sekali lagi saya menyadari, kendala menulis letaknya bukan di fasilitas, melainkan di dalam jiwa kita. Kita berlindung kepada Allah dari jiwa yang lemah untuk menyampaikan kebenaran, dari hati yang bungkam untuk mencegah kejahatan.

Karena itu, semua hal harus disyukuri. Alhamdulillah, menulis itu rasanya berkah. Dengan menulis saya bisa menyapa ribuan manusia; tak sekadar sapa, tapi sapaan dakwah. Dengan menulis saya bisa bersilaturahim ke pelosok negeri ini; merasa begitu kaya karena banyak saudara yang kemudian menunjukkan kepedulian dengan saran, masukan, kritik, bahkan cerca, dan kecaman. Semuanya memperkaya jiwa; mereka menunjukkan kelebihan maupun kekurangan diri yang takkan saya sadari tanpa respons mereka.

Dengan menulis saya merekam jejak-jejak pemahaman saya; mengikat ilmu, lalu melihatnya kembali untuk—sesekali—menertawakannya. Dan saat saya telah bisa menertawakan kebodohan saya beberapa waktu lalu yang tecermin dari tulisan saya ketika itu, saya jadi tahu, alhamdulillah saya telah mengalami sedikit kemajuan.[]

Sumber: Blog Pro-U Media

Selasa, 12 Oktober 2010

Yuk, Bisnis Online yang Syariah

Judul : Bisnis Online Syariah.
Penulis : Dwi Suwiknyo.
Peresensi : Edo Segara.
Halaman : 91 Halaman + VII
Cetakan : I, Agustus 2009.
Penerbit : Trust Media, Yogyakarta.

DALAM sebuah kaidah fikih, disebutkan: ”al-ashlu fil-mu’amalati ’ibahatu illa an-yadulla dalilun ’ala tahrimiha.” Yang artinya bahwa hukum hukum asal dalam semua bentuk muamalah adalah boleh dilakukan, kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Nah, berdasar dasar ibahah tersebut siapa saja boleh dan bebas membuat akad bisnis online jenis apapun tanpa terikat dengan nama-nama akad yang sudah ada dan memasukkan klausul apa saja, sejauh tidak berakibat memakan harta sesama dengan jalan yang bathil atau tidak bertentangan dengan asas yang lain. Paparan tersebut dibahas dalam buku ”Bisnis Online Syariah; Lebih Berkah dan Menguntungkan” karya Dwi Suwiknyo yang tebalnya 92 halaman.

Bisnis online memang sedang digandrungi oleh banyak orang ditengah meningkatnya pengguna internet di dunia. Menurut data dari Internetworldstats pada tahun 2009, bahkan Indonesia merupakan negara terbesar ke 5 setelah Cina, Jepang, India dan Korea Selatan, dalam hal pengguna jasa internet di asia. angka yang fantastis bagi negara berkembang. Data diatas menunjukkan betapa besarnya peluang bisnis melalui online. Maka keniscayaan pula jika internet menjadi sarana yang ampuh untuk menjual produk. Namun harus diakui, bahwa salah satu hambatan besar bisnis online adalah kepercayaan, dimana banyaknya terjadi transaksi palsu.

Buku ini sangat menarik, karena memberikan panduan kepatuhan aspek syariah dalam meraih penghasilan secara online. Dalam bab pertama, penulis membahas panjang lebar terkait Bisnis Online Syariah. Dimana dalam bab ini dipaparkan secara gamblang landasan hukum atau kaidah-kaidah syariah dalam berbisnis secara online. Prinsipnya bisnis online dibolehkan secara muamalah. Transaksi bisnis online syariah juga dapat berupa aktivitas bisnis yang bersifat komersil, seperti: bagi hasil, jual-beli barang, transaksi sewa, dan layanan jasa. Seperti bisnis pada umunya, bisnis online syariah juga dibenarkan untuk mengambil keuntungan dari aktivitas  komersial.

Dalam bab selanjutnya, dibab kedua, penulis memaparkan tentang As-Suq Online. As-Suq sendiri berarti market (pasar) yang mempertemukan para penjual dan pembeli atas suatu produk. Meskipun bisnis online tidak mempertemukan para penjual dan pembeli secara fisik. Namun syarat suatu market sudah terpenuhi di dalam bisnis online, dimana secara tidak langsung pasar terbentuk dengan sendirinya. Di bab ketiga, penulis membahas Bay (jual beli) Online yang dijelaskan ada tiga macam (murabahah, salam, dan istishna). Bab keempat ijarah online atau sewa-menyewa. Bab kelima, mengenai Ujrah (pembayaran) secara Online dan bab terakhir mengenai Syirkah (bagi hasil) online baik secara mudharabah ataupun musyarakah.

Semua peluang bisnis online syariah tersebut tidak hanya dijelaskan secara normatif, namun juga dengan lebih aplikatif. Dilengkapi dengan contoh, data dan gambar pendukung menjadikan isi buku ini lebih menarik dan tidak membosankan. Buku ini sangat layak dibaca oleh Anda yang ingin secara serius menekuni bisnis online secara syariah. []

Senin, 11 Oktober 2010

Talk Show Bisnis “Menjadi Pekerja Mandiri!”

Apakah Anda memiliki keinginan untuk mempunyai usaha sendiri atau menjadi pengusaha? Apakah Anda masih bingung untuk mulai melangkah dan melejitkan usaha Anda? Apakah Anda benar-nemar ingin segera Resign dan mendapatkan kebebasan finansial?

Eits.., jangan gegabah dulu, ketika Anda keluar dari pekerjaan pun Anda harus menyiapkan segalanya. Tidak waton (asal) keluar, karena pasti Anda memiliki keluarga toh? Jika pun tidak, masak Anda kembali minta uang dengan orangtua Anda. Maka, sebelum mengambil keputusan saat resign, ada beberapa warning dan persiapan yang perlu Anda lakukan!

Talk show bisnis yang dahsyat ini akan membuka rahasia bagaimana cara melompat dari posisi karyawan menjadi pekerja mandiri lalu menjadi pengusaha sukses!

Menjadi Pekerja Mandiri, Anda bisa bekerja tanpa kantor, tanpa karyawan, tanpa atasan, tanpa sekretaris, tanpa satpam, tanpa office boy, tanpa jam kerja yang monotone (8 to 5), penuh kebebasan waktu dan tempat!

Di talk show bisnis ini juga banyak opsi pilihan bisnis yang dapat Anda pilih setelah resign, persiapan menuju bisnis yang diinginkan, bagaimana memulai bisnis yang diinginkan, tips-tips agar Anda bisa sukses dalam usaha apa pun!

Pembiacara :

1. Gunawan Ardiyanto, ST.
(Praktisi bisnis, konsultan dan penulis buku Pekerja Mandiri dan Jadi Pengusaha, Siapa Takut?)

2. Edo Segara, SE.
(Praktisi bisnis, konsultan dan penulis buku Resign and Get Rich!)

Waktu :
Minggu, 17 Oktober 2010
Pkl. 15.00 - 20.00 WIB

Tempat :
Kedai Marwah
Jl. Perumnas D 125
Seturan Jogjakarta

Fasilitas :
(1) Gratis buku saku Cara Kreatif Menjadi Penulis Produktif
(2) Snack + Soft Drink
(3) Relasi bisnis, ilmu dan makalah
(4) Doorprize

Investasi :
Hanya Rp 25.000 / peserta
Terbatas untuk 30 peserta!
Pembayaran hanya pada saat registrasi di lokasi acara!

Pendaftaran :
Ketik sms : Daftar BMPM [spasi] nama [spasi] alamat
Kirim ke 081 227 588 203

Minggu, 10 Oktober 2010

Saat Berharga untuk Anak Kita

Penulis : M. Fauzil Adhim.
Peresensi : Edo Segara.
Halaman : 224 Halaman.
Cetakan : Pertama, Desember 2009.
Penerbit : Pro-U Media, Yogyakarta.

Sungguh tepat jika Ustadz Arifin Ilham, Pimpinan Majelis Az-Zikra memberi penilaian buku “Saat Berharga untuk Anak Kita” yang ditulis oleh Fauzil Adhim ini sebagai buku yang syarat pesan qur’ani. Yakni, bagaimana membuat dunia rumah tangga kita “surga” sebelum surga sebenarnya. Bagaimana tidak, begitu banyak pesan moral yang disampaikan oleh penulis yang sudah lama bergelut dalam bidang parenting, memberi konsultasi kepada para orangtua membuat kita menemukan banyak sekali contoh aktual yang nyata terjadi dan bahkan boleh jadi sering kita lakukan.

Buku ini ditulis menjadi 5 bagian (bab), hampir semua bagian buku ini penting untuk dibaca karena merupakan satu kesatuan. Ditulis dengan gaya khas Fauzil Adhim yang renyah dan lincah, buku ini bukan hanya sekedar menyajikan cara praktis mengasuh anak, lebih dari itu kaya dengan sentuhan hikmah. Ada renungan yang mencerahkan, ada saran yang mudah dicerna, dan ada pemaparan yang menggugah.

Bagian pertama, kita diajak untuk menata niat kita dalam mendidik anak. Karena betapa sia-sianya kita mendidik anak jika hanya untuk memperoleh dunia, papar penulis dalam bukunya. Kemudian bagian ini dibagi menjadi dua sub bab lagi, yakni mengenai pertanggungjawaban kita sebagai orangtua. Dimana seorang bapak akan dimintai pertanggungjawaban ketika kiamat dalam hal mengurus istri dan anak. Sebagaimana Rasulullah pernah berpesan, “Takutlah kepada Allah dalam mengurus istri kalian. Aku wasiatkan kalian untuk selalu berbuat baik kepada mereka.”

Bagian kedua, penulis menuntun kita bagaimana membangun jiwa anak. Dalam bagian ini, Fauzil membaginya menjadi delapan sub bab. Diantara judul sub bab tersebut, adalah: Tersenyumlah Anakku Sayang, Maafkanlah Sayang, Qaulan Sadidan, Lupa pada jiwa, Anak-anak yang Gersang Jiwanya, Empeng, Bekerja untuk Berbagi, dan Gembira Menyambut Ramadhan. Intinya pada bagian kedua ini penulis memberi banyak contoh bagaimana membangun jiwa anak. Mengapa jiwa anak penting? Karena masa kecil merupakan saat paling berharga untuk membangun kedekatan emosi, menciptakan pola komunikasi antara orangtua dan anak sebagai saluran untuk mengisi ruang jiwa mereka.

Bagian ketiga, penulis mengajak kita untuk berada pada titik jernih. Karena menurut penulis, pada saat tersebut rasanya lebih mudah kita menemukan apa yang harus kita lakukan. Sama-sama memperbaiki kesalahan, dalam keadaan kondisi jernih kita bisa melakukan dengan suara yang lebih lunak dan tindakan yang lembut. Bagian penting dalam buku ini ketika Fauzil mengajari kita untuk berpesan kepada anak agar jangan pernah melupakan Allah Ta’ala dari hatinya. Anak kita dianjurkan belajar mencintai Allah menurut cara yang dikehendaki-Nya. Karena betapa banyak orang yang melakukan perjalanan menuju Allah, tetapi mereka melalui jalan yang tidak disukai-Nya. Gunakan pula rezeki yang dikaruniakan Allah kepadamu untuk meraih akhirat dan menjaga iman, begitu pesan penulis.

Bagian keempat, penulis mengajari kita jika terpaksa menghukum anak harus dilakukan dengn kasih sayang dan cara yang bijak. Kejernihan emosi diperlukan karena akan sangat membantu kita untuk mampu bersikap tepat terhadap anak dan menjadikan masa kecil mereka bahagia dan bermakna. Jika kita menghukum dengan cara yang tidak bijak, maka ini akan mempengaruhi mental dan kejiwaan anak kita.

Pada bagian akhir, penulis mengajak kita untuk mempersiapkan masa depan anak. Sesungguhnya, anak-anak kita dilahirkan untuk zaman yang akan datang. Karenanya, mereka harus kita beri bekal yang tepat. Mereka juga harus memiliki jiwa yang kuat, begitu pesan Fauzil Adhim dalam buku yang ia tulis. Sebelum terlambat, tak ada salahnya jika para orangtua membaca buku ini wa bil khusus seorang Bapak. Wallahua’lam

Minggu, 03 Oktober 2010

Surat untuk Bapak SBY

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Bapak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang tercinta, perkenalkan saya adalah salah satu rakyat bapak. nama saya... sudahlah tidak penting. tahun 2009 kemarin, saya memilih bapak dengan keyakinan bahwa Bapak lah yang terbaik bagi negeri ini.

Namun, hari terus berlalu, saya yang awam ini merasa ada ketidakadilan. entah, saya memang rakyat kecil pak, tak paham saya dengan politik, juga tentang harga harga dunia yang semakin melambung dan berefek pada perekonomian di Indonesia. Sekali lagi saya cuma rakyat kecil.

Benar, saya tidak tahu apa yang sedang terjadi sebenarnya di balik gonjang-ganjing politik saat ini. mungkin saya tidak adil, hati saya keras sehingga tidak mampu menerima curhatan bapak di televisi, katanya Bapak dijadikan target pembunuhan, Bapak disamakan dengan kerbau dan seterusnya dan seterusnya.

Barangkali rakyat kecil seperti saya salah mempersepsikan Bapak, tapi Bapak memiliki tim media yang sangaaaaaat buruk sekali. Sebab tim media Bapak telah sukses mencitrakan Bapak sebagai pemimpin ‘peragu’ yang plin-plan dan tidak pro rakyat.

Saya rakyat kecil pak, yang tak paham kenapa produk impor bisa begitu bebas beredar di pasaran dan melibas produsen dalam negeri. Saya rakyat kecil yang tak paham, kenapa harga harga setiap hari terus merangkak. Tahukah Bapak, berapa harga beras 1 kg sekarang pak ? Rp. 6.500, itu yang kualitas biasa saja. Berapa harga minyak goreng ? Rp. 13.000,-, gula putih ? Rp. 6.500, itu hanya 3 item, belum yang lainnya.

Anak-anak kami tetap tak bisa sekolah, sebab peraturan bebas biaya sekolah, hanyalah tinggal peraturan. orang miskin di Indonesia, dilarang sakit, sebab rumah sakit adalah sesuatu yang terlampau mewah bagi kami.

Saya tak paham, kenapa saudara saya yang bekerja sebagai PKL digusur, juga yang memiliki rumah sederhana diratakan dengan tanah, diusir. Mereka diperlakukan sebagai anjing kudisan yang tak berarti, seolah olah pengganggu. Tetapi nun di belahan indonesia sana, minimarket terus menjamur, mal-mal berdiri bebas, pabrik pabrik yang mencemari perairan kami terus dibiarkan, begitu juga dengan perumahan mewah terus bermunculan.

Bapak bilang ditelevisi bahwa bapak akan mensupport UKM kecil guna menumbuhkan usaha mikro rakyat. Tapi semua hanyalah kata kata saja. Bapak hanya bilang di media: "Saya meminta akses rakyat kecil terhadap keuangan di buka lebar.” Pak SBY yang tercinta... kata-kata hanya tinggalah kata-kata, kami membutuhkan Kepres pak, atau sebuah Perpu dan sejenisnya, sesuatu yang memiliki kekuatan hukum, sehingga kuat dan legal. Kami tak sekedar membutuhkan himbauan dan permintaan. Bukankah Bapak seorang presiden ? Bapak memiliki kekuatan untuk mengeluarkan Kepres.

Saya rakyat kecil yang tak paham, kenapa Pak Susno Duadji ditangkap padahal dia telah melaporkan sejumlah kasus korupsi. Sebaliknya, penjahat Century serta konco-konco Gayus Tambunan tidak tersentuh sama sekali.

Sudahkah bapak mendengar, ada satu keluarga terdiri dari ayah, ibu, anak dan menantu yang dihukum penjara sekian bulan hanya karena mencuri 3 kg biji asam? Sudahkah bapak dengar tentang seorang nenek yang dipenjara karena mencuri beberapa biji kakao milik pemerintah? Sudahkah bapak dengar, bahwa kasus Lumpur Lapindo masih belum tuntas sampai sekarang? Padahal penjahatnya adalah Menteri Bapak sendiri yang konon katanya akan mencalonkan diri menjadi presiden di tahun 2014.

Semua kasus diatas terjadi di bawah hidung Bapak sendiri. Saya juga tidak paham, kenapa Ustad Abu Bakar Ba’asyir diperlakukan seperti itu padahal Polisi tak punya bukti apa apa, sebaliknya Anggoro, bebas berkeliaran di singapura. Padahal korupsi itu perbuatan yang biadab.

Tapi saya yakin, Bapak sudah mendengar kecelakaan kereta api di pemalang Jatim. Ataukah Bapak sudah bosan mendapat laporan sejenis yang terus berulang, sebab kecelakaan transportasi di indonesia terlampau sering terjadi.  bisa jadi, rakyat juga salah, kenapa tidak bisa teratur, naik ke ke atap gerbong seenaknya, berebutan tempat duduk, sikut sana sikut sini. tapi cobalah Bapak sedikit tegas, coba Bapak instruksikan pada Menteri Perhubungan dan Transportasi untuk menindak tegas setiap pelanggaran. Kalau perlu, yang naik atap gerbong, ditarik paksa turun, demi keselamatan, antrian penumpang diamankan, calo tiket diberantas, dan pemeriksaan kelayakan kendaraan umum diperketat. Atau Bapak lewat Menteri bapak, bisa memberi intruksi tegas tentang profesionalisme masinis, pilot, sopir, dsb. maaf pak, saya tak bermaksud menggurui Bapak, Bapak jauh lebih pintar dari saya. ini hanya usul saya saja Pak.

Saya rakyat kecil Pak, apalah daya saya? Ingin rasanya saya bertemu Bapak secara langsung, mengadukan ketidak adilan ini, tapi saya tahu Bapak sangat sibuk, jangankan menerima kunjungan saya. Saking sibuknya bahkan Bapak tak punya waktu untuk menerima kunjungan seorang anak yang badannya terbakar akibat ledakan tabung gas. Padahal katanya pemimpin itu adalah pelayan rakyat.

Apa pak? Maaf saya tak dengar bisik bisik Bapak... tolong ulangi pak. Oooo saya paham, baiklah, Bapak sekarang sedang sibuk bukan, tak bisa diganggu oleh urusan rakyat. Bapak sedang fokus mengejar target untuk menjilat kaki Amerika laknatulloh lewat proyek terorisme.

Baik Pak, baik, saya pun sudah cukup mengeluarkan uneg uneg saya. Saya akan mensudahi tulisan ini. sebagai penutup, saya hanya ingin bilang bahwa saya sebagai pemilih bapak, tidak ridho dengan semua ketidakadilan ini. Saya tidak ridho dengan kondisi ini, saya adukan hal ini kepada Dia, sebagai pemilik saya juga pemilik Bapak.

Tenang saja Pak, saya yakin, yang memiliki uneg uneg seperti ini hanya saya saja, hanya 1 orang dari 200 juta rakyat indonesia. Tapi, apa jadinya pak, jika semua rakyat berpikiran yang sama seperti saya? Mereka juga mengadukan bapak kepada Dia? Bagaimana jadinya bapak dihadapan Allah.

Tapi saya sangat menyayangi Bapak, saya mendo'akan bapak, semoga Bapak terhindar dari hal hal yang buruk, jika saat ini Bapak sedang melenceng, semoga Allah memberi hidayah kepada bapak sehingga kembali ke jalan yang lurus. Saya do'akan Bapak semoga sehat selalu sehingga bisa menjalankan tugas Bapak dengan baik. dan saya do'akan semoga Bapak diberi kekuatan dan ketegaran oleh Allah SWT untuk mengambil keputusan yang terbaik bagi negeri ini. Semoga hati Bapak senantiasa lembut dan penuh kasih sayang sehingga rakyat Bapak pun semakin menyayangi bapak.

Satu lagi Pak, mohon maaf sebelum saya lupa. Tentang Ruhut Sitompul (Poltak) Pak, iya Pak yang itu... bawahan bapak di Partai Demokrat, yang suka berkoar- koar gak jelas di televisi. yang ngefans berat sama bapak, saya kira baiknya bapak memecat beliau sebab jika beliau terus dibiarkan bebas seperti sekarang, hanya akan merusak citra pak SBY. Salam, dari salah satu rakyatmu… [Yuyu Ira]



Sumber: Milist KAMMI