Senin, 06 September 2010

Perilaku Konsumen Muslim Menjelang Lebaran

“Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”
(Qs. Al-A’raf : 31)

MENDEKATI hari raya Idul Fitri, apa yang biasa kita lakukan? Membeli pakaian baru, mengecat rumah, membeli kendaraan baru, memenuhi lemari dengan banyak kue atau apa? Atau merayakan Idul Fithri dengan mudik ke kampung halaman? Salahkah jika Hari Raya Idul Fitri dirayakan dengan memakai baju baru serta menghidangkan makanan dan minuman mewah yang lain dari hari-hari biasanya? Dalam hari raya sebenarnya tidak ada larangan menyediakan makanan, minuman, dan memakai pakaian baru. Namun akan menjadi persoalan adalah ketika kita berlebih-lebihan dalam semua hal tersebut.

Padahal Rasulullah sendiri mencontohkan dihari-hari penghujung Ramadhan Dari ‘Aisyah ra, ia berkata: “Apabila telah masuk sepuluh yang akhir pada bulan Ramadhan, Nabi saw lebih giat beribadah pada malam-malamnya. Beliau membangunkan keluarganya dan beliau lebih tekun. Beliau kencangkan ikat sarungnya (menjauhi istrinya untuk lebih mendekati Allah?).” (HR Muslim) Masih dari ‘Aisyah ra katanya: “Sesungguhnya Nabi saw i’tikaf pada tiap-tiap sepuluh yang akhir bulan Ramadhan hingga beliau wafat. Kemudian istri-istri beliau meneruskan i’tikaf seperti itu sesudah beliau wafat.” (HR Muslim)

Sayang, kebanyakan Muslim di Indonesia justru sebaliknya. Mereka banyak memenuhi pasar menjelang 10 malam terakhir bukan mendatangi masjid untuk i’tikaf seperti anjuran Rasulullah. Pasar penuh sesak dengan kerumunan masyarakat Muslim di Indonesia. Kebanyakan masyarakat kita juga sibuk mempercantik diri dan rumahnya. Ada juga yang sengaja membeli kendaraan mobil baru demi memamerkan ke sanak saudara. Parahnya lagi, mereka rela berhutang demi semua itu. Sehingga bisa dipastikan hutang akan menumpuk setelah lebaran.

Bagaiman Islam Mengatur Konsumsi?

Dalam buku ”Ekonomi Islam” yang ditulis oleh Priyonggo Suseno dkk. dijelaskan bahwa konsumsi yang Islami selalu berpedoman pada ajaran Islami. Di antara ajaran Islam yang penting berkaitan dengan konsumsi, misal perlunya memperhatikan orang lain. Dalam hadits disampaikan bahwa: ”Setiap Muslim wajib membagi, makanan yang dimasaknya kepada tetangganya yang merasakan bau dari makanan tersebut. Selanjutnya juga, diharamkan bagi seorang Muslim hidup dalam keadaan serba kelebihan sementara ada tetangganya yang menderita kelaparan.” Hal lain adalah tujuan konsumsi itu sendiri, dimana seorang Muslim akan lebih mempertimbangkan maslahah (manfaat dan berkah) daripada utilitas (kepuasan). Pencapaian maslahah merupakan tujuan dari syariat Islam (maqashid syariah), yang tentu saja harus menjadi tujuan dari kegiatan konsumsi.

Ini bisa berarti bahwa konsumen Muslim yang karena keimanan dan ketakwaannya sebagai makhluk ciptaan Allah, dari harta yang dihasilkannya setiap bulan itu sebagian dimanfaatkan untuk kebutuhan individual dan keluarga serta sebagiannya lagi dibelanjakan di jalan Allah (fi sabilillah), atau yang biasa disebut dengan penyaluran sosial.

Sesungguhnya Islam dalam mengatur konsumsi tidak mempersulit jalan hidup seseorang yang barangkali bagi sebagian orang membatasi pengeluaran seorang Muslim. Jika seseorang mendapatkan penghasilan dan setelah dihitung secara cermat hanya cukup untuk untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarga saja, tak ada keharusan baginya untuk mengeluarkan konsumsi sosial. Akan tetapi bagi yang pendapatannya lebih banyak dari itu, dan rupanya melebihi dari kebutuhan pokoknya, maka tak ada alasan bagi dirinya untuk tidak mengeluarkan konsumsi sosial.

Dalam Islam, perilaku konsumen Muslim harus mencerminkan hubungan dirinya dengan Alla SWT. Inilah yang tidak kita dapati dalam ilmu perilaku konsumsi konvensional. Setiap pergerakan dirinya, yang berbentuk belanja sehari-hari, tidak lain adalah manifestasi zikir dirinya atas nama Allah. Dengan demikian, dia lebih memilih jalan yang dibatasi Allah dengan tidak memilih barang haram, tidak kikir, dan tidak tamak supaya hidupnya selamat baik di dunia maupun akhirat.

Membenahi Terminologi Idul Fithri

Dalam terminologi Islam, Idul Fitri secara sederhana adalah hari raya yang datang berulang kali setiap tanggal 1 Syawal yang menandai puasa telah selesai dan kembali diperbolehkan makan minum di siang hari. Artinya, kata fitri disitu diartikan berbuka atau berhenti puasa yang identik dengan makan-makan dan minum-minum. Maka tidak salah apabila Idul Fitri pun disambut dengan pesta makan-makan dan minum-minum mewah yang tak jarang terkesan diada-adakan oleh sebagian keluarga.

Terminologi Idul Fitri seperti ini harus dijauhi dan dibenahi, sebab selain kurang mengekspresikan makna Idul Fitri sendiri, juga terdapat makna yang lebih mendalam lagi. Idul Fitri seharusnya dimaknai sebagai `kepulangan seseorang kepada fitrah asalnya yang suci sebagaimana ia baru saja dilahirkan dari rahim ibu. Secara metafor, kelahiran kembali ini berarti seorang Muslim yang selama sebulan melewati Ramadhan dengan puasa, qiyam, dan segala ragam ibadahnya harus mampu kembali berislam, tanpa benci, iri, dengki, serta bersih dari segala dosa dan kemaksiatan.

Idul Fitri berarti kembali pada naluri kemanusian yang murni, kembali pada keberagamaan yang lurus, dan kembali dari seluruh praktik busuk yang bertentangan dengan jiwa manusia yang masih suci. Kembali dari segala kepentingan duniawi yang tidak islami. Inilah makna Idul Fitri yang asli.

Adalah kesalahan besar apabila Idul Fitri dimaknai dengan perayaan kembalinya kebebasan makan dan minum sehingga yang tadinya dilarang makan siang, setelah hadirnya Idul Fitri akan balas dendam. Atau dimaknai sebagai kembalinya kebebasan berbuat maksiat yang tadinya dilarang dan ditinggalkan. Kemudian, karena Ramadhan sudah usai maka kemaksiatan kembali ramai-ramai digalakkan. Ringkasnya, kesalahan itu pada akhirnya menimbulkan sebuah fenomena umat yang saleh musiman, bukan umat yang berupaya mempertahankan kefitrian dan nilai ketakwaan. Wallahua’lam


Tidak ada komentar: