Senin, 06 September 2010

Menulis, Tradisi Intelektual Muslim


MENULIS merupakan tradisi yang harus dimiliki umat Islam. Tradisi menulis berkaitan erat dengan tradisi membaca yang telah dititahkan Allah SWT dalam wahyu pertama. Dengan tradisi membaca dan menulis, umat Islam mencapai puncak peradabannya. Tradisi membaca dan menulis terus membingkai setiap aktivitas ulama dan intelektual muslim tempo dulu sehingga mampu mengikat ilmu dan menyebarkannya. Sebagaimana dikatakan Ali bin Abi Thalib, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”, maka ulama-ulama Islam zaman awal tidak pernah melepaskan hari-harinya tanpa menulis.

Beberapa contoh ulama yang giat dan produktif menulis, diantaranya adalah: Imam Bukhari dengan Shahih Bukhari-nya, beliau tidak hanya menulis kitab itu. Ada puluhan kitab lainnya yang ditulis Imam Bukhari. Pada usia 18 tahun, Imam Bukhari telah menerbitkan kitab pertamanya Qudhaya ash-Shahabah wat Tabiin, Peristiwa-peristiwa Hukum di Zaman Sahabat dan Tabiin. Ketika menginjak usia 22 tahun, beliau menulis kitab At-Tarikh di atas makam Rasulullah SAW.         Ulama lainnya, adalah Imam Al-Ghazali. Ihya Ulumuddin, salah satu kitabnya menjadi referensi hingga saat ini. Produktivitas menulis ulama-ulama terdahulu terbilang luar biasa. Ath-Thabari, misalnya, setiap hari mampu menulis sebanyak 40 lembar. "Jika membaca kisah-kisah ulama Islam zaman lampau, kita masih kalah jauh dengan mereka. Mahasiswa saja masih terlihat malas menulis. Maka, saatnya bagi mahasiswa muslim untuk membangun paradigma bahwa membaca dan menulis adalah tradisi Islam yang harus dipertahankan.

Saat ini, banyak ulama dan cendekiawan berdakwah melalui media massa. Tak hanya lewat mass media (koran), para cendikiawan kita juga sudah mengenal dunia tulisan sejak dulu dengan menulis. Misalnya, KH. Sholeh Darat (Semarang), KH. R. Asnawi (Kudus), KH. Hasyim Asy’ari, KH. Nawawi (Banten), dan masih banyak lagi. Selain itu, Indonesia juga memiliki banyak tokoh Muslim yang terjun ke kancah dunia jurnalistik. Diantaranya adalah KH. Abdul Wahab, Hasbullah, KH. Abdullah bin Nuh bin Idris, dan Drh. Taufik Ismail.

Kini, generasi penerus mereka, bahkan tidak saja menulis di media massa, tetapi juga menulis buku. Sebut saja KH. Abdullah Gymnastiar (Aa’ Gym) dengan buku Manajemen Qolbu (MQ) nya yang laris bak kacang goreng dipasaran, KH. Didin Hafidhuddin (Buku-buku tentang Zakatnya), Ary Ginanjar Agustian (ESQ), Ustadz Yusuf Mansur (buku tentang sedekah), Adian Husaini (dengan pemikiran tentang Islam) dan masih banyak lagi.

Dalam beberapa hal, dakwah dengan tulisan lebih efektif dibanding dengan yang lainnya. Karena ia dapat dibaca berulang-ulang. Sehingga tidak heran jika ada pepatah yang mengatakan, ”Goresan pena lebih berbahaya dibandingkan dengan seribu tentara.” Karenanya, seyogyanya para muballig, mau dan mampu menyesuaikan diri dalam peranan aktif dibidang pers dan jurnalistik. Jika tidak ingin misi-misi dan dakwahnya terbentur oleh keusangan.

Mahasiswa terutama yang muslim sudah seharusnya tekun menulis. Menulis merupakan tradisi ulama dan intelektual muslim yang tidak boleh terputus. Jika saat ini tradisi menulis terasa hilang dalam kehidupan umat Islam, maka kita berkewajiban untuk menumbuhkannya kembali. Motif menyampaikan ilmu melalui tulisan hendaknya menjadi motivasi utama. Dengan menulis, mahasiswa juga bisa melakukan dakwah. Kita perlu mengajak kepada kebaikan dan mencegah keburukan dengan tulisan-tulisan kita. Menulis bagi mahasiswa muslim bukanlah pilihan, tapi sebuah keniscayaan.

Buku yang ditulis oleh 25 orang penulis ini, harapannya bisa menstimulus dan memotivasi semua khalayak untuk menulis. Bagi yang sudah biasa menulis, buku ini selayaknya jadi pengingat kembali untuk terus konsisten menulis. Tujuan yang terpenting dalam menulis adalah sebagai fungsi dakwah dan untuk menunjukkan eksistensi umat Islam itu sendiri.

Sebagai penutup saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu terbitnya buku ini. Pak Turi yang sudah mendesainkan isi buku. Mas Dwi Suwiknyo yang sudah bersedia membaca dan menyunting buku ini. Akh. Syamsudin Kadir yang sudah bersedia mengedit buku ini.  Kang Arul, Mbak Indari Mastuti dan Akh. Faris Khoirul Anam, Hendra Sugiantoro yang sudah bersedia memberi endorsment dalam buku ini. Terima kasih juga buat semua penulis yang sudah berkontribusi dalam buku ini. Semoga kebaikan kalian membawa kebaikan yang lebih banyak lagi, bagi orang yang membaca buku dan akhirnya tergerak untuk menyebarkan kebaikan. Alla kuli hal, selamat membaca buku ini!

1 komentar:

Nurul Marya El-sisiliy mengatakan...

subhanallah!
terima kasih postingannya...
semangat menulis!!