Jumat, 24 September 2010

Tak Jadi Pegawai, Bisnis Sendiri!

Judul Buku    : Resign and Get Rich: Berhenti Kerja, Jadi Pengusaha
Penulis           : Edo Segara
Penerbit         : Leutika, Yogyakarta
Cetakan          : I, Juni 2010
Tebal              : x + 212 hlm
Peresensi       : Hendra Sugiantoro

Pekerjaan adalah ikhtiar hidup yang dilakoni manusia. Masing-masing manusia tak terlepas dari pekerjaan dalam menjalani keseharian. Pekerjaan memiliki rupa-rupa makna. Pada dasarnya, manusia telah dikatakan bekerja ketika mencangkul di sawah, memelihara ternak, memasak, dan merawat kebun. Membersihkan sampah di jalan pun merupakan pekerjaan. Entah mengapa, makna pekerjaan menyempit sekadar pada ruang-ruang formal, seperti menjadi pegawai dan bekerja di kantor.

Pemaknaan menyempit atas pekerjaan ini akhirnya berdampak pada pola pikir dan apresiasi. Begitu banyak orang yang memburu pekerjaan di sektor formal. Lulusan bangku pendidikan pun tak bosan menelusuri iklan lowongan pekerjaan untuk dapat menjadi “orang kantoran”. Tak begitu banyak orang yang bangga bekerja di sektor nonformal. Pola pikir ini berbuah laku untuk terus mengejar posisi di kantor-kantor. Masyarakat juga mengukuhkan pola pikir dan cara pandang ini. Orang-orang yang menduduki posisi di kantor lebih dihargai ketimbang orang-orang yang bekerja di bengkel, di warung, di sawah, bahkan di rumah sendiri.

Pekerjaan yang telah menjadi ukuran sosial dan gengsi memang tak dimungkiri. Pekerjaan pun telah mengalami kesempitan makna sekadar upaya perolehan materi. Orang bersusah payah bekerja untuk dapat mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Orang-orang disibukkan untuk mengejar posisi dalam pekerjaan yang menjamin kehidupan mapan dengan uang berlimpah. Hal ini tak sepenuhnya salah. Siapa pun membutuhkan uang untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Persoalannya adalah jika pekerjaan sekadar alat mencukupi materi dengan mengabaikan pelayanan prima kepada khalayak. Pekerjaan tak lagi untuk aktualisasi potensi dan memberikan kontribusi.

Buku yang ditulis Edo Segara ini mencoba memberikan pandangan berbeda. Saat ini kewirausahaan (enterpreneurship) telah mengemuka menjadi tema sentral. Di mana-mana selalu terdengar istilah ini. Kewirausahaan menjadi arus utama seiring tingginya tingkat pengangguran. Tantangan hidup yang mendesakkan ketercukupan ekonomi mendorong pihak-pihak terkait mengembangkan jiwa kewirausahaan masyarakat. Di lingkup dunia pendidikan, kewirausahaan relatif telah mengarus lama. Pendidikan kewirausahaan dan kurikulum yang memperhatikan kewirausahaan coba diterapkan. Namun, buku ini tak hanya mengatasi pengangguran. Buku ini justru “memprovokasi” orang-orang untuk keluar dari kantor!

Buku ini menarik ditelusuri karena tak berkutat pada teori njlimet. Penulis buku lebih mengurusi hal-hal praktis yang bisa diterapkan. Arahan dalam melakukan keputusan keluar dari pekerjaan kantor diutarakan sebagai pandangan dan gambaran. Banyak bisnis yang bisa dijalankan, seperti bisnis retail, bisnis franchise, bisnis rumahan, bisnis online, bisnis event organizer, bisnis property, dan bisnis bidang jasa. Penulis buku menjelaskan siasat untuk memulai dan menjalankan bisnis yang menjadi pilihan. Yang menarik, penulis buku tak hanya mengarahkan kita menjadi pebisnis mandiri untuk kepentingan diri semata atau menjadi kaya. Akhlak sebagai pebisnis tetap menjadi kewajiban yang mesti dijalankan.

*) Dimuat di Harian Jogja, 23 September 2010

Senin, 06 September 2010

Menulis, Tradisi Intelektual Muslim


MENULIS merupakan tradisi yang harus dimiliki umat Islam. Tradisi menulis berkaitan erat dengan tradisi membaca yang telah dititahkan Allah SWT dalam wahyu pertama. Dengan tradisi membaca dan menulis, umat Islam mencapai puncak peradabannya. Tradisi membaca dan menulis terus membingkai setiap aktivitas ulama dan intelektual muslim tempo dulu sehingga mampu mengikat ilmu dan menyebarkannya. Sebagaimana dikatakan Ali bin Abi Thalib, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”, maka ulama-ulama Islam zaman awal tidak pernah melepaskan hari-harinya tanpa menulis.

Beberapa contoh ulama yang giat dan produktif menulis, diantaranya adalah: Imam Bukhari dengan Shahih Bukhari-nya, beliau tidak hanya menulis kitab itu. Ada puluhan kitab lainnya yang ditulis Imam Bukhari. Pada usia 18 tahun, Imam Bukhari telah menerbitkan kitab pertamanya Qudhaya ash-Shahabah wat Tabiin, Peristiwa-peristiwa Hukum di Zaman Sahabat dan Tabiin. Ketika menginjak usia 22 tahun, beliau menulis kitab At-Tarikh di atas makam Rasulullah SAW.         Ulama lainnya, adalah Imam Al-Ghazali. Ihya Ulumuddin, salah satu kitabnya menjadi referensi hingga saat ini. Produktivitas menulis ulama-ulama terdahulu terbilang luar biasa. Ath-Thabari, misalnya, setiap hari mampu menulis sebanyak 40 lembar. "Jika membaca kisah-kisah ulama Islam zaman lampau, kita masih kalah jauh dengan mereka. Mahasiswa saja masih terlihat malas menulis. Maka, saatnya bagi mahasiswa muslim untuk membangun paradigma bahwa membaca dan menulis adalah tradisi Islam yang harus dipertahankan.

Saat ini, banyak ulama dan cendekiawan berdakwah melalui media massa. Tak hanya lewat mass media (koran), para cendikiawan kita juga sudah mengenal dunia tulisan sejak dulu dengan menulis. Misalnya, KH. Sholeh Darat (Semarang), KH. R. Asnawi (Kudus), KH. Hasyim Asy’ari, KH. Nawawi (Banten), dan masih banyak lagi. Selain itu, Indonesia juga memiliki banyak tokoh Muslim yang terjun ke kancah dunia jurnalistik. Diantaranya adalah KH. Abdul Wahab, Hasbullah, KH. Abdullah bin Nuh bin Idris, dan Drh. Taufik Ismail.

Kini, generasi penerus mereka, bahkan tidak saja menulis di media massa, tetapi juga menulis buku. Sebut saja KH. Abdullah Gymnastiar (Aa’ Gym) dengan buku Manajemen Qolbu (MQ) nya yang laris bak kacang goreng dipasaran, KH. Didin Hafidhuddin (Buku-buku tentang Zakatnya), Ary Ginanjar Agustian (ESQ), Ustadz Yusuf Mansur (buku tentang sedekah), Adian Husaini (dengan pemikiran tentang Islam) dan masih banyak lagi.

Dalam beberapa hal, dakwah dengan tulisan lebih efektif dibanding dengan yang lainnya. Karena ia dapat dibaca berulang-ulang. Sehingga tidak heran jika ada pepatah yang mengatakan, ”Goresan pena lebih berbahaya dibandingkan dengan seribu tentara.” Karenanya, seyogyanya para muballig, mau dan mampu menyesuaikan diri dalam peranan aktif dibidang pers dan jurnalistik. Jika tidak ingin misi-misi dan dakwahnya terbentur oleh keusangan.

Mahasiswa terutama yang muslim sudah seharusnya tekun menulis. Menulis merupakan tradisi ulama dan intelektual muslim yang tidak boleh terputus. Jika saat ini tradisi menulis terasa hilang dalam kehidupan umat Islam, maka kita berkewajiban untuk menumbuhkannya kembali. Motif menyampaikan ilmu melalui tulisan hendaknya menjadi motivasi utama. Dengan menulis, mahasiswa juga bisa melakukan dakwah. Kita perlu mengajak kepada kebaikan dan mencegah keburukan dengan tulisan-tulisan kita. Menulis bagi mahasiswa muslim bukanlah pilihan, tapi sebuah keniscayaan.

Buku yang ditulis oleh 25 orang penulis ini, harapannya bisa menstimulus dan memotivasi semua khalayak untuk menulis. Bagi yang sudah biasa menulis, buku ini selayaknya jadi pengingat kembali untuk terus konsisten menulis. Tujuan yang terpenting dalam menulis adalah sebagai fungsi dakwah dan untuk menunjukkan eksistensi umat Islam itu sendiri.

Sebagai penutup saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu terbitnya buku ini. Pak Turi yang sudah mendesainkan isi buku. Mas Dwi Suwiknyo yang sudah bersedia membaca dan menyunting buku ini. Akh. Syamsudin Kadir yang sudah bersedia mengedit buku ini.  Kang Arul, Mbak Indari Mastuti dan Akh. Faris Khoirul Anam, Hendra Sugiantoro yang sudah bersedia memberi endorsment dalam buku ini. Terima kasih juga buat semua penulis yang sudah berkontribusi dalam buku ini. Semoga kebaikan kalian membawa kebaikan yang lebih banyak lagi, bagi orang yang membaca buku dan akhirnya tergerak untuk menyebarkan kebaikan. Alla kuli hal, selamat membaca buku ini!

Perilaku Konsumen Muslim Menjelang Lebaran

“Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”
(Qs. Al-A’raf : 31)

MENDEKATI hari raya Idul Fitri, apa yang biasa kita lakukan? Membeli pakaian baru, mengecat rumah, membeli kendaraan baru, memenuhi lemari dengan banyak kue atau apa? Atau merayakan Idul Fithri dengan mudik ke kampung halaman? Salahkah jika Hari Raya Idul Fitri dirayakan dengan memakai baju baru serta menghidangkan makanan dan minuman mewah yang lain dari hari-hari biasanya? Dalam hari raya sebenarnya tidak ada larangan menyediakan makanan, minuman, dan memakai pakaian baru. Namun akan menjadi persoalan adalah ketika kita berlebih-lebihan dalam semua hal tersebut.

Padahal Rasulullah sendiri mencontohkan dihari-hari penghujung Ramadhan Dari ‘Aisyah ra, ia berkata: “Apabila telah masuk sepuluh yang akhir pada bulan Ramadhan, Nabi saw lebih giat beribadah pada malam-malamnya. Beliau membangunkan keluarganya dan beliau lebih tekun. Beliau kencangkan ikat sarungnya (menjauhi istrinya untuk lebih mendekati Allah?).” (HR Muslim) Masih dari ‘Aisyah ra katanya: “Sesungguhnya Nabi saw i’tikaf pada tiap-tiap sepuluh yang akhir bulan Ramadhan hingga beliau wafat. Kemudian istri-istri beliau meneruskan i’tikaf seperti itu sesudah beliau wafat.” (HR Muslim)

Sayang, kebanyakan Muslim di Indonesia justru sebaliknya. Mereka banyak memenuhi pasar menjelang 10 malam terakhir bukan mendatangi masjid untuk i’tikaf seperti anjuran Rasulullah. Pasar penuh sesak dengan kerumunan masyarakat Muslim di Indonesia. Kebanyakan masyarakat kita juga sibuk mempercantik diri dan rumahnya. Ada juga yang sengaja membeli kendaraan mobil baru demi memamerkan ke sanak saudara. Parahnya lagi, mereka rela berhutang demi semua itu. Sehingga bisa dipastikan hutang akan menumpuk setelah lebaran.

Bagaiman Islam Mengatur Konsumsi?

Dalam buku ”Ekonomi Islam” yang ditulis oleh Priyonggo Suseno dkk. dijelaskan bahwa konsumsi yang Islami selalu berpedoman pada ajaran Islami. Di antara ajaran Islam yang penting berkaitan dengan konsumsi, misal perlunya memperhatikan orang lain. Dalam hadits disampaikan bahwa: ”Setiap Muslim wajib membagi, makanan yang dimasaknya kepada tetangganya yang merasakan bau dari makanan tersebut. Selanjutnya juga, diharamkan bagi seorang Muslim hidup dalam keadaan serba kelebihan sementara ada tetangganya yang menderita kelaparan.” Hal lain adalah tujuan konsumsi itu sendiri, dimana seorang Muslim akan lebih mempertimbangkan maslahah (manfaat dan berkah) daripada utilitas (kepuasan). Pencapaian maslahah merupakan tujuan dari syariat Islam (maqashid syariah), yang tentu saja harus menjadi tujuan dari kegiatan konsumsi.

Ini bisa berarti bahwa konsumen Muslim yang karena keimanan dan ketakwaannya sebagai makhluk ciptaan Allah, dari harta yang dihasilkannya setiap bulan itu sebagian dimanfaatkan untuk kebutuhan individual dan keluarga serta sebagiannya lagi dibelanjakan di jalan Allah (fi sabilillah), atau yang biasa disebut dengan penyaluran sosial.

Sesungguhnya Islam dalam mengatur konsumsi tidak mempersulit jalan hidup seseorang yang barangkali bagi sebagian orang membatasi pengeluaran seorang Muslim. Jika seseorang mendapatkan penghasilan dan setelah dihitung secara cermat hanya cukup untuk untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarga saja, tak ada keharusan baginya untuk mengeluarkan konsumsi sosial. Akan tetapi bagi yang pendapatannya lebih banyak dari itu, dan rupanya melebihi dari kebutuhan pokoknya, maka tak ada alasan bagi dirinya untuk tidak mengeluarkan konsumsi sosial.

Dalam Islam, perilaku konsumen Muslim harus mencerminkan hubungan dirinya dengan Alla SWT. Inilah yang tidak kita dapati dalam ilmu perilaku konsumsi konvensional. Setiap pergerakan dirinya, yang berbentuk belanja sehari-hari, tidak lain adalah manifestasi zikir dirinya atas nama Allah. Dengan demikian, dia lebih memilih jalan yang dibatasi Allah dengan tidak memilih barang haram, tidak kikir, dan tidak tamak supaya hidupnya selamat baik di dunia maupun akhirat.

Membenahi Terminologi Idul Fithri

Dalam terminologi Islam, Idul Fitri secara sederhana adalah hari raya yang datang berulang kali setiap tanggal 1 Syawal yang menandai puasa telah selesai dan kembali diperbolehkan makan minum di siang hari. Artinya, kata fitri disitu diartikan berbuka atau berhenti puasa yang identik dengan makan-makan dan minum-minum. Maka tidak salah apabila Idul Fitri pun disambut dengan pesta makan-makan dan minum-minum mewah yang tak jarang terkesan diada-adakan oleh sebagian keluarga.

Terminologi Idul Fitri seperti ini harus dijauhi dan dibenahi, sebab selain kurang mengekspresikan makna Idul Fitri sendiri, juga terdapat makna yang lebih mendalam lagi. Idul Fitri seharusnya dimaknai sebagai `kepulangan seseorang kepada fitrah asalnya yang suci sebagaimana ia baru saja dilahirkan dari rahim ibu. Secara metafor, kelahiran kembali ini berarti seorang Muslim yang selama sebulan melewati Ramadhan dengan puasa, qiyam, dan segala ragam ibadahnya harus mampu kembali berislam, tanpa benci, iri, dengki, serta bersih dari segala dosa dan kemaksiatan.

Idul Fitri berarti kembali pada naluri kemanusian yang murni, kembali pada keberagamaan yang lurus, dan kembali dari seluruh praktik busuk yang bertentangan dengan jiwa manusia yang masih suci. Kembali dari segala kepentingan duniawi yang tidak islami. Inilah makna Idul Fitri yang asli.

Adalah kesalahan besar apabila Idul Fitri dimaknai dengan perayaan kembalinya kebebasan makan dan minum sehingga yang tadinya dilarang makan siang, setelah hadirnya Idul Fitri akan balas dendam. Atau dimaknai sebagai kembalinya kebebasan berbuat maksiat yang tadinya dilarang dan ditinggalkan. Kemudian, karena Ramadhan sudah usai maka kemaksiatan kembali ramai-ramai digalakkan. Ringkasnya, kesalahan itu pada akhirnya menimbulkan sebuah fenomena umat yang saleh musiman, bukan umat yang berupaya mempertahankan kefitrian dan nilai ketakwaan. Wallahua’lam


Jumat, 03 September 2010

Koruptor Pergi Kau ke Neraka!


Judul : Koruptor Go To Hell; Mengupas Anatomi Korupsi di Indonesia
Penulis : Bibit S. Rianto
Terbit : Desember 2009
Penerbit : Hikmah (PT Mizan Publika)
ISBN : 978-979-3714-79-0
Halaman : 176

MENCEGAH lebih baik daripada mengobati, pendapat tersebut dikemukakan oleh Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bibit Samad Rianto dalam buku terbarunya “Koruptor Go To Hell; Mengupas Anatomi Korupsi di Indonesia. Buku ini ia susun hampir dua tahun, berdasar pengalamannya yang banyak terjun berhadapan dengan korupsi. Dalam buku tersebut Bibit S. Rianto mengajak masyarakat agar bersama-sama mencegah korupsi. Buku ini secara gamblang menguraikan anatomi (tubuh) korupsi yang sering terjadi di Indonesia.

Buku setebal 176 halaman ini, Bibit membedah akar dan ragam modus korupsi di Indonesia. Bagaimanapun, korupsi bukanlah suatu kebiasaan ataupun budaya bangsa, melainkan kejahatan yang dilakukan karena adanya unsur-unsur yang mendukung praktik korupsi. Sistematika penulisan pada buku ini sangat jelas dan mudah dipahami. Dimulai dengan penjelasan akar korupsi, fenomena gunung es korupsi, hingga keberadaan para mafia hukum. Dalam telaahnya, Bibit dengan sengaja mengupas potensi masalah penyebab korupsi.

Dalam buku tersebut Bibit menyampaikan bahwa koruptor bercokol nyaris di semua tempat mulai pusat peredaran uang negara hingga ke sektor penegakan hukum. Bibit juga mengurai sejumlah kerawanan sektor-sektor yang memudahkan untuk melaksanakan tindak pidana korupsi. Dia pun membedah 30 jenis tindak pidana korupsi (TPK) ke dalam tujuh kelompok korupsi. Perinciannya kelompok yang merugikan negara, tindakan yang terkait suap menyuap, penggelapan dalam jabatan, perbuatan pemerasan, curang, terkait dengan benturan kepentingan dalam pengadaan, dan mereka yang terkait dengan grati fikasi.

Bab enam barangkali hal yang paling menarik dari buku ini, dimana Bibit menguraikan anatomi korupsi di Indonesia. Dengan panjang lebar, Bibit menjabarkan anatomi korupsi dari yang paling kecil, di jalanan dan angkutan umum ke pusat pusaran uang Negara, pemilihan pejabat publik, penggunaan asset Negara, pengadaan barang dan jasa, proyek pembangunan, pelayanan publik, kegiatan aparatur Negara, sampai korupsi para aparat penegak hukum. Bibit juga menjelaskan anatomi pada aspek kesisteman atau aspek peraturan.

Buku ini ditutup dengan sepak terjang para mafia kasus yang mengatur hukum bersekutu dengan oknum kepolisian, kejaksaan, pengacara, serta politisi hitam. Bahkan penulis sempat merasakan ditahan akibat skenario besar mafia kasus, politisi hitam, oknum kepolisian, oknum kejaksaan serta pengacara yang bersatu untuk menghancurkan KPK. Buku ini memotivasi agar masyarakat Indonesia lebih peduli dan berani mengkritik apabila terjadi korupsi di sekitar mereka. Akhirnya, semoga buku ini menjadi salah satu referensi bagi kita untuk mengusir koruptor ke neraka. Koruptur Go To Hell!