Sabtu, 14 Agustus 2010

Bisa Karena Terbiasa

Oleh: Ridwan Hidayat

MENJADI mahasiswa, harus mempunyai keterampilan menulis yang baik. Bukan berarti harus menjadi seorang yang berprofesi sebagai penulis. Melainkan harus memiliki keterampilan mengkomunikasikan hasil pikiran , ide, dan analisa lewat tulisan. Karena tulisan lah yang membedakan antara zaman prasejarah dan sejarah. Dan karena tulisan, peradaban intelektual terbentuk.

Bagi kebanyakan orang, kegiatan menulis memang diakui sangat sulit. Bukan berarti tidak bisa, tetapi kegiatan tersebut tidak dijadikan sebagai sebuah kebiasaan. Seperti pisau yang tajam, karena selalu dan terus diasah.

Bicara soal kebiasaan menulis, kita dapat melihat kepada seorang alumni kampus ini yang sekarang telah berhasil menerbitkan beberapa buah buku (saat diwawancarai sudah 2 buku dan 3 lagi yang akan segera terbit). Namanya, Edo Segara, Alumni FE UII tahun 2006. Saat ini ia menekuni dunia tulis menulis karena kebiasaannya menulis sejak menjadi mahasiswa.

Sepintas ayah satu anak ini memang tidak terlihat sebagai seorang ilmuwan atau memiliki tampang pintar dan kutu buku. Tubuhnya yang gempal lebih cocok bertampang sebagai body guard atau preman (he3x..becanda mas). Namun, karya-karya tulisannya telah mampu menghidupi keluarganya selain dari bisnis yang ia lakoni tentunya. Kang Edo, panggilan akrab kami , mulai terbiasa menulis ketika terlibat dimedia dakwah kampus. Kebiasaannya waktu masih di Pondok adalah mencatat hasil kajian-kajian yang pernah ia ikuti di pondok, hal ini juga menjadi kebiasaannya untuk terlatih menulis.

Awalnya saya tidak mahir menulis. Ketika berada di JAM FE, tahun 2003 dapat amanah mengelola buletin Sintaksis (sekarang majalah Sintaksis). Nah, dari situ saya mau tidak mau menulis”, ujarnya saat kami tanyai melalui wawancara di chat jejaring sosial Facebook.

Sebagaimana halnya mahasiswa yang lain, ia juga sering mengalami kesulitan diawal-awal belajar menulis. Tugas kuliah pun pernah dikerjakan temannya. Namun, dia mulai menyadari pentingnya memiliki karya tulis hasil pikirannya sendiri ketika sudah bergabung dengan dakwah kampus. Salah satu motivasinya menulis adalah untuk menguasai dunia informasi. Karena selama ini, dunia informasi telah dikuasai kaum Yahudi yang ingin menguasai dunia. Dengan menguasai informasi, maka kita mampu menyetir opini masyarakat.

Baginya, menulis sebenarnya tidak sulit. Siapa pun bisa menulis. Untuk menulis pun tidak harus ikut training kepenulisan atau pun training jurnalistik.

”Coba liat Ibnu Taimiyyah, beliau tidak pernah ikut training kepenulisan. Tidak ada fakta jika Sayyid Qutbh pernah ikut training jurnalistik sehingga mereka fasih menulis. Ulama-ulama tempo dulu juga tidak ikut training kepenulisan atau training jurnalistik, tetapi produktif menulis. Menulis adalah potensi yang dimiliki siapapun”, pendapat Kang Edo mengenai kepenulisan.

Ketika berbicara tentang kalangan intelektual, maka mahasiswa tidak lepas dari deretan kalangan tersebut. Kang Edo pun menekankan bahwa seorang mahasiswa harus tekun dan bisa menulis. Tidak hanya itu, menulis sebagai tradisi intelektual yang tidak boleh terputus. Motif menyampaikan ilmu melalui tulisan hendaknya menjadi motivasi utama.

”Dengan menulis, mahasiswa juga bisa melakukan dakwah. Kita perlu mengajak kepada kebaikan dan mencegah keburukan melalui tulisan-tulisan kita. Menulis bagi mahasiswa bukan pilihan, tapi sebuah keniscayaan”, tambahnya lagi.

Ia juga menyarankan agar setiap dari kita mendokumentasikan ide-ide melalui tulisan. Dan tidak lupa juga untuk mengasah dan melatih menulis dengan mencoba menulis catatan harian (diary) atau bisa juga dengan membuat blog. Kalau sudah terbiasa barulah mencoba untuk menulis ke media massa atau menulis buku. []

Nb. dimuat di Majalah SINTAKSIS edisi 45, Agustus 2010/ Ramadhan 1431 H.

Tidak ada komentar: