Jumat, 06 Agustus 2010

Berbisnis dengan Allah di Bulan Ramadhan


“Wahai orang-orang yang beriman maukah Aku menunjukkan kepada kamu suatu perniagaan yang menyelamatkan kamu dari siksa yang pedih?  (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.”
(QS. Ash-Shaff :10-11)

Tak terasa, bulan ramadhan segera menyapa kita. Bulan yang begitu banyak terhampar kebaikan. Rasulullah dalam pidatonya menjelang ramadhan mengatakan, bulan ramadhan sebagai bulan yang membawa berkah, rahmat, dan maghfirah, bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama, malam-malam di bulan Ramadhan adalah malam-malam yang paling utama, jam demi jamnya adalah jam yang paling utama.

Bulan ramadhan yang akan kita jalani ini merupakan bulan yang penuh berkah. Mengapa berkah? Karena bulan ramadhan merupakan bulan diturunkannya kitab suci al-Qur’an. Selain itu, dibulan ini terdapat juga malam yang lebih dari seribu bulan atau kita kenal dengan malam ”Laylatul Qodar”. Dibulan ini Allah juga mewajibkan kaum Muslim untuk berpuasa, menganjurkan sholat malam, dan memperbanyak membaca al-Qur’an. Bahkan tidur saja dinilai ibadah dibulan ini. Intinya segala perbuatan yang diniatkan sebagai ibadah kepada Allah akan mendapat pahala yang berlipat ganda.

Keberkahan ramadhan bukan hanya dari segi ibadah saja, akan tetapi segi ekonomi juga kita dapat saksikan secara seksama. Ramadhan tidak hanya jadi momentum perang melawan hawa nafsu, tapi juga menjadi ajang pemasaran. Momen ini tidajk hanya dinanti oleh kebanyakan umat Muslim, tetapi juga ditunggu-tunggu oleh para penggerak bisnis dalam manerik konsumen. Momen ramadhan merupakan momen yang sangat baik untuk melakukan aktifitas bisnis. Dalam ilmu marketing ini disebut dengan ”Seasonal Marketing.”

Etika Berbisnis Saat Ramadhan
Dalam menangani seluruh masalah kehidupan, Islam sangat menekankan sisi moralitas, karena itu hukum-hukum yang ditetapkan Allah tidak boleh dilanggar, termasuk ketika melakukan kegiatan ekonomi. Rasul saw pernah bersabda: "Aku tidak diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak." Akhlak yang dimaksud mencakup hubungan antar manusia dengan Allah, dengan sesama manusia, alam semesta, serta dengan diri sendiri.
Kegiatan ekonomi merupakan salah satu aspek hubungan antar manusia. Karena itu, aspek moral tidak boleh ditinggalkan dalam setiap kegiatannya. Hubungan timbal balik yang harmonis, peraturan dan syarat yang mengikat, serta sanksi, merupakan tiga hal yang selalu berkaitan dengan bisnis, dan di atas ketiga hal tersebut ada etika.
Begitu pentingnya mengedepankan etika dalam berbisnis, sehingga Allah menganjurkan untuk memberi tangguhan waktu bagi seseorang yang berutang dan dia dalam kesukaran, bahkan menyedekahkan sebagian dari utang itu dinilai sebagai perbuatan yang lebih baik. Demikian dalam firman-Nya:
"Dan jika (orang berutang) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang itu) lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui." (Q.S. Al-Baqarah/2: 280)
Islam sama sekali tidak melarang umatnya berbisnis saat bulan ramadhan,  bahkan menganjurkannya. Akan tetapi, Islam juga memberikan persyaratan atau peraturan agar berbisnis itu tidak keluar dari format ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Paling tidak ada lima syarat yang harus dipenuhi jika kita ingin menjadikan bisnis sebagai profesi untuk meraih harta dan kekayaan dunia :

Pertama, berbisnis itu harus dengan niat mencari ridha Allah. Sedangkan harta yang diperoleh adalah amanah dari Allah. Sebab itu, pada hakikatnya, harta itu adalah milik Allah. Kedua, Berbisnis harus sesuai dengan sistem Allah dan Rasul-Nya Muhammad Saw. seperti tidak boleh dengan sistem riba, tidak melakukan risywah, kolusi, nepotisme, monopoli, spekulasi dan sebagainya. Ketiga, barang dan jasa yang dibisniskan tidak boleh yang diharamkan Allah seperti babi, darah, khamar, judi dan sebagainya serta harus yang dihalalkan Allah dan Rasul-Nya. Keempat, semua aktivitas yang terkait dengan ibadah dan pengabdian kepada Allah, baik yang terkait dengan ibadah individu, sosial kemasyarakatan, atau apa saja yang terkat dengan kategori dakwah dan jihad, tidak boleh atau haram hukumnya dibisniskan, yakni melaksanakannya dengan tujuan mendapatkan keuntungan dunia, baik yang terkait harta, pangkat, kedudukan, status sosial, pujian dari manusia atau apapun bentuknya. Kelima, di dalam harta yang diamanahkan Allah itu terdapat jatah kaum fakir, miskin dan kebutuhan lain di jalan Allah, baik melalui zakat (wajib), maupun sedekah (infak). Oleh sebab itu, harta bukan untuk ditumpuk di dunia, akan tetapi untuk dibelanjakan di jalan Allah. Atau dengan kata lain, harta adalah jalan terbaik untuk berjihad di jalan Allah.
Tetapi perlu diingat bahwa penekanan pada landasan moral ini sama sekali tidak berarti menolak perolehan keuntungan materi atau tidak memperhitungkan manfaat ekonomis. Keberhasilan ekonomi dalam pandangan Islam terletak pada kesesuaian antara kebutuhan moral dan material.
Siasat Bisnis Saat Ramadhan
Kita menyaksikan maraknya pedagang musiman yang bermunculan disamping pedagang yang sudah ada terlebih dahulu sebelum ramadhan. Mereka menjual aneka macam dagangan pakaian Muslim, berjualan paket buka puasa-sahur, buah kurma, parcel, dll. Kita bisa menyaksikan semaraknya suasana tersebut dijalan-jalan atau ditoko-toko swalayan hampir semua swalayan menampilkan suasan Islami sehari-harinya sebagai penghargaan terhadap bulan suci ramadhan. Mensiasati usaha dibulan suci ini, bagi kalangan pedagang musiman mesti cermat dalam beberapa hal:
Pertama, membuat perencanaan yang matang dan sistematis. Seringkali kita terlihat tidak memiliki perencanaan yang matang dan sistematis dalam menyiapkan usaha kita. Bahkan terkadang hanya bermodal semangat saja. Kita lebih sering ikut-ikutan, tanpa memperhatikan hitung-hitungan matematis. Perdagangan adalah bidang serius yang menuntut perhatian penuh, tenaga, pikiran,  komitmen, waktu dan pengorbanan yang tidak sedikit.
Kedua, diperlukan sebuah kedisiplinan dan ketekunan dalam berusaha. Tidak angin-anginan dalam berbisnis. Sebagai contoh ketekunan dan kegigihan para penemu batik dan musik dangdut yang berhasil mendunia ke mancanegara. Dahulu tidak banyak yang mengenal dan menyukai musik dangdut. Namun sekarang sudah menjadi ikon ’musik rakyat’.
Ketiga, untuk menang dalam persaingan, kita harus berbuat yang lebih baik dari pedagang (kompetitor) lain. Kita harus menjaga kualitas barang yang kita jual, menjaga kebersihan tempat, memenuhi cita rasa pembeli, serta memberi pelayanan yang baik. Kita tidak bisa mengikuti ide apa yang ada dikepala kita saja, namun kita sebaiknya mengikuti perilaku, minat, dan kecendrungan pasar. Siapapun yang tidak bisa melakukannya akan ketinggalan jauh dibelakang dan ditinggalkan konsumen. 3 siasat bisnis ini insya Allah cukup sebagai bekal sukses berbisnis dibulan ramadhan.
Namun yang perlu diingat, sebaik-baiknya berbisnis adalah berbisnis dengan Allah dibulan ramadhan ini. Berikut petikan surat At-Taubah ayat 111-112: ”Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah. Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji Allah, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum Allah.” So, meskipun kita sibuk berbisnis dengan manusia, kita juga harus menyibukkan berbisnis dengan Allah. Wallahua’lam
Sumber pict: 
http://browse.deviantart.com/?qh=&section=&q=Allah#/d1ho194

Tidak ada komentar:

Petuah Pak Cah, Menulis tak Butuh Bakat Melimpah

"Menulis itu tidak memerlukan bakat yang banyak, tinggal mau atau tidak." Itu kalimat-kalimat awal seorang Cahyadi Takari...